
"Hahahaha..!!"
Ardan terus tertawa mendengar cerita Clarisa.
"Trus gimana lalatnya ? dibuang ?"
"Ya ditelanlah sama mas Sudikah, enak kali ? Hahahaha "
Kedua remaja itu tertawa, kala mengingat juri yang lain dari pada yang lain itu.
Mas Sudikah terperangah dengan mulut terbuka ketika Clarisa mengatakan, kalau lagu Terimakasih Cinta itu di tujukan spesial untuknya.
Sehingga dia gak sadar ada lalat lewat dan Haaapp ! Masuk ke dalam mulutnya.
Usai mengikuti audisi, Ardan mengajak Clarisa untuk makan. Sekaligus merayakan keberhasilan Clarisa masuk ke top ten.
Acara School Idol khusus top ten, akan dilaksanakan 2 bulan lagi. Setelah para siswa menyelesaikan ujian akhirnya. Kemudian para peserta akan masuk ke karantina.
Untuk itu masih ada kesempatan buat berlatih selama 2 bulan.
"Ingat ya Clar, dalam waktu 2 bulan. Kau harus bisa memberikan performance yang berbeda nantinya."
"Performance seperti apa ?"
"Selain suaramu bertambah bagus, badanmu harus bisa turun. Dalam waktu 2 bulan targetnya kau harus bisa menurunkan 15 kilo."
"Appaaa ??!!"
"Semangaaat ya !!!"
" Kau akan menyiksaku lagi ?"
"Tenang saja sayang, aku tidak mungkin menyiksamu. Kau hanya perlu sedikit adaptasi dengan makanan yang aku kasih nanti heheh"
"Ardan !apa kau malu jalan denganku ? Sehingga kau ingin membuat aku kurus."
Ardan tiba-tiba menghentikan makannya.
"Clar, aku sayang padamu, tulus ! aku melakukan ini semua, demi kesehatanmu. Seandainya dengan badan besar ini kau tetap sehat. Aku tidak akan menyiksamu dengan makanan -makanan diet."
"Aku tidak pernah malu denganmu. Seperti apa bentuk badanmu, aku tetap sayang padamu. Jadi berhentilah untuk terus berprasangka seperti itu terus !"
"Iya maafkan aku Ardan. Btw, apa aku pernah sakit ?"
"Apa kau lupa waktu kau terkena serangan jantung? Berat badanmu yang setiap hari bertambah berpengaruh dengan kinerja jantungmu."
Clarisa terdiam, dia mencoba mengingat semua apa yang dia tulis di bab-bab sebelumnya.
'Ah gue ingat sekarang, entah di bab berapa. gue menulis Ardan menunggu Clarisa di rumah sakit karena mengalami koma akibat serangan jantung'
Ide itu muncul, ketika dia masuk rumah sakit karna sakit maag.
Seketika sakitnya hilang saat Farel datang menjenguknya.
Apalagi saat mamanya, minta tolong pada Farel untuk menjaga Airin sebentar, karena harus menebus obat ke apotik. Membuat Airin bisa berdua dengan Farel dalam waktu yang cukup lama.
Tiba-tiba Airin tersenyum-senyum sendiri kala mengingatnya.
"Mulai sekarang ! Percayakan semuanya padaku Clar, selama 2 bulan aku yang akan mengatur pola makanmu. Jangan pernah lagi kau memakan makanan dari bi Herni. Mengerti ?"
"Oke, mengerti !"
Clarisa dan Ardan segera menyelesaikan makan mereka.
Di rumah bi Hesti, paman Adam dan Nadia sedang merencanakan sesuatu untuk membalas Clarisa.
"Mi pokoknya nadia gak mau bersaing dengan Clar! Dia itu bukan saingan Nadia mi, pii!" gerutu Nadia pada orang tuanya.
"Ahaa, mami tau ! bagaimana kalau kita buat dia kehilangan suaranya ?"
"Bagaimana caranya mi ?" tanya suami bi Herni.
"Mami punya kenalan, dia pintar meracik obat. Mami akan suruh dia meracik obat yang sekali minum, Gleekk !!! Suara Clarisa akan hilaaaang!! Hahahah."
