
Di ruangan BK, Allena sudah menjelaskan yang terjadi pada guru BK itu. Guru BK itu sedikit masih tidak percaya dengan ucapan Allena, walaupun sekarang Allena adalah salah satu orang penanggung jawab sekolah itu.
"Maaf Bu, saya benar-benar tidak melakukan hal itu. Saya hanya melindungi saya sendiri, rekaman itu di edit bu." Ujar Allena berusaha untuk membuat agar guru itu percaya padanya.
"Saya akan percaya jika memang ada bukti bahwa kau memang tidak bersalah." Balas guru BK itu.
Allena menggigit kuku jari telunjuknya, ia harus meyakinkan guru itu agar percaya padanya. Tapi, tidak ada jalan lain lagi selain menunggu Jenry dan Citra datang.
"Allena, kau adalah murid baru. Kepintaranmu memang sudah di atas rata-rata, tapi sikapmu seperti ini bisa merusak reputasi sekolah, nak." Kata Aryani, yang tidak lain adalah guru BK yang sedang menceramahi Allena.
Allena tidak menghiraukan ucapan gurunya itu. Ia tetap menggigit kuku jarinya, sampai-sampai ujung kukunya patah sedikit.
Tiba-tiba, pintu ruangan itu terbuka dengan cepat. Jenry dan Citra ngos-ngosan di hadapan Allena dan Bu Aryani itu.
"Saya hosh... menemukan ekaman aslinya hosh... " Ujar Jenry sambil memegang lututnya dan tangan kirinya memegang sebuah flashdisk yang di ketahui adalah rekaman aslinya itu.
Allena tersenyum melihat mereka berdua. Allena juga sangat senang karena Jenry berhasil menemukan rekaman rahasianya itu. Ia sangat berterimakasih pada kedua manusia yang di hadapannya itu.
"Benarkah, sini berikan sama Ibu! Kita lihat bersama-sama apakah Allena memang bersalah atau tidak." Ujar Bu Aryani tersenyum tipis.
Jenry dan Citra melihat Allena yang tersenyum pada mereka berdua. Jenry dan Citra menganggukkan kepalanya masing-masing. Allena pun membalas anggukan kedua orang itu.
Mereka sudah berada di depan layar laptop milik Bu Aryani. Bu Aryani memasang flashdisk itu ke laptop. Terpampanglah rekaman asli dan kejadian yng sebenarnya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, video itu sudah selesai. Bu Aryani meminta maaf pada Allena yang sudah menuduh Allena.
"Baiklah, di sini memang kamu tidak bersalah. Ibu meminta maaf karena telah menuduhmu, " Ucap Bu Aryani.
"Tidak apa-apa Bu, memang seperti itu jika menjadi seorang guru. Jika ibu membiarkan masalah ini, maka bukan reputasi sekolah saja yang rusak. Tapi juga guru-guru sekolah ini akan di anggap lalai dalam mendidik anak-anak." Balas Allena tersenyum tipis.
"Kalau begitu, kami permisi keluar ya Bu." Ujar Allena lagi.
Bu Aryani menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis. Ketiga anak remaja manusia itupun melenggang pergi dari sana.
"Allena, besok katanya Farhan udah mau masuk ke sini. Jadi bagaimana?" Kata Citra.
Allena langsung menghentikan langkahnya lalu menghadap ke arah Citra. Ia melihat Citra yang sudah menggelap.
Jenry yang mendengar itupun langsung menggeser Citra ke samping. Citra yang di geser merasa kesal pada Jenry yang seenak jidatnya menggeser tubuhnya.
"Ishh... main geser sembarangan aja," Gerutu Citra.
"Okey, gue aja yang akan jelaskan sama Bu Arya. Tapi tentang kejadian sebenarnya nggak di jelasin, 'kan?" Tanya Jenry.
"Nggak usah, bilangin aja sama bu Arya kalau si Alle mau istirahat agar pikirannya tenang dulu dan nggak tertekan." Jelas Allena.
Jenry mengangguk, "Okey."
__ADS_1
"Jadi, lo besok nggak sekolah?" Tanya Citra.
"Ya enggak lah, Citraku yang manis."
"Ish, apaan sih."
***
"APA!!"
Dion langsung berdiri dari kursinya dan menggebrak mejanya sendiri. Sontak seluruh kelas melihat ke arahnya, apalagi guru yang mengajar di kelasnya itu.
"Allena di keluarkan dari sekolah?!"
***
Hai para readers, maaf ya kemarin aku nggak update. Soalnya kuota aku habis, hari ini rencananya Crazy up. Jadi, jangan pelit vote, like dan komennya ya.
Okeh, ikuti terus kisah Allena dan teman-temannya.
From AlDi, thank's and See you! Bye.
~To Be Continue~
__ADS_1