Si Gendut Itu Aku !

Si Gendut Itu Aku !
Kecemasan Clarisa


__ADS_3

"Siapa mas ? Siapa yang meninggal ?" tanya Clarisa.


"Teman sesama polisi yang sedang bertugas, ada yang membantu Yudi dan anak buahnya untuk kabur. Terjadi saling tembak dan teman aku tertembak."


"Ya Allah !" Clar menutup mulutnya tidak percaya dengan cerita Ardan.


"Sayang, aku tinggal sebentar ya. Aku harus kekantor sekarang." Pamit Ardan, dia mencium kening Clarisa. Kemudian menyambar jaket dan kunci mobil. Ardan memutuskan untuk naik mobil saja.


Setelah Ardan pergi, Clarisa menangis.


"Jika penjahat itu kabur, dan dia belum berbicara siapa yang menyuruhnya, itu artinya keselematanku masih terancam. Bagaimana kalau penjahat itu berhasil membuatku..."


Clarisa menggigit ibu jarinya. Dia terlihat sangat panik.


"Bella, apa sebenarnya inti cerita yang kau buat ini ? " Clarisa terlihat frustasi dia memegang kepalanya dan meremas rambutnya.


"Bagaimana cara menamatkannya ? akan aku coba menulisnya lagi." Clarisa segera bangkit dari tempat duduknya, dia mengambil buku catatannya.


Dia terlihat berpikir, kemudian mulai menulis jalan cerita. Dia membuat cerita, si penjahat berhasil tertangkap.


Clarisa tersenyum dia bisa menyelesaikan ceritanya. Dia menunggu 1 menit, 2 menit sampai 5 menit, cerita itu tidak hilang.


"Alhamdulillah ! " Dia bersorak gembira.


Dia menutup bukunya kembali, tanpa dia tahu tulisan itu hilang. Kertas putih yang sudah bertinta itu, tiba-tiba berubah warna putih kembali tanpa coretan pena Clarisa.


Clarisa menunggu telfon dari Ardan, menurut cerita yang dia tulis, Ardan akan memberitahu padanya lewat telfon.


Gadis bongsor itu mondar mandir di dalam kamar, menunggu telfon dari suaminya.


Tik tok...


Tik tok...


Tik tok...


Waktu terus berjalan, "kenapa belum ada telfon ? Di cerita yang kutulis tadi harusnya dari tadi aku sudah menerima kabar kalau Yudi dan teman-temannya sudah tertangkap."


Clarisa segera membuka kembali buku catatannya, "yang ku tulis tadi mana ? kenapa hilang ? "


Istri Ardan itu terus membolak balik kertas-kertas yang ada di buku catatannya.


Dia kemudian bersandar dikursi sambil menghembuskan nafas kasar.


Clarisa menengadahkan kepalanya menatap langit-langit kamarnya.


"Bagaimana kalau aku tidak bisa pulang ? Bagaimana kalau di akhir cerita aku berhasil mereka singkirkan ?" Ucap Clarisa pelan tanpa terasa airmatanya jatuh.


"Maaa, Airiin rinduu."


Beberapa jam kemudian Ardan pulang. Dia melihat Clarisa tertidur di sofa kamarnya.


Ardan tersenyum melihatnya, di belai lembut wajah istrinya, menyingkirkan anak-anak rambut di wajahnya.

__ADS_1


"Manis sekali." Kemudian Ardan mengecup lembut bibir istrinya, setelah itu menggendongnya ke tempat tidur.


Dia membaringkan tubuh Clar, kemudian menyelimutinya. Ardanpun segera mencuci muka setelahnya ikut berbaring di samping istrinya, dia menyandarkan kepala Clarisa di dadanya dan memeluknya.


"Hmmmm, ini itu guling yang paling nyaman." ucapnya tersenyum kemudian ikut tertidur bersama istri bongsornya.


Keesokkan paginya, Clarisa merasa lain dengan bantal gulingnya, masih menutup matanya dia meraba-raba sesuatu yang dia peluk.


Jari-jari halusnya meraba wajah Ardan, mulai dari bibir, hidung sampai mata.


Dia membuka matanya,dan melihat Ardan tertidur pulas disampingnya.


Dia mengamati wajah suaminya sambil tersenyum-senyum sendiri.


Dia kemudian mendekatkan wajahnya dan hendak mencium bibir suaminya. Seketika Ardan membuka matanya. Clarisa terperangah, ketika dia kedapatan ingin mencium suaminya.


Ardan tersenyum, Clarisa segera berbalik hendak beranjak dari tempat tidur. Namun tangannya di tahan Ardan, kemudian lelaki tampan itu memeluknya dari belakang.


"Kau terciduk istriku !" Clarisa merasa malu sekali.


