Si Gendut Itu Aku !

Si Gendut Itu Aku !
Kematian Clarisa


__ADS_3

Bu Rani yang berada dalam pelukan pak Damar, segera melepaskan pelukannya dan berlari ke dalam ruang ICU.


Dia memeluk tubuh kaku menantu tersayangnya.


"Sayaaang ! jangan tinggalin mama nak !" Bu Rani meraung, sambil terus memeluk tubuh Clarisa.


"Tubuh Clar masih hangat, cepat panggil dokter Ardan ! Clarisa gak mungkin meninggal " teriak bu Rani dengan suara sesegukkan.


Ardan mendekati mamanya, dia memeluk mamanya dan terus menenangkannya.


"Sudah ma ! Clar udah gak sakit lagi " suara Ardan terdengar parau menenangkan mamanya dalam pelukan.


Dia memandang wajah kekasih kecilnya yang begitu pulas dalam tidur panjangnya.


Claarr, bagaimana sekarang aku bisa hidup ? bagaimana aku bisa menjalani hari-hariku tanpamu, tanpa senyummu, tanpa godaanmu ? Gumam Ardan dalam hati yang terus memandangi wajah Clar, namun air mata tidak bisa berhenti untuk tidak jatuh.


Sementara di luar ruangan, nampak Vanya memeluk papanya.


Semua teman-teman Clarisa dari school idol datang. Mendengar kabar yang menimpa Clarisa, para juri dan Meylani sahabat Clar semasa karantina. Terlihat menangis dalam diam, ketika pak Damar memberitahu kalau Clarisa tidak terselamatkan.


Meylani hampir luruh ke lantai, namun bunda Farah dengan cekatan menopang tubuh Meylani dan membawanya untuk duduk di kursi. Dalam pelukan bunda Farah Meylani menangis.


"Clarisa adalah teman terbaikku bunda, hiks..hiks..hiks.."


"Sudah, kita doakan Clarisa ya. Sekarang dia sudah jadi bidadari di syurga " ucap bunda Farah di sela isak tangisnya.


Mas Sudikah tertunduk lemas, teringat semua kenangan saat pertama kali Clarisa mengikuti audisi, ketika dia harus berdebat dengan Clar saat akan duet bareng. Semua kenangan itu menari-nari dalam ingatan mas Sudikah.


Mas Indra memegang pundak mas Sudikah, ketika melihat rekan sesama jurinya ini merasa sangat kehilangan.


DUNIA AIRIN


"Hallooo tante Rossa yang cuantiikkk " sapa Bella sahabat Airin.


"Bikin kaget saja kau !" Lirik bu Rossa yang masih terus menyiram bunga-bunga kesayangannya.


Bella terkekeh melihat mama sahabatnya di depannya.


"Airin ada tan ?"


"Ada di kamarnya, masuk saja !"


"Tante tau gak ? tadi itu aku gak tau lho kalau tante lagi nyiram tanaman tadi. Tante gak nanya kenapa ?"


"Kenapa ?"


"Karena kukira tante juga bagian dari bunga-bunga yang indah ini " puji Bella.


Nampak bu Rossa tersenyum, "kamu ini bisa aja Bella, memangnya tante kayak bunga apa ?"


"Bunga layuuuuu hahahahha !"


Bu Rossa meradang, dia segera mengarahkan selang air ke arah Bella. Akan tetapi Bella segera menghindar dan berlari masuk ke dalam kamar Airin.

__ADS_1


Bella kemudian masuk ke kamar Airin, dia melihat Airin begitu nyenyak tertidur.


"Ampuuunnn nih perawan ! sudah sore masih tidur juga ckckck !"


Bella melihat hp Airin yang tergeletak di atas meja belajarnya. Dia mengambilnya dan melihat-lihat dalam layar pipih milik Airin.


"Lhoo inikan kerangka cerita yang aku buat waktu itu, dan ini belum selesai. Aku belum menulis endingnya. Sebaiknya aku tulis hehehe."


Bella kemudian memainkan ke dua jempolnya untuk menulis bagian akhir episode cerita versi dia sediri.


Gadis berambut pendek ala paskibraka itu, tersenyum puas. Kala dia berhasil menulis ending dari ceritanya.


"Hmmmm...akhir cerita yang membuatku terharu, dan so sweeetttt !"


Bella memegang bibirnya, membayangkan si tokoh utama pria mencium bibirnya.


"Nih anak tidur apa mati sih ?"


Diguncang-guncangnya tubuh Airin, " Rin, bangun ! ada Farel tuh di depan."


Namun, Airin tidak bergeming. Dia masih tetap terlelap dalam tidurnya.


Bella kemudian mengambil hpnya dan berselancar di dunia maya, sambil rebahan di samping Airin.


