Si Gendut Itu Aku !

Si Gendut Itu Aku !
Pulang


__ADS_3

"Dia siapa Clar ?" tanya Vanya sekali lagi.


"Dia murid baru di kelasku, dia duduk sebangku denganku. Tapi aku lupa namanya."


"Tidak apa-apa Ardan, setidaknya dia mengenalmu " bisik Vanya.


"Iya Ardan, dokterkan juga bilang. Pelan-pelan kita harus sabar " sambung pak Damar.


Ardan tersenyum kecut, namun dalam hatinya bersyukur. Meskipun Clarisa tidak mengenalnya yang penting dia tidak pergi selamanya.


"Ma ! aku haus " ucap Clarisa.


Bu Rani mengambilkan segelas air putih dan memberikan pada Clarisa.


Bu Rani membelai lembut rambut Clarisa dan tersenyum melihat putrinya sedang minum.


"Tante Rani, aku dan papa pulang dulu ya. Nanti besok kita kemari lagi " pamit Vanya.


"Oh iya, makasih ya Vanya sudah mau datang . Tante senang sekali " kata bu Rani tersenyum. Kemudian dia memeluk Vanya.


"Iya tante, sudah seharusnya seperti itukan. Kan tidak lama lagi kita akan jadi satu keluarga " ucap Vanya tersenyum.


Sedang bu Rani melirik pak Damar kemudian tersenyum malu.


Setelah Vanya dan pak Damar berpamitan pada Clarisa. Bu Rani mengantar mereka ke depan rumah sakit. Hal ini bu Rani lakukan agar Ardan bisa bicara berdua dengan Clarisa.


Ardan memandang sayu ke arah Clarisa, dia mencoba mendekati istrinya.


"Clar ! "


Clarisa berbalik dan melihat datar pada Ardan "kau masih di sini ? kau tidak pulang ?"


Ardan menggeleng, " aku akan menjagamu di sini ."


"Kenapa kau menjagaku ? kau tidak di cari orang tuamu nanti ? Pulanglah aku sudah tidak apa-apa."


"Nggak ! aku akan tetap menjagamu."


" Kau ini keras kepala. Ya sudah terserah kau saja. Kalau begitu aku boleh minta tolong ?"


Ardan tersenyum mendengar kata-kata Clarisa dan dia mengangguk " kamu ingin apa ?"


"Aku ingin tidur tapi mataku susah sekali ku pejamkan. Kau nyanyikan aku lagu ya sampai aku tertidur " pinta Clarisa.


"Nyanyi ? lagu apa ?"


"Terserah !"


"Baiklah ! eheemm.." Ardan mulai mengatur nafasnya kemudian dia bernyanyi.


Baru beberapa bait lagu di nyanyikan Clarisa tertawa.


"Hahahaha, suaramu jelek sekali. Sudah gak usah nyanyi, aku hanya tertawa terus mendengar kau nyanyi. "


Ardan tersenyum bahagia melihat tawa Clarisa, ingin rasanya dia mencium dan memeluk rindu istri kecilnya. Tapi sayang Clarisa tidak mengenal dia sebagai suami, melainkan sebatas teman sebangku di kelas.


"Mmm, namamu tadi siapa ?"


"Ardan."


"Ardan, nama yang bagus seperti wajahmu yang tampan. Beruntung sekali gadis yang di cintai laki-laki setampan dirimu heheheh " puji Clarisa sambil tertawa kecil.

__ADS_1


Gadis itu kau Clarisa Ameera Putri, gumam Ardan dalam hati.


Ardan tersenyum dan tanpa sadar membelai sayang rambut Clarisa.


Tiba-tiba Clarisa merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya. Dia meringis kesakitan sambil memegang kepalanya.


"Aww...saa..kiit !"


Ardan segera memencet tombol merah, dia berusaha menenangkan Clarisa.


"Claar tahan sebentar ya, dokternya sebentar lagi datang " ucap Ardan panik.


"Saa...kiiit !" teriak Clarisa.


Tidak lama dokter datang, Ardan memberi ruang pada dokter untuk memeriksa Clarisa.


Bu Rani masuk dan khawatir melihat ada dokter yang masuk memeriksa Clarisa.


"Ada apa Ardan ? Clarisa tdk kenapa-napa kan ?" tanya bu Rani khawatir.


"Clarisa tiba-tiba sakit kepala ma. Semoga dia tidak kenapa-napa " jawab Ardan.


Selesai memeriksa, dokter menghampiri Ardan dan bu Rani.


"Pak, bu ! saat ini pasien jangan terlalu diajak cerita dulu, dan jangan paksa dia untuk mengingat semuanya. Sebab itu akan mengakibatkan pasien akan mengalami sakit kepala yang hebat. Bahkan pasien bisa kritis kembali " tutur sang dokter.


"Baik dok !"


"Kalau begitu saya tinggal dulu, permisi !"


Setelah dokter pergi, bu Rani dan Ardan mendekati ranjang Clarisa. Nampak gadis itu sudah terlelap kembali.


Bu Rani mengangguk, dan melangkah ke sofa. Dia merebahkan dirinya ke atas sofa yang empuk.


Triiing !


