Si Gendut Itu Aku !

Si Gendut Itu Aku !
Masa Kritis


__ADS_3

Mobil ambulance melaju membelah kota Jakarta. Di dalam mobil, nampak Clarisa sangat kritis dengan tarikan nafas yang sangat sulit.


Ardan dan bu Rani terus menangis melihat orang yang mereka sangat sayangi, dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.


Ardan terus membelai lembut kepala Clarisa, mencium sayang pipinya dengan air mata yang terus jatuh. Dia begitu menyesal karena lalai dalam menjaga istri kecilnya itu.


"Sayang bertahan ya ! sebentar lagi kita akan sampai rumah sakit."


Air mata menetes disudut mata Clarisa, gadis itu mencoba untuk kuat. Dia terus berusaha untuk menghirup udara agar bisa masuk ke dalam paru-parunya. Namun, dia merasa udara serasa enggan untuk masuk memberikan dia kehidupan dengan bernafas lega.


"Claar sayang, jangan tinggalin mama ya. Kamu putri mama yang kuat" tangis bu Rani.


Wanita yang baru beberapa bulan mengenal Clarisa itu, nampak begitu frustasi melihat anak menantu kesayangannya, saat ini sedang berjuang antara hidup dan mati. Dia begitu menyayangi Clarisa.


Tidak berapa lama mobil ambulance sampai di rumah sakit. Brankar Clarisa segera di dorong menuju ruang UGD.


Ardan dan bu Rani menunggu di depan ruang UGD. Tidak berapa lama pak Damar datang.


"Bagaimana Clar ?" tanya pak Damar pada Ardan.


"Dia masih di tangani pak !" jawab Ardan lemas.


"Ternyata dugaan Clar, kalau pak Adam beserta anak dan istrinya bekerjasama dengan pak Hermawan. Itu benar Ardan. Pak Adamlah yang menculik Clarisa dan menyerahkannya pada pak Hermawan " terang pak Damar.


Tangan Ardan mengepal, seandainya saja dia memasukkan keluarga itu ke penjara. Mungkin saja mereka tidak akan bisa menyakiti Clarisa lagi.


Tiba-tiba pintu UGD terbuka, brankar Clarisa keluar dan hendak dipindahkan ke ICU.


"Dokter bagaimana putri saya dok ?" tanya bu Rani di sela isak tangisnya.


"Pasien masih dalam keadaan kritis, racun sudah menyebar hampir ke seluruh tubuh pasien. Semoga pasien bisa melewati masa kritisnya " terang dokter.


Bu Rani, Ardan dan pak Damar terkejut mendengar penuturan dokter.


"Tapi, istri aku bisa sembuhkan dok ?" tanya Ardan.


"Sebaiknya bapak berdoa untuk keselamatan istri bapak. Saat ini hanya doa yang bisa kita lakukan sekarang " ucap dokter berkaca mata minus itu.


Pak Damar memeluk bu Rani, sementara Ardan luruh ke lantai.


Kini di dalam ruang ICU, Clarisa terbaring lemah dengan menggunakan banyak alat yang terpasang ditubuhnya.


...***...


Sementara di gedung ajang pencarian bakat dikalangan sekolah menengah atas, berubah cemas. Berita penculikan Clarisa sudah tersebar.


"Siapa orang yang sudah tega menculik Clarisa ?" tanya mas Sudikah.


"Sepertinya ada yang dendam dengan dia " sambung Meylani.


Semua mata tertuju padanya.


"Dendam ?" tanya bunda Fara.

__ADS_1


"Mungkin saja Nadia dendam dengan Clarisa, karena kemaren Clar sudah membuat dia didiskualifikasi. Clar juga pernah cerita, kalau Nadia itu sepupunya, dia berapa kali di celakai oleh Nadia dan orang tuanya " tutur Meylani menjekaskan.


Ketiga juri itu nampak berpikir, terlebih lagi mas Sudikah seperti mengingat sesuatu.


"Saya ingat, dulu waktu Nadia terlambat ikut audisi gara-gara perutnya sakit. Katanya dia keracunan waktu itu. Tantenya yang kayak pemain ketoprak itu datang minta maaf, memohon agar Clarisa bisa ikut audisi " tutur mas Sudikah.


"Ah iya saya ingat, terus dia bilang kalau dia juga punya anak yang lulus audisi. Itu berarti tante itu adalah mamanya Nadia " sambung mas Indra.


"Berarti waktu itu Clarisa sengaja di celakai oleh mamanya Nadia dengan memberikan makanan kadaluarsa " tambah bunda Fara kemudian.


"Wahhh kalau memang begitu, berarti keputusan kita mendiskualifikasi Nadia itu sudah tepat " ucap mas Sudikah.


"Terus dimana sekarang mereka membawa Clarisa ?" tanya bunda Fara.


Semua yang ada di ruangan itu saling pandang dan mengangkat bahu.


"Ku harap Clarisa baik-baik saja " harap Meylani sedih.


...***...


