Si Gendut Itu Aku !

Si Gendut Itu Aku !
Baju pengantin


__ADS_3

Akhirnya hari itu tiba, dengan suasana bertemakan outdoor pernikahan Clarisa dan Ardan akan dilangsungkan.


Hadir di kursi tamu teman-teman Clarisa dan teman-teman Ardan dari kepolisian.


Keluarga ke dua mempelai ada paman Adam, bibi Herhi dan Nadia. Serta mama Ardan yang begitu manis dengan kebaya senada dengan keluarga Clarisa.


Para tamu memandang takjub, ketika melihat Ardan datang dengan setelan jas tuxedonya, yang menambah ketampanannya.


Sedang Clarisa di ruang ganti masih berjuang untuk memakai baju pengantinnya yang sudah dia pesan.


"Aduuh mba, kalau mau nikah itu sebaiknya dekat-dekat hari H diet dong ! kalo ginikan susah." Gerutu mba yang lagi berusaha memasang resleting dibelakang baju Clarisa.


Clarisa hanya bisa manyun. Menarik nafas dan menahannya agar perutnya bisa kecil. Namun, hal itu sia-sia.


"Aduuuh jangan terlalu banyak gerak dong mba ! Ini susah banget masang resletingnya !"


"Iya aku gak gerak kok, aku cuma nahan nafas biar perutku kempes."


Mba yang membantu Clarisa memakai baju pengantin itu, terlihat sangat kelelahan, keringat bercucuran di dahinya.


Dia terus berusaha, mengerahkan seluruh tenaganya untuk menaikkan resleting itu ke atas, tapi tetap tidak bisa.


Nampak suasana di luar, sudah mulai grasak grusuk.


"Pengantin wanitanya mana ? kok belum keluar-keluar sih ?" tanya salah seorang tamu.


Ardan terus melihat jam tangannya, wajahnya terlihat cemas. Menunggu kehadiran gadis gendutnya.


"Paling lagi kesulitan memakai baju pengantin hahahah," bisik Vanya pada temannya sambil tertawa.


Sudah hampir 1 jam baju pengantin itu belum juga terpasang indah di tubuh Clarisa.


"Aduh gimana nih ? saya sudah capek mba Clar." Keluh mba yang membantunya.


Clar mencoba memasang sendiri resleting bajunya. Dengan menyilang ke dua tangannya ke belakang, dan jari-jarinya meraih resleting bajunya.


Dia berusaha menarik resleting itu sambil melompat-lompat berharap resletingnya naik.


Buuugghhh !!!


Karena terlalu semangat melompat Clarisa terjatuh.


Mba yang sedari tadi membantunya, mencoba mengangkat tubuh besar Clar dengan kekuatannya.


"Ayoo mba berdirii !" ucapnya sambil terus mencoba mengangkat bahu Clarisa.


Kepala Clarisa terasa sakit sekali karena terbentur ke lantai.


"Ayo mba bangun berdiri, biar saya akali bagian belakang bajunya."


Mendengar itu, Clarisa bersemangat dan langsung berdiri.


Mba pengurus baju pengantin itu, menjahit zigzag bagian belakang gaun Clarisa. Kemudian menutup bagian belakang itu dengan kain kaca yang menjuntai ke bawah, dari aksesoris mahkota di kepala Clarisa


"Oke selesai !" Ujar mba itu tersenyum, melihat puas hasil kerjanya.


"Oke mba Clar sisa rapikan make up nya yah, terus mba siap untuk keluar !" ujar mba yang terus mendampingi dia sedari tadi.


Clarisa sudah siap, dengan gaun dan makeup nya.


Kini dia bersiap untuk keluar. Tapi, masih ada masalahnya. Sepatu !

__ADS_1


Clar mencoba memasukkan kaki besarnya ke sepatu kaca yang sudah dia beli.


"Coba paksain aja mba kakinya"


"Sakit mba, sempit banget."


Clar trus berusaha memasukkan kakinya, tapi tidak bisa.


Sementara itu, di luar semua orang sudah mulai gerah.


"Bagaimana pak Ardan apa sudah dihubungi pengantin wanitanya ?" tanya pak penghulu.


"Soalnya sebentar lagi saya ada janji untuk menikahkan 2 pasangan lagi," sambungnya.


Mama Ardan mendekati putranya yang terlihat sangat gelisah sekali.


"Ardan, kita ganti aja Clarisanya. Mama malu kalau pernikahan ini batal. Kamu nikah dengan Vanya aja. Lihat dia ! hari ini terlihat cantik banget. Mau yah !" bujuk mamanya.


Ardan akhirnya duduk di kursi pengantin, siap untuk mengucapkan janji sucinya.


