
"NADIAAA !!!"
"Duuuhh mami dan papi apa-apaan sih ?" gerutu Nadia, sembari menepuk-nepuk bajunya yang kotor terkena debu dari karung.
"Ya mana kami tau, kami kira itu Clarisa. Lagian kamu ngapain kemari ?" tanya si mami Nadia.
"Hehehe..itu mi Nadia baru ingat kalau celengan Nadia ketinggalan."
"Emang kamu punya celengan ?" tanya papinya.
"Ya punyalaaahh !" jawab Nadia tersenyum bangga.
"Wah...hebat anak mami, sudah cantik, pintar menabung lagi !"puji mami Nadia.
"Yah sudah coba ambil celengan kamu, papi mau melihat isinya."
"Oke pi !'
Nadia bergegas masuk ke kamarnya.
"Gak nyangka ya pi, Nadia ikut gaya mami yang suka menabung."
"Menabung katamu ?"
"Iya pi !"
"Menabung di moll, menabung di salon. Itu kau kata menabung mi ? sungguh luar biasa !"
"Iihh papi suka gitu deh."
Nadia datang dengan menbawa celengannya, berbentuk ayam jago yang jumbo.
"Wuuuiiihhh sebesar ini celenganmu Nad ?" tanya mami yang tersenyum lebar melihat celengan putri semata wayangnya.
"Iya mi !" jawab Nadia girang.
"Keluarkan semua isi nya Nad ! nanti bisa kamu pakai beli keperluan untuk masuk ke School Idol nanti." perintah papinya.
Nadia mengangguk, kemudian memecahkan celengan kesayangannya.
PRAAANNNG !!!
Ketiga orang itu terperangah melihat isinya.
Mulut mereka terbuka lebar dan mata mereka melotot.
"Appa ini Nadia ?" tanya mami Nadia sambil memungut uang celengan putrinya.
"ENAAAAM RIBUUU ??" pekik mami Nadia sambil mengangkat tiga lembar uang dua ribuan.
Sedang Nadia hanya cengar cengir ," Hehehe, Nadia lupa mi. Sudah lama gak Nadia isi, itu yang terakhir Nadia masukin 2 ribu sisa beli jajan."
"Niihh ambil pake beli jajan. Huuhh !" keluh si mami.
...***...
Vanya masih diam, matanya masih asyik memandang ombak yang saling berkejaran.
Dia tidak menangis, hanya air mata yang terus jatuh.
teringat kembali bayangan masa lalu itu, di mana Ardan masih menjadi miliknya. Dimana Ardan mau menerima perjodohan itu.
Semenjak mereka di jodohkan, Ardan menjadi sangat perhatian. Hal itu membuat Vanya semakin jatuh cinta padanya.
Akan tetapi, malam itu Vanya pun tidak bisa memungkiri pesona Rangga yang membuat dia hilang kendali.
Dia pun mengiyakan ajakan Rangga malam itu, untuk bersenang-senang di Ruangan VIP sebuah Club terkenal.
Mereka berdua bercumbu sampai tidak tau dunia, kalau di luar sedang ada razia oleh team kepolisian dan salah satu diantara mereka adalah Ardan.
Braakkk !!!
Pintu ruang VIP di buka paksa, sepasang mata telah menyaksikan penyatuan tubuh dua insan.
Terlihat jelas oleh Ardan, Vanya begitu menikmati cumbuan dari Rangga.
Kedua orang itu terlalu nenikmati permainan mereka sampai tidak sadar, kalau pintu telah terbuka secara paksa.
__ADS_1
Ardan tidak tahan mendengar erangan dan ******* Nadia, dia segera melakukan tembakan ke atas. Seketika ke duanya sadar dan menoleh.
"Ardan ?!" Vanya terkejut, dia segera mendorong tubuh Rangga dari atas tubuhnya. Kemudian segera memakai ****** ********, dan memperbaiki rok mininya. Ranggapun buru-buru memakai celana panjangnya.
"Kalian berdua keluar !"perintah Ardan kemudian berlalu.
Ardan segera meninggalkan lokasi. Vanya sadar, kesalahannya memang sangat besar untuk bisa mendapatkan cinta Ardan lagi.
"AAAAKKKKKHHHH !"
Teriak Vanya frustasi.
"Wwoiii mbak kalau mau teriak di hutan sana !" teriak seseorang yang terganggu dengan teriakan Vanya.
Vanya menoleh, " Rangga ?!"
"Vanya ?!"
...***...
Selesai makan malam, Clarisa kembali ke kamar nya. Saat lagi asyik membaca, Ardan memeluknya dari belakang.
"Ardan aku boleh tanya ?"
"Iya tanya apa?" jawab Ardan sambil mencium-cium manja pipi Clarisa yang tembem.
"Kapan sih penjahat itu tertangkap ? aku jadi merasa gak tenang. Merasa takut kalau-kalau suatu hari nanti aku diculik terus dibunuh."
"Kau tenang ya, pihak kepolisian sedang menyelidiki. Soalnya Yudi dengan anak buahnya yang tertangkap kemaren belum buka mulut."
"Iya semoga saja secepatnya bisa terungkap. Agar cerita ini selesai dan aku bisa pulang ke dunia Airin."
