
Ketika netra mereka bertemu, Clarisa segera berbalik dan melangkah pergi.
"Claaar !" panggil Ardan. Ketiga wanita yang berdiri di dekatnya berbalik. Mereka tak melihat siapapun di pintu.
" Clar? disini gak ada Clar !"
"Tadi Ada ma, dia berdiri di depan situ." tunjuk Ardan. Bu Rani berjalan ke pintu dan melihat keluar tidak ada siapa-siapa.
Ardan mengambil Hp nya dan melihat lokasi keberadaan Clarisa melalui GPS yang dia hubungkan dengan hp Clarisa.
'Berarti benar itu Clarisa, dia ada dirumah sakit ini.' Bathin Ardan.
Dia turun dari tempat tidurnya, " Ardan kau mau kemana ? kau belum boleh banyak gerak !" ucap dokter Gita melarang.
"Aku gak apa-apa Git, aku cuma sebentar aja kok !"
Bu Rani mengerti apa yang akan dilakukan Ardan, diapun membiarkan Ardan pergi keluar sebentar.
"Biar mama bantu pake kursi roda ya."
Ardan mengangguk, dia perlahan turun dari tempat tidur dan duduk di kursi roda.
"Siapa Clar ?" tanya mama Gita pada anaknya.
"Adik sepupunya Ardan ma !"
"Yakin sepupunya ? Hanya sepupu kok pake harus di kejar segala, kayak sesuatu yang penting gitu."Sewot mama Gita.
"Sudahlah ma, gak penting ! kita tunggu di sini aja."
Bu Rani mendorong kursi roda Ardan sesuai dengan petunjuk Ardan.
"Belok kiri ma !"
"Kamu yakin di sini ada Clarisa ?"
"Iya ma, aku yakin. Buktinya, di GPSku menunjukkan kalau titik terakhir Clarisa itu di sini ma. Tapi kok gak ada ?"
"Terus kalau memang dia di sini kenapa gak masuk saja tadi ?"
"Mungkin Clarisa mendengar bicara mamanya Gita tadi."
"Bicara yang mana ?"
"Ya semuanya ma, kalau pertemuanku dengan Gita itu pertanda jodoh."
"Ooh ya ampuunn ! Clarisa pasti cemburu berat...rat..rat. Terlebih lagi dia melihat suaminya di suap sama mantan pacarnya. Duuhh Gustiii ! sakitnya tuh disini ! " Ucap mama Rani sambil memegang dadanya.
"Udah deh ma, mama jangan bikin panas suasana."
"Kompor kaliii panas. Jadi gimana sekarang ? Clarisa mungkin sudah pulang."
__ADS_1
"Nggak ma, titik lokasi nya itu masih di sini."
"Ya sudah kamu telfon gih."
Ardan memencet nomor Clarisa, namun hanya terdengar nada sambungan tanpa diangkat.
Ardan menarik nafas kasar, "hhuufft...! gak di angkat ma."
"Ya sudah, kita kasih ruang buat Clar untuk sendiri. Kita masuk ke kamar mu lagi. Kau harus istirahat."
Ardan mengangguk, dan menuruti mamanya untuk kembali ke kamar.
Clarisa menatap punggung mama mertua dan suaminya dari tempat persembunyiannya.
Ketika Ardan sudah tidak nampak dipelupuk matanya, Clarisa keluar dari balik bonsai yang ada di taman.
Dia kemudian berjalan keluar dari rumah sakit.
Sampai di mess school idol, Clarisa menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur.
Clarisa masih terus membayangkan wajah Ardan yang tersenyum ketika menatap dokter Gita di rumah sakit tadi.
Mungkin bagi Ardan itu hanya sekedar senyum, tanpa bermaksud apa-apa. Tapi, bagi Clarisa yang masih labil dan kekanak-kanakan, senyuman itu seperti menyimpan suatu rasa yang tak pernah hilang.
Clarisa terus menangis sampai dia lelah dan tertidur.
Clarisa sudah tau kalau Ardan menghubungkan GPSnya dengan hpnya. Maka dari itu, dia menonaktifkan hpnya.
Teman sekamar Meylani itu, menyibukkan dirinya dengan kegiatan-kegiatan di school idol.
"Ardan kw mau kemana ? kau baru pulang, harusnya kau istirahat."
"Ardan mau cari Clarisa ma."
Bu Rani menarik nafas,"Ardan ! duduk dulu."
