Si Gendut Itu Aku !

Si Gendut Itu Aku !
Pulang ke Dunia Airin


__ADS_3

Dia menyalakan kembali, lalu tertawa "maaf gak sengaja hehehe."


 


Ardan mendekati Clarisa memberikan buket bunga lili kesukaan istrinya.


 


"Selamat ya sayang, kau hebat!" Ardan kemudian mencium pipi Clar. Saat dia mau mencium bibir Clar semua orang berdehem.


 


"Eheemmm!!!"


 


"Hehehe maaf hampir khilaf. Kukira tadi cuma berdua."


 


Malam ini merupakan malam yang membahagiakan  buat Clarisa.


Semua orang bercanda dengan satu sama lain.


Tiba-tiba Ardan menarik tangan Clarisa mereka masuk ke kamar.


"Mas! ayo keluar aku nggak enak sama yang lain."


"Nggak apa-apa, mereka lagi asik bercanda."


"Memangnya mas mau apa?"


"Aku mau marah sama kamu. Apa maksudnya tadi nyanyi kayak begitu?"


"Hehehe ... cuma bercanda." Ucap Clarisa kemudian memeluk Ardan dan bersandar di dada Ardan.


"Tapi kamu gak benar -benar cari penggantiku kan mas?"


"Mmmm ... boleh juga cari cewe lain."


Clarisa mencubit perut Ardan dengan wajah cemberut.


"Hahaha, aku setia sama kamu Clar! aku hanya cinta sama kamu, istri kecilku, istri cubby kuu!" ucap Ardan sambil mencubit pipi tembem Clarisa.


Clarisa tersipu malu, lalu Ardan mengangkat wajah Clar dan mencium bibirnya. Clarisa melingkarkan tangannya di leher Ardan, membalas ciuman hangat dari suaminya.


Malam ini mereka berdua menikmati ciuman romantis itu cukup lama.


Puas dengan suasana romantis itu, Ardan mengajak Clar kembali bergabung dengan yang lain.


 


"Mas Ardan duluan ya, aku mau ke kamar mandi dulu."


Ardan kemudian keluar, Clarisa lalu mengambil buku catatannya, dia ingin menulis akhir cerita yang begitu indah.


Sampai akhirnya ...


 


"Airin!"


 


Gadis berusia 18 tahun itu menoleh, dia melihat laki-laki yang menjadi idola di sekolahnya berdiri di hadapannya.


 


"Ayo pulang!" ajaknya sambil mengulurkan tangannya pada Airin.


 


"Tapi ..." Airin melihat Ardan, bu Rani, pak Damar, Vanya, Rangga, Bunda Fara, mas Sudikah, mas Indra dan Meylani tertawa bercanda bahagia di luar sana.


 


Farel menghampiri Airin yang berdiri memandangi kebersamaan orang-orang di luar sana. Dia memegang tangan Airin.


 


"Ayo pulang! Kisah cinta di dunia nyata itu lebih indah dari pada di dunia ini Airin."


 


Airin menangis, dia ingin tinggal di sini tapi itu tidak mungkin.


 


Tiba-tiba sinar yang menyilaukan datang dari sebuah cermin besar di kamar Ardan.


 


Airin terhisap masuk ke dalamnya. Dia berteriak merasakan pusing yang amat sangat karena cahaya itu membuat dia berputar. Sampai akhirnya ...


 


Buugh !


 


"Aaaaaaakkkh !!!"


 


Bella yang sedang berbaring santai di sampingnya terkejut dengan teriakan Airin.


 


"Aiiirrinn !! bangunn!" Bella menepuk-nepuk pipi sahabatnya.


 


Airin membuka matanya tiba-tiba.


 


"Lo kenapa? kayak orang kebingungan begitu? iler lo tuh sudah membentuk pulau jawa hahahah."


 


"Iiih, apaan sih!"


 


Airin bergegas mengambil buku catatannya, dia membuka buku itu, tidak ditemukannya hasil tulisan selama di dunia Clarisa.

__ADS_1


 


Kemudian dia melihat Hpnya, ternyata semua tulisan itu tersimpan di dalam hpnya.


 


"Lo habis mimpi apa sih?"


 


Bella semakin bingung melihat tingkah Airin.


 


"Bell, lo nulis cerita ini ?" Tanyanya sambil menunjukkan hasil tulisan Bella di hp.


 


"Iya, gue lupa kemaren waktu di sekolah kan gue belum selesai tulisannya keburu hubby lo datang."


 


"Hubby?"


 


"Iya siapa lagi kalau bukan pak Ribut."


 


"Sialan lo!" Gerutu Airin sambil melemparkan buku ke arah Bella.


 


Bella menghindar ala jagoan-jagoan yang menghindari sebuah tendangan.


 


"Eiittss! gak kenaa hahaha!"


 


Beberapa hari kemudian..


 


Semenjak kembali dari dunia Clarisa, hati Airin terasa hampa. Dia merasa ada yang hilang. Dia merindukan sosok Ardan si penjaga hati.


 


Bella sahabatnya sangat bingung dengan perubahannya. Terlebih lagi Farel, Airin yang selalu menonton dia saat bermain basket. Kini lebih memilih duduk di taman sekolah.