"Dunia Airin ? Maksudnya ?"
Clarisa menepuk jidatnya, dia lupa Ardan tidak mengerti soal ini.
"Mmmm...itu aku jadi teringat-ingat novel yang ku baca hehehe !"
"Sayang !"
"Kitakan sudah suami istri, kau jangan memanggilku hanya Ardan dong."
"Trus siapa ? Abang jago ? Abang Toyib ?atau Abang madun ?"
"Iiihh bukan Clar. Seperti teman-teman aku di kantor kalau istri mereka itu manggilnya mas, mas Ardan. Begitu lho!"
"Ya sudah, nikah saja sana dengan istri temanmu itu, supaya kamu dipanggil mas, hahahah !" Goda Clarisa
Ardan langsung melepaskan pelukannya. kemudian berjalan lemah hendak keluar.
"Mas Ardan mau kemana ?"
Seketika dia berbalik, Clarisa tersenyum genit, menggodanya.
Ardan segera mengunci pintu, berlari ke arah Clarisa, menggendongnya naik ke atas tempat tidur.
"Kali ini kau jangan pingsan lagi, Awas !"
"Tapi aku halangan mas !" ucap Clarisa tersenyum.
"Setelah kau buatku melayang, kau jatuhkan aku tiba-tiba." Ucap Ardan kemudian menangis seperti anak kecil di pelukan Clarisa.
"Cup..cup..sabar ya kang masku sayang." bujuk Clarisa sambil menepuk-nepuk pelan bahu suaminya seperti anak kecil.
...***...
"Clarisa kok gak pulang-pulang ya ?" tanya Nadia.
"Iya ya, sudah malam begini. Mana mami lapar lagi."
" Iya mi, Nadia juga lapar !"
"Beli gorengan sana ! pake duit celenganmu yang banyak itu." Sindir papinya.
"Iihh apaan sih pi, biar cuma enam ribu Nadia bangga bisa menabung. Nanti aku mau simpan di bank."
"Iya simpan disana, biar pihak bank yang buang sekalian uangmu."
__ADS_1
"Iiihh..papi sewot banget sih."
"Sudah...sudah...kalian ini. Mami mau ke dapur dulu cari makanan. Siapa tau masih ada mi instan."
Bu Herni segera beranjak ke dapur.
"Oh iya Nad, teman laki-laki Nadia itu. Siapa sudah namanya ? "
"Ardan pi."
"Apa dia masih jalan terus dengan Nadia ?"
"Gak tau ya pi, tapi setau aku, Ardan sudah gak pernah masuk sekolah lagi."
"Itu artinya sekarang Clarisa sendiri ?"
"Iya pi, sekarang itu kemana-mana Clarisa sendiri."
"Baguslah kalau begitu, jadi tidak ada lagi yang membela dia."
"Eh Nad kapan kau dan Clarisa masuk ke karantina lomba itu."
"Lusa pi."
Pak Adam terlihat sedang berpikir sesuatu.
"Kenapa pi ?"
"Papi dapat ide gimana caranya kita bisa nangkap Clarisa." kata pak Adam tersenyum miring.
...***...
Ardan dan istrinya lagi asyik bercengkrama di kamar.
"Eh Clar kamu ingat gak ? Waktu pertama kali aku jadi murid baru di sekolahmu ."
Clarisa mencoba mengingat hal yang mungkin dia lupakan saat menulis cerita ini.
"Mmm..nggak !"
Ardan menghela nafas kesal, karena istrinya tidak mengingatnya.
"Kau tau saat aku masuk dan memperkenalkan diriku, kau begitu terpesona melihatku, mulutmu terbuka lebar, matamu melotot, seperti ini Clar." Ardan memasang wajah seperti yang dia gambarkan.
Clarisa memutar bola matanya malas.
"Saat itu aku khilaf mas."
"Bagaimana mungkin kau khilaf ? Sekarang saja kau masih seperti itu. Terlebih lagi jika ku tatap penuh cinta. Seperti ini.."
Ardan menatap Clarisa dalam, Clar segera memalingkan wajahnya.
Ardan memegang kepala Clar, dan menghadapkan ke wajahnya. Kemudian dia mencium bibir istrinya, cukup lama mereka berciuman, sampai saat tangan Ardan mau memegang sesuatu pada tubuh Clar, tangannya di tahan oleh Clar.
"Ingat mas ! aku halangan, jangan buat dirimu tersiksa malam ini." Ucap Clarisa sambil tersenyum menggoda.
Ardan langsung membanting tubuhnya ke kasur dan tidur membelakangi Clarisa.
"Hahahaha, salahnya sendiri suka menggoda. Tersiksa kan ? Hahahaha."
Ceklek
"Mas Ardaaan nyalain lampunyaaaa. !!!"
Drrrt...
Drrrt...
Drrrt...
Handphone Ardan tiba-tiba berdering. Ardan menyalakan lampunya, Clarisa memberikan Hp pada suaminya. Dilihatnya nama dilayar 'Pak Damar.'
"Hallo iya pak?" sapa Ardan
"Appaaa ? meninggal ?" ucap Ardan terkejut.
"Siapa mas ?"
__ADS_1