Sudah 2 jam sejak Clarisa dipindahkan ke ruang ICU, dia belum juga sadar.


Ardan dan mamanya masih setia menunggu. Begitupun pak Damar, yang masih setia menenangkan kekasihnya.


Tanpa di sadari mereka pun sudah menunjukkan hubungan yang terjadi diantara mereka, di depan Ardan. Namun, Ardan tidak perduli karena saat ini yang dia pikirkan hanyalah Clarisa.


Ardan dan bu Rani segera berdiri ketika melihat, dokter tergesa-gesa masuk ke dalam ruang ICU.


"Gak tau ma " jawab Ardan.


"Sebaiknya kita terus berdoa untuk keselamatan Clarisa " ujar pak Damar memberi saran.


"Paa !" panggil Vanya.


Gadis itu segera berlari mendekati papanya.


"Gimana keadaan Clarisa ? " tanya Vanya pada papanya.


"Dia belum siuman, racun itu sudah menyebar hampir keseluruh tubuhnya " jawab pak Damar.


"Oh ya Tuhan ! tante yang sabar ya !" ucap Nadia yang kemudian memeluk bu Rani.


Tidak lama kemudian pintu ruang ICU terbuka.


Ke empat orang yang menunggu di depan segera mendekat pada laki-laki berjas putih dengan berkalungkan stetoskop di lehernya.


"Gimana Clarisa dok ?" tanya Ardan.


Dokter itu menarik nafas dalam, "denyut nadi pasien semakin lemah, saat ini hanya doa yang bisa membantu pasien, untuk bisa melewati masa-masa kritisnya " ujar sang dokter.


"Aku ingin masuk ke dalam bisa dok ?" tanya Ardan meminta izin.


"Iya boleh ! tapi sebaiknya gantian " jawab dokter memberi izin.

__ADS_1


Ardan segera masuk ke dalam. Dia berjalan lunglai masuk ke ruang ICU.


Hatinya terenyuh melihat kondisi istri kecilnya.


Dia berjalan mendekati tempat tidur dimana istrinya terbaring lemah tak berdaya dengan alat pendeteksi jantung di sampingnya.


Digenggamnya telapak tangan Clarisa. Dia menciumnya dengan penuh sayang.


"Sayang ! kamu yang kuat ya. Maafkan aku, aku sudah lalai jaga kamu. Kamu yang kuat sayang. Bangun ya tolong bangun ! "


Ardan terus memanggil Clar agar bangun, diciumnya tangan Clar berkali-kali. Berharap sang istri juga merasakannya dan segera sadar.


Tiba-tiba tubuh Clarisa berguncang, dada Clarisa naik turun saat bernafas. Ardan panik melihat keadaan Clarisa. Dia segera memencet tombol merah untuk memanggil dokter.


"Sayang kamu kenapa ? bertahan ya, aku menunggumu " ujar Ardan panik.


Tidak lama kemudian dokter datang, dengan seorang suster.


"Pak silahkan tunggu diluar, agar dokter bisa memeriksa pasien dengan tenang " ucap seorang suster.


Ardan pun patuh, dia keluar dengan perasaan takut dan cemas.


"Ardan gimana Clarisa ? apa yang terjadi di dalam ? kenapa dokter tadi buru-buru masuk ke dalam ?" tanya bu Rani.


"Clarisa sesak nafas ma " jawab Ardan dengan suara bergetar.


"Oh ya Tuhan ! Claar !" bu Rani menangis di dada Ardan. Ardan memeluk mamanya sambil mengelus-ngelus pundaknya.


Cekrek !


Pintu ruang ICU terbuka, dokter keluar dengan wajah sayu, dengan suara berat dia menyampaikan kabar yang tidak enak buat keluarga pasien.


"Pak, bu ! kami mohon maaf, pasien tidak tertolong !" ucap sang dokter dengan tatapan sayu melihat Ardan dan mamanya.


"Maksud dokter apa ? putri saya tidak tertolong ? Gak mungkin ! putri saya itu kuat, dia itu anak yang ceria. Gak mungkin dia menyerah begitu saja. Coba dokter periksa sekali lagi ! " racau bu Rani sambil terus menangis.


Pak Damar segera memeluknya, mencoba menenangkannya. Sedang Ardan segera berlari masuk ke dalam ruang ICU.


Dia melihat alat-alat yang tadinya terpasang, sekarang sudah terlepas dari tubuh istri kecilnya.


Di dekatinya tubuh kaku Clarisa, dia usap lembut wajah Clar.


"Sayang kenapa ? apa kau kesakitan sehingga kau tidak bisa bertahan ? " ucap Ardan lirih.


Dia memeluk tubuh kaku Clarisa, diciumnya wajah manis istri kecilnya itu.


...***...


HAII PECINTA ARDAN DAN CLARISA..JANGAN LUPA HADIAHNYA YA...


LIKE, COMMENT DAN VOTE. TERIMA KASIH..


LOVE U ALL 🥰🥰😍😍

__ADS_1


__ADS_2