Si Gendut Itu Aku !

Si Gendut Itu Aku !
Berbaikkan


__ADS_3

Clarisa menghela nafas panjang, diapun hendak beranjak masuk ke dalam bergabung dengan teman-temannya.


"Claar !" Seseorang memanggilnya, Clarisa berbalik dan melihat bu Rani dan Ardan berdiri di halaman parkir.


Clarisa kaget, dia segera berlari ke arah dua orang yang sangat dia rindukan.


Clarisa segera menarik tangan Ardan dan Bu Rani, membawa mereka ke sudut bangunan.


Clarisa tengok kanan dan kiri melihat keadaan. Dia merasa, di sudut bangunan ini aman, Nadia dan orang tuanya tidak akan melihat Ardan dan mamanya.


Ardan dan bu Rani terlihat heran melihat tingkah Clarisa, yang seperti ketakutan.


"Maaa !" Clarisa menangis memeluk bu Rani.


Bu Rani membelai lembut rambut Clarisa.


Clarisa segera melepas pelukannya dan menghapus air matanya.


"Kamu cantik sekali sayang." Puji bu Rani sambil membelai lembut wajah menantunya.


"Makasih ma ! Clar kangen sekali sama mama." Clar kembali memeluk manja pada bu Rani.


"Iya mama juga sayang."


"Mama tau ngga ? semua teman-temanku sekarang lagi melepas rindu dengan keluarga mereka. Hanya aku yang sendiri, gak ada keluarga yang datang. Orangtuaku kan sudah meninggal, paman dan bibiku datang hanya melihat Nadia. Mereka tak menegurku. Tapi aku senang mama datang melihatku."


Mendengar itu, bu Rani mengeratkan pelukannya. Dia mencium dengan penuh kasih sayang dipucuk kepala menantunya. Tanpa terasa airmatanya jatuh. Dia tidak menyangka kalau hidup menantunya sebegitu memprihatinkan.


"Mulai sekarang mama, akan datang melihat penampilan kamu setiap minggunya. Sekalian mama bawain makanan kesukaan kamu ya sayang."


"Nggak...Nggak usah ma. Aku gak mau mama kenapa-napa."


"Kenapa-napa bagaimana maksudmu Clar?" tanya Ardan.


"Ma ! sepertinya ada yang bicara ya ?" tanya Clar yang berpura-pura tidak melihat Ardan.


Bu Rani menahan senyumnya mendengar pertanyaan Clarisa, dan melihat wajah merah Ardan.


"Ma, kasih tau sama anak mama yang sok ganteng itu, jangan suka kasih harapan palsu sama wanita."


"Oh pasti sayang, mama akan sampaikan sama anak mama yang sok ganteng itu, bahwa dia harus mencintai pilihannya. Kalau sampai dia buat menantu kesayangan mama ini menangis, mama akan coret namanya dari kartu keluarga."


"Eheemm !" Ardan berdehem. Bu Rani tertawa kecil melihat wajah putranya.


"Mmmm, Clar sayang mama rasa kau dan Ardan perlu bicara. Selesaikan dengan baik masalah kalian, agar rumah tangga kalian tetap bertahan."

__ADS_1


Bu Rani mencium kening menantunya dan membelai lembut pipinya.


"Mama tunggu di mobil." Ucapnya pada Ardan sebelum melangkah meninggalkan sepasang suami istri itu.


Clarisa menatap tajam Ardan.


"Apa? " Tanya Clarisa jutek.


" Mmm, tentang yang kamu lihat di rumah sakit itu, aku minta maaf. Aku tau aku salah Clar. Tapi percaya sama aku, aku sudah gak ada perasaan apa-apa sama Gita."


"Tapi aku melihat mas begitu menikmati waktu disuap sama dia. Kalau masih suka bilang aja, aku gak apa-apa. Apalah aku ini bila dibandingkan dengan Gita yang seorang dokter? Aku hanyalah remahan kerupuk."


Ardan mengulum bibirnya menahan tawanya yang hampir saja keluar mendengar kata-kata istrinya. Dia kemudian menarik nafas, mengatur kembali kata-katanya.


"Clar aku minta maaf, sebelumnya aku di suap sama mama kok. Mmm...begini saja nanti kalau kau sudah selesai ikut lomba ini. Dirumah nanti kau suap aku makan ya."


"Mas aku bisa lihat dari matamu kalau kau melihat dokter Gita itu lain."


"Lain gimana Clar ? emang kamu liat aku kalau ngeliat Gita dengan mata juling atau dengan mata satu kayak bajak laut? Nggak kan ? semua sama kalau aku melihat dia pake kedua mataku."


"Iihhh mas kita ini lagi ngomong serius."


"Iya ini aku serius."


"Terus kenapa foto mesra mas dengan dokter Gita belum mas hapus dari media sosial mas Ardan ? sudah begitu ada tulisannya 'i cant stop loving you,' Itu berarti mas Ardan tidak akan pernah bisa berhenti mencintainya."


Clarisa kemudian menunjukkan foto itu melalui hp nya. "Nih ! coba liat baik-baik."


Ardan mengambil hp Clarisa dan melihat foto yang dimaksud Clarisa.


"Ya ampuun Clar ! ini itu media sosialku yang lama. Waktu itu hpku hilang. Trus aku beli hp baru. Waktu mau buka media sosialku, aku lupa kata sandinya. Jadinya aku buat baru, yang sekarang aku pakai."


Ardan kemudian mengambil hpnya dari kantong celananya, dia membuka media sosialnya dan menunjukkan pada Clarisa.