DUNIA CLARISA


Ardan dan bu Rani keluar dari ruang ICU, Ardan masih terus memeluk mamanya. Bu Rani masih terisak dipelukan Ardan.


Pak Damar mendekati mereka dan mengambil bu Rani dan membawa dalam rangkulannya.


"Ardan ! aku turut berbelasungkawa. Semoga Clarisa menjadi bidadari di surga " ucap Vanya sambil mengelus pundak Ardan mencoba memberi kekuatan padanya.


Ardan mengucapkan terimakasih pada Vanya dan mencoba tersenyum, "maafin kesalahan Clar ya Vanya !"


Vanya tersenyum dan menggeleng, " gak ! Clar gak salah, dia anak yang baik karena sudah ikhlas mendonorkan darahnya untukku, sejak saat itu aku sadar Clar memang pantas mendapatkan cintamu."


Para Juri mendekati Ardan dan mengucapkan bela sungkawa.


"Maafin Clarisa ya mas Sudikah, dia sering membuat mas kesel " lirih Ardan.


Mas Sudikah hanya bisa menggeleng tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia kemudian memeluk Ardan mencoba memberi kekuatan pada pemuda yang selalu ada untuk Clarisa.


...***...


Di kantor polisi, berita kematian Clarisapun sudah tersebar.


"Percuma ya mi ! Clarisa mati tapi kita dipenjara. Kita gak bisa nikmatin hartanya."


"Iya benar ! coba saja kita langsung pulang, gak usah sembunyi di balik pohon. Begini berita kematian Clarisa merupakan kabar bahagia."


"Ini semua gara-gara papi ! papi yang sudah nyuruh kita sembunyi waktu itu, harusnyakan kita pulang " gerutu Nadia.


Mereka berdua menghela nafas berat, meratapi diri yang saat ini ada di penjara.

__ADS_1


"Miii, ini gimana ? masa Nadia menghabiskan masa muda Nadia di penjara ? Nadia gak mau miii !" isak Nadia.


"Sudahlah ! mami juga bingung. Gak ada yang bisa bantu kita keluar dari sini."


Pak Adam yang berada satu sel dengan pak Hermawan, bertanya pada papa dari Reno ini.


"Pak Hermawan? kenapa anda bermain curang ? Anda sudah memberikan tas itu pada kami, trus anda mengambilnya kembali dengan cara paksa !"


Pak Hermawan tertawa keras " hahahahahahahahahaha !"


Pak Adam heran dengan tingkah pak Hermawan. Begitupun dengan anak buahnya yang juga satu sel dengannya.


"Kasian ya bos sampe gila kayak begitu " ucap salah satu anak buahnya yang berkepala plontos. Kemudian di anggukkan oleh teman-temannya yang lain.


Seketika sandal pak Hermawan melayang sempurna tepat di wajah si kepala plontos.


"Ngomong apa kamu ?" geram pak Hermawan.


Para anak buahnya menunduk ketakutan.


"Ma..maaf bos" ucap si kepala plontos.


Pak Hermawan mengalihkan pandangannya pada pak Adam.


"Saya melakukan itu, agar kalian datang kembali kepada saya untuk meminta bantuan. Bantuan itu akan saya berikan dengan syarat Nadia menjadi milik saya, hahahahahaha ."


Raut wajah pak Adam terkejut mendengar pengakuan pak Hermawan. Begitupun dengan Reno anaknya.


...***...


Semua orang yang menyayangi Clarisa berkumpul di depan ruang ICU, dokter datang memberitahukan pada Ardan untuk menyelesaikan administrasi. Agar jenazah Clarisa bisa segera di bawa pulang untuk di semayamkan.


"Oh iya, pak Ardan ini ada cincin yang dipakai pasien. Perawat melepasnya tadi " ucap dokter kemudian memberikan 2 cincin yang selalu di pakai oleh Clarisa.


Dengan tangan bergetar Ardan mengambilnya, bulir bening jatuh membasahi cincin dalam tangannya.


Ardan tersandar di dinding, kedua kakinya terasa lemas tak bertenaga.


Semua orang melihatnya terenyuh dan menitikkan air mata. Dengan mata yang berembun dan suara bergetar, Vanya memeluk dan memberi kekuatan pada Ardan.


"Sabar Ardan, doakan Clarisa. Dia gadis yang baik. Pasti sekarang sudah bahagia di sana."


Tiba-tiba suster keluar dari ruang ICU.


"Dok, Jantung Clarisa berdetak kembali !"


...***...


Hai...haiiii....pembaca setiakuuu....


Mohon maaf baru bisa UP lagi...soalnya kemaren lagi pesiar kerumah Ardan dan Clarisa...


Jangan lupa hadiah nya ya...!!

__ADS_1


love you all 🥰🥰🥰


__ADS_2