
Ardan tertawa melihat tingkah Clarisa di atas pohon, dengan baju baby dol nya, rambut panjangnya terurai, dia memeluk batang pohon sambil menangis.
"Ardan jangan tertawa terus, cepat bantu aku turun !" pinta Clarisa.
"Oke..oke ! ayo kau siap-siap lompat nanti kutangkap !"
"Haaaa ! yang benar saja ? aku ini bukan Vanya yang badannya langsing."
"Iya sih ! tapi dengan berat badanmu sekarang, sepertinya aku sudah bisa mengangkatmu."
"Carikan aku tangga ! aku gak mau terjun bebas !"
"Boleh ! Tapi ada syaratnya."
"Iiihh, pake syarat segala."
"Kalau gak mau, ya sudah aku pulang."
"Eehh, ya sudah apa syaratnya ?"
"Aku sudah lama tidak mendengarmu bilang 'Ardan i love u', sekarang kamu bilang begitu sambil teriak !"
'Iiihh, Ardan apaan siih. Bikin aku malu aja.'
"Clar ! ayo bilang kayak yang aku bilang."
"Iihh Ardan, apaan sih ? kitakan sudah pacaran. Gak perlu bilang-bilang kayak begitu lagi."
"Ya sudah kalau gak mau bilang. Aku pulang !"
"Ardan ! jangan pulang. Oke aku bilang.
Ardan i love u." ucap Clarisa datar dan pelan karena menahan malu.
"Gak dengar ! kurang kencang ! ulangi lagi!"
Clarisa menarik nafas kasar. Kemudian dia teriak, "ARDAAANN I LOVEE UUUUU !"
Ardan tertawa mendengarnya, dia puas sudah menjahili gadisnya itu.
Tiba-tiba Clarisa terdiam, ketika dia merasakan ada sesuatu yang berjalan di tangannya.
Clarisa melihat ulut bulu berwarna hijau dan gendut berjalan pelan ditangan nya. Seketika Clarisa berteriak geli dengan menepis ulat bulu itu dari tangannya.
"Akkhhh !! ulat..ulat !!"
Clarisa kehilangan pegangannya, posisi tubuhnya tidak seimbang, akhirnya dia terjatuh ke bawah.
Dengan sigap Ardan menangkapnya, mereka berdua terjatuh ke tanah. Clarisa berada di atas tubuh Ardan.
Mata mereka kembali bersitatap, Ardan tersenyum menatap wajah merah Clarisa. Sedangkan gadis itu untuk kesekian kalinya terpesona dengan senyum Ardan.
Ardan membiarkan Clarisa melihat wajahnya, tanpa ada rasa ingin menyadarkannya.
Clarisa kemudian tersadar, dia kemudian berusaha untuk bangun. Tapi Ardan merangkul tubuhnya.
"Ardan lepaas !" pinta Clar
"Gak ! Aku masih senang menatap wajahmu, manis sekali." puji Ardan sambil menyisipkan rambut Clarisa yang menutup wajah manis gadisnya ke belakang telinga.
Clarisa yang merasa malu di perlakukan Ardan seperti itu, seketika menggigit dada bidang pria yang selalu membuat hari-harinya bahagia.
"Aawww Claar ampuuun !" Jerit Ardan, diapun melepaskan rangkulannya, membiarkan Clarisa berdiri dan berlalu.
"Clarisa Ameera Putri !" Panggil Ardan.
Clarisa berhenti melangkah tanpa menoleh ke belakang.
"I love you too !" ucap Ardan, yang seketika membuat wajah Clarisa semakin bersemu merah. Gadis itu meneruskan kembali langkahnya. Dengan wajah tertunduk menahan malu, dan langkah yang cepat.
Buuugh !
__ADS_1
"Aawww,,,sakiiit !" pekik Clarisa sambil memegang kepalanya yang kejedot tembok.
Ardan tersenyum lebar melihat salah tingkah Clarisa, "Clar..clar...ckckc.." ucapnya sambil geleng-geleng kepala.
Hermawan duduk di kursi goyangnya, sambil mengisap jerutu.
Tok..tok..tok !!
"Masuk !" Lelaki tua itu mempersilahkan seseorang dibalik pintu untuk masuk.
"Maaf bos, Yudi dan anak buahnya tertangkap polisi !"
"Br*****k!!!" maki Hermawan.
"Utus orang untuk masuk ke dalam penjara, temui Yudi bilang ke dia untuk tutup mulut, kalau tidak, keluarganya dalam bahaya."
"Baik bos"
Tidak berapa lama, anak buah Hermawan keluar.
Drrrrt...
Drrrrt...
Drrrrt...
"Hallo nak !" Sapa Hermawan, pada putranya yang berada di sebrang telfon.
"Gimana pa ? aku sudah ingin pulang. Apa polisi masih terus menyelidiki kasus itu ?"
"Iya mereka masih melindungi saksi kuncinya. Kau tenang saja, sejauh ini gadis itu belum mengatakan kalau kau pembunuhnya. Itu artinya dia belum mengatakan apa-apa ke pihak polisi."
"Iya pa, gadis itu melihatku tapi dia tidak mengenalku. Setahuku dia anak kelas 2."
"Iya, kau tenang sj. Sepertinya kau belum bisa bersekolah di sini. Selesaikanlah sekolahmu dulu di sana. Jika semuanya sudah beres, kau boleh pulang ke Indonesia. Untuk sekarang bersabarlah dulu. Oke Nak !"
"Iya pa !"
Namanya Reno, dia adalah putra tunggal Hermawan. Beberapa bulan yang lalu dia terlibat perkelahian dengan teman sekolahnya, dan menyebabkan temannya meninggal.