"Mami yakin bisa berhasil ? karena kemaren waktu Nadia ngasih minuman, untuk membuat tenggorokan Clarisa gatal-gatal dan batuk -batuk, itu gagal mii ! Clarisa gak mau meminumnya!"
"Sudah ! kamu tenang saja, biar mami yang atur !"
__ADS_1
Tok !
Tok !
Tok !
"Itu pasti Clarisa ! Mami mau kasih pelajaran buat dia, karena tadi sudah nakut-nakutin mami ke kantor polisi."
"Iya mi , Nadia setuju ! Dia itu gak bisa apa-apa kalau gak ada Ardan."
"Kunci saja dia di gudang malam ini, menemani tikus-tikus."
"Setuju pii !!" ucap Nadia dan maminya bersamaan.
Bi Hesti berjalan ke depan membuka pintu.
"Cepat masuk sudah malam !"
Clarisa segera masuk, saat di ruang tengah. Paman Adam menghentikan langkahnya.
"Berhenti !!!" Teriak paman Adam kemudian melangkah mendekati ponakannya.
Clarisa menundukkan wajahnya tidak berani menatap wajah pamannya.
" Sudah berani kamu mengerjai bibi mu ? Mau melaporkan dia ke polisi ? BERANII KAMUU CLAAR ?"
Plaaak !!!
Sebuah tamparan keras melayang di pipi mulus Clarisa.
Clarisa menangis, dia merasakan pipinya begitu panas.
Bibi Herni tiba-tiba menarik rambut Clarisa ke belakang.
"Sekarang mana gaya sombongmu tadi hah ? yang mau melaporkan saya kepolisi ?"
"Sebelum kau melaporkan kami ke polisi, bisa kami pastikan kau hanya tinggal nama."
"A..ampun bi ! "
'Duuhh Gusti ! Gimana ini kalau mereka benar mau membunuhku ? Bagaimana aku bisa pulang ke dunia Airin ? '
Clarisa pingsan.
Paman Adam, bibi Hesti dan Nadia saling memandang kaget.
"Duuhh dia pake acara pingsan lagi. Gimana nih pi ? Mau angkat dia gimana ?" Tanya bi Hesti panik.
"Kita coba angkat sama-sama. Nadia, kamu dan mamimu di kaki Clar, biar papi angkat tangannya !" Perintah pak Adam.
Nadia memegang kaki Clarisa sebelah kiri sedang bi Hesti sebelah kanan. Pak Adam sudah bersiap memegang ke dua lengan Clarisa dari arah kepala.
"Siap ya ! Hitungan ke tiga, kita angkat sama-sama !" titah pak Adam pada Nadia dan istrinya.
"Satu...dua..tiiigaaa ! Aanngg...kaaat !!" teriak pak Adam dengan mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengangkat tubuh Clarisa.
Tubuh Clarisa tak sedikitpun terangkat.
"Aaduuhhh piii beraat ! Nadia gak sanggup" protes Nadia kemudian melepaskan kaki Clarisa.
Clarisa tertawa dalam hati.
'Hahaha, emang enak gue kerjain'
"HAAAAAAAAA !!!" Teriak Clarisa yang tiba-tiba terbangun, dengan mata melotot dan suara yang dia buat-buat.
Paman Adam, bibi Hesti dan Nadia terkejut bukan kepalang.
Nadia dan Bi Hesti segera bersembunyi di belakang badan pak Adam.
Clarisa menatap tajam ke arah pamannya. Dia berekspresi seperti seorang vampir yang akan menggigit mangsanya.
Dia berjalan berlahan mendekati ketiga orang di depannya.
Nadia dan kedua orang tuanya mundur perlahan. Sambil terus melihat ke arah Clarisa.
"Pi, Clar kenapa ? Apa dia kesurupan ?" bisik bi Hesti.
__ADS_1
"Sepertinya mi !"
"MANAAA NADIAAAA ? MANAAA DIAAAA ?" teriak Clarisa dengan suara serak dan berat yang dia buat seperti nenek-nenek.
