Savage Girlfriend

Savage Girlfriend
BAB 4 - MENERIMA TANTANGAN


__ADS_3

Setelah selesai mandi, Alle dan Citra turun untuk makan malam bersama yang lain. Agus dan Susi sudah menunggu di meja makan. Alle dan Citra duduk di tempat masing masing. Sebelum makan mereka berdoa bersama dan mulai memakan makanan mereka tanpa ada yang bicara, hanya suara dentingan sendok yang terdengar.


Selesai makan malam, mereka ke ruang tamu. Ada yang bercanda ada yang menonton film aksi, siapa lagi kalau bukan Alle. Alle mengacuhkan kakek neneknya yang berbincang dengan Citra, seperti itulah kalau Citra. Alle senang jika Citra bisa menikmati waktu bersama keluarganya. Karena Alle melihat di mata Citra, ada tersirat kesepian dan kesedihan yang mendalam. Orang tua Citra meninggal, Citra tidak tahu siapa lagi keluarganya yang masih hidup. Selama ini Citra hanya tinggal dengan seorang wanita yang menemukannya dan tulus merawatnya. Citra memanggilnya bibi , walaupun begitu bibinya sering keluar kota dan negeri karena bibinya adalah seorang pramugari.


Citra teringat sesuatu, ia melihat kucing atau si Leon lewat. Citra tersenyum smirk, ia langsung menghampiri Leon lalu menggendongnya. Alle yang tidak sengaja melihatnya langsung bingung, kenapa dia tiba tiba menggendong Leon? Tumben, biasanya di nggak suka kucing. Seperti itulah yang ada di benak Alle.


Citra mengakhiri senyum smirk nya lalu, "Le, yuk ke kamar! Ada yang mau gue bicarain!" Ajak Citra kepada Alle.


"Kek, nek. Citra dan Alle duluan ke kamar ya, " Ujar Citra, lalu menarik tangan kanan Alle. Sedangkan tangan kiri Alle, Alle menggunakn tangan kiri sebagai pemegang laptopnya.


Agus dan Susi menganggukan kepalanya.


***


Sesampainya di kamar Alle, Citra langsung menampilkan smirk dan menggoyangkan alisnya ke atas dan ke bawah. Alle yang melihat itu mengernyitkan dahinya. Alle lalu bertanya kepada Citra.


"Cit, kenapa lo tiba tiba ngajak gue ke kamar? padahal kan gue belum puas nonton film aksinya. Itu lagi, napa lo tiba-tiba bawa si Leon sambil gendong gendong kayak anak kecil?" Sangking banyaknya pertanyaan Alle, Citra kebingungan bercerita di mulai dari mana.


"Le, lo ingat kan tadi balapan ?" Selidik Citra, Alle mengangguk. Tiba tiba Alle teringat perjanjian mereka. Alle menepuk dahinya.


"Oh iya, aku lupa!" ujar Alle dengan wajah tengiknya. Citra berdecak, lalu berjalan menuju ranjang membawa Leon yang selalu mengeong. Leon juga tumben dekat sama Citra biasanya dia posesif sama Alle.


"Jadi bagaimana? gue tadi menang loh! Jadi lo harus Terima tantangan dari gue! Gak boleh nolak, okey!" Ucap Citra sambil menatap tajam Alle. Alle menghembuskan nafasnya kasar lalu mengangguk.


"Iya, iya! Jadi apa tantangannya? Cepat! gue tiba tiba ngantuk nih. Huwahhh..." Alle menguap sambil menutup mulutnya .


"Tantangannya lumayan konyol sih, tapi lo harus tetap terima dan lakuin, kalo lo bisa gue traktir satu bulan pul! Tapi tapi... kalo lo gak bisa lo harus merelakan Leon selama satu bulan dan traktir gue satu tahun!" Alle melongo, tapi jika ia menolak maka ia akan menganggap dirinya lemah. Ia tidak lemah, pengecut ataupun yang lain, ia kuat! ia harus menerima segala konsekuensi yang di beri Citra, karena ia kalah dalam balapan mobil bersama Citra. Harusnya sih ia yang menang namun, ia juga teliti dalam mengawasi . Jika tidak maka mereka akan masuk kantor polisi, untung saja tadi Alle melihat polisi kalau tidak. Mereka akan pergi ke kantor polisi dan mempermalukan kakek dan neneknya, Alle nakal tapi ia tidak mau mempermalukan kakek dan neneknya juga.


"Okeh, apa tantangannya?" Tanya Alle dengan nada lesu, semoga saja Alle tidak di suruh mencuci pakaian dalam Citra lagi seperti sebelumnya.


"Kamu harus membuat Dion si ketua Geng BADALYKAS menjadi pacarmu selama satu bulan! Udah itu aja, kalau menolak siap-siap Leon terbang ke Alaska! hohoho!" Tawa Citra sangat mengerikan bagi Alle.

__ADS_1


"Sok sok an pake 'kamu'! Okeh, gue akan buat si Leon pacar gue selama satu bulan, lalu gue campakkan... hahaha, " Tawa Alle tak kalah seram dengan tawa Citra. Sampai terdengar ke ruang tamu bawah.


