
HAPPY READING AND ENJOY...
SELAMAT MEMBACA GESS... ✨💙❤
______________
Allena merintih saat seseorang mencengkram dagunya. Ia mulai membuka matanya dan melihat Meysa tepat di depannya dengan seringaian liciknya.
"Owh, sudah bangun rupanya," Ujar Meysa dengan tawanya.
"Bagaimana? Apakah tidurmu nyenyak?"
Allena diam dan sama sekali tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Meysa. Seluruh tubuhnya terasa remuk, tangan dan kakinya yang di ikat keram.
"Nanti malam kita akan memulai pertunjukannya, Allena. Bersiap - siaplah, Hahaha."
Meysa pergi meninggalkan Allena yang sudah mati rasa. Entah apa yang telah di perbuat Meysa pada Allena tadi malam.
"Dion... tolong aku...."
***
Sedangkan Dion kini bersama Jenry, Angga, Citra, Dea, serta Tamara di suatu tempat yang tidak terlalu jauh dari tempat di mana Allena di sekap.
"Kita tinggal nunggu malam aja, kalian udah tau kan posisi masing-masing?" Tanya Dion.
Semua orang menganggukkan kepalanya kecuali Tamara. Perkataan Meysa masih terngiang-ngiang di kepalanya.
__ADS_1
"Tamara! Lo kenapa?" Tanya Dea.
"Ehm... sebenarnya ada yang mau aku katakan sama kalian."
"Apa?" Tanya Citra sambil melihat intens Tamara.
"Meysa mengancam diriku, ia akan lebih cepat meledakkan bom itu kalau dia tahu aku mengadu sama kalian," Ujar Tamara.
Mereka semua saling berpandangan dan menghembuskan nafasnya kasar.
"Jadi, Meysa udah tahu kalo lo ngadu sama kita?" Tanya Jenry.
Tamara nampak menggeleng-gelengkan kepalanya, "Aku nggak tahu kalau Meysa udah tahu apa belum," Ucapnya seraya memejamkan matanya sebentar.
"Kalo dia tahu, gimana dong?" Sahut Angga.
"Apalagi kalau bomnya itu rakitan dia sendiri, lebih bahaya!" Sahut Citra menimpali.
Dion menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan Citra, "Kita bersiap-siap aja sekarang!" Perintah Dion.
***
Allena tidak ada tenaga lagi sekarang. Perutnya yang sudah tidak di isi selama lebih 48 jam membuatnya kehabisan tenaga.
Matanya tertuju pada batu kerikil kecil yang ujungnya tajam. Allena mencoba meraih batu kerikil kecil itu dengan kaki kanannya.
Awalnya batu itu semakin menjauh saat Allena mencoba untuk meraihnya. Namun, percobaan ke dua ia berhasil mendapatkan batu kerikil itu.
__ADS_1
"Ck, tangan pake di ikat segala lagi," Gerutu Allena.
Allena pun mendorong batu kerikil kecil itu kebelakang dekat tangannya. Ia menggeser kan tubuhnya agar tangannya yng di ikat dapat menjangkau batu kerikil itu. Akhirnya tangan kanan Allena mendapatkan batu itu.
"Fyuh, dapat juga," Gumamnya.
Tangan kanannya ia buat untuk mengggesek - gesek kan untuk memutuskan tali yang terikat pada tangannya.
Beberapa gesekan akhirnya tali itu terputus. Allena sudah bisa menggerakkan tangannya, walaupun tenaganya sangat lemah.
"Gue harus cepatan keluar dari sini," Batin Allena.
Allena Lalu membuka tali yang terikat di kakinya. Akhirnya, ia terlepas dari ikatan - ikatan yng di buat oleh Meysa.
Ia memegang tembok untuk mendirikan badannya yng sudah kehabisan tenaga itu. Setelah berdiri, Allena mulai melangkah lagi kakinya perlahan-lahan.
"Awh, " Ringis Allena.
Allena tidak tahu kalau sudah ada beberapa orang yang melihatnya dari belakang. Allena terus berjalan dengan tertatih-tatih, jatuh, berdiri kembali.
"Bos! Apa sudah bisa?" Tanya salah satu di antara mereka.
"Tunggu! Biarkan dulu dia berjalan sampai tiang, setelah itu terserah kalian mau apa, aku hanya akan melihat dari belakang."
***
•Warning!! Bab selanjutnya akan menggunakan kekerasan dan pertumpahan darah!!! ☠️☠️
__ADS_1
BERSAMBUNG~~~