1 pesan masuk ke hp bu Rani. Bu Rani mengambilnya dan melihat 1 chat di aplikasi hijaunya. Dia tersenyum ketika membaca nama pengirim 'pak Damar'.


(Sayang jangan lupa istirahat ya ! ) pak Damar


Bu Rani kemudian membalasnya, selama beberapa menit mereka saling berkirim pesan. Tanpa di sadari oleh bu Rani, Ardan memperhatikan mamanya.


"Ckckckc...luar biasa pesona seorang Damar Dewantoro sampe membuat nyonya Rani Andriani tersenyum-senyum sendiri ckckckc " goda Ardan sambil dia geleng-geleng kepala.


Seketika senyum di wajah bu Rani hilang. Buru-buru dia letakkan hp nya. Kemudian memejamkan matanya.


Ardanpun terlelap di samping ranjang Clarisa.


Pagi menyapa, Clarisa membuka matanya perlahan. Dia kaget ketika merasakan sebuah tangan kekar tengah berada di atas perutnya.


Dia menggoyang-goyangkan tangan itu, Ardan perlahan terbangun. Dia mengangkat wajahnya melihat Clarisa yang saat ini sedang menatapnya.


"Kau masih disini ?" tanya Clarisa.


" Hmmm...iya. Kan sudah kubilang aku akan menjagamu."


"Tapi itu tidak perlu, kau bukan siapa-siapaku. Kau hanya teman sebangku ku."


Ardan hanya diam mendengar penolakan Clarisa.


"Kenapa kau mau menjagaku ? Bukannya kau tidak suka denganku?"

__ADS_1


Ardan mengernyitkan keningnya. Clarisa menghela nafas.


"Kemaren kan kau menolak bunga dariku. Padahal itukan cuma bunga persahabatan. Aku sadar kau tidak mungkin menyukai gadis gendut sepertiku. Tapi aku hanya ingin berteman denganmu, sekaligus mengucapkan terima kasih kau sudah membelaku waktu aku dibully anak-anak."


Ardan kemudian teringat saat pertama kali dia masuk di sekolah itu untuk menyamar, dia kesal sekali merasa di kerjai oleh pak Damar. Dia tidak berkata kalau saksi kunci itu seorang gadis gendut.


Clarisa sangat menyukainya, tapi Ardan selalu cuek. Ardan ingat saat itu, Clarisa memberikan dia buket bunga saat di depan kelas. Ardan merasa malu, dia mengambil bunga itu kemudian membuangnya ke tong sampah.


Saat itu memang Ardan merasa malu untuk dekat dengan Clarisa, namun lambat laun melihat Clar yang selalu di bully karena badannya yang gendut, muncul rasa iba terhadap gadis itu.


Ardanpun mencoba mendekati Clarisa, dan ternyata tanpa Ardan duga Clarisa membuat dia nyaman. Sejak saat itu, Ardan tidak pernah malu selalu bersama dengan Clar. Bahkan Ardanpun mulai menyayangi sigadis gendut itu.


Ardan sedih, ternyata Clarisa hanya mengingat kenangan buruk saat bersama dengan dia.


Sejak saat itu, Clarisa selalu menyuruh Ardan pergi, tapi Ardan tidak pernah mau meninggalkan dia.


Beberapa minggu kemudian Clarisa diperbolehkan pulang.


Saat tiba di rumah, Clarisa memandangi halaman rumah yang terasa asing buat dia.


"Ayo nak !" ajak bu Rani.


Saat masuk ke dalam rumah, Clarisa melihat sekeliling rumah itu.


"Ini bukan rumahku !"


Bu Rani dan Ardan kaget dan saling pandang.


"Sayaang ini rumah kamu, ayo mama antar ke kamar !"


Clarisa melihat bu Rani intens, kemudian dia menggeleng dan perlahan mundur. Dia memejamkan matanya, muncullah bayang-bayangan bu Herni, pak Adam dan Nadia yang sedang makan di meja makan, "Clarisaa ayo makan yang banyak, semua makanan ini bibi masakan buatmu, jangan takut gendut. Daripada kamu kurus nanti sakit hahahah."


"Terima kasih bi." Clarisa mulai makan dan tertawa.


Clarisa seketika membuka matanya dan luruh jatuh ke sofa.


"Clar ! kamu gak apa-apa nak ? ayo mama antar ke kamar, istrihat di kamar " ajak bu Rani.


Bu Rani mengantar Clarisa masuk ke dalam kamar.


Saat pintu kamar terbuka, Clarisa menyapu pandangannya ke tiap sudut-sudut kamar.


Dia mulai memejamkan matanya kembali, dia memegang kepalanya dengan ke dua tangannya, meremas rambutnya. Sekilas muncul bayangan, saat Ardan menggelitiknya di tempat tidur.


"Maass gelii...hentikan...nanti akan aku balas hahahahha."


"Ayo balas kalau berani hahahah."


Clarisapun luruh ke lantai.


"Claaarrr !"


...***...


Hai...haiii....🥰🥰🥰🥰


JANGAN LUPA HADIAHNYA YA...


LIKE, COMMENT DAN VOTENYA...


TERIMAKASIH SEMUA.😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2