 


Stela sang rival di sekolah dalam merebut hati Farel sangat senang melihat sikap Airin yang lebih cuek dengan kehidupan Farel. Sehingga dia punya banyak kesempatan untuk mendekati Farel tanpa bayang-bayang Airin.


 


Siang itu saat kaum hawa lagi bersorak melihat si tampan Farel bermain basket, Airin memilih duduk di kantin, sambil menopang dagu.


 


Bella prihatin melihat sahabatnya, "Airin, akhir-akhir ini lo aneh."


 


 


"Iihh, bukan itu. Sikap lo aneh, kayak sekarang ini. Biasanya kalau Farel lagi main basket, lo sampe berebut tempat duduk di depan dengan Stela. Tapi, sekarang lo malah duduk asik di kantin. Lo kenapa sih? Kalah judi?"


"Sialan lo!" gerutu Airin lalu menjitak kepala Bella.


"Habisnya muka lo kayak gak ada tanda-tanda kehidupan. Lo kenapa sih ? cerita dong sama gue!"


 


"Gue gak kenapa-napa. Lagi malas aja nontonnya."


 


"Serius? Mmm ... cerita lo sudah selesai? Besok dikumpul lho."


 


"Iya udah!"


 


"Lo nulis cerita lo yang biasa itu?"


 


"Nggak! gue nulis cerita dari kerangka cerita lo."


 


"Seriuss?" tanya Bella dengan bola mata membulat.


 


"Eh, Bell! sebentar pulang sekolah gue yang bawa mobil lo." Ucap Airin dengan wajah berbinar.


 


"Lo gak aneh-anehkan?"


 


"Nggak!"


 


"Oke!"


 


Airin langsung memeluk Bella, "elo memang bestiee gue."


 


"Gak usah lebay, cuma gue ijinin bawa mobil lebay amat."


 


Airin tertawa.

__ADS_1


 


"Airin!" panggil Farel yang ternyata sudah berdiri di belakangnya.


 


Farel melangkah mendekati meja Airin.


 


"Airin, sudah lama aku liat kamu gak pernah nonton basket lagi di lapangan." Tanya Farel lalu duduk di depan Airin.


 


"Mmm, iya lagi gak pengen aja" jawab Airin.


 


"Kamu masih takut kena bola ya ?"


 


"Nggak juga!"


 


"Terus? kenapa kamu gak nonton?"


 


"Yah, lagi gak pengen aja." Airin kemudian berdiri hendak melangkah kembali ke kelas.


 


Farel secepat kilat memegang tangan Airin.


 


"Tunggu Rin! pulang sekolah nanti kita bareng ya. Aku tunggu di parkiran."


 


"Maaf gue gak bisa, gue ada janji dengan Bella. Gue ke kelas dulu, ayo Bell!"


 


Airin segera melangkah dan menarik tangan sahabatnya.


 


Airin terus melangkah sambil menarik tangan Bella. Namun, dia heran melihat teman-temannya menertawakannya.


 


Tiba-tiba Airin kaget melihat Bella berdiri di depan kelasnya.


 


Airin menoleh perlahan, melihat pemilik tangan yang dia pegang.


 


"Pak Ribut!" Pekiknya lalu secepat kilat melepaskan tangan pak guru killer itu secara kasar.


 


"Bapak kenapa ikutin saya?"


 


"Siapa yang ngikutin kamu? saya lagi berdiri memesan bakso, kamu tiba-tiba menarik tangan saya. Memangnya kamu gak bisa membedakan tangan saya dengan tangan teman kamu?"


 


"Ma ... maaf Pak. Gak sengaja!"


 


"Maaf? kamu saya hukum!"


 


"Jangan bersihkan wc pak, saya lagi kurang enak badan. Nanti kalau saya pingsan, bapak di tuntut sama mama saya."


 


"Hmmm ... ya sudah, kalau begitu kamu bayarkan bakso saya 2 mangkok plus es jeruk 2 gelas."


 


"Banyak amat makannya pak! lapar apa kesetanan?"


 


Pak Ribut menatap Airin dengan mata melotot.


 


"Hehehe ... iya saya bayar sekarang!"


 


Airin bergegas ke kantin kemudian membayar bakso pak Ribut. Setelah itu dia kembali ke kelas.


 


"Huufft!" Airin menghela nafas kasar, kemudian bersandar di bangku kelas.


 


"Hahahaha, sumpah parah lo Rin! kalau begini gue semakin yakin elo tercipta dari tulang rusuknya pak Ribut hahahahaha" Bella tertawa lebar. Tiba-tiba Airin menyumpal mulut Bella dengan sebuah handuk kecil.


 


"Wooiiii siapa yang sudah ambil handuk kecil gue?" teriak Bondan siswa paling subur di kelas ini.


 


"Iihhh, siapa juga yang mau ambil handuk bekas lap keringat lo" teriak siswa yang lain.


 


Airin tertawa, sedang Bella mengeluarkan handuk kecil itu dari mulutnya dengan raut wajah menahan muntah.


 

__ADS_1


"AAAIIIRRIIINNN!!!" teriak Bella lalu dia segera berlari ke kamar mandi untuk menumpahkan segala isi perutnya.


__ADS_2