
"Bu Fika ! maaf ya saya agak lama dengan Ardan di bawah tadi. Terima kasih sudah menjaga Vanya." Ucap pak Damar.
"Iya pak, gak apa-apa. Vanya sudah tertidur. Ardan dimana ya pak ?"
"Oh iya, Ardan sudah menunggu ibu di bawah."
"Oh ya sudah ! saya pamit pulang dulu. Semoga Vanya lekas sembuh ya pak."
Pak Damar membalas senyuman bu Fika, "Iya Aamiin, terimakasih ya bu ."
Bu Fika berjalan keluar, dia menelfon Ardan untuk menanyakan keberadaannya.
"Kamu di mana ? mama pusing tau nyarinya."
"Ardan di taman rumah sakit dekat parkiran mobil."
"Ya sudah mama ke sana."
Bu Fika kemudian segera bergegas ke taman rumah sakit.
"Ardan !" panggil bu Fika, Ardan menoleh dan melihat mamanya duduk lemas di sampingnya.
"Huuft, mama capek tau nyari kamu ke sana kemari. Eh Ardan ! kamu yakin mau nikahin si Vanya ?"
"Entahlah ma !"
"Lhaaa kalau entahlah, kenapa tadi pada pake janji segala ? ujung-ujungnya ribetkan urusannya ?"
"Hmmm..aku kasian sama pak Damar ma, Vanya anaknya nekat. Bagaimana kalau dia beneran tadi bunuh diri ? Kasian pak Damar dia akan sendiri."
"Kamu ini, anaknya perasa banget. Terus rencana kamu apa ? terus menerus membuat harapan pada Vanya, kalau kamu akan menikahi dia ? Pernikahan tanpa cinta, sungguh tidak mengenakkan Ardan."
"Ya aku akan bilang pelan-pelan ke Vanya ma, jika keadaannya sudah lebih baik lagi."
"Kalau dia tidak bisa terima ? Bunuh diri lagi ? trus gimana kalau dia beruntung ? "
"Beruntung gimana ma ?"
"Beruntung karena bunuh dirinya berhasil, kayak kalau cabut lot, dia menang dapat hadiah utama."
"Maaa yang serius dong kalo bicara !"
"Yeee mama serius Ardan. Tentukan sikap kamu mulai dari sekarang, jangan tunggu nanti !"
Ardan menatap mamanya, mendengar kata-kata bijak, yang keluar dari mulut wanita yang melahirkannya itu.
"Kenapa liatin mama kayak begitu ? kamu kagum dengan kata-kata mama ?"
"Nggak ! aku tiba-tiba punya ide. Agar nggak jadi nikah dengan Vanya."
"Ide apa ?"
"Mama Janda, pak Damar duda. Bagaimana kalau mama nikah dengan pak Damar."
"WHAAATT??!" Bu Fika histeris dengan mata melotot menatap Ardan.
"Iya ma, aku dan Vanya otomatis jadi saudara, dan gak mungkin kita nikah. Gimana ma ?"
Bu Fika memasang senyum termanisnya, "Ardan anak mama, pernah rasain kepalanya di jitak pake hak sandal mama gak ?"
Ardan berdiri dan tersenyum lebar pada mamanya "Hehehe, Ardan bercanda ma. Ayo pulang ma !" Ajak Ardan kemudian mengambil langkah kaki seribu, sebelum kepalanya benar-benar kena jitak hak sandal mamanya.
Di kamar, Clarisa masih menyelesaikan tulisannya. Dia menulis setiap kejadian yang dia alami satu hari dalam 1 bab.
Dia tersenyum-senyum sendiri ketika, dia menulis bagaimana Ardan membuatnya terpesona tadi pagi.
"Ah Ardan ! Bella memang is the best, membuat sosok Ardan yang perfect. Padahal sosok Ardan dalam ceritaku, dia hanya sebatas sahabat yang jahil. Hahahah...Ardan..Ardan..!" Clarisa berbicara seorang diri sambil tertawa lebar.
__ADS_1
Sampai di rumah Ardan segera ke kamarnya, dan beristirahat.
Dia bingung apa yang harus dia lakukan, dan dia katakan pada Clarisa nanti ?
Bagaimana kalau pernikahan itu benar-benar terjadi?
Keesokan harinya, Clarisa terbangun lebih awal di minggu pagi ini. Dia berencana untuk lari pagi di taman.
Dia membuka aplikasi WA, chat yang dia kirim untuk Ardan masih centang 1.
"Ada apa dengan Ardan sih ? Biasanya hari minggu begini dia paling semangat ngajak aku olahraga di taman." tanya Clarisa pada dirinya sendiri.
Diapun memutuskan untuk tetap olahraga tanpa Ardan.
Ketika Clarisa turun, dia melihat keluarga perusuh itu sudah bersiap, entah mau kemana sepagi ini.
"Waaah kalian mau kemana ?"
"Eh Clarisa kamu sudah bangun ? ini kami mau ke rumah teman paman." jawab paman Adam.
"Clarisa ikut dong !"
"Eh jangan ! Rumahnya jauh. Nanti kamu gak akan sanggup."
Clarisa tertawa dalam hati, 'iya pergilah kalian, semoga berhasil hahaha' ucap Clarisa dalam hati.
"Ya sudah ! kalian cepat pulang ya ! aku mau olahraga dulu di taman."
