Si Gendut Itu Aku !

Si Gendut Itu Aku !
Penculikan


__ADS_3

Clarisa sampai di depan Ardan. Dengan nafas yang terengah-engah.


Dia mencoba mengatur nafasnya.


"Ma...maaf Daan, ada yang harus aku urus tadi !" Ucap Clarisa.


Ardan tidak menanggapi, dia tetap diam. Clarisa melihat itu, merasa aneh. Kemudian dia menyenggol lengan Ardan.


"Hei ! Kamu kenapa ? Marah ? Maaf ya !"


"Eh..Gak ! Aku gak marah. Mmm..kamu ada urusan apa tadi ?"


Clarisa kemudian menceritakan aksi dia semalam yang pura-pura kesurupan kemudian menyerang paman dan bibinya.


Clarisa tertawa Namun Ardan hanya memperhatikannya tertawa.


"Ardan kau kenapa ? Biasanya mendengar cerita lucu dariku kau tertawa. Mmmm..apa ada masaalah ?" Tanya Clarisa dengan kening berkerut.


"Hehehe, nggak kok ! Aku tertawa cuma agak kaget aja dengar kamu pura-pura kesurupan. Apa nggak ada aksi lain ?Heheh"


"Ah kamu mah bohong ! Sepertinya daritadi kamu nggak perhatiin ceritaku. Sudahlah aku pulang aja !"


Clarisa kemudian berdiri hendak beranjak dari situ. Namun, Ardan menahan tangannya.


"Ehh...kamu mau kemana ? Maaf ya ! Jangan marah ya !" Bujuk Ardan.


" Kamu kenapa sih Daan ? Kalo ada masalah itu cerita sama aku !"


"Nggak...aku nggak kenapa-napa !"


Ardan tersenyum mencoba untuk rileks.


"Mmm...sekarang kita sarapan yuk ! itu sana kita makan bubur kacang ijo" tunjuk Ardan ke arah penjual bubur kacang ijo.


"Emang boleh ? Soalnya dulu kamu pernah bilang kalo aku nggak boleh makan bubur kacang ijo, karena mengandung santan dan gula yang banyak. Tidak bagus untuk sarapan sehatku."


Ardan kemudian teringat wejangannya dulu pada gadis di depannya ini


"Ah itu...mmm..kalau begitu sekarang boleh !"


Ardanpun menarik gadis itu menuju penjual bubur kacang ijo, sedang Clarisa masih nampak bingung dengan sikap Ardan.


Mereka kemudian duduk dan memesan bubur kacang ijo.


Setelah pesanan mereka datang, Clarisa nampak senang melihat semangkuk bubur kacang ijo di depannya, kemudian dia segera memakannya.


Ardan hanya memperhatikan Clarisa makan.


'Clar aku janji akan terus menjagamu. Meski tugasku nanti sudah selesai.'


Clarisa yang merasa dirinya diperhatikan oleh Ardan segera menghentikan makannya.


"Kamu nggak makan ? Daritadi cuma ngeliatin aku. Kenapa sih ?"


"Ah itu...aku hanya membayangkan gimana semalam muka kamu saat kesurupan. hahaha."


Clarisa kesel dan kemudian menghujani cubitan kepada pria yang selalu menjaganya itu.


"Awww Clar...sakit ! I..iya ampun."


Kedua remaja itu, ah ralat seosang kekasih, kemudian tertawa dan saling ledek.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka.


"Kamu memang sudah mencintainya Ardan !" Ucap Vanya lemas.


Vanya berjalan masuk ke dalam rumahnya dengan tidak semangat.


"Masuk rumah itu salam Vanya, jangan kayak kambing !"


"Kalo vanya kambing, ayah juga"

__ADS_1


"Iihh mana ada ?"


"Ya adalah lah, Vanya kan anak ayah !"


"Ya Ayah tuan kamulah, kan Ayah sudah pelihara kamu sampe besar Hahahaha ," ledek laki-laki berkacamata itu sambil tertawa.


"Iihh Ayah kok jadi bahas kambing sih !" Ucap Vanya kesel dan melempar Ayahnya dengan bantal kursi.


"Lagian kamu kenapa sih ? Pulang - pulang lemes gitu ?"


"Ayah ! Sampe kapan sih Ardan bertugas jagain Clarisa ?" Tanya Vanya dengan mulut manyun.


"Sampe semua kebenaran terungkap."


"Ayah tahu gak ? Sepertinya Ardan sudah mencintai Clarisa !"


"Ardan menyukai Clarisa ? Hahaha, gak mungkinlah !"


" Bagaimana kalau mungkin ?"


"Ya simpel aja, berarti dia bukan jodoh kamu !"


Vanya semakin cemberut dengan pernyataan ayahnya.


Pak Damar, ayah Vanya terdiam. Kemudian duduk di sebelah putrinya, membelai lembut kepalanya.


"Vanya, cinta itu tidak bisa dipaksakan. Memang ayah dan orang tua Ardan menjodohkan kalian. Tapi, selama ini yang ayah liat, Ardan seperti tidak mencintai kamu."


"Cinta itu bisa datang setelah kita menikah nanti. Vanya yakin, kalau sudah menjadi istri Ardan, Ardan pasti perlahan-lahan akan mulai mencintaiku."


"Bagaimana kalau hanya kamu yang berjuang mencintai dia ?"


