Savage Girlfriend

Savage Girlfriend
BAB 20 - KEKEJAMAN FARHAN


__ADS_3

Hai para readers, author udah up 5 eps hari ini. Jadi, jangan pelit likenya yaaa...


HAPPY READING~ Author Zhara Tanisa.


________________


Mata Allena membulat melihat Farhan yang menodongkan pistol ke mulut seseorang. Allena berencana untuk menyelamatkan pria yang akan di tembak oleh Farhan itu.


Allena melihat batu di dekat kaki kirinya, ia pun langsung mengambilnya dan melemparnya ke arah berlawanan darinya. Suara genting yang terkena lemparan batu itu cukup keras karena batu yang di lempar oleh Allena cukup besar. Farhan dan orang-orang yang berada di sana terlihat panik serta waspada.


Allena melihat Farhan tidak jadi menembakkan pistolnya pada mulut pria yang usianya kurang lebih 40 tahun. Farhan beranjak dari tempatnya melihat yang terjadi pada bagian rumah itu.


"Ini kesempatanku!"


Allena masuk ke dalam rumah itu dan menghampiri pria yang hampir di bunuh oleh Farhan.


"Apakah anda tidak apa – apa?" Tanya Allena pelan.


Laki-laki itu hanya menggeleng pelan kepalanya. Allena membantu pria itu berjalan sampai keluar. Ia menyembunyikan pria yang hampir di bunuh Farhan di balik pohon besar dekat sungai itu.


Lalu, Allena kembali melihat keadaan di dalam rumah yang di huni oleh anak buah Farhan. Ia melihat Farhan yang sedang masih memeriksa keadaan di bagian kiri rumah itu.


Tiba – tiba seseorang memegang pundak Allena. Sontak Allena membalikkan badannya dan melihat pria jangkung yang sudah berumur sedang menodongkan pistolnya.


"Astaga! Sedang apa pria tua ini di sini? Apakah dia suruhan Farhan juga? Haishh!"


Allena memundurkan tubuhnya, ia mendengar pria tua itu berbicara padanya dengan menggunakan bahasa Thailand kalau Allena tidak salah dengar. Bahkan Allena sedikit mengerti apa yang sedang di katakan oleh pria tua itu.


Allena mengelabui pria tua itu dan berhasil merebut pistol dari tangan pria tua itu. Pria berumur itupun berjongkok sambil mengangkat tangannya dan mundur.


Allena lalu menodongkan balik pistol milik pria tua itu. Allena tidak menekan pelatuk pada pistol itu, tapi entah kenapa pria tua itu malah jatuh. Allena menjatuhkan pistolnya dan langsung berlari dari sana.


"Aku harus lari dari sini dan pulang,"


Allena tidak sadar kalau ada CCTV yang telah merekam aksinya, walaupun ia tidak menembakkan pistolnya pada pria tua itu, Allena akan mendapat masalah setelah ini. Ada mata lain juga yang melihat aksi Allena, orang yang melihat aksi Allena sangat terkejut.


Allena melihat pria paruh baya yang hampir menjadi korban pembunuhan Farhan. Untung saja Allena masih sempat menolongnya.


Allena menghampiri pria itu, "Apakah anda baik – baik saja?" Tanya Allena.


Pria itu menganggukkan kepalanya, "Terima kasih sudah menolong saya nak, " Ujar Pria itu.

__ADS_1


Allena bernafas lega dan tersenyum tipis, "Emm apakah anda ingin saya antarkan pulang?" Tanya Allena.


"Apakah itu merepotkan?"


"Tidak sama sekali, " Tegas Allena.


Akhirnya, pria paruh baya itu menyetujui ajakan Allena untuk mengantarkannya pulang.


Di mobil Allena, pria itu menanyakan beberapa pertanyaan pada Allena.


"Siapa namamu?" Tanya pria paruh baya itu.


"Allena om, " Jawab Allena tersenyum tipis dan tetap fokus menyetir.


"Kalo nama om siapa?" Tanya Allena.


"Alwi Lesson, om baru saja pulang dari Amerika tapi sudah di culik orang yang sama sekali tidak om kenal. Apakah kau mengenal penculik om itu? Kenapa kau berada di sana?" Pertanyaan beruntun di lontarkan pada Allena.


"Maaf Om, Allena nggak bisa jawab, "Ujar Allena. Allena terkejut mendengar nama pria paruh baya itu. Karena akhir namanya terdapat embel-embel Lesson, nama akhir pacar satu bulannya.


"Oh, tidak apa – apa kalau begitu, " Kata Alwi sambil tersenyum tipis.


"Om yakin kalau om turun di sini saja?" Tanya Allena. Allena melihat kalau tempat pemberhentian Alwi adalah gang menuju perkebunan kota.


"Iya. Om berhenti di sini aja, kalau begitu om duluan ya. Hati-hati di jalan!" Alwi menasihati Allena.


"Baik Om, " Balas Allena menunjukkan senyum tipisnya. Setelah tubuh pria paruh baya itu menjauh, Allena melajukan mobilnya ke apartemennya. Saat ini, tubuhnya masih sama seperti di sekolah. Rambut di gulung, memakai kacamata bulat non minus.