Clarisapun pamit, pada keluarga perusuh itu."Clarisa jalan dulu."
"Eehh...Clar tunggu !" panggil bi Herni.
"Bibi perhatikan kamu tambah kurus Clar ."
"Iya bi alhamdulillah, kerja keras bi."
"Iya ! kerja menahan godaan untuk tidak makan masakan bibi hahahah, byee bii !" Jawab Clarisa asal dengan senyum lebar dan segera berlalu dari hadapan ke-3 perusuh.
" Iiihh tuh anak, awas aja nanti kalau semua surat-surat berharga itu aku dapatkan. Kutendang dia dari rumah ini !"
"Iya mi, Nadia setuju ! Semenjak dia terlihat mulai kurus, dia seperti kecentilan di sekolah. Sok kecantikan!"
"Sudah gak pusing mikirin dia ! ayo cepat kita berangkat !" ajak pak Adam pada anak dan istrinya.
Hari ini Ardan terlihat terburu-buru, setelah membaca chat Clarisa. Dia lupa kalau hari ini dia ada janji dengan gadisnya.
"Kamu mau kemana terburu-buru begini ? inikan hari minggu." Tanya mamanya.
Ardan hanya tersenyum menanggapi pertanyaan mamanya, "mama kepooo !!! hahaha." Ledek Ardan sambil menyambar roti di tangan mamanya, dan segera berlalu meninggalkan mamanya dalam keterbengongan.
Dilain tempat, Pak Adam bersama anak dan istrinya, sedang dalam perjalanan dalam mencari peti berharga milik Handoko.
"Eh pii...stop ! stop !" teriak Nadia sambil menepuk bahu papinya.
Pak Adam seketika rem mendadak.
"Ada apa sih ? bikin papi kaget aja !"
"Ini papi liat ! di peta kalau kita harus belok ke jalan kecil itu !" Tunjuk Nadia pada sebuah jalan setapak yang ada di pinggir jalan.
"Mobil bisa masuk gak pi ?" tanya bi Herni pada suaminya.
"Sepertinya bisa." pak Adam segera berbelok dan masuk ke dalam jalan kecil.
"Kita parkir di sini saja. Soalnya jalan ke sana hanya bisa dengan jalan kaki saja." terang pak Adam pada anak dan istrinya.
Akhirnya mereka bertigapun turun dari mobil, dan membawa tas perlengkapan mereka untuk menggali tanah.
__ADS_1
Perjalanan itu dipimpin oleh pak Adam, yang berada di barisan depan, kemudian bibi Herni dan barisan belakang Nadia.
Di taman kota, Clarisa nampak berlari-lari kecil mengelilingi taman. Tidak berapa lama Ardan datang menghampiri.
"Clar ! maaf ya aku telat !"
Clarisa sedikit kaget melihat kedatangan Ardan, akan tetapi dia berlari kembali tanpa bertanya kenapa pada Ardan.
Ardan merasa Clarisa lagi ngambek, dia segera menyusulnya. Dia mengejar dan mensejajari lari Clarisa.
"Iyaa...aku tau aku salah. Maaf ya !"
Clarisa tetap berlari, tanpa menoleh ke Ardan.
"Clar ! kita nikah yuk !"
Tiba-tiba Clarisa jatuh terjungkal ke depan.
Hampir 3 jam lamanya, keluarga perusuh itu berjalan mencari tanda merah yang ada di peta.
"Kayaknya kita gak lama lagi deh mi, pi !" ucap Nadia senang.
Rasa lelah seketika sirna di wajah mereka, ketika peti berharga itu sudah semakin dekat.
"Nah dari sini, 15 langkah mi, pi !" ujar Nadia memberi arahan.
Merekapun menghitung langkah mereka sebanyak 15 langkah.
"Ini sudah 15 langkah, trus apalagi petunjuknya Nad ?" tanya bi Herni pada putrinya.
"berputar 15x sambil menutup mata!"
Ketiganya langsung berputar dengan menutup mata.
"Aduuhhh mami pusing " Bi Herni jatuh terduduk di atas tanah sambil memegang kepalanya. Tak lama kemudian Nadiapun jatuh menindih maminya.
"Aduuhhh Naad, saakiit tau !!!"
"Maaf miii Nadia gak sengaja, habis pusing banget."
Ibu dan anak itu tiba-tiba melihat papi mereka sudah mulai oleng.
"Papiiii awaass !!"
Buuugghh !!
Nadia terlambat, papinya jatuh menindih mereka, posisi Nadia berada paling bawah.
"Aduuuhhhh !"
Mereka kemudian berusaha untuk bangun dengan kepala yang masih berputar-putar.
"Nadia trus apalgi petunjuknya ?" tanya maminya.
Nadia kembali melihat peta, "melangkah ke arah utara dengan berjalan mundur sebanyak 15 langkah."
Ayah, ibu dan Anak itu melakukan petunjuk peta dengan patuh. Mereka berjalan mundur sebanyak 15 langkah.
"Liat pi, mi ! menurut petunjuk peta tanda merah ada di belakang kita !"
Wajah ketiganya nampak begitu ceria, terbayang oleh pak Adam usahanya akan maju kembali, Bu Herni dan Nadia memakai emas.
Merekapun berbalik dan BOOOMM !!!
"APAAAA KUBUUURAAN ?!"
Seketika mereka semua luruh jatuh ke tanah.
__ADS_1