Ardan menuruti, dia duduk di samping mamanya.
"Ardan, kau jangan mengganggu Clarisa dulu. empat hari lagi dia akan tampil. Biarkan dia berlatih dengan fokus. Kau jangan mengganggu konsentrasinya."
"Tapi ma, dia sudah salah paham. Aku harus jelaskan. Aku tidak mau dia berpikir macam-macam terus dengan apa yang dia lihat kemaren."
"Ardan ! kalau mama jadi Clar, mama juga akan sama dengan dia. Wanita mana yang tidak sakit hatinya, melihat suaminya di depan matanya disuap sama wanita lain, terlebih lagi itu mantannya."
Ardan terdiam mendengar kata-kata mamanya.
"Ardan ! bersikaplah biasa ketika di depan Gita. Kenapa saat itu kau tidak bisa menolak suapan dari Gita, kau justru menyambutnya dengan baik. Apa kau masih mencintainya ?"
"Mama bicara apa sih ? itu hanya masa lalu, aku sudah melupakan semuanya."
"Ardan anak mama come on, mama tau rasa itu masih ada. Sebab, bukan kau yang memutuskan perpisahan ini, tapi Gita."
__ADS_1
"Kali ini mama salah, aku berani bersumpah kalau rasa itu sudah tidak ada."
"Are you sure Ardan ?"
"Yakin ma !"
Bu Rani menatap intens ke mata coklat putra semata wayangnya.
"Jika kamu benar-benar yakin rasa itu sudah tidak ada, mama akan bantu kamu bertemu dengan Clarisa."
"Mama serius ?"
"Iya, tunggu 4 hari lagi."
"Empat hari lagi ? lama banget itu maa! kenapa gak sekarang saja ?"
"Enggak ! mama harus liat dulu keseriusanmu. Apa kamu benar-benar sudah melupakan Gita, dan meyakinkan rasa itu benar-benar sudah tidak ada."
"Ya ampuun ma, segitunya?"
"Kalau tugas kamu menjaga Clar dari penjahat-penjahat di luar sana. Sedang mama, menjaga hati Clar dari laki-laki sepertimu. Sekalipun kamu anak mama."
Ardan menarik nafas kasar dan menyapu wajahnya frustasi.
"Clarisa itu mama tidak anggap menantu mama, tapi bagi mama dia adalah gadis kecil mama yang butuh mama lindungi. Jadi mama mohon, jangan pernah sakiti Clar. Kau yang sudah memilih dia, cintai pilihanmu."
"Maa, Ardan serius. Tidak sedikitpun niat aku mempermainkan hati Clar ma."
Bu Rani tersenyum, " istirahatlah sayang, nti kita bicara lagi. Mama mau ke kamar dulu."
Ardan masih belum beranjak dari tempat duduknya. Dia mengambil hpnya, menyentuh layar dan nampaklah walpaper di hp itu, wajah istrinya yang tersenyum sangat manis sekali.
"Sayang, maafin atas sikap aku ya. Aku mencintaimu, sungguh mencintaimu." ucap Ardan sambil mengusap layar hpnya dan menciumnya.
Bu Rani tertawa kecil melihat tingkah putranya, "Ardan..Ardan...dasar polisi bucin hahahaha."
Di Aula para peserta school idol lagi pada rame, karena sebentar lagi mereka akan mencabut lot, mencari pasangan duet.
"Oke adik-adik semua. Nah kalian satu per satu maju ambil lotnya, dan jangan dulu di buka. Kita akan buka bersama-sama setelah pasangan duet kalian, masuk ke dalam aula ini."
"Oh aku pikir kita akan duet dengan teman kita sendiri." Bisik Meylani pada Clar.
"Iya sama aku pikir juga begitu," balas Clar.
Para peserta maju satu per satu mengambil lotnya, tiba giliran Clar, dia maju dan mengambil lot.
"Nah, jangan dulu dibuka ya adik-adik ! mari kita persilahkan pasangan duet masuukk !"
Kesepuluh pasangan duet masuk ke dalam aula, dan membuat kaget dan histeris para peserta.
"Naah sekarang silahkan buka kertasnya dan silahkan ke pasangan duet kalian."
__ADS_1
Clar berdoa dalam hati sambil membuka kertasnya. Matanya terbelalak ketika melihat nama yang tertulis di secarik kertas itu.
"Mas Sudikah !"