Si Gendut Itu Aku !

Si Gendut Itu Aku !
Mas Sudikah VS Bi Herni


__ADS_3

"Haaahhh !!!" Bi Herni terkejut dengan permintaan salah satu juri di depannya.


Tak terkecuali, semua orang kaget dengan permintaan juri yang merasa paling ganteng ini.


"Sa..saya gak bisa main ketoprak pak !" jawab bi Herni gugup.


"Lha, saya kira dandanan ibu kayak begini mau main ketoprak," ujar mas Sudikah.


Bi Herni seketika memasang wajah manyun.


'Sialan nih bemo di depan !" Gerutu bi Herni dalam hati.


"Yah sudah, kalau begitu ibu nyanyi aja. Gimana ? Kan sia-sia dandanan cetar membahana kayak begini gak tampil, hehehe." Lagi mas Sudikah bicara sambil tertawa.


Sedang yang lain hanya bisa menahan ketawa mereka.


"Oh kalau nyanyi saya jagonya pak ! Anak saya yang ikut audisi di sini juga, suara bagusnya itu turunan saya," ucap bi Herni sombong dengan dagu terangkat.


"Oh yaaa??" ucap ke 3 juri kompak dan saling pandang.


Bunda Fara mempersilahkan bibi Herni untuk mulai bernyanyi.


Bi Herni terlihat menarik nafas dalam, kemudian mulai melantunkan lagu.


"HAAAANYAAAA CIIINTAAA YAANG BIISAAA MENAKLUKAAAN DEEENDAAAM !"


Suara cempreng bi Herni menggema ke seluruh ruangan, bahkan mampu menembus gendang telinga mas Sudikah.


Semua orang menutup telinga, berusaha sebisa mungkin, agar suara bi Herni tidak merusak telinga mereka.


Bi Herni terus bernyanyi dengan suara lantang, nada yang tidak beraturan dan mata yang terpejam seolah sedang menghayati lagu yang dia nyanyikan.


"OOOOOHH...HAAAAANYAAA KAAASIIH SAYAANG TUULUUUSS YANG MAAAMPPUU MMEEENYEENTUUHH,"


"HAAANYAAA.."


"STTOOOOPP !!!" Teriak mas Sudikah yang sudah tidak sanggup dengan suara cetar membahana bi Herni.


Bi Herni seketika berhenti dan membuka matanya, menatap pada tiga juri di depannya.


"Kenapa berhenti pak ? suara sayakan lagi enak-enaknya," protes bi Herni dengan muka manyun.


Semua orang kemudian menatap tajam ke arah mas Sudikah. Tatapan itu seolah-olah meminta pertanggungjawaban dari mas Sudikah, karena sudah menyuruh wanita hebring di depan mereka ini bernyanyi, sehingga merusak pendengaran mereka.


"Eheemm, mmm..suara ibu memang enak. Kecemprengan suara ibu yang sangat power full, benar-benar..." Mas Sudikah menggantung perkataannya.


"Suara saya benar-benar apa mas ?"


"BENAR-BENAR MERRRUSAK GENDANG TELINGA SAYA, MENEMMMBUSS JANTUNG HATI SAYA SEPERTI INGIN KELUARRRR MELONCAT DARI RAGA SAYA BU!" Jelas mas Sudikah dengan mata melotot menatap tajam ke arah bi Herni.


Bi Herni seketika manyun, sedang yang lain terlihat menahan tawa mereka, dengan menutup mulut dengan tangan.


" Mm...untuk Bu Herni, terimakasih atas persembahan lagunya. Kami para juri sudah memutuskan untuk memberi kesempatan pada Clarisa mengikuti audisi." Terang Bunda Fara.


Tentu saja kata-kata Bunda Fara barusan seperti angin segar untuk Clarisa.


'Alhamdulillah !'Clarisa mengucap syukur dalam hati mendengarnya.


Sedang bi Herni merasa kesal dengan keputusan para juri. Dia berharap dengan suara jeleknya tadi, para juri tidak akan memberi kesempatan untuk Clarisa.


"Ya sudah kalau begitu ibu bisa keluar ! karena kami akan melakukan audisi untuk Clarisa." Ucap Mas Sudikah.


Namun, bi Herni masih saja mematung berdiri di depan tiga juri.

__ADS_1


"Lho..lho..kok gak keluar ?"tanya mas Sudikah sedikit kesel.


"Mmm...itu mas, hehehe saya boleh minta tanda tangannya gak ?" tanya bi Herni cengengesan.


"Oh tentu saja boleh !" jawab mas Indra.


Bi Herni nampak girang dan segera mendekat ke meja juri.


Dia mengeluarkan sapu tangan dari tas kecilnya, kemudian memberikannya pada mas Indra. Setelah itu lanjut lagi dia berikan pada bunda Fara.


"Makasih ya mba, mas. hehehe." Ucap bi Herni kemudian berbalik dan melangkah ke pintu keluar.


"Lho sayakan belum tanda tangan !" Teriak mas Sudikah.


Bi Herni berbalik menatap mas Sudikah.


"Gak butuh !" kata bi Herni kemudian melangkah keluar ruangan.


"Eeh dasar ondel-ondel nyasar !" Umpat mas Sudikah.


"Kaassiaaannnn!" ucap mas Indra dan bunda Fara bersamaan kemudian tertawa melihat rekan mereka.


Sebelum keluar ruang audisi, Ardan berbisik di telinga Clarisa.


"Semangat ya gadisku !" Kemudian tersenyum dan melangkah keluar.


Wajah Clarisa bersemu merah, mendengar bisikan semangat dari Ardan.


