Savage Girlfriend

Savage Girlfriend
BAB 56(S2)


__ADS_3

**HAPPY READING AND ENJOY...


SELAMAT MEMBACA GESS...


WARNING!!! 🔪


AKAN ADA PERTUMPAHAN DARAH DI BAB INI**..


_____


Allena terus berusaha berjalan dan pantang menyerah. Allena memegang tiang yng berasa di sampingnya. Tiba-tiba, dua orang pria bertubuh besar sedang menghadangnya.


"Hai, maniss! Mau melarikan diri lagi, hem?" Tanya pria itu sambil mengedipkan matanya.


Allena menatap kedua pria itu dingin. Kini badannya mulai melemah. Tatapannya buram dan tidak setajam biasanya lagi.


"Minggir! Aku tidak punya urusan dengan pria seperti kalian!"


Kedua pria berbadan besar itu menampilkan seringaiannya masing-masing yang menyeramkan.


Tanpa Allena sadari, salah satu dari pria itu melayangkan tinjunya ke perut Allena.


"Akh, " Allena merintih serta terkejut.

__ADS_1


Allena mencoba memelintir tangan kedua pria bak preman itu. Awalnya ia berhasil, tapi untuk selanjutnya, ia yang mendapatkan pelintiran dari kedua pria itu.


Pria yang satunya lagi menendang punggung Allena ke arah tiang, membuat kepala Allena terbentur ke tembok itu. Bahkan, Allena merasa tulang hidungnya retak karena terbenturnya hidung Allena dengan sangat keras membuat darah keluar dari hidungnya itu


"Ekh," Allena meraba hidungnya yang sudah di penuhi darah.


Tidak lama kemudian, salah satu dari pria itu kembali membenturkan kepala Allena ke tiang itu. Membuat kesadaran Allena semakin menipis. Allena pun terduduk dengan lemah dan bersender di tiang itu.


"Haha... dia ternyata wanita yang lemah."


Kedua pria itu tertawa melihat keadaan Allena yang sudah sangat lemah dan sudah di lumuri oleh darah. Meysa yang melihat dari kejauhan tersenyum smirk dan merasa puas.


"Allena... Allena... kau akan mati bodoh seperti orang tuamu dulu haha," Gumam Meysa tanpa ada yang mendengarnya sama sekali.


***


"Semoga Allena nggak kenapa - napa," Harap Dion. Tapi perasaannya mulai dari tadi sudah tidak enak.


Tiba tiba, Dion mendengar suara derap kaki dari arah kiri. Ia langsung bersembunyi di balik papan papan yang bertumpuk di dekatnya.


Ia terus mencari di ruangan mana Allena di sekap. Namun, sampai saat ini ia sama sekali belum menemukan Allena.


***

__ADS_1


Sedangkan Allena kini sudah terbujur kaki. Ia terus mendapatkan serangan dari kedua pria berbadan besar itu. Seluruh tubuhnya sudah tidak berdaya lagi.


"Apakah gue akan mati dan ninggalin Dion? Kalaupun gue mati, semoga Dion nggak terlalu sedih berlarut-larut kaya gue dulu," Batinnya. Ia menarik sudut bibirnya tanpa ada seorangpun yang menyadarinya.


"Sudah cukup! Bomnya akan meledak 20 menit lagi, kita pergi dari sini secepatnya!" Teriak Meysa dari belakang.


"Baik, Bos!"


Kedua pria itupun meninggalkan Allena yang sudah terbujur kaku dan tidak sadarkan diri. Pakaian Allena yang sudah robek beberapa bagian serta darah yang mengalir di hidung, tangan, kaki juga pelipisnya.


Suara alarm di tempat itu berbunyi dan menandakan bomnya akan segera meledak dalam waktu lima belas menit lagi.


Dion yang mendengarnya pun terkejut dan langsung mencari Allena yng entah di mana. Ia terus mencari, orang orang Meysa sudah berkeliaran semua. Kini, hanya Dion dan Allena lah yang berada di tempat itu sekarang.


"Allena kamu di mana?" Teriak Dion.


Allena tidak dapat mendengar karena ia tidak sadarkan diri lagi. Dion terus berteriak dan berteriak.


Dion melihat pintu ruangan yang sedikit terbuka. Dion langsung menerobos masuk ke dalam ruangan itu. Dan ia sangat terkejut melihat kekasihnya yang sudah tidak sadarkan diri di lantai dengan tubuh yang di penuhi darah.


"Allena! Allena! Bangun sayang! Jangan tinggalin aku! Allena!"


Dion menghampiri Allena dan memangku nya di pahanya. Ia meneteskan air mata yang jarang ia jatuhkan ketika melihat Allena yang sudah babak belur.

__ADS_1


Dion menggendong tubuh Allena dan segera membawanya keluar dari tempat tersebut. Dion terus berlari dan melewati pintu pintu yang ada di tempat itu.


BERSAMBUNG~~~


__ADS_2