
Jantung Clarisa berdegup kencang. Campur aduk seperti gado-gado.
"Nah sudah selesai, cantik sekali !" ujar Bu Rani senang.
"Mama gak nyangka lho Clar, mama bisa ngerias kamu." Bu Rani terlihat puas dengan hasil make up nya.
"Ya udah kita keluar !" Bu Rani menarik calon mantunya.
Di ruang tamu sudah ada Ardan dan empat orang bapak-bapak.
Bu Rani menarik Clarisa, duduk di sebelah Ardan.
"Berhubung ke dua mempelai sudah berada di sini, jadi ijab qobulnya kita mulai saja ya !"
Ardan memegang tangan wali nikah yang berasal dari kantor KUA.
Dengan satu tarikan nafas, Ardan mengucapkan ijab qobul dengan lancar.
" Gimana sah ?"
"Saahhh ! Alhamdulillah." Mereka kemudian berdoa bersama.
Selesai berdoa, Ardan kemudian memakaikan cincin ke Clarisa, sebaliknya Clarisa juga memakaikan cincin ke Ardan. Kemudian di tutup dengan Clarisa mencium tangan Ardan, dan kemudian di balas dengan ciuman di kening Clarisa oleh Ardan.
Setelah acara selesai, Clarisa pamit ke kamar. Sedangkan Ardan dan ke empat bapak-bapak itu masih berbincang.
Clarisa menunggu Ardan di kamar dengan perasaan yang tidak menentu.
Kreeett !
Pintu kamar terbuka, tiba-tiba !
Buuggghh ! satu lemparan bantal mengenai tepat di wajah Ardan.
"Aduuhhh Clar Apa-apaan sih ?"
"Kenapa kamu nggak ngomong-ngomong kalau malam ini kita nikah."
"Kan aku sudah kasih tau kamu !"
"Kapan ?"
"Kemaren dirumah kamu, ingat nggak waktu kamu jatuh dari pohon? Kan disitu aku nanya, kamu bilang iya."
Clarisa mencoba mengingat kejadian semalam, ketika dia jatuh dari pohon. Ardan dengan sigap menangkapnya.
Namun, akibat senyum Ardan Clarisa terpesona sampai-sampai dia tidak sadar sudah berkata iya.
"Sudah ingat kan ? Makanya jangan terlalu terpesona dengan senyumku. Akhirnya apa ? Kamu sudah gak ingat lagi pertanyaanku apa ?Hahahah."
"Issshh, kepedean banget." Gerutu Clarisa.
'Padahal emang benar, senyum Ardan bikin aku lupa pertanyaannya' ucap Clar dalam hati.
Clarisa mengambil baju ganti di dalam lemari, kemudian bergegas ke kamar mandi.
Saat melewati Ardan, lelaki itu langsung menarik tangan Clarisa, membawa tubuh Clarisa jatuh dalam pelukannya. Kemudian dia mengunci tubuh Clarisa dengan rangkulan dipinggang.
Kini jarak wajah mereka hanya beberapa centi saja. Ardan melihat jelas merah merona di wajah Clarisa yang lagi menahan malu.
Clarisa menahan tubuh Ardan dengan meletakkan ke dua tangannya di dada laki-laki yang sekarang sudah menjadi suaminya itu, agar wajah Ardan tidak terlalu dekat dengannya.
"Sepertinya dietmu berhasil ya Clar, memelukmu bisa seerat ini heheh."
"Iiihh Ardan lepas ! Jangan macam-macam !"
"Emang kenapa ? kamu kan sudah istriku, sudah halal untuk ku macam-macami."
Ardan semakin mendekatkan wajahnya ke Clarisa, dia ingin mencium Clarisa. Tiba-tiba Clarisa menutup wajah Ardan dengan baju gantinya.
"Ardan lepas ! aku mau ganti baju dulu!"
Ardan segera melepaskan rangkulannya. Clarisa bergegas ke kamar mandi yang terletak di dalam kamar juga.
__ADS_1
Di dalam kamar mandi, Clar mencoba menormalkan kembali degup jantungnya.
"Hufft, bagaimana ini ? apa yang harus aku lakukan di malam pertama ini ?"
Sementara Ardan tersenyum lebar, melihat salah tingkah Clarisa.
Drrrttt...
Drrrttt...
Drrrrrrt...
Ponsel Ardan berdering, dia merogohnya dari saku celananya.
"Hallo Ardan ! Kau tidak kemari ? kau bilang setelah urusanmu selesai kau akan kemari.!" rajuk suara diseberang telfon.
"Iya maaf Vanya soalnya aku capek banget ! Besok aku akan ke sana, ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Benarkah ? oke kalau begitu besok aku tunggu ya. I love you honey !"
Ardan tidak menjawab, dia segera menutup ponselnya.
"Apapun resikonya aku akan mengatakan sebenarnya. " Ucap Ardan.
Kreeett !
Clarisa keluar dari kamar mandi dengan baju tidurnya.
"Kau tidak ganti baju ?" tanya Clarisa.
"Ohh ganti dong !" kemudian Ardan membuka jasnya, kemejanya.
Clarisa kaget dengan apa yang dilakukan Ardan.
"Ardaan kau mau ngapain ?" tanya Clarisa ketika melihat Ardan ingin melepas ikat pinggangnya.
"Yah ganti baju lah !"
"Ganti di kamar mandilah kan !"
"Tapikan ada aku, apa kau tidak malu ?"
