
Ardan menoleh ke arah yang Clarisa tunjuk. Nampak siluet seseorang yang sedang berlari.
"Mas ! aku sering melihat orang itu, tapi aku tidak tau siapa dia ? Dia memakai topi dan masker."
"Apa dia mengikutimu ?"
"Iya, sudah beberapa kali aku melihatnya. Waktu aku ke rumah sakit, aku melihatnya. Terus waktu aku dan teman-teman olahraga pagi di taman, aku juga melihatnya mas. Aku merasa seperti di ikuti sama orang itu."
"Terus sms ini , apa jangan-jangan orang itu ? Tapi darimana dia tahu nomor hpmu ?"
"Aku tidak tau ! saat aku tampil tadi, orang itu juga ada. Dia duduk dibelakangmu. Itulah mengapa aku tidak mengakuimu mas. Aku takut, kalau orang itu tau siapa - siapa orang yang ada di dekatku dia pasti akan mencelakaimu."
Ardan terdiam mendengar cerita Clarisa.
"Mas ! apa ini ada hubungannya dengan Nadia."
"Nadia ?"
"Iya mas, beberapa hari yang lalu aku pernah dengar Nadia berbicara dengan bi Herni di telefon."
"Bicara apa ?"
" Nadia bilang kalau dia tidak membawa obat itu. Aku tidak tau obat apa ? Terus dia menyebut nama pak Hermawan. Dia bilang, mereka menjalankan rencana B saja. Aku tidak tau rencana B apa ? dan pak Hermawan itu siapa ?"
"Rencana B dan pak Hermawan ?" Ulang Ardan.
"Iya mas, itulah kenapa tadi saat kalian datang aku menarik kalian kemari. Aku takut Nadia, paman dan bibiku tau, Kalau aku masih berhubungan denganmu."
"Kau tenang ya, aku aku mencari tau semuanya. Selama di mess nanti kau harus hati-hati sama Nadia. Bisa jadi orang yang mengirim sms ini adalah Nadia, atau Nadia yang sudah memberitahu nomormu pada pengirim sms ini."
"Mas aku takut, aku takut kau dan mama di celakai gara-gara aku. Orang-orang itu menginginkan aku. Melihatmu kemaren terluka gara-gara aku, aku sangat merasa bersalah sekali. Bagaimana kalau kau terluka lagi karena aku ?" Ucap Clarisa dengan gusar, dia menangis karena ketakutan.
"Mas apa menurutmu Nadia, paman dan bibi bekerjasama dengan orang yang jahat itu ? Orang yang ingin mencelakaiku untuk menghilangkan saksi kasus pembunuhan itu."
"Nadia dan orangtuanya, menginginkan hartaku sedang orang yang terus mengejarku itu menginginkan nyawaku. Bisa jadi mereka bekerjasama mas. Trus aku harus gimana mas ?"
Ardan memeluk Clarisa mencoba menenangkannya.
"Kau tenang ya Clar, aku pastikan semua kan baik-baik saja. Aku akan mencari tau semuanya. Kau tidak akan kenapa-napa." Ucap Ardan meyakinkan istri kecilnya.
Drrrt...
Drrrt...
Drrrr...
Hp Clarisa tiba-tiba berdering.
"Siapa ? " tanya Ardan.
"Meylani, dia teman sekamarku."
"Yah sudah, kau angkat telfonnya."
" Hallo Mey ! Oh oke aku ke sana sekarang." ucap Clarisa kemudian menutup telfonnya.
__ADS_1
"Teman-teman sudah mau kembali ke mess, aku masuk dulu ya."
Ardan mencium kening Clarisa dan mengecup bibirnya sekejap, "Kau hati-hati ya, nggak usah mikir macam-macam. Aku dan mama akan baik - baik saja."
Clarisa mengangguk, kemudian melangkah meninggalkan Ardan.
Namun tiba-tiba Clarisa berhenti melangkah, dia berbalik berlari memeluk Ardan kembali.
"Mas maafin aku ya, aku selalu membuatmu repot, aku selalu menyusahkanmu, bahkan aku sangat membahayakanmu. Mas berhenti saja menjagaku, bawa mama pergi dari sini. Biar aku yang menghadapinya sendiri."
"Dasar bodoh ! memangnya kau bisa apa menghadapi mereka ? Lihat kecoa saja kau takut. Aku tidak akan membiar kan kau menghadapi ini sendiri. Semua akan baik-baik saja. Sekarang kau masuk, nanti kau ditinggal sama teman-temanmu."
Clarisa mengangguk, kemudian mencium punggung tangan suaminya, "makasih ya mas untuk semuanya, i love u." Ucap Clarisa tersenyum.