Ardan menunggu di depan pintu ruangan audisi. Sedang Bi Herni terus berjalan sambil memandangi sapu tangan yang sudah tertera tanda tangan Mas Indra dan Bunda Fara.


Tidak berapa lama, Clarisa melangkah maju dan berdiri di depan 3 juri.


"Oke Clarisaa !! Are you okey sweety ? " tanya bunda Fara dengan sisa-sisa tawanya.


"Apa kata dokter tentang sakitmu ?" tanya mas Indra.


"Kata dokter saya keracunan makanan tadi, tapi sudah dikasih obat. Alhamdulillah aku rasa udah enakkan mas."


"Kenapa kamu bisa keracunan ? Emang tadi kamu sarapan dengan baygon ?" Tanya mas Sudikah asal.


" Aku makan roti gandum dikasih bibiku tadi. Dia gak tau kalau roti itu udah berjamur mas."


"Yah gimana dia mau tau itu roti berjamur apa nggak, otak bibi kamu kan setengah!" ucap mas Sudikah dengan nada kesal, mengingat kelakuan bi Herni padanya.


"Clarisa ! Sebenarnya tanpa kamu datang membawa bibi kamu kemari, untuk menjelaskan musibah yang kamu alami. Sebelumnya kami sudah berunding dan sepakat untuk memberikan kamu kesempatan." Terang mas Indra.


"Kamu tau, awalnya saya nggak setuju kamu dikasih kesempatan. Karena bagi saya seorang penyanyi itu harus konsisten, gak datang audisi berarti gugur."


"Tapi, kedua rekan saya ini meyakinkan saya kalau kamu benar-benar punya bakat. Terutama mas Sudikah ini, dia yang begitu berperan penting atas kesempatan kamu sekarang."


Clarisa menatap mas Sudikah, mengucapkan terimakasih atas kesempatan yang sudah diberikan padanya.


"Jadii, lewat kesempatan ini kamu jangan kecewakan kami." Jelas mas Indra panjang lebar.


"Iya mas, InshaaAllah aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa masuk ke top ten!"


"Jangan cuma sampe top ten, kalo bisa menjadi pemenangnya !" Ucap mas Sudikah.


"Oke Clar, kamu sudah melewati 2 audisi. Soalnya sekarang kita sudah masuk ke pengumuman peserta top ten." Terang mas Indra yang merupakan ketua jurinya.


"Sekarang kamu cabut lot, ambil lotnya di toples ini. Disitu nanti ada judul lagu yang harus kamu nyanyikan. Mengerti ?" Jelas Bunda Farah.


Clarisa berjalan maju mencabut lot di dalam toples bulat di depannya.

__ADS_1


Setelah membuka dan melihat tulisan di kertas bergulung itu, Clarisa memberikan kertas itu ke pada juri.


Clarisa menyanyikan lagu hasil cabut lotnya ini dengan sempurna.


Lagi-lagi dia membuat tiga juri terpukau dengan suara emasnya.


Sementara di luar, bi Herni tersenyum melihat sapu tangannya terlukis tanda tangan 2 penyanyi yang selalu dia lihat di TV.


"Mi ! Kenapa sih Clarisa jadi ikut audisi ? Mami bantuin Clar untuk bisa ikut lagi ?" tanya Nadia yang tiba-tiba muncul di depan maminya.


"Mami gak ada pilihan lain Nad !"


"Maksud mami apa ?"


"Mami gak mau masuk penjara Nad !"


"Lho kok bisa mami mau di penjara ?"


"Iya, Clar di bawah ke rumah sakit sama teman laki-lakinya itu."


"Ardan ?"


"Mami gak tau, yang jelas teman laki-lakinya yang tadi datang sama - sama dengan mami kemari."


"Iya itu Ardan namanya, trus mi ?"


"Sampai di rumah sakit sama dokter ya diksih tau, kalau Clar itu keracunan makanan dari roti yang mami kasih tadi pagi."


"Trus, Clar dan temannya lapor ke polisi ! Yah tadinya mami berkelit, kalau mami gak tau roti itu sudah berjamur. Tapi mami tetap akan di laporkan, atas dasar kelalaian."


"Kelalaian maksudnya ?" tanya Nadia dengan mengerutkan keningnya.


"Kelalaian terhadap keselamatan anggota keluarga, karena mami yang sudah menyiapkan makanannya."


"Dan kamu tau hukumannya itu ? 10 tahun penjara Naaad. Mami gak mau !" terang bi Herni.


"Ya ampuun miii !!! Mana ada di penjara sampe 10 tahun. Mereka itu cuma nakut-nakutin mami !" ujar Nadia kesel.


" Lhaaa terus gimana dong Nad ?"


"Gimana apa nya ? Sekarang Clarisa pasti lulus ke top ten mi !"


"Udah kamu tenang aja, nanti mami pikirkan cara lagi supaya Clarisa tidak bisa bernyanyi. Kamu tenang sj, Kamu tetap menjadi pemenangnya." Ucap bi Herni memberi semangat untuk putrinya.


Di dalam Clarisa sisa melewati audisi terakhir.


Clarisa menyanyi dari lagu pilihan juri.


"Nah Clar, saya ingin kamu menyanyikan lagu dari Afgan judulnya Terima Kasih Cinta." Pinta Mas indra.


"Kamu siap Clar ?" Tanya Bunda Fara


"Siap mba !"


"Tapi tunggu dulu ! Saya ingin tanya, lagu ini ingin kamu persembahkan untuk siapa ? Mungkin saja ada yang spesial buat kamu." Tanya mas Indra.


"Ada !" jawab Clarisa tersenyum malu.


"Siapa ?"


"Lagu ini untuk mas Sudikah !"


Seketika mas Sudikah ketelan lalat !!!

__ADS_1


__ADS_2