"Lihat ! aku sudah menfollowmu sejak lama, tapi kau tidak pernah follow balik aku. Makanya kau tidak pernah melihat postinganku. Sekarang follback aku cepat !"


Clarisa segera membuka media sosialnya, dia melihat deretan nama yang mengikutinya. Dia baru sadar ada nama Ardan disitu. Dia pun mengfollback Ardan.


Setelah itu terlihatlah semua deretan foto-fotonya dengan Ardan mulai dari sewaktu dia masih berbadan gendut. Tanpa di sadarinya Clarisa tersenyum, melihat semua foto itu. Dia tidak menyangka Ardan selalu mengabadikan setiap moment kebersamaan mereka.


Ardan kemudian merangkul pinggang Clar dari belakang, dia menyandarkan dagunya dibahu Clarisa.


"Sayang, maaf ya. Aku sudah buat kamu cemburu. Itu foto lamaku dengan Gita. Kalaupun aku memakai media sosial itu, aku pasti sudah menghapusnya sejak lama."


"Mas kenapa bisa putus dengan dia ?"

__ADS_1


" Waktu itu setelah sekolah kedokterannya selesai dia aku ajak nikah, tapi dia gak mau. Alasannya dia masih mau ngambil sekolah spesialis. Aku sih mau menunggu, tapi tiba-tiba dia memutuskan aku secara sepihak. Hanya karena dia tidak bisa LDRan. Terus tidak lama dari situ aku dengar, dia pacaran dengan teman sesama dokternya. Sangat kecewa waktu itu, tapi aku mencoba untuk tetap ikhlas. Aku mencoba membuka hatiku lagi ketika orang tuaku menjodohkanku dengan Vanya. Namun, lagi-lagi aku kecewa. Tentang Vanya aku sudah ceritakan ? Sampai akhirnya, aku bertemu denganmu. Aku mencintai hatimu dan juga kepribadianmu waktu itu. Bagiku fisik bukanlah kecantikan yang sesungguhnya. Meskipun banyak yang menertawakan aku karena mencintai wanita gendut. Tapi aku tidak peduli, aku nyaman disampingmu. Sejak saat itu , aku berjanji untuk selalu menjagamu."


Ardan mencium kepala Clarisa, dan mengeratkan pelukkannya.


"Percayalah aku cinta sama kamu. Bagiku kamu tetap gadis gendutku tersayang, yah meskipun sekarang sudah gak gendut." ucap Ardan sambil mencium pipi Clarisa.


"Tapi ibu-ibu yang ada disitu lalu juga bilang kalau pertemuan kalian itu pertanda jodoh."


Ardan membalikkan badan Clarisa yang kini berhadapan dengannya. Dia mengalungkan ke dua tangan Clar dilehernya. Kemudian merangkul pinggang istri kecilnya itu.


"Wanita yang kau maksud itu mamanya Gita, kau tidak usah dengar apa yang dia katakan. Kenyataannya, Tuhan menjodohkan kita. Aku ingin itu selamanya."


Clarisa tersenyum, dia senang Ardan kembali meyakinkan dia atas hubungan mereka. Penjelasan Ardan membuat hati Clarisa kembali yakin. Kalau Ardan yang dulu masih sama sampai sekarang. Ardan yang mau menerima dia apa adanya. Ardan yang selalu ada di sampingnya, disaat orang-orang membullynya.


"Sekarang, kita baikkan ya."


Clarisa mengangguk seperti anak kecil. Melihat wajah Clarisa yang imut membuat Ardan gemas, diapun mencium bibir Clarisa.


Clarisa ingin menghindar, tetapi Ardan menahan kepalanya dari belakang dengan tangannya. Sehingga membuat Clarisa mau tak mau menerima ciuman Ardan.


Ardan melepaskan ciumannya, setelah dia merasa Clarisa sudah kehabisan nafas.


Masih dengan posisi memeluk Clarisa, Ardan tiba-tiba tersadar dengan sesuatu yang harus dia tanyakan.


"Oh iya, kau belum jelaskan, kenapa kau berbicara seperti itu tadi dibanggung ?"


"Hehehe, kupikir mas sudah lupa."


"Enak saja, itu adalah hal yang sangat menyakitkan bagi suamimu ini, tidak diakui oleh istrinya sendiri."


"Hehehe, maaf mas. Aku terpaksa karena aku nggak mau kamu dan mama kenapa-napa."


"Kamu daritadi bilang begitu juga sama mama, dan waktu kamu lihat kami datang. Kau segera menarik kami kemari. Kau seperti ketakutan kalau seseorang melihat aku dan mama. Apa itu berhubungan semua?"


"Iya mas, dan aku takut !"


"Kau jangan takut, cerita padaku sekarang !"


"Mmm...sebelumnya bisa tidak mas melepaskan pelukkan ini. Aku takut nanti ada yang datang."


"Di sini aman, tidak akan ada yang datang. Lagipula aku masih kangen. Sekarang cepat ceritakan padaku !"


" Ada yang mengancamku mas !" Clarisa kemudian menunjukkan sms ancaman itu.


Ardan melihat sms itu, dia membacanya. Dia mulai menerka-nerka siapa yang sudah megirimkan sms ini.

__ADS_1


'Jangan-jangan orang yang mengirim sms ancaman ini Yudi ?' Gumam Ardan dalam hati.


"Ya ampun ! mas Ardan itu sana !" tunjuk Clarisa dengan wajah ketakutan.


__ADS_2