"Semalam kamu yang pindahin aku ke tempat tidur ya mas ?"


"Iya ! dan kau sudah mulai berat." Goda Ardan dan langsung mwngecup pipi tembemnya.


Tiba-tiba Clarisa teringat dengan masalah semalam.


"Oh iya mas, gimana penjahatnya ? apa tertangkap ?"


"Belum !" ucap Ardan yang kemudian melepaskan pelukannya, dan beranjak ke kamar mandi.


"Bagaimana ini ? "


Diapun beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi di dapur. Dia mencuci muka dan menyikat giginya, dengan sikat gigi baru yang di sediakan di kamar mandi. Clarisa kemudian berpikir dalam keadaan cemas dia ingin memasak, dia mengambil bahan-bahan di kulkas. Kemudian memainkannya.


Keluar dari kamar mandi, Ardan mencari Clarisa yang tidak ada di kamar.


Setelah berpakaian rapi dia keluar, mencari istrinya. Di tersenyum ketika melihat punggung Clarisa yang sedang memasak di dapur.


Dia kemudian memeluk istrinya dari belakang, "nyonya Ardan, mau masak apa nih ?"


Clarisa kaget dan berusaha melepaskan pelukannya.


"Mas, apaan sih. Nanti diliat mama."


Ardan masih belum melepaskan pelukannya.


"Beri aku satu ciuman baru aku melepasmu."


"Iihhh mas, malu kalau di liat orang."


"Pagi-pagi begini bibi ke pasar, kalau mama joging."


Ardan membalikkan tubuh Istrinya, kini mereka sudah berhadapan hanya berjarak beberapa centi saja. Ardan hendak mencium bibir Clarisa.

__ADS_1


Tiba-tiba !


Mereka merasakan semburan kecil dari minyak panas ketika ikan dimasukkan dipenggorengan.


Mereka berdua berbalik dan mihat bu Rani sedang memasukkan ikan di wajan panas.


"Mamaaa !" teriak mereka bersamaan, kemudian melepaskan pelukan saling menjauh.


" Minyak nya sudah panas ikannya belum di masukkan. Lain kali jangan bermain di dekat kompor menyala, bahaya !" Goda bu Rani kemudian berlalu meninggalkan dua orang lagi kasmaran.


"Kamu sih mas! kan udah ku bilang tadi." gerutu Clarisa kemudian melanjutkan memasaknya.


"Iya maaf heheh." ucap Ardan garuk-garuk kepala.


...***...


Senja kemarin !


Rangga mendekati Vanya yang masih terpaku menatapnya tidak percaya.


Rangga tersenyum, sedang Vanya menatapnya tidak suka.


"Apa kabar Van ?" Rangga mengulurkan tangannya, tapi Vanya mengabaikannya.


Rangga menarik kembali uluran tangannya, "aku tau ini terlambat, tapi aku minta maaf atas kejadian waktu itu."


"Kata maafmu tidak akan bisa mengubah semuanya, tidak akan bisa mengembalikan Ardan lagi di sisiku."


"Jadi menurutmu, sepenuhnya aku yang salah ?"


"Seandainya kau tidak terlalu jauh melakukannya, ini..."


"Tapi kau juga menikmatinya bukan ?" potong Rangga.


"Sudahlah ! aku tidak mau membahas itu. Aku mau pulang !"


Vanya hendak melangkah, tapi Rangga menahan tangannya.


"Vanya, apakah kita tidak bisa memperbaiki hubungan kita ?"


" Maksud kamu ? bukannya kita memang tidak ada hubungan apa-apa ? Saat itu kita hanya ingin have fun kan ? jadi apanya yang harus diperbaiki ? Kalau ada yang harus diperbaiki itu hubunganku dengan Ardan bukan denganmu."


"Aku tau saat itu hubungan kita hanya sekedar senang-senang saja. Tapi setelah kejadian waktu itu. Ada yang berubah di hati ini Vanya. Aku mencintaimu !" ungkap Rangga, dia memegang pipi Vanya, berharap gadis di depannya ini akan luluh.


Vanya memegang tangan Rangga dan kemudian menjauhkannya.


Vanya kemudian melangkah meninggalkan Rangga.


"Vanya ! " panggil Rangga, seketika langkah Vanya berhenti tanpa menoleh.


" Aku akan menunggumu sampai kau membuka hatimu." ungkap Rangga.


Vanya menarik nafas dalam, dia melangkah kembali, dia berlari terus berlari sambil menangis. Sampai dia pun tidak menyadari bahwa dirinya sudah berada di tengah jalan, dan sebuah mobil melaju menuju arahnya.

__ADS_1


"Vanyaaaaaa !!"


"Aaaaaaakk...!!"


__ADS_2