"I love you too istriku." Balas Ardan, kemudian Clarisa berlari masuk ke dalam gedung bertemu teman -temannya.
"Ya ampun Clar kau dari mana saja sih ? aku mencarimu dari tadi." Sambut meylani ketika melihat Clarisa masuk dari pintu belakang.
"Tadinya keluargaku mau bertemu denganmu. Adikku fans berat denganmu, dia sangat suka dengan suaramu."
"Yaah maaf deh, aku tadi ada dibelakang."
"Memangnya keluargamu tidak datang ?"
Clarisa menggeleng, "orang tuaku sudah meninggal. Makanya gak ada yang temui aku. Tapi tidak apa-apa, aku sudah biasa dengan kesendirian."
"Ya ampun Clar jadi selama ini, kau tinggal sendiri ? Hhmmm, mulai sekarang aku akan menjadi temanmu dan menjadi keluargamu."
"Makasih ya Mey."
Clarisa dan Meylani bergabung bersama ke 7 teman-teman mereka.
"Selamat ya anak-anak, kalian masuk dalam top nine ! Kalian masih harus berjuang lagi. Sekarang mari kita pulang dan beristirahat."
"Baik bu Tami !" ucap para peserta kompak.
Para pesertapun naik ke bis dan mengantar mereka kembali ke mess.
Sementara itu, saat berjalan kembali ke mobil, Ardan dikagetkan dengan sebuah panggilan.
"Ardan !"
Ardan menoleh ke sumber suara.
"Pak Damar ? "
"Kau masih di sini ? mama mu mana ?"
"Eh iya pak ! mama ada di mobil."
" Kau balik lagi karena ada hati yang tertinggal ? hahahah."
"Ah bapak ini bisa saja, hehehe. Oh iya pak ada yang ingin aku tanyakan."
"Apa itu ?"
__ADS_1
" Apa penjahat yang menghadang aku dan Clarisa kemaren sudah tertangkap ?"
"Hanya satu orang yang berhasil kabur."
"Apa itu Yudi ?"
"Iya, dia menggunakan motor, dan tim yang mengejarnya kehilangan jejak."
"Clarisa bilang, beberapa hari ini dia seperti diikuti. Orangnya bertopi dan menggunakan masker."
Pak Damar sejenak berpikir, " sepertinya kita harus lebih ketat menjaga Clarisa, kita harus menempatkan penjaga di mess untuk menjaga dia secara diam-diam."
"Iya pak sepertinya harus begitu."
"Oh iya Ardan dari pengakuan salah satu orang yang mengejarmu itu, mereka menyebut nama pak Hermawan. Tapi mereka belum memberitahu dimana alamat rumah pak Hermawan, makanya pihak kepolisian masih terus mencari tau."
"Pak Hermawan ?!" ucap Ardan kaget.
"Kau kenal dia ? "
"Aku gak kenal tapi, Clarisa cerita kalau dia pernah mendengar sepupunya menelfon dan menyebut nama pak Hermawan."
" Apa ada hubungan dengan sepupunya Clarisa ?"
"Sepertinya iya pak, soalnya Nadia sepupu Clarisa itu dan orang tuanya menginginkan harta Clarisa, sudah beberapa kali mereka mencoba untuk mencelakai Clarisa."
"Nadia ? dia bukannya salah satu peserta di school idol tadi ?"
"Iya pak, makanya aku sudah suruh Clarisa untuk berhati-hati. Terlebih lagi saksi kunci kita sudah mendapatkan sms ancaman."
" Sms ancaman ? Mereka sepertinya sudah mulai bergerak semakin dekat Ardan. Clarisa semakin dalam bahaya. Kapan saja mereka bisa mencelakai Clarisa. Kau menyusup masuk ke dalam mess, menjaga gerak gerik Nadia sekaligus menjaga istrimu."
Ardan kaget ketika mendengar pak Damar tahu Clarisa istrinya.
"Kenapa kau kaget begitu Ardan ? hahahahaha,,,kau tenang saja hanya aku yang tahu pernikahan sirihmu. Aku tidak menyalahkanmu, kau bebas melakukan cara apa saja untuk membuat saksi kunci kita aman."
"Makasih pak !"ucap Ardan tertawa malu.
"TOLOOOOOOONGG...AAAAKKKKHHH!!!"
Ardan dan pak Damar saling pandang.
"Itu seperti suaraa.."
"Mamaaa...!!"
HAAIII ...!!!
para pembaca setia Ardan dan Clarisaa...😊😊😊
Ardan dan Clarisa minta hadiahnya dong, bunga, comment dan likenya ya...
Dukung terus Ardan Clarisa agar selalu semangat up.. !!!😘😘😘🤗🤗🤗
Terima kasih...
__ADS_1