"Kau kan istriku, semua yang ada padaku, akan menjadi milikmu sayang." Goda Ardan dengan mengedipkan matanya.
Clarisa memutar bola matanya malas, kemudian berbalik membelakangi suaminya.
Ardan berpindah ke depan Clarisa, "Ardaaan apaan sih !"
Clar kemudian berbalik, membelakangi suaminya lagi.
"Kamu harus terbiasa untuk melihatnya Clar," ucap Ardan kemudian berpindah ke depan istrinya lagi.
Clarisa menutup wajahnya dengan tangannya.
"Gak mau !"
"Liat dong"
"Gak mauu!"
Bu Rani lewat depan kamar pengantin baru itu, segera memasang telinganya di depan pintu kamar anaknya.
"Hehehe Ardan...Ardan...kamu itu seperti papa kamu, suka memaksa tapi sentuhannya tetap lembut dan hangat. Semangat my boy heheheh." Bu Rani kemudian berjalan ke kamarnya.
Clarisa bersembunyi di balik selimut dan membelakangi suaminya.
"Clar menghadap sini dong !"
"Gak !"
Ardan langsung mematikan lampu kamarnya. Clarisa berbalik, ingin menyalakan lampu yang kebetulan lampu kamarnya berada di nakas samping Ardan.
"Nyalain Ardan aku gak bisa tidur kalau mati lampu."
__ADS_1
Clarisa mencoba menyalakan lampu di samping Ardan, dengan melewati tubuh Ardan. Seketika Ardan membalikkan tubuh Clar. Kini tubuh Clar sudah berada di bawah Ardan.
Ardan tersenyum, Clar menggeleng. Ketika Clar ingin teriak, Ardan segera menutup mulut Clar dengan mulutnya, dan menarik selimut menutupi tubuh mereka.
Di rumah baru mereka, ketiga keluarga perusuh itu, sedang sibuk memikirkan bagaimana caranya agar mereka bisa membawa Clarisa ke hadapan pak Hermawan.
"Tadi Nadia sudah coba pi, ajak Clarisa ke rumah. Tapi dianya gak mau !"
"Trus gimana dong pi ?" tanya istri pak Adam.
"Kalau bisa, sebelum masuk ke karantina school idol Clarisa sudah kita bawa ke pak Hermawan pi, supaya Nadia gak ada saingan." ucap putri semata wayang pak Adam dan Bi Herni.
"Biar papi yang temui dia besok, nanti akan papi katakan kalau mami sedang sakit, sekarat dan ingin meminta maaf. Bagaimana ?"
"Ihhh kok mami sih ? mana alasan sakit parah lagi. Kalau mami sakit beneran gimana ?"
"Yo gak toh mi !"
"Iya mi, gak apa-apa. Tapi, papi aktingnya harus bagus. Harus terlihat senatural mungkin. Bayangin aja pi, kalau mami lagi terbaring lemah tak berdaya di tempat tidur. Bayangin kalau sebentar lagi malaikat maut datang jemput mami, trus papi belum siap kehilangan istri, trus..."
Plaaakkk !!
"Aduh mi sakit!" ucap Nadia sambil memegang kepalanya yang habis kena jitak maminya.
"Mau ngomong apa lagi kamu ?Haaah ? "
"Heheheh, ampun miii !"
"Pokoknya papi cari alasan lain jangan itu, mami gak setuju. Itu sama saja mendoakan mami tau."
"Tapi mi...!"
"Ngomong lagi kamu, mami jitak nih !"
"Iya mi,,iya piiss heheh."
"Udah..udah...kalian berdua tenang aja, papi akan berusaha bawa Clarisa ke hadapan pak Hermawan. Nanti kita pikirkan lagi caranya."
Drrrt...
Drrrt..
Drrrt.
"Aduuhh pak Hermawan nelfon nih ! Gimana ?"
"Udah angkat aja pi, nanti dia marah lagi papi gak angkat."Ujar istrinya.
"Hallo pak Hermawan!"
"Iya hallo, langsung saja, saya tidak suka berbasa basi. Bagaimana ? kapan kalian membawa Clarisa ke hadapan saya ?"
"Mmm...iya pak ini masih sementara kami usahakan. Bapak gak usah Khawatir. Saya pastikan akan membawa Clarisa."
"Baik, jangan sampai gagal. Saya beri waktu pak Adam dan keluarga selama 3 hari untuk bisa membawa Clarisa ke hadapan saya."
"3 hari pak ? Oke pak kami akan usahakan !"
"Ingat ya pak Adam ! kalau sampe 3 hari tidak ada, bapak dan keluarga siap-siap saya tendang dari kemewahan yang sekarang kalian nikmati." Ancam pak Hermawan. Kemudian dia menutup percakapannya.
"Pi untuk apa ya dia mau Clarisa ?"
"Gak tau mi !"
"Apa jangan-jangan mau dijadiin istri ya ? secara Clarisa sekarang sudah cantik, gak gendut-gendut amat."
"Iya bisa jadi mi." balas pak Adam.
"Kalau seandainya kita gak bisa bawa Clarisa, gimana kalau yang kita jadiin istri pak Hermawan ituuuu..."
Kedua suami istri itu secara bersamaan mengalihkan pandangannya ke anak mereka.
Nadia yang mengerti dengan maksud mami papinya, segera menggeleng.
__ADS_1
"Nadia ogaaaahh!!!"