
MOHON MAAF KARENA SUDAH LAMA TIDAK UP, KARENA BANYAKNYA URUSAN DI DUNIA REAL. MOHON DUKUNGAN DAN SARANNYA. UNTUK YANG SETIA MENUNGGU NOVEL INI, SAYA SANGAT BERTERIMA KASIH. SAYA JUGA TIDAK TAHU KALAU DI COVERNYA UDAH ADA KATA 'END'. MUNGKIN NOVEL INI KURANG SERU, TAPI SAYA PASTI AKAN BERUSAHA UNTUK LEBIH BAIK.
Pagi hari, Allena sudah bersiap siap berangkat ke sekolah. Ia sarapan dengan nenek dan kakeknya.
"Kapan kamu membuka peenyamaranmu?" Tanya Susi.
"Sampai si Farhan datang," Jawab Selena.
"Nek, Kek! Alle udah siap, Alle berangkat dulu yah Nek, Kek." Selena pamit pada kakek dan neneknya.
Allena berangkat seperti biasa, yaitu menaiki bus yang menuju ke sekolahnya. Selama di bus, ia memakai headset dengan volume yang rendah. Karena Alle ingin mendengar pembicaraan orang sekitarnya.
Sesampainya di sekolah, Allena tiba\-tiba di halangi oleh Dion. Allena menatap Dion dengan dahi yang berkerut.
"Kenapa kamu halangi jalan aku?"
Dion langsung melempar buku tulis standar pada Allena. Allena langsung menangkap buku itu.
"Kerjain PR gue, nanti istirahat gue samperin lo lagi di kelas lo." Ujar Dion.
Allena hanya bisa mengumpat di dalam hatinya, ia tidak habis pikir dengan Dion. Katanya anak Badalykas jenius, tapi apa?
Allena langsung berjalan ke kelasnya dengan kaki yang di hentak hentakkan. Sebelum sampai di kelas, tiba\-tiba seseorang menarik tangannya ke kamar mandi.
Allena melihat Meysa yang sedang menarik tangannya ke kamar mandi dengan sangat kuat. Namun Allena sama sekali tidak kesakitan, baginya kekuatan Meysa sangt lemah.
__ADS_1
"Heh! Gue peringatin sama lo, lo ngga usah sok deket deket sama Dion! Asal lo tahu, Si Dion cuma macarin lo biar gue cemburu. Jadi lo ngga usah kegatelan sama Dion! Ingat itu!"
Allena hanya diam tanpa menanggapi perkataan Meysa. Allena berkali\-kali di tampar dan di siram air bekas kain pel, sampai wajahnya sedikit memerah. Tamparan Meysa juga tidak terlalu sakit.
Ingin sekali rasanya Allena mencekik gadis ular ini, Allena juga tidak yakin lagi kalau Meysa ini masih seorang gadis.
Setelah Meysa pergi, Allena segera pergi ke markas rahasianya untuk mengganti bajunya yang basah.
Di markas, ia melihat gadis yang tidak asing di matanya. Matanya membulat dan perasaannya senang.
"Deaaa!" Teriak Allena sambil berlari hendak memeluk Dea.
"Ish, apaan sih lo! Bau tau nggak!"
"Hehe, sorry! Gue tadi di bully sama wanita ular."
"Yaa, seperti itulah. Mungkin kalau orangnya bener bener cupu pasti udah nangis. Kalau gue kan kuat, malahan ingin gue injek injek tuh si Meyeng."
"Meyeng? Apa tuh?"
"Nama panggilan buat nona Meysa lah,"
"Haha, sampe segitunya lo."
"By the way, Si Citra mana?" Tanya Dea.
"Di kelas mungkin, yaudah gua mandi dulu ya de."
__ADS_1
Selesai mandi, Allena langsung pergi ke kelasnya tanpa menghiraukan Dea yang ada di sana.
Bel sudah berbunyi menandakan jam pertama segera di mulai. Di kelas, Allena melihat Citra yang sedang ketiduran. Allena menggelengkan kepalanya, ide jahil muncul di kepalanya.
"Cit, pak gendut udah datang tuh." Bisik Allena di telinga Citra.
Citra langsung menegakkan tubuhnya, ia melihat di kursi guru masih kosong. Citra langsung menatap tajam pada Allena.
"Hehe, canda." Ujar Allena cengengesan. Citra langsung menabok kepala Allena dengan buku tulisnya.
Tidak lama kemudian, guru yang mengajar mereka datang. Siapa lagi kalau bukan pak botak. Selama jam pelajaran pak botak, banyak siswa\-siswi yang ketiduran maupun yang bercanda canda dengn teman sebangkunya.
Bel berbunyi menandakan istirahat pertama telah tiba. Semua orang menghambur keluar dari kelas. Allena saat ini sedang malas ke kantin.
Seorang laki\-laki jangkung masuk ke dalam kelasnya. Siapa lagi kalau bukan Dion.
"Mana buku gue?"
"Di tas." Jawab Selena yang sedang menelungkupkan kepalanya.
"Ambilin!"
"Ah, lo aja. Gue lagi banyak pikiran tahu nggak!"
Allena membulatkan matanya di balik tangan kanannya. Sedangkan Dion mulai curiga dengan gaya bahasa Allena yang berubah jadi lo\-gue.
"\\\\_"
__ADS_1