"Ayaah kok ngomong gitu sih ? "


"Vanya, mencintai sebelah tangan itu sakit nak ! Jadi, Ayah berharap kamu mendapatkan laki-laki yang juga mencintai kamu."


"Tapi, Vanya maunya Ardan yah, Titik !" tegas Vanya dan segera berlari masuk ke kamarnya.


Selesai sarapan bubur kacang ijo, Ardan mengantar Clarisa ke tempat latihan menyanyi.


Sepanjang perjalanan Ardan hanya diam. Clarisa yang merasa perubahan Ardan, merasa tidak nyaman. Tapi, bertanyapun percuma, untuk itu dia pun memilih diam.


"Satu jam lagi aku jemput ya !" Ucap Ardan tersenyum pada Clarisa.


"Tapi, aku pulang sendiri saja. Gak enak kamu je.."


"Aku jemput ! kami gak usah membantah Clar."


Clarisa membuka seltbeltnya kemudian, segera turun.


Ardan menurunkan kaca mobilnya.


"Ingat Clar tunggu aku pokoknya !"


Clarisa hanya mengangkat jempolnya, kemudian masuk ke tempat latihannya.


Satu jam berlalu, Clarisa keluar dari tempat latihan. 10 menit dia menunggu, Ardanpun belum muncul.


Beberapa orang memperhatikan Clarisa dari seberang jalan tempat dia berdiri.


"Itu anaknya !" kata salah satu pria sambil melihat foto di tangannya


" Yah sudah sana cepat laksanakan tugas !" perintahnya pria itu pada dua anak buahnya


"Aduh bos jangan di bius deh !"


"Lho emang kenapa ?"


"Lhaa bos gak liat apa ? Badannya segede gajah. Gak kuat bos kami berdua angkatnya." Protes salah satu anak buahnya.


"Hadduuuh tato aja gede, Naga. Tenaga hello kitty, huuhh !! Yah sudah terserah kalian berdua bagaimana caranya dia bisa kita tangkap sekarang, mumpung sepi nih !" Perintah Yudi, bos preman.

__ADS_1


Kedua anak buah Yudi turun dari mobil. Mereka berjalan mendekati Clarisa.


"Maaf Nonna, apa anda yang bernama Clarisa ?" tanya salah satu preman itu.


Clarisa mengangguk.


"Kalian berdua siapa ?"


"Bos Ardan menyuruh kami untuk menjemput Nona."


"Bos ? Ardan bos ? " tanya Clarisa kaget, seorang anak SMA sudah jadi bos.


"Iya bos Ardan ada di dalam mobil sana !" kata salah satu preman, sambil menunjuk mobil mereka di seberang jalan.


"Ayo nona silahkan ke sana !"


Tanpa rasa curiga, Clarisapun mengikuti dua orang preman itu.


Kaca mobil itu berwarna hitam, sehingga Clarisa tidak bisa melihat orang di dalam mobil dari luar.


Salah satu preman itu membukakan pintu belakang mobil. Clarisa masuk dan duduk di jok belakang. Dia heran karena tidak ada Ardan di dalam.


"Lho Ardan mana ? Ka...kalian siapa ?" tanya Clarisa ketakutan.


Clarisa berusaha untuk keluar tapi pintu mobil segera di tutup.


Clarisa di apit dua preman itu. Tiba-tiba dia melihat Ardan dari jendela.


Dia berusaha membuka jendela ingin berteriak memanggil Ardan, namun ke dua preman itu menahannya.


"Ardaaaaann, tolong aakuu !" teriak Clarisa.


Clarisa terus berontak, tangannya dipegang kuat oleh ke dua preman itu.


"Bius aja dia, biar gak teriak terus !!!" perintah Yudi dari balik setirnya.


Salah satu preman mengeluarkan sapu tangan yang sudah diberi obat bius.


Clarisa terus berontak, membuat ke dua preman itu kewalahan.


"Lepaskaan !!!"


Akhirnya preman yang memegang sapu tangan itu, salah membekabkan sapu tangan itu.


Preman itu justru membekab temannya dengan sapu tangan itu. Alhasil temannya langsung tertidur.


Yudi melihat itu, langsung menepuk jidatnya dan memaki anak buahnya.


"Ma..maaf bos !"


Kemudian preman itu segera membekab Clarisa dengan sapu tangan itu. Tidak berapa lama Clarisapun pingsan.


Ardan yang berada di depan gedung latihan menyanyi, bingung tidak melihat Clarisa.


Dia bertanya ke penjual yang ada di dekat gedung itu.


Penjual itu, memberikan informasi kalau dia melihat wanita berbadan gemuk di ajak dua pria masuk ke dalam sebuah mobil.


Ardan melihat mobil yang di tunjuk penjual itu sudah melaju. Dia segera masuk ke dalam mobilnya dan mengejar mobil itu.


Yudi melihat mobil Ardan dari kaca spion segera menambah laju mobilnya.


Sesampai di lampu merah, mobil yudi masih bisa berjalan terus. Namun, ketika mobil Ardan melintas, tiba-tiba lampu berubah merah. Ardan segera ngerem mendadak.


"Shiiit !!" Umpat Ardan sambil memukul setirnya.


Melihat dari kaca spion, Yudi tersenyum.


"Bye Ardan hehehe!"


Mobil Yudipun melaju ke tempat eksekusi Clarisa.

__ADS_1


__ADS_2