Si Gendut Itu Aku !

Si Gendut Itu Aku !
Buntelan kain


__ADS_3

Ardan membantu Clarisa berdiri, " kok tiba-tiba bisa jatuh begini sih Clar ?"


Ardan membawa Clarisa duduk beristirahat di bangku taman.


'Duuhh, moga-moga Ardan tadi salah ucap.' bathin Clarisa.


"Clar, seminggu lagi kau akan masuk karantina school idol. Bagaimana persiapanmu ?" tanya Ardan.


'Huuft ! untung dia gak ulangin lagi pertanyaannya yang tadi'


"Claar ! ditanya kok diam ? "


"Oh iya, persiapan aku sudah aman, heheheh."


"Oh syukurlah ! aku akan selalu mendukungmu."


"Iya, makasih."


"Clar, bagaimana ajakanku yang tadi ?"


"Ajakan makan ? Kamu belum ajak heheh, ayo makan dimana ?"


"Aku memang belum ajak. Lagian bukan ajakan yang itu. Tapi, ajakan nikah. Kamu mau gak nikah sama aku."


Clarisa mematung, dia menatap mata laki-laki di depannya. Tidak ada candaan, dia bingung kenapa Ardan tiba-tiba ajak nikah.


"Bukannya kau bilang, setelah pelaku kejahatan itu tertangkap, baru kita nikah. Kenapa kau tiba-tiba ajaknya sekarang ?"


"Aku berubah pikiran..hehehe."


"Lupakan Ardan aku ini masih SMA, kalau mau ngurus apa-apa di KUA itu susah !"


"Masalah itu kau tenang saja biar aku yang urus."


"Kau itu polisi, pasti ada nikah dinasnya. Emang Anak SMA kayak aku bisa ?"


"Akukan sudah bilang, aku yang urus semua, di kantor KUA dan dikantorku. Yang penting setelah semuanya beres, kau mau ku ajak nikah. Gimana ?"


Clarisa belum menjawab, dia masih menatap Ardan intens, kali aja dia melihat sesuatu candaan di wajah Ardan. Tapi tak ada, wajah Ardan justru sangat serius membicarakan hal ini.


"Kau lagi tidak bercandakan Ardan ? Jangan ngeprank deh, gak lucu ! Lebih baik kita cari sarapan aja, aku lapar! Ayooo!" Clarisa berdiri dan menarik tangan Ardan.


Ardan menarik kembali tangan Clar, seketika gadis itu terjatuh dipangkuan Ardan. Clar kaget, dan refleks melingkarkan tangannya di leher Ardan. Keduanya bersitatap.


'Ya ampun baru kali ini aku liat wajah Ardan sedekat ini, perfect!'


Ardan menyentikkan jarinya di depan wajah Clar, "gimana ? kamu mau kan ?"


Clar mengangguk seperti terhipnotis dengan tatapan Ardan.


Ardan tersenyum lebar dengan anggukan clarisa.


"Sekarang apa kau boleh berdiri nonna ? aku capek memangkumu ! Dietmukan belum sempurna."


Clarisa segera tersadar dan berdiri, kemudian dia terus berjalan, dengan wajah merah menahan malu.


"Claar tunggu !" Ardan mengerjar Clar, dan kemudian merangkul bahunya dan berjalan beriringan.


Di lain tempat, Nadia berdiri dan menatap tidak percaya dengan tanda merah yang ada di peta.

__ADS_1


"Yakin ini tempatnya ? ini kuburan mi, pi !"


"Atau jangan-jangan, di tempat kita berdiri sekarang peti itu di kubur." ujar mami Nadia.


"Bisa jadi mi. Coba biar papi gali !"


Pak Adam segera mengeluarkan alat galian yang sudah dia bawa dari rumah.


Sudah satu jam berlalu, pak Adam masih terlihat terus menggali tanah.


"Gimana pi?ada tanda-tanda gak ? petinya terlihat!" tanya istrinya.


"Belum ada mi ! Papi capek, Nadia bawa kemari minumnya !" Perintah Pak Adam pada putrinya.


Nadia mengambil botol air minum di dalam tas, dan memberikannya pada papinya.


"Papi ! yang semangat dong. Jangan capek - capek mulu." ujar Nadia.


"Kalian bantuin papi juga dong. Coba kalian gali di sebelah sana. Siapa tau ada di sana!"


"Ya udah deh, ayo Nad ! kita gali di sebelah sana !" ajak maminya.


Dengan muka masam Nadia mengikuti perintah maminya. Dia dan maminya menggali tanah dengan alat seadanya.


"Duuuhhh bisa rusak kuku aku mi !" gerutu Nadia.