"Mba Clar ! gak usah dipaksain, mba lari aja. Sudah gak ada waktu lagi. Mba sudah terlalu lama disini !"


Akhirnya tanpa berpikir panjang, Clar mengambil langkah kaki seribu, dia berlari dan terus berlari mengangkat gaunnya agar tidak terinjak.


Sedikit lagi dia akan sampai !


"Tunggu aku Ardan !"


Clar trus berlari, dengan badan yang begitu berat, dia terus berusaha untuk sampai di tempat ijab qobul.


Akhirnya dia sampai, dari kejauhan dia melihat, kursi yang harus dia duduki, telah di duduki oleh wanita lain.


Terdengar olehnya suara Ardan yang lantang mengucapkan ijab qobul, tetapi tidak menyebut namanya. Clarisa terperangah mendengar dan melihat yang terjadi di depan mata.


"SAAAHHHH." Teriakan serempak dari para undangan semakin membuat jantungnya ingin keluar dari raganya.


Terlebih lagi dia melihat Ardan memakaikan wanita itu cincin dan mengecup keningnya.


Seketika perasaan Clarisa hancur, dia tidak bisa menerima ini semua. Diapun histeris.


"TIIIDAAAAAAAKKKKK!!!!"


"Clar...Clarr !!! banguuunnn !!" Ardan menepuk-nepuk pipi Clarisa agar segera sadar.


Clarisa seketika bangun dari tidurnya dan melihat sekelilingnya. Dia melihat Ardan di sampingnya, dengan wajah keheranan.


"Clar ! kau baik-baik saja ?" Tanya Ardan.


Clar tidak menjawab, dia memperhatikan baju Ardan. Dia juga melihat dirinya yang tidak memakai gaun.


"Oh ya Tuhan ! berarti tadi mimpi ? Sykurlah !" ucap Clarisa dengan bernafas lega.


"Memangnya kau mimpi apa Clar ?"


"Ardan ! kau serius mau menikahiku ?"


"Iya ! emang kenapa ? Kau perlu bukti yang lain lagi untuk meyakinkanmu kalau aku tidak memanfaatkanmu, aku tulus."


"Eh...tidak...tidak ! tidak perlu aku percaya kok hehehe."


'Berarti aku harus kurus, aku tidak mau mimpiku tadi jadi nyata.' Bathin Clarisa.

__ADS_1


"Clar kau baik-baik saja kan ?"


"Oh iya aku baik saja !"


"Yah sudah kalau begitu, ayo kita ke apartemenku !"


Clarisa membereskan barang-barangnya, kemudian turun ke bawah.


Clarisa pamit pada paman dan bibinya.


"Clar bibi minta maaf ya ! Apa kau tidak ingin tanda tangan di biaya pengobatan bibi di klinik kecantikan."


"Enggak ! Aku sudah memesankan bibi skincare yang bisa mengembalikan wajah bibi kembali glowing." tegas Clarisa, kemudian keluar dari rumah dan masuk ke mobil bersama Ardan.


Didalam mobil, Clarisa masih terus memikirkan mimpinya.


Kini Ardan dan Clarisa sudah sampai di apartemen.


Ardan membantu Clar membawa barang-barangnya.


Setelah meletakkan barang-barang itu di dalam, Clar menyuruh Ardan untuk pulang.


"Oh iya Ardan, apa kau akan masuk sekolah lagi ?"


" Hehehe kau sudah mengetahui aku, jadi mungkin aku akan melihatmu dari jauh saja."


Clarisa sedikit sedih, karena di sekolah nanti dia sendirian. Selama ini hanya Ardan temannya.


"Jangan sedih Nonna ! Aku akan antar jemput kau kemanapun kau pergi." Bujuk Ardan sambil menyentil hidung mancung Clarisa.


Clarisa tersenyum bahagia, Ardan masih ada untuknya.


"Ya sudah kamu pulang ya ! Aku mau istirahat."


"Oke ! " Ardanpun melangkah pergi meninggalkan Clarisa.


Clarisa kembali membereskan barang-barangnya.


Ting !


Tong !


Bel apartemen berbunyi, Clar menghentikan aktivitasnya.


"Apa Ardan melupakan sesuatu disini ?"


Clarisa membuka pintu, nampaklah seorang gadis bertubuh langsing berdiri di depannya.


Gadis itu kemudian membuka kacamata hitamnya dan tersenyum.


"Hai !"


"Cari siapa ya Mba?"


"Cari kamu ! Clarisakan ?"


"Iya, mba siapa ?"


"Saya Vanya tunangan atau lebih tepatnya calon istrinya Ardan."


****

__ADS_1


__ADS_2