Si Gendut Itu Aku !

Si Gendut Itu Aku !
Alergi Udang


__ADS_3

Clarisa masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamar inilah, Clarisa mulai berpikir langkah selanjutnya yang harus dia lakukan.


Sementara di rumah Ardan, Vanya datang lagi menemui laki-laki yang sudah membuat dia tidak bisa jatuh cinta pada orang lain.


"Hai Ardan !" sapa Vanya yang menemui Ardan sedang berada di kamarnya.


"Vanya !?" Ardan terkejut melihat Vanya sudah berada di kamarnya.


"Kau itu tidak berubah, sudah berapa kali ku bilang? tidak sopan masuk ke kamar laki-laki tanpa permisi." ucap Ardan dengan nada tidak suka.


"Aku sudah ketuk-ketuk, tapi kau yang tidak dengar."


"Terus kau mau apa kemari ?"


"Aku mau mengajakmu makan !" Senyum manis di perlihatkan Vanya pada Ardan. Namun sikap Ardan biasa saja.


"Maaf Va, aku sudah makan tadi. Lagian jam segini aku masih kenyang." Tolak Ardan halus.


"Ya sudah kalau begitu kita jalan yuk !"


"Maaf, aku harus kembali ke kantor mau laporan dulu." Ucap Ardan yang kemudian mengambil jaket, dan kunci mobil. Dia segera keluar meninggalkan Vanya sendiri di dalam kamarnya.


"Ardan ! mengapa dari dulu kau tidak pernah membalas perasaanku ? Bahkan sekarang ? Masa iya aku harus bersaing dengan gadis gendut itu ?" gerutu Vanya seorang diri.


Sebelum ke kantor, Ardan singgah membelikan Clarisa buah dan beberapa makan sehat yang biasa dia berikan.


Selesai membeli buah dan makanan sehat untuk Clarisa, dia bergegas ke rumah gadis yang dia sayangi.


"Aduuuh miii, Nadia capeekk !!" Keluh Nadia sambil menyeka keringatnya di dahi.


"Sudah ! Gak usah mengeluh cepat pel lantainya ! Mami mau masak."


"Miii, sampai kapan kita jadi babu kayak begini. Nadia gak mau mii."


"Makanya kamu harus berusaha supaya bisa menang di school idol nanti ! kan hadiahnya lumayan 50 juta !"


"Gimana Nadia mau menang mi, mami aja gak mau bantuin buat suara Clarisa jelek."


"Sudah tenang saja, mamikan sudah bilang itu urusan mami !"


Tok..!


Tok..!


Tok..!


Kedua anak dan ibu itu saling pandang.


"Siapa tuh mi ?"


"Mana mami tau ? Kamu bukain dong !"


Nadia meletakkan alat pelnya di ember, kemudian bergegas membuka pintu.


"Ardan ?!"


"Hai Nad ! Clarisa ada ?"


"Clarisa gak mau diganggu katanya." Jawab Nadia bohong.


"Oh kalo begitu, aku titip ini berikan sama Clarisa."


"Mmm." Nadia mengambil kantongan dari tangan Ardan.


"Makasih ya Nad !"ucap Ardan dan segera berlalu.


Nadia menutup pintu kembali, dan masuk membawa kantongan dari Ardan.

__ADS_1


"Siapa Nad ?"


"Ardan mi !" jawab Nadia sambil meletakkan kantongan itu di atas meja dapur.


"Apa itu ?"


"Gak tau ! katanya itu untuk Clarisa."


"Eh coba buka !siapa tau ada rahasianya di dalam, jadi kita bisa tahu." Perintah Bi Herni pada Nadia.


Nadia membuka ikatan kantongan hitam itu dan melihat isinya.


"Wwwaahh makanan mi !" seru Nadia sambil mengeluarkan makanan yang sudah terbungkus rapi di dalam snack box. serta mengeluarkan beberapa buah.


"Ini seperti makanan diet mi, soalnya banyak sayuran dan daging, sedang nasinya nasi merah." terang Nadia pada maminya.


"Mmm...mami ada ide !" seru bi Herni tersenyum licik.


Bi Herni membisikkan sesuatu pada anaknya. Nadia tersenyum kemudian mengangkat jempol ke maminya.


Setelah itu, Nadia kembali mengerjakan pekerjaanya mengepel rumah.


Di dalam kamar, Clarisa menyibukkan dirinya dengan belajar, saat masuk sekolah nanti anak-anak akan melaksanakan ujian akhir semester.


Maka dari itu, dia ingin tetap menjadi yang berprestasi di sekolah, meskipun saat school idol nanti dia tidak menjadi juara.


Tiba-tiba pintu di ketuk dari luar, Clarisa berjalan membuka pintu kamarnya.


"Nih dari Ardan !" Nadia memberikan kantongan yang diberi oleh Ardan tadi padanya.


"Emang Ardan tadi kemari ?"


"Iya nitipin itu buat kamu ! "


Usai memberikan titipan Ardan, Nadia segera kembali ke bawah.


Ardan yang lagi duduk di depan komputer di ruang kerjanya, tersenyum tatkala melihat nama seseorang yang dia sayangi memanggilnya lewat telfon.


"Hallo Clar !"


"Hallo Ardan ! Kau dimana ?"