Allena melihat pergelangan tangannya, ia melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 5 sore, "Huuhh,hari yang melelahkan. Moga aja nanti di rumah udah ada makanan, " Ujar Allena. Hari juga sudah mulai mendung. Allena mempercepat kecepatan mobil mewahnya itu.


Sebelum sampai di apartemen, Allena memarkirkan mobilnya di showroom miliknya yang jarak dari apartemennya sekitar 400 meter.


Di apartemennya, ia terkejut melihat Dion tertidur di atas sofa sambil memeluk bungkus camilan. Dion juga sudah membuat seluruh ruangan tamu apartemennya bagai kandang kambing.


"Dion jorok ihhh, " Teriak Allena.


Dion langsung terbangun mendengar teriakan Allena. Ia menautkan kedua alisnya saat melihat Allena yang cemberut mengerucutkan bibirnya.


"Lo kenapa?" Tanya Dion dengan wajah tengilnya. Allena melihat kesal ke arah Dion yang pura – pura tidak tahu apa yang telah di perbuatnya pada apartemennya ini.


"Humphh, tauk!" Semprot Allena kesal sambil mengerucutkan bibirnya. Allena tidak sadar kalau bibirnya itu sudah membangkitkan gairah Dion.

__ADS_1


"Lo sengaja ya goda gue?" Tanya Dion dengan senyuman smirknya.


Allena membulatkan matanya, "Siapa yang goda kamu, orang aku cuma kesal sama kamu! Coba lihat apa yang sudah kau buat dengan apartemen ini, sudah seperti kandang kambing aja!" Omel Allena melototkan matanya dan berkacak pinggang layaknya emak yang sedang memarahi anaknya.


Dion terkekeh kecil, "Sorry, gue tadi nunggu – nunggu lo. Tapi baru jam segini datangnya, lo darimana aja?" Selidik Dion.


"Bukan urusan kamu!" Ujar Allena sambil memunguti sampah – sampah yang ada di lantai.


"Gue pacar lo, gue berhak tahulah!" Bantah Dion.


Allena diam saja, ia tidak mau memberi tahukan pada Dion apa yang telah di lakukannya tadi.


Allena membuang sampah – sampah camilan yang sudh kosong itu ke keranjang sampah yang ada di dekat lemari televisi. Dion berbalik kesal karena Allena tidak mau menjawab pertanyaannya.


Dion langsung berdiri dari sofa dan berjalan menuju Allena yang sedang memungut sampah bekas makanannya tadi. Allena sadar jika Dion berjalan ke arahnya, namun Allena tidak tahu apa yang akan di lakukan Dion pada dirinya.


"Okey, kalo lo nggak mau jawab, " Kata Dion dengan seringai miliknya.


Allena masih mengacuhkan Dion yang berjalan ke arahnya. Ia tidak peduli sama sekali dan terus memunguti sampah serta tisu yang sudah berserakan di lantai.


Dion langsung mengangkat tubuh Allena dan menggendongnya dengan kepala di belakang tepat di punggung Dion, kaki Allena di depan. Allena terkejut dengan Dion yang tiba-tiba menggendongnya ala film asia timur. Allena memberontak, ia memukul punggung Dion serta menendang – nendang udara yang berada di depan Dion. Dion menjadi sedikit kesulitan menggendong Allena.


"Woi, turunin aku! Dion! Turunin cepat! Kamu mau bawa aku ke mana? Jangan macam – macam kamu ya! Cepat turunin!" Allena berteriak dan mengoceh terus.


Dion langsung menjatuhkan tubuh Allena di sofa ruang tamu lalu menindihnya. Mata Allena membulat saat Dion menindihnya. Ia menatap mata sayu Dion yang sedang menatap matanya dalam – dalam.


"A-apa yang sedang kamu la-lakukan?" Tanya Allena bergetar. Entah kenapa tubuh Allena tidak bisa menolak perlakuan Dion padanya akhir – akhir ini.


Dion langsung mencium bibir Allena dengan lembut. Allena membulatkan matanya penuh, ia tidak menyangka Dion akan menciumnya selembut ini. Allena ingin menolak, tapi reaksi tubuhnya malah menerima perlakuan Dion. Allena memejamkan matanya menikmati ciuman Dion padanya. Rambut hitam Dion yang panjang mengenai hidung dan keningnya.


Namun, Allena langsung menendang perut Dion sampai Dion mengguling – guling di lantai. Allena melototkan matanya, ia tidak mau kejadian seperti tadi lagi. Allena takut Dion akan khilaf padanya, kecupan aja udah membuat Allena tergoda setan. Apalagi seperti yang tadi, bisa – bisa Allena udah bobol sebelum kawin.


"Akhh, " Rintih Dion sambil memegangi perutnya.


"Rasain, coba aja kalau kamu bikin kayak tadi sama aku lagi. Aku sunat tuh sosis!" Ancam Allena.


Dion yang mendengarnya jadi ngilu dan ketakutan.


"Astaga, kenapa makin hari si culun makin bar – bar aja?"


~To Be Continued~

__ADS_1


__ADS_2