"Nantikan kalau dapat peti itu, ada emasnya kita jual, trus kamu ke salon perawatan kuku kamu."


Nadia tersenyum senang mendengar kata-kata maminya. Diapun bersemangat kembali.


Satu jam, dua jam dan tiga jam berlalu ketiga orang itu nampak mulai kelelahan.


"Nadia Nyerah deh ! daritadi gali gak dapat-dapat juga. Lihat ! kuku Nadia sudah patah-patah huhuhuhu." keluh Nadia sambil menangis.


"Iya mami juga, tangan mami capeeekkk !!!"


"Yah sudah, kalian berdua istirahat saja, biar aku yang teruskan menggali. Tapi, nanti kalau aku dapat. Aku mau kawin lagi !"


Tiba-tiba sepatu kets bi Herni melayang dan mendarat cantik di muka pak Adam.


"Kamu minta apa tadi ? Hah !" tanya bi Herni dengan berkacak pinggang di depan suaminya.


"Hehehe, salah ngomong mii. Mami duduk gih istirahat. Biar papi lanjut gali lagi."


Pak Adam pun melajutkan menggali tanah. sedang Nadia dan maminya duduk beristirhat.


Tiba-tiba, cangkul pak Adam mengenai sesuatu yang keras.


"Mamiii, Nadia ! sinii!"


Nadia dan maminya segera mendekat ke arah pak Adam.


"Gimana pi ? ada ?" tanya istrinya.


Pak Adam terus menggali, dan sesuatu itu semakin terlihat.


"Tapi kok kain ya ? bukannya peti Clarisa bilang ?" tanya Nadia.


"Coba gali terus aja pi !" usul istrinya.

__ADS_1


Pak Adam terus menggali, ketika kain itu semakin terlihat, pak Adam menariknya. Nampaklah sebuntal kain yang ujungnya terikat.


"Masa surat-surat di taruh kayak begini ?" Tanya pak Adam, karena dia berharap mendapatkan surat-surat berharga milik kakaknya.


"Jangan-jangan bukan surat, tapi emas piii hahaha!" Sorak Nadia dan maminya kegirangan.


Bu Herni segera merampas buntalan kain itu dari tangan suaminya.


"Sini, biar mami yang buka !"


Bu Herni Melonggarkan ikatan tali yang melilit kain. Setelah tali terbuka, nampaklah isi dari buntelan kain itu.


"Tulaaang ?! Hiii ini tulang tengkorak siapa ?" bi Herni bergidik ngeri dan melempar kain yang berisi tulang belulang itu ke arah Nadia.


Nadia bergidik ngeri ketika tulang itu mengenai dirinya.


"Hiiii mamiii, kok di lempar ke Nadia ?"


Wajah pak Adam sangat marah, dan mengepalkan tangannya.


" B***sek kau Clar, kau sudah mempermainkan kami !!!", teriak pak Adam dengan marah.


"Pi udah kita pulang aja yuk, trus kita kasih pelajaran sama Clar !" bujuk Nadia.


Akhirnya ketiganya dengan langkah gontai, berjalan pulang.


"Lho, sepertinya kita salah jalan mi, pi !"


"Iya ya, tadi kita bukan lewat jalan ini !" ucap bu Herni bingung sambil garuk-garuk kepala.


"Coba kita lewat jalan sana aja !" tunjuk pak Adam pada putri dan istrinya.


Mereka bertigapun berjalan menyusuri jalan setapak.


"Ini sudah jam 4 mi, sebentar lagi sore. Terus malam, bagaimana kalau kita gak ketemu jalan keluarnya ? Huuaahikks...hiks..."


"Huuushhh diam Nad ! Gak usah nangis kayak begitu. Jalan saja terus !" bentak maminya.


Mereka pun terus berjalan. Sampai akhirnya mereka melihat mobil yang mereka parkir di pinggir jalan.


"Miii itu mobil kitaa !" Sorak Nadia kemudian berlari ke arah mobil.


"Akhirnya, ketemu juga. Haduuh pikir tadi kita akan tersesat didalam. Hiii ngerii..!" ujar mami Nadia.


"Ya sudah, ayo kita naik trus pulang !"Ajak pak Adam.


Merekapun naik ke dalam mobil dan duduk manis.


Pak Adam yang sudah berada di balik setir tersadar akan sesuatu dan terdiam.


"Papii ayo jalan !" seru Nadia.


"Kuncinya !"


"Maksud papi ?" tanya istrinya.


"Kuncinya hilang mii !"


"PAAAPIIIII....!!!!"

__ADS_1


__ADS_2