
Setelah orang suruhannya pergi, pak Hermawan mengambil dan membuka tas yang baru beberapa jam dia berikan pada keluarga Adam.
"Hahahahaha, tidak semudah itu kalian mendapatkan ini semua."
Tok...
Tok...
Tok...
Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Masuk !" teriak pak Hermawan.
Yudi anak buah pak Hermawan, masuk dengan membawa kabar.
"Pak ! Clarisa sudah sadar dari pingsannya."
"Biarkan dia disitu dulu, jangan ada yang masuk ke dalam."
"Baik pak !"
...***...
Panggung ajang school idol terus menggema, sorakan para penonton terus terdengar.
Nama Clarisa terdengar di panggil oleh ke dua host, untuk melakukan penampilan ke dua. Akan tetapi, hanya terdengar suara musik tanpa adanya suara merdu sang biduan.
"Mana Clarisanya ?" Tanya mas Sudikah.
Semua orang nampak bertanya-tanya, kemana sosok idola mereka. Pak Damar dan bu Rani saling pandang.
"Clarisa kenapa gak keluar ya ?" tanya bu Rani.
Ardan segera ke belakang panggung, mencari sosok istrinya.
"Pak, Clarisanya mana ?" tanya Ardan pada salah satu panitia yang dia temui.
"Gak tau mas, ini kita semua lagi bingung nyarinya. Katanya tadi dia kebelakang mau ambil paket. Ada kurir antar paket."
"Kurir ? antar paket ?"
"Iya mas, permisi ya mas saya mau ke belakang nyari dia dulu."
Ardan melihat gelang yang tersambung dengan cincin Clar. Nampak dilayar terlihat sebuah lokasi di tandai dengan titik merah.
"Clarisa berada jauh dari tempat ini ? Ya Tuhan ! jangan-jangan ? Clar aku datang !"
Ardan segera berlari menuju tempat parkir.
"Ardan !" panggil seseorang membuat Ardan berhenti berlari.
"Pak Damar ?"
"Ardan, kau tau keberadaan Clar ?"
"Iya pak, dia berada di lokasi ini !" jawab Ardan dengan menunjukkan peta lokasi yang ada di gelangnya.
"Kau segera ke sana, aku akan menyuruh anggota segera merapat ke titik lokasi !"
"Siap Pak !"
"Ardan ! hati-hati ya !"
"Siap pak ! Eh tapi pak, mama aku gimana ?"
"Biar dia ku antar pulang."
"Terima kasih pak ! aku pergi dulu !" pamit Ardan pada Pak Damar yang kemudian dijawab dengan anggukan kepala.
Pak Damar kemudian kembali ke dalam gedung.
__ADS_1
"Mas Damar ! Ardan tau Clarisa dimana ? Terus...terus Clarisanya mana ? Dia baik-baik saja kan ? Apa dia ada di belakang panggung ?" Pertanyaan beruntun dilemparkan bu Rani pada kekasihnya.
"Mas Damar kenapa diam saja ? Clarisa dimana ?" Tanya bu Rani sekali lagi.
"Aku bingung mau jawab pertanyaan kamu yang mana ? makanya aku diam."
Bu Rani memutar bola matanya malas, "terserah jawab yang mana dulu."
"Clarisa hilang, tapi Ardan sudah tahu dia dimana."
"Darimana Ardan tau ?"
"Cincin yang di pakai Clarisa terhubung dengan gelang di tangan Ardan. Jadi dimanapun Clarisa berada, Ardan tahu di mana letak lokasinya."
"Berarti Clarisa di culik ? Kenapa bisa ? bukannya penjagaannya sudah diperketat ? kenapa bisa kecolongan seperti ini ? memangnya anak buah mas ngapain aja sih ?"
Bu Rani terlihat sangat kecewa. Dia sangat mencemaskan Clarisa. Sejak Ardan membawa Clarisa ke rumahnya, bagi bu Rani dia seperti mempunyai dua anak. Dia merasa Clarisa seperti adiknya Ardan. Itulah mengapa rasa sayangnya ke Clarisa sama dengan rasa sayangnya ke Ardan.
"Sekarang kamu , saya antar pulang ya !" Ajak pak Damar.
"Setelah itu mas mau kemana ?"
"Aku akan menyusul Ardan ke lokasi Clarisa."
"Kalau begitu aku ikut."
"Gak bisa Ran, kamu pulang ya. Ardan bisa marah sama saya nantinya."
"Gak mau ! Saya harus pastikan kalau putri saya Clarisa baik-baik saja."
"Ya sudah ! ayo cepat kita pergi !"
...***...
Clarisa mengerjap-ngerjapkan matanya, dia merasakan kaki dan tangannya tidak bisa digerakkan.
"Aku dimana ?" Clarisa mencoba menggerakkan tangan dan kakinya, agar bisa melepaskan ikatan yang melilit di kaki dan tangannya.
Clarisa mulai menangis ketakutan, " Ya Tuhan jangan sampai cerita ini berakhir dengan kesedihan. Aku takut, aku tidak mau mati di sini !" teriak Clarisa.
