
Yudi dan anak buahnya meninggalkan kamar Clarisa. Saat berada di luar kamar, langkah mereka terhenti ketika mendengar dering telfon seseorang berbunyi.
Mereka saling pandang kemudian, pandangan mereka beralih ke kamar.
Clarisa perlahan-lahan keluar dari dalam lemari. Tiba-tiba dia dikagetkan dengan suara hpnya yang berdering.
Dia melihat Ardan memanggilnya, ketika dia mau mengangkatnya Yudi dan anak buahnya sudah berada di depan pintu sambil tertawa lebar.
Clarisa refleks memencet tombol merah, dan menyembunyikan hpnya di belakang badannya.
"Eh bos benar ini anaknya ? Kok beda ya ?" tanya anak buah Yudi yang berkepala botak.
Yudi mengeluarkan foto Clarisa dari saku celananya, dan melihat ke arah Clar dan foto secara bergantian.
"Iya benar ini anaknya ! Wajah sama hanya badan yang beda."
"Kalo dia kurus begini terlihat lebih cantik ya bos heheh." Puji anak buah Yudi yang brewokkan.
"Iya bos jadi sayang mau di bunuh ! Mending ku bawa pulang jadiin bini hahahahah !" si kepala botak berkomentar sambil tertawa lebar.
PLAAAKK !
Seketika tawa sang botak berhenti.
"Kalau ketawa itu jangan lebar-lebar! Hawa mulut kamu ke muka saya semua !" Hardik Yudi.
"Ma..maaf bos !" ucap si botak sambil memegang pipinya yang panas.
"Sekarang cepat tangkap gadis itu !" perintah Yudi.
Kedua anak buah Yudi segera menangkap Clarisa, mereka memegang ke dua tangan Clar.
"Bawa dia !"
"Lepaskan !Lepaaass!" Clarisa berteriak dan berusaha berontak untuk lepas dari cengkraman tangan anak buah Yudi.
Clarisa tiba-tiba menggigit tangan si botak dengan kuat, alhasil cengkraman si botak terlepas.
Kemudian dia menendang bagian bawah si brewok.
"Aduuuhhh, haabiis masa depan junior gue!" Jerit si Brewok sambil jingkrak-jingkrak dan memegang bagian bawahnya.
Kesempatan itu, Clarisa ambil untuk melarikan diri. Tetapi Yudi mengejarnya.
Clarisa berlari turun ke bawah. Saat melewati ruang tengah, Clarisa mengambil vas bunga di meja, dan melempar ke arah Yudi.
Vas bunga itu mengenai tepat di kepala Yudi, membuat Yudi sempat oleng. Clarisa berlari ke arah dapur dan bersembunyi di bawah meja makan.
Untungnya taplak meja itu panjang, sehingga bagian kolong mejanya tidak terlihat.
Yudi mencari ke dapur, ke halaman belakang, dia tidak menemukan Clarisa.
"Bre****k !" maki Yudi frustasi karena kehilangan jejak Clarisa.
Clarisa melihat kaki Yudi yang kembali melangkah ke arah depan.
__ADS_1
Clarisa dengan hati-hati keluar dari kolong meja itu, dan berlari ke halaman belakang. Dia melihat tempat persembunyian yang aman. Dia pun segera berlari ke sana.
Saat tiba di depan rumah Clarisa, Ardan melihat beberapa orang berjaga di pintu gerbang.
Diapun maju dan adu jotos dengan preman-preman bayaran itu.
Tidak butuh waktu yang lama untuk melumpuhkan mereka. Ardan segera berlari masuk ke dalam.
Di ruang tengah Ardan bertemu dengan si botak dan si brewok.
Ardan segera melumpuhkan ke dua anak buah Yudi.
Yudi tiba-tiba menerjang Ardan dengan tendangannya dari arah belakang.
Seketika Ardan jatuh tersungkur ke depan. Dia kemudian bangun dan berdiri siap untuk membalas serangan.
"Yudi ?!" Ardan kaget melihat lawan dia adalah teman kecilnya, yang sekarang sudah berbeda jalan dengannya.
"Hahaha, kaget ?"
"Ku pikir kau sudah insyaf keluar dari penjara kemaren ! aku pastikan kali ini hukumanmu lebih berat Yudi."
"Sebelum itu terjadi, aku yang akan menghukummu dulu Ardan. Bersiaplah untuk ke neraka !"
Yudi segera melakukan terjangan ke arah Ardan. Ardan menangkis serangan bertubi-tubi Yudi. Sampai akhirnya !
