Savage Girlfriend

Savage Girlfriend
BAB 21 - DILEMPAR


__ADS_3

Bel tanda istirahat sudah berbunyi, para siswa-siswi SMA itu berhamburan keluar dari kelas. Begitu juga dengan Allena dan Citra.


Saat hendak ke kantin, Allena dan Citra melihat kerumunan di lapangan basket. Siswi-siswi berlomba-lomba meraih barisan depan untuk melihat orang yang bermain basket.


"Le, kayaknya ada yang main basket deh." Kata Citra.


"Bener, tapi siapa yang main basket? Sampe segitu histerisnya mereka." Ujar Allena.


"Yuk, kita lihat juga." Ajak Citra. Allena menanggapinya dengan anggukan.


Mereka berdua pun berusaha keras untuk meraih posisi paling depan. Bahkan kaki Allena sampai terpijak-pijak orang lain. Allena pun menginjak kaki yang menghalangi jalannya. Dan sampailah Allena di posisi paling depan. Ia melihat Dion dan sahabat yang lainnya bermain basket.


Keringat bercucuran di seluruh tubuh Dion dan pemain basket yang lainnya. Keringat itu membuat bagian tubuh mereka tercetak. Apalagi otot-otot lengan mereka, membuat para siswi-siswi berteriak histeris. Tidak terkecuali Allena dan Citra. Allena meneguk ludahnya dengan mata yang tanpa berkedip.


"Astaga, kenapa dia sexy? No! Apa yang lo pikirin Allena Cahyara Arijaya!" Gumam Allena di dalam hatinya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Citra sendiri terfokus pada Jenry yang tidak kalah gagahnya dari Dion. Citra semakin terkagum-kagum pada Jenry yang lihai bermain basket.


"Seandainya Jenry suka sama gue, pasti gue akan merasa perempuan yang paling beruntung di dunia ini." Batin Citra sambil menatap Jenry dengan mata berbinarnya.


Karena terkagumnya Allena dan Citra melihat para kaum adam yang bermain basket itu. Mereka sampai lupa mengedipkan matanya. Allena melihat Dion yang bermain basket dengan fokusnya, sampai-sampai fokusnya itu mengalahkan kesadarannya.


Seseorang tiba-tiba tidak sengaja melemparkan bola basket ke arah Allena. Hingga kepala Allena menjadi ring bola basket itu.


Bukkk....


Allena memegang kepalanya yang sakit terempar bola basket, lama lama penglihatan Allena mulai menggelap dan buram. Kesadarannya perlahan mulai menghilang, Allena akhirnya ambruk ke tanah.


Citra panik, ia menyenderkan kepala Allena pada pahanya.

__ADS_1


"Le, bangun Le!"


Tiba-tiba Dion menghampiri Citra dan Allena yang terkapai di paha Citra. Citra terkejut karena Dion menggendong Allena dengan bridestyle. Mulut Citra menganga melihat pemandangan yang langka di hadapannya. Perlakuan Dion juga tidak luput dari tatapan siswi-siswi yang lainnya.


Para siswi-siswi berbisik-bisik melihatnya pemandangan yang sangat langka di hadapan mereka. Dion langsung melarikan Allena menuju UKS.


"Wah, kayaknya si Dion udah jatuh hati sama Allena." Gumam Citra dengan senyum tipis smirknya.


Meysa yang baru saja datang di suguhkan pemandangan yang membuat hatinya panas terbakar api cemburu. Padahal ia sudah mengingatkan bahkan mengancam Allena agar tidak terlalu dekat-dekat dengan Dion.


"Dasar si culun, udah gue peringatin juga! Gak ada kapok-kapoknya tuh cewek. Awas aja lo ya, gua bakalan bikin lo keluar dari sekolah ini secepatnya!" Batin Meysa sambil menggeram kesal dan mengepalkan tangannya.


"Huh!"


Meysa berbalik menuju kelasnya daripada melihat pemandangan yang membuat ia tidak bisa mengendalikan emosinya.


***


Drttttt...


Ponsel Dea bergetar dan berbunyi, menandakan seseorang sedang berusaha untuk meneleponnya.


"Siapa ya?"


Dea melihat nomor dan nama Ayahnya tertera di layar ponselnya. Dea mengerutkan dahinya, ia heran kenapa ayahnya menelepon dirinya.


"Tumben papi nelpon aku." Kata Dea.


Dea mengangkat panggilan itu dan menggeser ikon berwarna hijau di layar ponselnya lalu mendekatkan ponsel itu ke telinganya.

__ADS_1


"Halo pi, ada apa papi telpon Dea?" Tanya Dea langsung pada Ayahnya yang berada di seberang ponsel.


"Papi cuma mau bilang, kalo sekarang yang handel dan menanggung jawab SMA Atlanta kalian bertiga. Allena bilang kalau Farhan akan sekolah sebentar lagi di sana, sekarang papi udah di tempat yang aman. Papi berpesan sama kamu biar hati-hati, jangan sampai Farhan bunuh kamu seperti Dhia." Ujar Samuel sedikit lemas saat menyebut mendiang putrinya yang tidak lain adalah saudari kembar Dea.


Dea ikut bersedih mengingat kembarannya itu, "Iya pi. Papi tenang aja, Dea bakalan jaga diri di sini. Papi juga sehat-sehat di sana ya."


"Iya.Ya sudah, papi tutup telponnya dulu ya. Bye," Ucap Samuel.


"Bye juga pih," Balas Dea.


Panggilan itupun mati, Dea menghela nafasnya. Ia jadi tidak berniat keluar lagi. Dea merebahkan dirinya di sofa markas itu.


***


Allena mulai membuka matanya perlahan, menumpulkan nyawa dan penglihatannya. Allena melihat langit-langit ruangan itu berwarna putih. Persis seperti dirinya pertama kali berada di UKS.


"Ini pasti di ruang UKS," Gumam Allena dalam hati.


"Lo udah bangun, " Allena melihat pemuda jangkung yang ada di sampinya. Allena juga melihat Citra yang sedang terdiam melihati dirinya.


Allena lalu menganggukkan kepalanya, ia berusaha mendudukkan tubuhnya. Citra dengan sigap membantu Allena duduk.


"Lo udah baikan?" Tanya pemuda itu.


Lagi-lagi Allena menjawab dengan anggukan kepalanya. Ia melihat seluruh ruangan UKS itu seperti mencari seseorang. Namun Allena sama sekali tidak melihat yang ia harapkan.


"Dimana dia?" Tanya Allena di dalam hatinya.


Allena menatap kedua manusia yang ada di samping ranjang UKS yang ia tiduri. Tidak lama kemudian, empat pemuda jangkung lainnya datang menghampiri dirinya yang terduduk di ranjang UKS.

__ADS_1


"Lo baik-baik aja, 'kan?"


~To Be Continued~


__ADS_2