Si Gendut Itu Aku !

Si Gendut Itu Aku !
Rahasia Nadia


__ADS_3

"Aku belum menemukan tambatan hati."


Deg !


Ardan seperti tidak percaya dengan apa yang di katakan Clarisa.


"Orang yang spesial mungkin ? " tanya bunda Fara.


"Tidak ada ! dulu ada, tapi sekarang sudah tidak spesial lagi." jawab Clarisa dengan mencoba menahan airmatanya.


"Bunda pikir kamu punya tambatan hati, soalnya kamu benar-benar menghayati lagunya tadi."


Ardan benar-benar kecewa dengan jawaban Clarisa. Dia hendak berdiri dan meninggalkan gedung itu. Namun, bu Rani menahan tangannya.


"Tetap di tempatmu Ardan !"


"Tapi maa !"


"Mama tau kamu kecewa, tapi duduklah dulu. Tunggu sampai lampu ini berganti remang kembali. Dengan begitu kau tidak akan menjadi pusat perhatian orang-orang di sini." Terang bu Rani.


Dari tempat dia duduk, Ardan menatap tajam Clarisa.


'Aku tau aku salah Clar, aku yang lebih dulu membuatmu kecewa. Tapi, tidak seperti ini caramu menghukumku.' Bathin Ardan


Clarisa kini sudah masuk kembali, lampu sudah kembali remang.


Saat kembali kebelakang panggung, Clarisa segera berlari ke kamar mandi.


Dia menangis mengingat apa yang dia katakan di panggung tadi.


"Tenang saja aku yakin dipenampilan ke dua mu sebentar, performamu akan bagus."


Samar-samar Clarisa mendengar suara seseorang yang sedang berbincang. Pelan-pelan dia mendekati sumber suara.


Dia keluar dari kamar mandi, kemudian melihat tiga orang yang sedang berbicara. Mereka adalah Nadia, Erika dan Chika. Kedua orang itu adalah sahabat Nadia di sekolah.


Clarisa melihat Erika memberikan sebuah chip kecil.


"Ini kau pasang di microphonemu. Aku sudah merekam suaraku di chip ini. Jadi sebentar kau tinggal tekan tombol on di mic mu, dan mulutmu mengikuti suaraku."Jekas Erika sambil menunjukkan cara meletakkan chip kecil kedalam microphone baru yang mereka berikan kepada Clarisa.


"Jadi setiap minggunya aku akan memberikan chip baru untuk kau pasang di mic mu. Kau telfon atau chat aku lagu yang akan kau nyanyikan nanti, jadi aku akan merekam suaraku sesuai dengan lagu yang akan kau bawakan nanti. Oke !"papar Erika lagi.


"Waaahh kau hebat Erika."


"Iya dengan begini, aku gak capek-capek lagi duduk ditempat tersembunyi dibelakang panggung untuk bernyanyi."


"Kau dapatkan dari mana microphone hebat ini ?"


"Itu kami berdua belinya mahal. Jadi kalau kau dapat juara nanti, kami berdua minta setengahnya." Ucap Chika.


"Lho bukan nya 10 juta saja ?"


"Itu kalau aku duduk dibelakang panggung, tapi sekarangkan lebih mudah dengan microphone baru ini."


Nadia terlihat seperti memikirkan.

__ADS_1


"Ya sudah kalau kau tidak mau, biar kami ambil kembali mic nya " Ucap Chika yang hendak mengambil mic itu dari tangan Nadia.


"Eh jangan ! oke deal ! kalian berdua akan mendapatkan setengah dari hadiahku."


"Tapi, kalau kau gagal di tengah jalan, kau cukup membayar setengah dari mic nya 5 juta."


"Haahh ! aku kalah tetap membayar juga ?"


"Yaiyalah, kau pikir microphone itu kami dapatkan gratis ? Ya belilah, harganya itu 10 juta. Tapi karena kau bestfriend kami, jadi kami kasih diskon dan kau bisa membayarnya dibelakang. Kurang baik apa coba kami berdua ?" Jelas Chika.


"Iya terimakasih yaa ! kalian memang my bestfrieds." Ucap Nadia kemudian mereka bertiga berpelukan seperti teletubies.


"Ooohh jadi Nadia selama ini menggunakan suara Erika ? pantas saja Erika tidak ikut school idol, padahal suaranya bagus. Sedangkan Nadia suara pas-pasan malah ikut."Ucap Clarisa dari tempat persembunyiannya.


Clarisa tersenyum sinis, "aku dapat kartumu Nadia."


Clarisapun kembali ke ruang peserta untuk menunggu giliran penampilan ke dua.


Para peserta satu per satu maju menampilkan kemampuan mereka dalam olah vokal.


Ardan mengurungkan niatnya untuk keluar dari gedung ini. Dia terus mengikuti acara sampai selesai.


Selama menonton, Ardan sudah tidak konsen lagi. Meskipun Clarisa tampil ke dua kalinya, melihatnya Ardan sudah tidak bersemangat seperti pertama kali dia kemari.


Acarapun selesai, satu peserta tereliminasi malam ini. Clarisa dan Nadia masih berada di posisi aman.


