
Ardan melihat sebuah botol kecil di lantai gudang.
Dia mengambilnya dan melihat isinya. Dia mencium botol kosong itu.
"Ini seperti racun, Ya Allah ! jangan-jangan mereka menyuruh Clarisa meminum racun ini?"
Ardan keluar dari gudang itu, dan berlari mencari Clarisa.
"Claaaarrr kamu dimaanna ?!!!"teriak Ardan memanggil istrinya.
Ardan melihat Yudi dan 2 laki-laki yang berusah lari lewat pintu belakang.
Dia segera mengejar ke tiga orang itu, ketika dekat Ardan segera melakukan tendangan dari arah belakang. Dia menendang belakang salah satu dari mereka.
Reno jatuh tersungkur ke depan dan menindih papanya dan Yudi.
"Jangan coba-coba lari kalian !"
Ardan secara membabi buta menghajar mereka satu per satu.
"Katakan dimana Clarisa ?" tanya Ardan.
Dia menjambak rambut Reno dan menariknya ke belakang.
"Cepat katakan dimana Clar ?" Teriak Ardan penuh murka di depan wajah Reno.
Tidak berapa lama beberapa polisi datang dan segera mengamankan ke tiga orang yang baru saja di hajar oleh Ardan.
Ke tiga orang itu babak belur dan sempoyongan.
"Papaaa !! Reno gak mau di penjara " ucap Reno.
"Diam ! gak usah cengeng. Salahmu sendiri, berapa kali saya kasih tau untuk belajar bela diri tapi kau tidak pernah mau. Sekarang lihat ! kau tidak bisa melawan " gerutu pak Hermawan.
Diluar halaman rumah pak Hermawan, pak Adam dan keluarganya terlihat begitu kelelahan. Mereka berjalan kaki untuk kembali ke rumah pak Hermawan. Mereka berniat untuk meminta tolong, karena harta yang mereka dapatkan dari pak Hermawan sudah di rampok.
"Lhoo kok ada polisi yah pi !" tanya bu Herni.
"Pi, Mi ! kita pergi aja dari sini, jangan sampai kita juga terlibat " ucap Nadia memberi saran.
"Iya kau benar Nad, ayo kita pergi dari sini ! Mami gak mau ikut masuk penjara juga."
Ketiga orang itupun segera berbalik arah.
"Eh kita lihat dari sini saja," ucap pak Adam menyuruh anak dan istrinya bersembunyi di balik pohon besar yang terletak di seberang jalan rumah pak Hermawan.
"Pii...Mii, lihat itu ! dua orang itu yang sudah merampok kita tadi " pekik Nadia pelan.
Pak Adam dan bu Herni melihat ke arah yang Nadia tunjuk.
Mata mereka membulat kala melihat 2 orang preman yang sedang jongkok dengan ke dua tangan dilipat keatas di belakang kepala.
__ADS_1
"Jadi mereka orang-orangnya pak Hermawan ?" tanya pak Adam.
"Ya pastilah pi. Itu artinya pak Hermawan sudah menipu kita. Dia mengambil kembali barang yang sudah dia berikan pada kita"
ucap bu Herni menganalisa.
Mobil Pak Damar dan bu Rani sampai di halaman rumah pak Hermawan.
Bu Rani segera turun dan mencari sosok Ardan dan Clarisa.
"Mana mereka mas ? Ardan dan Clarisa mana ?" tanya bu Rani.
Tiba-tiba pak Hermawan, Yudi dan Reno keluar dari dalam rumah dengan tangan terborgol ke belakang.
"Siapa mereka ?" tanya pak Damar.
"Mereka pak Hermawan, Reno anak pak Hermawan dan Yudi buronan yang lari dari penjara waktu itu " jawab anak buah pak Damar.
"Pak Hermawan ? bukannya pak Hermawan sudah tertangkap kemaren ?" tanya pak Damar heran.
"Akan kami selidiki kembali di kantor."
"Terus Ardan mana ?"
"Pak Ardan lagi mencari Clarisa, di duga Clarisa di beri racun oleh mereka."
"Apaaa racuuun ?!" ucap bu Rani terkejut. Seketika lututnya lemas. Pak Damar dengan sigap menangkap tubuh kekasihnya.