BUUUGGH !
Satu tendangan super dari Ardan mendarat di rahang Yudi, membuat pria bertato mawar berakar bulu ketek itu jatuh tersungkur.
Ardan dan Yudi kembali saling serang, Yudi kembali terjatuh ketika Ardan memberikan pukulan dari sikunya ke wajah teman kecilnya itu.
"Bos kalah meluluh, ayo kita bantu !" ajak si brewok ke temannya yang botak.
Saat Yudi masih mengumpulkan tenaganya lagi, ke dua anak buahnya menyerang Ardan.
Namun, hanya sekali tendang saja, Ardan mampu melumpuhkan ke duanya.
Kedua preman itu jatuh menindih badan bos mereka.
"Br****k" umpat Yudi pada dua anak buahnya.
"Cepat bangun ! kalian itu berat !"
"Ma...maaf bos."
Yudi kembali memasang kuda-kudanya, bersiap untuk menyerang lagi.
Tetapi terlambat, polisi melakukan tembakan ke atas, memberi peringatan pada Yudi dan anak buahnya, untuk menyerah. Ketiga penjahat itupun berhasil ditangkap.
"Pak Ardan apa anda baik-baik saja ?" tanya salah seorang petugas kepolisian.
"Iya aku baik-baik saja. Makasih ya pak, kalian cepat datang."
"Apa masih ada yang bisa kami bantu pak ?"
__ADS_1
"Sudah tidak ada, Makasih ya pak !"
Para polisi membawa gerombolan penjahat itu ke kantor.
Saat di perjalanan kemari Ardan menelfon kantor polisi termpatnya bertugas.
Ardan segera berlari ke kamar Clarisa.
"Claar ! Ini aku Ardan keluarlah !"
Tidak ada jawaban, Ardan masuk ke dalam kamar Clarisa. Dia melihat catatan diatas meja belajarnya. Dia mengambilnya dan membacanya.
' Ardan ! Dia adalah malaikat pelindungku.
Aku tidak mengerti kenapa dia jatuh cinta padaku, pada gadis berbadan gendut seperti ku. Aku tak paham, kenapa dia bisa menyayangiku. Padahal di luar sana, banyak wanita berbadan langsing dan cantik yang lebih pantas dia cintai dan sayangi.'
'Hari ini aku senang sekali, berat badanku turun lagi. Aku jadi percaya diri untuk jalan dengan Ardan.'
' Ya Tuhan ! makhluk ciptaanmu yang bernama Ardan hari ini begitu mempesona, ketika dia memayungi aku tadi pagi. Tatapannya tembus ke relung hati. Ardan I love u'
Ardan tersenyum membaca tulisan-tulisan di lembaran buku catatan Clar. Dia membuka lembaran berikutnya, tidak ada yang menarik. Sampai akhirnya dia sampai di lembaran yang membuat dia ingin membacanya.
'Ardan mengajakku menikah ? Sepertinya itu tidak mungkin. Tapi Ardan meyakinkanku. Haruskah aku percaya ? Bagaimana kalau suatu hari dia hanya mempermainkanku ? Bagaimana kalau apa yang dikatakan Vanya dulu benar, kalau hanya Vanya yang akan dinikahinya ?'
Ardan seketika teringat janjinya pada Vanya di saat dia membujuk Vanya untuk tidak bunuh diri.
Ardan memotret tulisan Clarisa di lembaran pertama tadi. kemudian dia menyimpan kembali buku itu di atas meja.
Dia turun ke bawah, mencoba mencari Clarisa.
"Cllaaar ! kau dimana ? Keluarlah, penjahatnya sudah tertangkap !" teriak Ardan di setiap ruangan yang dia datangi.
Ardan menajamkan telinganya, dia seperti mendengar suara Clar memanggilnya.
Dia berjalan ke arah belakang, suara Clar semakin jelas memanggilnya.
"Cllaar kau dimana ?"
"Ardaaann aku disini !"
Ardan melihat di sekeliling, suara Clar terdengar dekat. Tapi, dimana?
"Ardan aku disini !"
" Kamu dimana Clar ?"
"Di atas pohon hiks..hika..hiks..!"
Ardan segera melihat ke atas pohon tempat dia berdiri sekarang. Nampak Clarisa duduk di batang pohon sambil menangis.
"Ya ampuuun Claaaar !!!"
"Ardaaannn aku tadi bisa naik, tapi gak bisa turuuun ! Hiks..hiks..hiks.."
Ardan menepuk jidatnya, "Claar...claar."
__ADS_1