"Ardan, kau tidak ingin bertemu Clarisa ?" tanya bu Rani.


"Gak usah ma ! Ayo kita pulang !" Ajak Ardan berjalan lesu ke arah mobilnya.


"Sepertinya Ardan kecewa berat bu Rani."


"Iya bu saya pun berpikir sama, mungkin saja Clarisa tidak ingin hubungannya di tau banyak orang mengingat dia masih SMA."


"Iya ya pak Damar bisa jadi. Mmm..kalau begitu saya duluan ya pak Damar."


"Iya bu, silahkan !"


Diruang peserta para peserta school idol melepas rindu dengan keluarga mereka.


Hanya Clarisa satu-satunya peserta yang tidak didatangi keluarganya.


Iya, Clarisa yatim piatu. Paman dan bibinyapun datang hanya untuk melihat Nadia, melirik Clarisapun mereka tidak.


Clarisa sendiri tidak berharap di tegur sama mereka. Satu-satunya keluarga yang Clarisa punya hanyalah Ardan dan mama Rani.


Tapi, Clarisa sadar kalau dia sudah membuat Ardan kecewa malam ini.


Clarisa keluar dari ruang peserta lewat pintu samping yang terhubung langsung dengan halaman parkir. Dia duduk dianak tangga dekat pintu sambil memegang hp. Dia mencoba menghubungi Ardan, tapi tak ada jawaban.


"Eehhmm !"


Clarisa dikagetkan dengan suara deheman seseorang, dia berbalik ke belakang dan melihat sosok mas Sudikah berdiri dibelakangnya.


"Eh mas Sudikah !" Sapa Clarisa kemudian bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Mungkin teman priamu itu sekarang lagi marah Clar. Saya saja kalau jadi teman priamu tadi, jelas marah mendengar pengakuanmu di atas panggung tadi."


"Maksud mas Sudikah apa sih ? Sok tau !"


"Hahaha, Clar saya tau kalau kamu itu berbohong, sebenarnya kamu itu sudah punya tambatan hati. Saya melihat tambatan hati kamu tadi datang. Dia itu teman sekolahmu yang mengantar kamu ke rumah sakit waktu kamu keracunan kan ?"


"Iihh bu..bukan ! mas Sudikah ini sok tau. Bu...bukan dia kok orangnya."Ucap Clar meyakinkan.


"Halllaahh kamu gak usah bohong. Lha wong bicaramu gugup kayak begitu. Saya ini juga pernah muda kayak kamu."


"Berarti secara tidak langsung mas Sudikah mengakui dong."


"Mengakui apa ?"


"Mengakui kalau mas sekarang sudah tua, tadikan bilang dulu pernah muda. Heheheh."


"Duuhh Gustii ! ngomong sama kamu bikin naik darah terus Clar." Gerutu mas Sudikah, kemudian melangkah turun dari tangga menuju tempat parkir mobilnya.


"Mas Sudikah !" panggil Clar.


Mas sudikah menghentikan langkahnya, dan berbalik.


"Kenapa lagi ?"


"Makasih ya, berkat mas Sudikah penampilan duet kita menuai pujian." Ucap Clar tersenyum manis.


Mas Sudikahpun tersenyum, "Bukan saya yang hebat, tapi kamu yang hebat. Kamu semangat meskipun sekarang lagi patah hati."


"Iiihhh mas Sudikah ! siapa yang lagi patah hati?"


"Jangan berbohong hidung kamu nanti panjang."


"Aku bukan pinokiooo !!" teriak Clar kesel.


"Hahahahaha !" mas Sudikah tertawa kemudian masuk ke dalam mobilnya.


Sementara Ardan membiarkan hpnya berdering. Bu Rani melirik, dan melihat nama yang memanggil dilayar hp.


"Kau tidak ingin mengangkatnya Ardan ?"


"Gak penting ma !"


"Ardan berikan kesempatan untuk Clarisa menjelaskan !"


"Sudah jelas ma, Clarisa marah dan cemburu denganku waktu di rumah sakit. Kemudian membalas rasa cemburunya dengan cara tadi."


"Kau terlalu cepat berspekulasi."


"Tapi memang kenyataannya ma."


"Tapi feeling mama tidak seperti itu. Sepertinya ada sesuatu yang Clarisa sembunyikan."


"Mama ini terus saja membela dia. Anak kandung mamakan aku. Mama gak sedih aku di beginiin sama Clar ?"


"Ardan, kau itu lebih dewasa dari Clarisa. Untuk itu bersikaplah dewasa, temui Clarisa dan bicarakan semuanya dengan baik-baik. Kau jangan asal main spekulasi dengan sikap Clarisa. Mama bukannya membela dia, mama sayang kalian berdua. Makanya mama berdiri ditengah kalian. Kalau kau tidak mau berbicara dengan Clarisa, biar nanti mama yang bicara."

__ADS_1


Tiba-tiba mobil Ardan berbalik arah, bu Rani tersenyum melihat putranya.


' Ya Allah jaga rumah tangga mereka, Aamiin !' Doa bu Rani dalam hati.


__ADS_2