
HAPPY READING GESS.... 💙💙💙
_____________
Saat ini mereka sudah di rumah sakit. Citra menyuruh orang pilihannya untuk mengawasi restorannya. Kini mereka sudah berada di ruangan Allena di rawat.
“Kapok lu Yon! Kalo kakek Agus tahu, nggak bakalan di restuin lu sama Alle!” Seru Citra menakut-nakuti Dion. Citra memang sengaja menakut-nakuti Dion agar Dion panik.
Dion yang memegangi telapak tangan pucat Allena terkejut dan membulatkan matanya. Ia meneguk salivanya dan memohon pada Citra agar tidak di beritahu pada kakek Agus.
“Duh Cit.. gimana dong?” Tanya Dion panik.
Citra hanya mengedikkan bahunya dan tersenyum smirk tanpa Dion sadari.
“Bantuin gue bohong sama kakek Agus ya, Cit.” Pinta Dion.
“Eh! Lo mau bohongin kakek Agus? Nggak bakalan bisa Yon. Lo nggak tahu ya kalau kakek Agus bisa meramal?” Lagi-lagi Citra menakut-nakuti Dion dan tertawa di dalam hatinya.
“Lo jangan bohongin gue deh Cit, gue tau kali lo nakut-nakutin gue.. ” Kata Dion datar.
“Tauk juga lo ternyata... ” Ujar Citra sambil terkekeh.
“Untung aja kakek Agus udah berangkat ke Swiss, kalo nggak....lo nggak bakalan kena resti sama kek Agus dan nek Susi.” Ujar Citra lalu meminum botol aquanya.
“Beneran?” Tanya Dion memastikan.
Citra mengangguk dan meletakkan kembali botol aquanya itu.
__ADS_1
“Cit.. gimana hubungan lo dan Jenry?” Tanya Dion tiba-tiba yang menanyakan tentang hubungannya.
“Lo 'kan dah tahu kalo Jenry mau nikah sama Mala, sepupu gue sendiri. Ikhlasin aja deh biar bahagia...” Kata Citra sendu.
“Lo nggak mau merjuangin Jenry lagi? Padahal dia nggak suka sama Mala kok.” Tanya Dion.
“Ya... walaupun begitu, mamahnya Mala yang gue anggap mama gue juga udah baik banget sama gue. Gue nggak mau ngecewain bibi lagi, Yon.” Jawab Citra sambil menundukkan matanya.
Matanya sudah berkaca-kaca karena perjuangannya kepada Jenry selama ini sia-sia. Dulu, setiap Jenry selesai bermain basket saat kuliah. Citra selalu memberikan botol minumnya pada Jenry. Jenry menerimanya karena Jenry hanya menganggap Citra sahabatnya, bahkan saudarinya. Namun, Jenry malah membaginya pada teman-teman lainnya yang bermain basket. Sungguh, Citra saat itu sakit hati.
Dion hanya mengangguk mendengar alasan Citra.
***
Kepala Allena terasa berat dan pusing, ia juga merasa tubuhnya pegal. Allena segera berusaha untuk membuka matanya dan mengumpulkan seluruh nyawanya. Ia melihat langit-langit ruangan yang berwarna putih. Tangannya bergerak, semua orang yang ada di ruangan itu pun terkejut dan segera memanggil dokter.
Allena yang mendengar pertanyaan Dion menganggukkan kepalanya pelan. Lalu tersenyum tipis, tangannya berusaha untuk mengelus rambut hitam Dion.
“Ada yang sakit?” Tanya Dion lagi.
Allena menggeleng, “Nggak.. tapi badanku pegel dikit..” Jawab Allena dengan suara serak dan lemahnya.
“Kalo gitu, kami luan ya Yon...” Ujar Angga yang tidak tahan melihat adegan romantis di hadapannya.
“He'eh, gue nggak mau jadi nyamuk.” Celetuk Glenn.
“Tunggu dulu!” Teriak Gio.
__ADS_1
Seluruh orang yang di ruangan itu terkejut mendengar teriakan Gio yang jarang orang dengar.
“Kenapa?” Tanya Dion.
“Gue cuma mau pamit aja ke kalian kalo besok gue mau berangkat ke New York kuliah ambil S-3.”
Semua orang bertambah terkejut saat Gio mengatakan bahwa ia akan melanjutkan pendidikannya ke New York.
“Beneran lo Gi?” Tanya Glenn memastikan.
“Ya udah kalau nggak percaya.” Ujar Gio.
“Selamat ya Gi.” Ucap Angga.
“Wess, kita bakalan dua sahabat nih kalau gitu.” Ujar Glenn.
“Satu lagi siapa?” Tanya Angga.
“Jenry! Dia 'kan mau nikah...” Jawab Glenn.
Citra yang baru datang bersama dokter dan Dea hanya bisa diam dan pura-pura tidak mendengar percakapan mantan anak geng Badalikas itu.
Sedangkan Gio mendelik tajam pada Glenn yang sama sekali tidak bisa mengerem mulutnya.
***
BERSAMBUNG ~~~
__ADS_1