"Miiii, kenapa dia cari Nadia ? Nadia takut miii !!" Nadia menangis ketakutan di belakang maminya. Dia menarik-narik baju maminya.
"KAAMUUU ! YANG SUDAH MENAMPAR PIPI CUCUKUU !! AKAN KU BALAAS KAUU NADIAAAA !!! teriak Clarisa.
"Buu..bukan Nadia yang tampar! papiii...papii yang tampar !" ucap Nadia ketakutan. Lalu dia berlari, Clarisa segera mengejarnya.
Nadia melompati kursi dan meja. Clarisa mengambil sapu kemudian mengejar Nadia.
"Mamiiii !!papiii ! tolongin Nadiaa! " teriak Nadia minta tolong sambil terus berlari.
Kaki Nadia tersandung kursi seketika dia tersungkur.
Clarisa segera berdiri di depannya bersiap menghajarnya dengan sapu.
"RASAAAKAANN !!!" Teriak Clarisa dan terus memukul Nadia.
Nadia mencoba mwnghalangi sapu itu dengan tangannya agar tidak mengenai wajahnya.
"Ampuuunnn !" teriak Nadia histeris.
Bibi Hesti dan Paman Adam terdiam bingung. Mereka ingin menolong anaknya tapi takut mereka akan diserang juga.
Dimata mereka Clarisa sangat menakutkan, dengan badan besar, rambut acak-acakan dan mata nyalang.
Clarisa kemudian berhenti memukuli Nadia, dia menoleh ke arah sepasang suami istri itu berdiri.
Sepasang suami istri itu menelan salivanya, ketika melihat tatapan nyalang Clarisa pada mereka.
Clarisa kemudian menyeringai dan bersiap menyerang mereka.
"HIIIYAAAAAAA!!!" teriak Clarisa histeris dan mengangkat sapunya mengejar paman dan bibinya.
Paman Adam dan istrinya lari kocar kacir dari kejaran Clarisa.
Clarisa memilih mengejar bibi Hesti, karena tenaga bi hesti sama seperti Nadia tidak terlalu kuat.
Hanya butuh waktu sebentar, Clarisa sudah mendapatkan bi Hesti, dia mendorong bibinya, kemudian bi Hesti jatuh tersungkur, wanita paruh baya itu berusaha untuk bangun.
Tetapi Clarisa sudah duduk dibelakangnya.
Clarisa kemudian berdiri, dia membalikkan badan bi hesti dan duduk di atas perutnya.
Clarisa menggunakan kukunya, mencakar wajah bibinya seperti orang yang benar -benar kesurupan.
"Hentikaaann Claaar !" teriak bi Hesti.
Tiba-tiba paman Adam memeluk Clarisa dari belakang, dia mencoba menghentikan aksi Clarisa kepada istrinya.
Clarisa segera menggigit tangan pamannya yang melingkar di tubuhnya.
"Aaaaakkkkk!!!!! Leeepaaskan !!!" teriak Pamannya.
Clarisa terus menggigit sampai dia merasakan ada darah dimulutnya.
Clarisa kemudian mengeluarkan tangan pamannya dari tubuhnya, sekuay tenaganya mendorong pamannya.
Paman Adam jatuh di atas tubuh istrinya.
"SEKARAAANG JUGAA KALIAAN PERGI KE GUDAAAANG !!" teriak Clarisa. clarisa semakin terlihat menakutkan, dengan darah dimulutnya akibat menggigit tangan pamannya.
"CEPAAAAT KE GUUUDAAANG!!!"
Nadia dan orang tuanya segera berlari tunggang langgang masuk ke dalam gudang.
Clarisa kemudian mengunci pintunya dari luar.
Di dalam gudang, Paman adam dan Nadia kaget melihat wajah bi Hesti akibat cakaran maut dari Clarisa.
"Pi..wajah mamiiii !!" ucap Nadia sambil menunjuk wajah maminya.
Bi Hesti segera berlari ke cermin tua yang tertempel di dinding gudang.
Bi Hesti terkejut dengan penampakan wajahnya, garis-garis merah terlukis indah di sana.
__ADS_1
"Tidaaaaaaakkkkkk !!!!!"