"Aku di kantor, kenapa ?"


"Apa kau tadi ke rumah ? Soalnya Nadia memberikan titipan dari kamu."


" Iya benar ! Kamu makan ya, nanti besok aku belikan lagi."


"Makasih ya Ardan !"


"Iya hehehe."


Clarisapun mengakhiri obrolan mereka.


Usai menerima telfon dari Clarisa, Ardan tersenyum-senyum sendiri.


"Hayyyoo!!!!" Tiba-tiba Ardan dikagetkan oleh Feri teman dia sesama polisi.


"Lagi memikirkan si cewe-cewe SMA ya ? hahahah!" ledeknya.


"Sok tau kamu !"


"Ya habisnya siapa lagi kalau bukan cewe-cewe itu ? Kaukan lagi bertugas di sana. Masa gak ada yang menarik hati sijomblo sejati ini, hahahah." Ledek Feri dengan tertawa keras.


"Aku gak lagi memikirkan mereka. Aku lagi memikirkan wanita yang sekarang sudah menjadi milik orang lain." ucap Ardan dengan muka serius, membuat Feri yang lagi tertawa lebar, seketika berhenti memandang Ardan.


"Siapa ?" tanya Feri dengan wajah seriusnya.

__ADS_1


Ardan menatap lekat wajah temannya. Dia menarik nafas kasar.


"Wanita itu...! ISTRIIMUUUU !!! Hahahahahahah !!"


Ardan tertawa lebar, sedang Feri menjitak kepalanya.


"Jangan macam-macam kau dengan istriku !"


Feri kemudian keluar dari ruangan, dengan ngomel-ngomel tak jelas.


Tiba-tiba hp Ardan berbunyi lagi


"Clarisa ? hehehe apa dia kangen ? sampai menelfonku lagi."


Ardan kemudian mengangkat telfonnya


"Ha...halloo Ardan !"


"Iya Clar ada apa ?"


"Apa kau tidak tau kalau aku a...alergi uu..udang ?" ucap Clarisa dengan nafasnya yang sesak.


"Udang ? aku tidak membawakanmu udang! Apa kau baik-baik saja Clar ? "tanya Ardan penuh khawatir.


Clarisa tidak menjawabnya, sesak dia rasakan membuat dia kesulitan untuk bicara.


"Claarr !kau dengar aku ? Kau kenapa ?"


Ardan terus memanggil Clarisa, tapi tak ada jawaban dari seberang telfon. Ardan hanya mendengar tarikan nafas Clarisa yang terdengar sangat sulit untuk bernafas.


Ardan segera mengambil langkah kaki seribu bergegas menuju rumah Clarisa.


Clarisa berusaha turun ke bawah, dengan langkah yang terseok-seok dia bergegas menuju dapur. Mencari kotak obat.


"Biiiii !! Nadiaaa!!" panggil Clarisa dengan kesusahan, namun tak ada jawaban dari mereka.


"Mi kayaknya dia sudah mulai sesak nafas tuh !" ucap Nadia dengan suara berbisik.


Mereka melihat Clarisa dari balik pintu kamar Nadia, yang sedang kesusahan mencari obat alerginya di kotak obat.


"Hehehe, bagaimana dia mau dapat obatnya ya mi ? wong obatnya di sini ! hihihihi." ujar Nadia tertawa licik sambil menggoyang-goyangkan obat alergi ditangannya.


"Mi, ayo kita keluar ! Nanti dia keburu mati !"


"Oh iya tunggu ! mami ambil mapnya dulu biar dia tanda tangan biaya pengobatan wajah mami."


Clarisa sangat frustasi tidak menemukan obat alerginya. Dia kemudian terjatuh luruh ke lantai, tangannya menyenggol tempat sampah di sampingnya yang kemudian terjatuh.


Betapa kagetnya Clarisa ketika melihat isi yang di tumpahkan tempat sampah itu.


'Jadi mereka yang sudah menukar makanannya ? mereka menukarnya dengan makanan yang mengandung udang. Awas nanti akan ku balas mereka'


"Kamu cari ini Clar ? Hahahah," ledek bi Herni tertawa sambil memainkan obat alergi ditangannya.


Clarisa ingin mengambil obat itu dari tangan bi Herni. Tapi bi Herni mempermainkannya. Kemudian dia dan Nadia tertawa puas melihat kondisi tidak berdaya Clarisa. Nafas yang tersengal-sengal, muka Clar yang mulai pucat.


"Saya akan berikan obat alergi ini, asalkan kau mau tanda tangani surat biaya pengobatanku di klinik kecantikan." tawar bi Herni.


"Udah deh Clar tanda tangani aja, kamu mau mati ? Hahahaha ! Tapi bagus sih kalau kamu mati, jadinya aku nggak ada saingan di school idol nanti." kata Nadia.


Bi Herni segera mendekati Clarisa yang sudah lemas. Dia memegang tangan kanan Clarisa dengan polpen, untuk menuntun Clarisa tanda tangan.


"Nah tanda tangan di sini !" tunjuk bi Herni, kemudian meletakkan tangan Clarisa di atas kertas.


Tiba-tiba map itu di rebut dari tangan bi Herni.


"Ardan !!!" teriak bi Herni dan Nadia bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2