"ALLE! CITRA! KALAU KALIAN TERTAWA LAGI SEPERTI ITU, NENEK AKAN MENGIRIM KALIAN KE AFRIKA!!! " teriak susi dari ruang tamu bawah.


Alle dan Citra yang mendengar teriakan itu sempat menutup telinganya. Alle dan Citra membalas teriakan Susi, "OKEH, NENEKKU YANG CANTIK TAPI BO'ONG!" lalu Alle dan Citra tertawa pelan. Sedangkan lansia yang berada di ruang tamu hanya menggelengkan kepalanya.


Alle dan Citra menyambung pembicaraan mereka yang sempat terputus hanya karena tawa yang menyeramkan.


"Emangnya Dion bakalan mau dengan lo yang culun itu?" Tanya Citra, Alle melototkan matanya.


"Hei, hei gue gak culun yah! Gini gini gue kayak Zhao lusi ya!" Ucap Alle angkuh. Citra memukul kepala Alle dengan bantal.


"Awhh..lo kenapa sih main timpuk aja!" kata Alle sambil mengelus kepalanya yang baru di timpuk oleh Citra.


"Woy, lo lupa apa!? Kalo kita di sekolahkan gak cantik, Melainkan Cupu dan culun! lo kenapa sih hobi jadi pelupa!?" Ujar Citra.


"Oh iya, gue lupa! Hehe sorry Cit, lagi banyak pikiran nih akunya. " Citra memutar bola matanya malas.


"Bener juga yah, kalo gitu gimana dong? Nanti dia gak mau gimana?" Tanya Alle dengan serius.


Citra mengedikkan bahunya, "Nanti pas lo nembak dia, lo harus bilang kalo lo cinta sama dia bukan karena tantangan! okeh! " Alle menghela nafasnya kasar.


"Gue jadi perempuan gak ada harga dirinya, huhu... gue harap laki laki yang nembak ke gue, Bukan malah gue yang nembak dia." Ucap Alle, Citra hanya terkekeh.


"Cup, cup, cup. Jangan menyerah sayang!" Alle yang mendengarnya merasa jijik dan membuat mulutnya seolah orang yang muntah.


"Wooekk... sayang sayang dari hongkong lu!" Kata Alle, sedangkan Citra hanya cengengesan.


"Kenapa harus Dion sih, kenapa gak si Jenry aja tuh? " Citra melototkan matanya, Alle tersenyum sambil menaik turunkan alisnya. Alle sengaja memanas manasi Citra. Alle sudah tahu, kalau Citra memiliki persaan kepada Jenry. Dari tatapan Citra ke pada Jenry.


"Gue gak mau tau! pokoknya lo harus bikin Dion jadi pacar lo selama satu bulan! Titik gak pake koma! " Alle hanya terkekeh melihat reaksi Citra jika membicarakan tentang Jenry.

__ADS_1


"Halah, gue tau kok lo suka sama Jenry! Gue sengaja aja manas manasin lo biar melihat sipat cemburunya, " Citra yang mendengar nya pun langsung blushing.


"Iihh, Ngapain sih jadi tentang Jenry!? " Ucap Citra sambil mengerucutkan bibir pink miliknya.


Alle dan Citra terus berbicara dan bersenda gurau, tidak terasa waktu sudah berada di pukul sebelas malam.


Alle dan Citra menggosok giginya sebelum tidur, setelah itu Alle matikan lampu. Citra, jika menginap di mansion Alle. Ia selalu akan tidur di kamar Alle.


***


Keesokan harinya, Alle dan Citra sudah berada di sekolah pagi pagi. Alle dan Citra sedang mengerjakan tugas kimia yang belum mereka sempat kerjakan. Tiba tiba perut Alle sakit dan keram.


"Cit, gue ke wc bentar ya. Kayaknya gue datang bulan nih, " Ucap Alle sambil memegang perutnya,Citra menganggukkan kepalanya.


Alle pun berjalan dn sekali kali berlari agar cepat sampai ke wc, Alle melihat wc masih sangat sepi. Ia masuk ke salah satu pintu wc dan memakai pembalut nya.


Alle sudh selesai memakai pembalut nya lalu bergegas berjalan ke kelas nya kembali. Namun saat di lorong menuju kelas, perutnya semakin sakit dan menjadi jadi. Penglihatannya juga mulai buram dan menghitam.


Tidak lama setelah itu, tubuhnya melemas dan...


Brukkk...


Namun tubuhnya tidak sakit saat tumbang, ia merasa seseorang menahan tubuhnya dan seperti ehmm... memeluknya.


**Okey, sampai sini dulu!!! Tetap jangan lupa like, vote dan komen....


Dan mohon maklum yah kalau kata katanya masih banyak salah. Jadi jangan lupa juga kritik dan sarannya agar novelnya lebih baik dan bagus...


Dan jangan lupa juga terus ikuti kisah Dion & Allena...!!!


See you tomorrow**... !!!

__ADS_1


__ADS_2