"Ran, kamu gak apa-apa?"
"Kamu tunggu di dalam mobil ya !" Pak Damar mengantar bu Rani masuk ke dalam mobil.
Pak Damar mengajar beberapa anggota untuk membantunya mencari Clarisa.
Clarisa sempoyongan berjalan, dadanya semakin sesak. Dia merasa begitu tersiksa. Udara yang tiap hari dia hirup serasa enggan masuk ke dalam paru-parunya.
Tangan dan kakinya sudah terasa dingin, seperti keluar dari dalam kulkas.
Ya Allah ! cerita ini harus berakhir bahagia. Clarisa selamat, harus selamat !
Clarisa terus berusaha untuk keluar dari rumah ini. Dia terus berjalan dengan berpegang di dinding-dinding rumah.
Nafas Clarisa terdengar lemah, dadanya terasa panas, begitu berat seperti ada sebuah bongkahan batu besar yang menindih dadanya.
Clarisa sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan. Seketika tubuhnya luruh ke lantai.
Diapun pasrah, jika malam ini malaikat pencabut nyawa mencabut nyawanya.
Terdengar sayup-sayup suara Ardan memanggilnya. Ingin rasanya dia berteriak, namun suaranya sulit untuk keluar.
Ardan aku disini, tolong aku !
__ADS_1
Ardan melihat gelang untuk mencari titik lokasi Clarisa berada.
"Lokasinya berada di sini, dimana dia ?"
Clarisa melihat jelas punggung Ardan, dengan sekuat tenaga dia membuka sepatunya dan melempar ke arah Ardan.
Ardan menoleh kebelakang, dia terkejut melihat Clarisa terkulai lemas di lantai.
"Ya Allah Clarisa ! bertahan ya."
Ardan segera mengangkat tubuh lemas Clarisa dan membawanya keluar.
Bu Rani melihat Clarisa di gendong oleh Ardan, segera keluar dari mobil. Dia berlari menghampiri ke dua anaknya.
"Ya Allah Clarisaaa ! sayang bertahan nak ." Ucap bu Rani menangis sambil memegang tangan Clarisa.
Beruntung mobil ambulance datang tepat waktu.
"Ardan cepat bawa ke ambulance !" teriak pak Damar yang tiba-tiba keluar dari dalam rumah.
Pak Damar berlari masuk ke dalam mobilnya. Sedang bu Rani ikut masuk ke dalam ambulance bersama Ardan.
Pak Adam beserta anak dan istrinya tersenyum melihat musibah yang ditimpah Clarisa.
"Semoga Clarisa gak selamat, biar kita bisa menikmati hartanya " ucap bu Herni.
"Iya mi, gak dapat dari pak Hermawan dapat dari Clarisa, hahahaha !" Balas Nadia sambil tertawa.
Ketika mereka lagi asyik tertawa, tanpa mereka sadari pak Hermawan melihat ke tiga orang itu bersembunyi di balik pohon.
"Pak di balik pohon besar itu, ada 3 orang yang juga terlibat dalam penangkapan Clarisa " kata pak Hermawan pada salah satu anggota polisi.
Polisi itu segera memberi kode pada 2 rekannya untuk mengepung pohon yang di tunjuk oleh pak Hermawan.
Ketiga polisi itu segera merapat ke arah pohon, dengan memegang pistol ditangan mereka.
"Jangan bergerak ! angkat tangannya dan segera menghadap ke pohon."
Terdengar aba-aba dari salah satu polisi, Nadia dan ke dua orang tuanya, tidak bisa berkutik lagi. Namun, mereka tidak mengangkat tangan dan tidak menghadap pohon. Mereka malah mematung di tempat mereka berdiri.
Ketiga polisi itu heran melihat tiga orang di depan mereka.
"Kenapa kalian tidak bergerak ?" tanua salah satu polisi.
"Lhaa kan bapak sendiri bilang jangan bergerak ! Yah kita gak bergerak lah."
Ketiga polisi itu menepuk jidat berjamaah.
"Gak gitu juga bambaaaaang !!!" teriak ketiga polisi itu bersamaan.
...***...
__ADS_1
Jangan lupa author nya di kasih hadiah ya...
ikuti terus bab-bab terakhir Ardan dan Clarisa. 😍🥰😍