
HAPPY READING...!!! 💙💙💙
________________
Wanita itu tersenyum sumringah, ia mendekat ke meja Dion dan duduk di kursi yang Allena tadi duduki. Dion sedikit heran kenapa wanita yang di hadapannya ini berada di Indonesia.
“Kenapa kau berada di Indonesia? Apakah kau mempunyai urusan di sini?” Tanya Dion.
“Ya, aku ada pemotretan minggu depan.” Jawab Tamara.
“Apakah kau ke sini sendirian?” Tanya balik Tamara pada Dion.
“Tidak, aku bersama kekasihku. Tapi sampai sekarang ia belum datang dari toilet.” Ujar Dion sambil menatap jam tangannya.
“Lalu, sedang apa kau ke restoran ini?”
“Tidak ada, aku hanya mampir karena melihatmu di sini.” Jawab Tamara.
“Ya, tadi aku seperti melihatmu. Aku kira kau masih di Washington, ternyata aku tidak salah lihat.” Kata Dion.
Tamara sedikit terkejut mendengar perkataan Dion, “Yaa, a-aku juga seperti itu. Aku juga seperti melihatmu di sini. Oleh karena itu aku datang ke sini.” Ujar Tamara bohong.
Dion sedikit merasa aneh dengan jawaban Tamara. Namun Dion mengabaikannya.
“Apakah kekasihmu sudah lama di toilet?” Tanya Tamara.
“Ya, sudah lebih 30 menit tapi Allena sama sekali belum keluar dari toilet. Sepertinya ada yang terjadi sesuatu.”
__ADS_1
“Benarkah, kalau begitu aku akan pergi melihat ke toilet dulu untuk melihat kekasihmu.” Ujar Tamara.
“Memangnya kau sudah mengenal kekasihku?” Tanya Dion sambil menaikkan alisnya sebelah.
Tamara gugup, ia menutup kegugupannya dengan senyuman tipis, ” Tidak tahu.. apa kau bisa memperlihatkan fotonya padaku?”
Dion mengeluarkan ponselnya dan mencari galeri. Setelah itu, Dion menunjukkan foto Allena pada Tamara. Ternyata Dion suka diam-diam mengambil gambar Allena.
Di dalam hati, Tamara terus mengumpati Allena. Karena Dion banyak menyimpan fotonya.
“Dia cantik.” Kata Tamara.
“Padahal aku lebih cantik.”
Apa yang di dalam hati Tamara memang benar, ia lebih cantik dari pada Allena. Namun jika Dion sudah memilih Allena, Tamara bisa apa.
“Baiklah, kalau begitu aku akan mencarinya di toilet wanita dulu.” Ujar Tamara.
Dion mengangguk dan tersenyum tipis. Dion lalu menyimpan kembali ponselnya. Dion sedikit curiga pada Tamara. Tapi, ia membuang jauh-jauh pikiran itu.
***
Di dalam toilet wanita, Allena masih terkurung di sana. Ia sudah kedinginan, bibirnya membiru, bahkan rambut dan badannya sudah bau karena siraman air comberan itu.
Allena hanya bisa berharap kalau seseorang datang mengeluarkannya dari toilet itu. Ia sangat berharap kalau Dion yang mengeluarkannya dari sini. Beruntung toilet itu memiliki pengharum, kalau tidak mungkin Allena sudah lama pingsan karena tidak tahan bau toilet.
“Tolong.... keluarkan aku....” Gumam Allena.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, langkah tumit high heels terdengar. Allena buru-buru berdiri, ia menampar-nampar pintu toilet itu.
“Tolong... to.. long..”
Lalu suara derap kaki itu menghilang, Allena merasa kalau wanita yang tadi sudah pergi meninggalkan toilet. Ia melihat jam tangan anti airnya.
Pukul 8 malam, sampai sekarang sama sekali belum ada yang menolongnya keluar. Ia menghela nafas dan terus berdoa supaya bisa keluar dari tempat ini.
***
“Aku sudah melihatnya, tapi tidak seorangpun ada di toilet wanita.” Ujar Tamara pada Dion.
“Benarkah?” Tanya Dion.
Tamara menganggukkan kepalanyadan tersenyum kecut. Namun, di balik senyum kecutnya ia menarik sudut bibirnya dan tersenyum smirk.
Dion memejamkan matanya dan menggigit jari telunjuknya. Ia begitu khawatir pada Allena yang belum datang dari toilet sedari tadi.
“Kenapa Allena sangat lama datang?”
***
• Jangan lupa baca karyaku yang lain ya...
judulnya PROMISE
💙💙💙
__ADS_1
BERSAMBUNG ~~~