
Ketika Ardan sedang memikirkan bagaimana cara memberi pelajaran pada paman dan bibi Clarisa. Melintas sebuah ide dipikirannya.
Ardan segera mengambil hpnya dan menelfon ke rumah Clarisa.
"Hallo !" Sapa suara wanita di ujung telfon.
"Hallo bu, dengan ibu Herni ?" tanya Ardan.
"Iya, saya sendiri. Ini siapa ya ?"
"Saya dari kepolisian batu lima, mau menyampaikan kalau keponakan ibu Nona Clarisa, ada di rumah sakit."
Bibi Herni tersenyum mendengarnya. Sebab rencananya berhasil membuat Clarisa tidak bisa mengikuti audisi hari ini.
"Nona Clarisa keracunan makanan akibat memakan roti gandum yang sudah kadaluarsa." Lanjut Ardan dengan suara yang dia buat-buat seperti bapak polisi.
"Oh ya Tuhan ! Kenapa bisa dia memakan roti yang sudah kadaluarsa pak ? Ponakan saya suka sekali jajan sembarangan pak." Ucap bi Herni berbohong.
Ardan semakin marah mendengar kebohongan bi Herni.
" Menurut pengakuan Nona Clarisa roti gandum itu pemberian anda tadi pagi. Nona Clarisa sudah menceritakan semuanya kepada kami."
Bibi Herni terkejut dengan mulut menganga.
"Eh..itu..itu anu pak,"
"Sekarang juga anda ke rumah sakit, jika tidak ? Anak buah saya akan datang menjemput anda dengan tangan terborgol." Ancam Ardan.
"Eh..i..iya pak ! saya kesana sekarang !"
Ardan menutup telfonnya dan tersenyum puas.
Bibi Herlina ketakutan, dia segera menelfon suaminya, agar segera pulang dan menemaninya ke rumah sakit.
"Kau jangan takut ! Kalau kau takut semua akan ketahuan," ucap pak Adam menenangkan istrinya di ujung telfon.
"Sekarang kau kesana, dan katakan bahwa kau tidak tahu kalau roti itu sudah berjamur. Katakan juga kalau bukan hanya Clarisa yang keracunan. Tapi aku juga !" ucap pak Adam menjelaskan pada istrinya untuk berbohong.
"Jika mereka mau melihatku, cepat telfon aku. Aku akan pulang !" Lanjut pak Adam menjelaskan kembali pada istrinya.
Bibi Herlina nampak tersenyum senang dengan ide brilian dari suaminya.
Dia segera mengganti baju dan bergegas ke rumah sakit.
Sementara di sekolah, 3 juri sedang serius menyaksikan penampilan semua peserta, untuk bisa maju ke top 30.
Ketika istirahat, juri wanita seperti mencari-cari nama Clarisa di daftar 50 peserta.
""Aneh ? kenapa anak itu belum juga menyodorkan pilihan lagunya yang akan kita pilih ?" tanya si juri wanita.
"Kau tidak akan mendapatkan namanya disitu. Sebab anak itu sekarang di rumah sakit." Jelas mas Sudikah
Ke dua juri yang berkacamata bernama mas Indra dan Si wanita biasa dipanggil bunda Fara itu saling pandang.
"Darimana Mas Sudikah tau ? " Tanya Bunda Fara.
__ADS_1
"Tadi saya bertemu dengannya di parkiran sekolah. Dia mau di antar temannya ke rumah sakit. Kasian mukanya pucat, katanya perutnya sakit." Jelas mas Sudikah.
"Kalau begitu dia diskualifikasi !" Ucap mas Indra.
"Lho gak bisa begitu dong ! kita bisa kasih kesempatan dia sekali lagi. Inikan musibah, bukan mau dia." Bela bunda Fara.
"Tapikan sudah jelas, bagi peserta terpilih yang tidak datang saat audisi, dianggap GUGUR !" Sarkas mas Indra.
"Iya memang ! Tapi itu untuk peserta tanpa alasan yang jelas. Kalau peserta tidak datang disertai dengan alasan. Kita harus mempertimbangkan. Seperti memberikan dia dispensasi waktu." Terang bunda Fara.
"Hehehe Bunda Fara, para peserta tidak hanya diajarkan cara bernyanyi dengan baik. Tapi juga diajar untuk konsisten. Kalau dari awal dia tidak konsisten, dia tidak akan bisa menjadi penyanyi hebat." Ungkap mas Indra.
" Iya penyanyi hebat seperti Mas Indra, yang selalu konsisten dalam bekerja, dan seperti saya tentunya hehehe," sambung mas Sudikah dengan tertawa sombong.
Bunda Fara memutar bola matanya malas melihat 2 orang di depannya.
"Tapi, bukan berarti dengan menjadi penyanyi hebat, kita mengesampingkan hati nurani kita, melihat peserta yang mempunyai bakat harus di diskualifikasi. Padahal dia di sana sedang berjuang melawan sakitnya." Ujar mas Sudikah kembali.
"Haruskan kita pupuskan cita-citanya, harapannya ? Demi sebuah KONSISTEN!" Tegas mas Sudikah.
Bunda Fara terpanah mendengar apa yang di katakan oleh lawan bicaranya di depan.
Sedang mas Indra tertunduk malu, merasa apa yang dikatakan oleh teman sesama jurinya itu betul.
"Jadi bagaimana? Untuk Clarisa apa harus didiskualifikasi ? atau dikasih kesempatan ?" tanya mas Sudikah dengan menatap ke dua temannya secara bergantian.