Dia ingat kalau Ardan pernah memberikan dia cincin yang terhubung dengan gelang yang dipakai Ardan.
"Semoga saja dia menemukanku" ucap Clarisa lirih.
...***...
Reno yang sudah mendengar kalau Clarisa berhasil di culik, segera menemui papanya.
"Pa, sebaiknya secepatnya kita singkirkan Clarisa."
"Iya, papa tau tapi kita harus buat seolah-olah kalau Clarisa ingin mengakhiri hidupnya."
"Bagaimana caranya agak orang tidak curiga kalau Clarisa kita singkirkan.".
"Ayo ikut aku !"
Reno mengikuti papanya. Mereka berjalan ke arah gudang temoat Clarisa di sembjnyikan.
BRAAAKKK !!!
Pintu gudang terbuka, Clarisa terkejut mendengar suara pintu yang di buka kasar oleh pak Hermawan.
"Hallo Clarisa !"
Pak Hermawan dan Reno menyeringai tajam.
Clarisa nampak ketakutan, ketika melihat Reno. Tiba-tiba muncul sebuah bayang-bayang kejadian, dimana dia melihat Reno di kelas berkelahi dan membunuh lawannya.
Seketika Clarisa terlonjak sadar.
Jadi dia pembunuh itu, artinya aku saksinya dan sebentar lagi dia akan menyingkirkanku.
__ADS_1
Ya Tuhan ! tolong aku ! bagaimana ini ? cerita ini tidak boleh tamat dengan kematian Clarisa. Apa yang harus aku lakukan sekarang ?
"Kau kenal aku Clarisa ?" tanya Reno.
"Ti..tidak aku tidak mengenalmu. Kalian salah orang !"
"Hahahahahah !!" Pak Hermawan dan Reno tertawa lucu melihat tingkah bodoh Clarisa.
"Kesaksianmu sungguh mengancam hidupku Clar. Jadi aku ingin kau pergi menghadap Tuhanmu dengan membawa kesaksianmu itu !" ucap Reno.
"Yudii !" panggil pak Hermawan.
Yudi masuk dan membawa sesuatu yang sudah dia siapkan.
"Hahahaha, kau lihat ini Clarisa ? Ini adalah racun. Racun ini akan membuatmu menikmati detik-detik kematianmu. Kau tidak akan mati seketika, tetapi perlahan-lahan. Hahahahaha" terang pak Hermawan.
Clarisa menggeleng, keringat bercucuran dengan mata terpejam.
Ardan kau dimana ? hiks..hiks..hiks..
"Buka ikatannya !" perintah pak Hermawan. Yudi bergegas membuka ikatan di tangan dan kaki Clarisa.
Reno dan Yudi memegang tangan Clarisa.
Clarisa berontak, memohon untuk di lepaskan. Dia menangis, merasa kematian sudah di depan matanya.
"Sekarang kau berdoa sebelum meminum racun ini." Pak Hermawan memberi kode pada Yudi.
Yudi menarik rambut belakang Clarisa membuat wajah Clarisa terangkat.
Pak Hermawan mencengkram rahang Clarisa, agar mulutnya terbuka, namun Clarisa berusaha sekuat tenaga mengatup mulutnya agar tidak terbuka.
Reno memutar pergelangan tangan Clar, agar terasa sakit.
Spontan Clar menjerit, seketika itu juga pak Hermawan memasukkan racun ke dalam mulut Clarisa dan langsung masuk ke dalam tenggerokkan istri Ardan.
Yudi dan Reno melepaskan cengkaraman mereka dari tangan Clar.
Ketiga laki-laki itu tertawa puas melihat Clar, memegang lehernya dan ingin memuntahkan racun itu.
Tiba-tiba anak buah pak Hermawan masuk terbirit-birit menemui bosnya.
"Pak tempat ini sudah di kepung oleh polisi."
"Siaalll ! Bagaimana polisi bisa tau ?" Hardik pak Hermawan.
Mereka kemudian berlari keluar untuk menyelamatkan diri. Sementara Clarisa berusaha untuk keluar dari gudang ini dengan nafas yang terasa sesak.
Ardan masuk ke dalam rumah dimana Clarisa di sekap. Dia kemudian menghajar anak buah pak Hermawan satu per satu.
"Claaaarrrr !!"
Ardan berteriak mencari Clarisa, dibukanya setiap pintu yang ada di ruangan ini.
Dia menghajar anak buah pak Hermawan, kemudian menyuruh salah satu dari mereka untuk menunjukkan tempat Clarisa di sekap.
Orang itu menunjukkan sebuah gudang yang ada di bekalang rumah.
Ardan kemudian memberikan bogem mentah pada orang tersebut.
Ardan berlari secepat kilat ke arah gudang itu, dia menendang pintu gudang tetapi tidak ada Clarisa didalamnya.
"Cllaaaaarrr !!" teriak Ardan frustasi.
...****...
Bagaimana nasib Clar setelah minum racun. Dia bisa selamat apa nggak ya?
Jangan lupa hadiahnya ya !
Like, comment dan vote...makasih 🥰🥰🥰
__ADS_1