
Ponsel Allena bergetar, Allena segera membuka ponselnya dan membuka pesan yang di kirimkan Citra.
Citra A.
Lo itu kemana aja sih, gue duluan ke kelas ya. Malas gue nunggu lo yang bicara sama Farhan. Humphh, dasar pembohong!
"Ups, kayaknya gue ketahuan. Hehe, " Ujar Allena sambil terkekeh membaca pesan dari sahabatnya itu.
Ia memasukkan ponselnya itu kembali ke saku roknya. Langkahnya tiba-tiba berhenti ketika melihat seseorang yang tidak asing di matanya. Ia langsung melangkah menuju borang yang sedang duduk di rumput dan bersandar di batang pohon itu.
"Yon, kamu ngapain?" Tanya Allena basa-basi.
Dion meliriknya sekilas dan tidak menghiraukan pertanyaan Allena. Allena menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hemm, apa dia nggak kenal gue ya? Sepertinya seru kalau Dion di kerjain. " Batin Allena.
"Ooy, lagi mikirin siapa?" Tanya Allena lagi.
"Kenapa lo nggak masuk?" Bukannya menjawab, Dion malah bertanya balik pada Allena.
Allena terdiam saat Dion memanggilnya 'lo'. Seperti bukan orang yang akrab dan dekat lagi.
"Boloslah."
"Lo mau ikut gue nggak?"
"Ke mana?"
"Pantai." Ajak Dion.
Tanpa ragu lagi, Allena menganggukkan kepalanya dan berdiri mengikuti langkah Dion. Ini adalah kali kedua Allena naik motor milik Dion.
Selama perjalanan, Dion hanya diam tanpa membuka suaranya. Allena pun mendadak jadi gugup saat berduaan dengan Dion seperti ini.
__ADS_1
"Ehm, Yon! Lo nggak kenal sama gue lagi?" Tanya Allena.
"Emangnya lo siapa? Lo itu murid baru yang pindah dari Rusia itu, 'kan?" Ujar Dion.
Allena menganggukkan kepalanya, "Tapi, coba deh lo inget inget. Lo pernah nggak ketemu sama gue?".
" .... "
Dion hanya diam tanpa membuka suara lagi. Allena jadi bertambah gugup jika berbicara dengan manusia es seperti Dion. Menyeramkan, pikir Alena.
Mereka berdua telah sampai di pantai, angin sepoi-sepoi yang Berhenbus membuat rambut Allena yang sedang di gerai jadi sedikit berantakan.
Allena memejamkan matanya menikmati angin-angin yang ingin membuatnya terbang. Burung-burung beterbangan dan ombak laut itu menyapu kakinya sehingga kaki Allena sudah berpasir. Ya, sebelum menghampiri air laut, Allena dan Dion terlebih dahulu membuka sepatunya.
Allena tidak menyadari kalau Dion sedang memperhatikan wajahnya lekat-lekat dan memikirkan pertanyaan Allena yang tadi.
Allena membuka matanya dan menoleh ke samping. Ia melihat Dion yang sedang melihati wajahnya. Allena tersenyum tipis, ia heran kenapa Dion sama sekali belum mengenalnya.
"Emangnya lo itu siapa?" Tanya Dion.
"Allena, " Jawab Allena singkat.
Dion terdiam, ia jadi teringat dengan pacarnya yang di keluarkan dua hari lalu. Dion kembali menatap wajah Allena lekat-lekat. Dion menyadarinya dan matanya membulat.
"Alle... " Lirih Dion.
Allena menganggukkan kepalanya dan tersenyum sumringah. Akhirnya Dion mengetahui Allena yang sebenarnya.
"Kok, kamu jadi seperti ini?" Tanya Dion. Dion merasa sedikit geli saat menggunakan tata bahasa aku - kamu.
"Asli aku memang kayak gini, badgirl." Kata Allena sambil tersenyum angkuhnya.
Tanpa aba-aba, Dion langsung memeluk Allena. Allena jadi gugup lagi jika berpelukan dengan Dion.
__ADS_1
"Allena aku memang cantik."
Allena semakin geli saat mendengar perkataan Dion. Aneh sekali bocah ini, pikir Allena.
"Ya, dong! Siapa dulu." Ujar Allena.
Drttttt....
Allena pun langsung mengangkat panggilan itu. Ia menjauh dari Dion agar Dion tidak mengetahui siapa yang sedang menghubunginya.
"Ada apa?" Tanya Allena pada orang yang menghubunginya itu.
"Kalo lo mau nyawa Dea selamat, lo harus datang sendirian ke ----- , " Ujar Orang itu yang tidak lain adalah Farhan.
Allena membulatkan matanya dan tangan Allena serasa tidak bertenaga lagi. Ponselnya jatuh ke pasir setelah panggilan dari Farhan itu mati.
Bugg...
Allena menggeram, ia tidak tahan lagi dengan Farhan. Entah apa kesalahannya Allena sehingga Farhan membunuh orang terdekat dan yang ia sayangi. Allena sekarang hanya bisa berharap kalau Dea bisa melakukan pertahanan pada dirinya sendiri.
Dion yang melihat Allena menjatuhkan ponselnya sedikit penasaran dengan pembicaraan Allena dengan orang yang meneleponnya itu.
"Farhan... lo saat ini udah keterlaluan banget... gue akan bikin lo lebih tersiksa daripada mereka..."
Allena terus mengumpati Farhan di dalam hatinya sambil mengepalkan tangannya hingga warna telapak tangannya putih.
*
*
*
~To Be Continue~
__ADS_1