"Kasih kesempatan !" Tegas bunda Fara.
"Sayapun demikian, kasih kesempatan !" kata Mas sudikah mantap.
Mas Sudikah melihat ke arah mas Indra yang masih diam.
"Sakarepe kalian berdua, awak dewe melo ae." Ucap mas Indra pasrah lemas menutupi mukanya dengan kertas.
Mas Sudikah dan bunda Farah tertawa kemudian saling tos.
Di rumah sakit Ardan masih setia menunggu Clarisa terbangun. Dokter menyuntikkan obat tidur agar Clarisa bisa beristirahat. Setelah sadar nanti, sisa menunggu infus habis, Clar sudah boleh pulang.
Tiba-tiba Clar sadar, Ardan tersenyum senang melihat Clar sudah membuka matanya.
Ardan memberi tahu apa yang dikatakan dokter tentang apa yang terjadi pada Clarisa.
"Aku rasa mereka melakukan itu agar kamu gak ikut audisi itu Clar," ucap Ardan.
"Sekarang apa yang kita lakukan ? aku sudah gagal ikut audisi," ucap Clarisa sedih.
"Setelah infusmu habis kita akan kembali ke sekolah. Kita temui para jurinya. Tentu saja yang menjelaskan di depan juri nanti bukan kita. Tapi tante Herni !" Ucap Ardan, dengan senyum penuh arti.
"Bibi Herni ? bagaimana caranya ? "tanya Clarisa bingung.
"Sekarang kamu ikuti arahanku saja, selanjutnya aku yang urus."
Clarisa hanya mengangguk pasrah.
Bibi Herni berjalan di koridor rumah sakit mencari kamar yang di tunjukkan oleh suster di depan.
__ADS_1
Setelah menemukan kamarnya, sebelum masuk ke dalam bibi Herni mengatur nafasnya.
Kreeett..!!
Ardan yang sedang melihat-lihat hpnya, mendongak dan melihat wanita paruh baya dengn dandanan ala ibu-ibu hebring berdiri di ambang pintu.
"Mana polisinya ? " tanya bi Herni sambil melihat sekelilingnya.
"Sudah pulang !" ujar Ardan berbohong.
Bibi Herni bernafas lega. Dia kemudian mendekat ke arah Clarisa yang sedang tertidur.
"Dia sepertinya baik-baik saja, jadi sebaiknya saya pulang," ucap bi Herni.
"Tunggu !" cegah Ardan.
"Dia sedang tidak baik-baik saja tante. Kalau saja tadi aku lambat membawa mungkin Clar akan mengalami koma, " ungkap Ardan.
"Tapi kau tidak lambat membawanya kan ? Yah sudah ! itu artinya dia masih selamat." Ujar bi Herni sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Tapi, bukan berarti tante bisa pulang begitu saja. Tante ikut saya kekantor polisi, dan pertanggungjawabkan semua di depan polisi," tegas Ardan.
Bi Herni nampak kaget, namun dia segera menguasai dirinya agar tidak terlihat takut. Dia masih ingat apa yang harus dia katakan seperti yang sudah diajarkan oleh suaminya.
" Asal kau tau ya anak muda, ini semua tidak saya sengaja. Kamu pikir yang keracunan itu cuma Clarisa ? Suamiku juga keracunan, dia juga memakan roti yang sama dengan Clar. Kalau saya sengaja, untuk apa saya memberikan roti yang sama kepada suami saya ?" Kata bi Herni dengan penuh percaya diri.
"Oh ya ? Kalau begitu tante tetap juga harus di laporkan ke polisi !" Ujar Ardan yang juga melipat kedua tangannya ke dada. Seakan menantang wanita yang ada di depannya.
"Atas dasar apa ? Sayakan sudah bilang saya tidak sengaja. Kamu mau menakut-nakuti saya ?hah?" Suara bi Herni mulai terdengar gugup.
Ardan tertawa dalam hati, melihat sikap yang di tunjukkan oleh bi Herni.
"Atas dasar lalai sudah menjaga keselamatan keluarga !" ucap Ardan.
"Eh..eh..mana bisa seperti itu ? " tanya bi Herni dengan suara gemetarnya.
"Bisalah ! Jika Clar tidak terima dia bisa melaporkan tante. Sebab selama ini yang memberikan dia makan adalah tante." Terang Ardan dengan senyum sinis.
Kata-kata Ardan mampu membuat bi Herni mati kutu.
"Tapi itu kalau Clar melaporkan tante. Kalau tidak ? yah bisa diselesaikan secara kekeluargaan," ujar Ardan.
"Jadi itu semua tergantung Clar. Kalau dia bisa memaafkan tante yah, tante aman. Tapi kalau tidak ? Clar akan tetap melaporkan tante, daannn.."
Ardan sengaja menggantung ucapannya. Dia ingin melihat rasa penasaran dari muka bi Herni.
"Dan apa ?" tanya bi Herni ketakutan.
"Dan tante siap dipenjara selama 10 tahun !" terang Ardan.
Ingin rasanya Ardan tertawa melihat wajah takut tante Herni. Tapi dia menahannya, jangan sampai rencananya gagal.
Rasanya Clarisa ingin tertawa mendengar sandiwara Ardan di depan tante Herni.
"Tante sudah lalai dan hampir menghilangkan nyawa seseorang. Hukuman itu tidak main-main tante!" ucap Ardan lagi semakin menakuti bibi Herni.
__ADS_1
Bibi Herni gemetar, dia membayangkan penjara sudah menantinya.
"Tidaaaakkkkk!!!" teriak bibi Herni