Semua itu di saksikan oleh Clarisa, kala itu buku Clarisa tertinggal di kelas. Gadis gendut itu berlari kembali ke kelasnya. Saat melewati ruangan kelas 3, dari jendela dia melihat 2 orang siswa yang sedang berkelahi.
Kemudian, salah seorang dari mereka mengeluarkan pisau dan menusuk lawannya. Clarisa menutup mulutnya dengan kedua tangannya, tubuhnya gemetar dia berjalan mundur, dan tidak sengaja menendang keranjang sampah.
Clarisa sadar, nyawanya terancam segera berlari, Reno keluar dari ruang kelas dan melihat seorang gadis gendut berlari.
Keesokkannya, polisi datang menyelidiki, tidak ada satupun cctv yang memperlihatkan kejadian tersebut. Sebab, diruangan tempat pembunuhan terjadi tidak terdapat cctv.
Hanya ada 1 cctv yang memperlihatkan Clarisa yang berdiri di jendela ruang kelas, kemudian kaget dan menutup kedua mulutnya dengan tangan,setelah itu berlari ketakutan.
Clarisapun dipanggil, diapun mengakui kalau dia memang sudah menyaksikan pembunuhan itu. Sejak hari itu, Clarisapun mendapat perlindungan dari kepolisian, selama kasus ini di selidiki. Membuat Hermawan dan anak buahnya susah untuk menyingkirkannya.
Untuk menghindari kecurigaan pihak sekolah, Reno dipindahkan keluar negeri dengan alasan akan berobat, karena mengalami penyakit serius.
"Seandainya saja cewe gendut itu tidak melihatku, mungkin papa dengan mudah menutup kasus ini. Aaakhh !" teriak Reno frustasi.
Clarisa masuk kembali ke dalam rumah, alangkah terkejutnya dia melihat ruang tengahnya berantakan.
"Ya ampun Ardan ! apa yang sudah terjadi ? kenapa berantakan begini ?"
"Itu karena aku berkelahi tadi dengan mereka."
"Bantu aku membereskannya ! Sebelum paman dan bibiku pulang."
"Asiiap sayang !"
"Gak usah mulai deh."
"Kenapa ? kaukan memang kesayanganku." goda Ardan, sambil merangkul pinggang Clar dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu Clar.
Clar merasa risih kemudian menginjak kaki Ardan dengan kekuatan penuh.
__ADS_1
"Aaawww !!!" pekik Ardan kesakitan sambil memegang kakinya dan melompat-lompat.
Clarisa tertawa melihat tingkah Ardan.
"Rasakan ! hahahah."
"Ku balas kau Clar!"
Clarisa berlari menghindari kejaran Ardan.
"Iya ampuunnn, kita damai !" mohon Clarisa sambil mengangkat 2 jarinya. Ardan pun berhenti mengejarnya.
"Sekarang bantu aku membereskan ini kembali !"
"Oke !"
Merekapun membereskan ruang tengah yang berantakan. Sejam kemudian, ruang tengah itu sudah rapi kembali.
"Akhirnya selesai juga !" ucap Clarisa sambil duduk bersandar di sofa.
"Clar memangnya paman dan bibimu kemana ?"
"Mereka lagi memburu harta karun."
Clarisa menceritakan semua kepada Ardan, perihal peti berharga yang saat ini sedang di buru oleh paman dan bibinya.
Ardan tertawa mendengarnya, "Clar..Clar kau ini tidak henti-hentinya menjahili mereka."
Tok..Tok..tok !!
Ardan berjalan membuka pintu, kemudian membawa tamu itu ke ruang tengah.
"Clar ! Kenalkan ini AKP pak Faisal dan AKP pak Dimas, mereka ini akan menjagamu di sini." terang Ardan pada Clarisa.
"Tapi kan penjahatnya sudah tertangkap. Jadi aku sudah aman, kenapa masih di jaga ?"
"Yang tertangkap itu anak buahnya belum bosnya. Jadi kami akan berjaga-jaga disini sampai besok."
"Oh begitu. Makasih ya pak !" ucap Clarisa.
"Yah sudah kalau begitu, kau kembali ke kamar saja istrahat. Aku mau pulang."
"Iya, mmm...kalo bapak-bapak ini mau bikin kopi silahkan di dapur ada." Ucap Clarisa, kemudian dia pamit dan masuk ke kamarnya.
Clarisa membaringkan tubuhnya di atas kasur. Memikirkan sampai kapan dia dikejar-kejar seperti ini.
"Aku pikir, setelah menyelesaikan school idol dan mengusir paman dan bibinya dari rumah, cerita ini selesai dan aku bisa pulang ke dunia Airin. Tapi, sepertinya masih ada masalah yang lebih besar yang harus di selesaikan."
TING !
Clarisa melihat HPnya ada 1 pesan di Whatsappnya.
'Bukan fisikmu yang ku cintai tapi hatimu. Akan ku buktikan untuk segera menikahimu.'
Clarisa tersenyum membacanya.
"So sweet hehehe" ucap Clarisa sambil memeluk hpnya.
TING !
1 pesan masuk lagi, sebuah foto tulisan, mata Clar terbuka lebar ketika mengenal tulisan itu.
"Ini kan ?" Clar melihat buku catatannya di meja.
TING !
1 pesan masuk lagi.
'Aku baru tau kalau ternyata pesonaku bisa menembus ke relung hatimu Clar, Hahahahaha, sweet dream honey'
"Hiiiii Ardaaann beraninya kau membuka-buka bukuku !"
__ADS_1