
Bu Rani bergidik ngeri, ketika dia salah memeluk anaknya.
"Kenapa gak bilang daritadi kamu di sini Ardan ?"
"Ya mana aku tau mama datang. Tau-taunya mama udah nangis peluk tuh mayat." Terang Ardan.
"Bagaimana ceritanya kau bisa begini Ardan ?"
"Mobil kami di hadang penjahat ma, aku sempat melawan. Tapi yah namanya musibah, aku tidak melihat salah seorang dari mereka memakai pisau untuk menyerangku."
"Mama sudah berpikir macam-macam tadi waktu Clarisa menelfon. Mama takut banget nak."
"Aku gak apa-apa ma ! Oh iya sayang, aku minta maaf ya, belum bisa ngantar kamu ke tempat karantina." ucap Ardan yang mengalihkan pandangannya ke Clarisa.
"Iya mas gak apa-apa. Aku gak mau masuk karantina. Aku akan disini temani kamu."
"Aku ini tidak apa-apa Clar. Sebaiknya kau tetap ikut. Dua hari lagi aku pasti akan pulang."
"Iya nak, kau tidak usah khawatir, ada mama nanti Biar mama yang jaga ya." Ucap Bu Rani tersenyum.
"Makasih ma."
"Permisi ! Bagaimana pak Ardan ? Kita pindahkan diruang rawat ya."
Tiba-tiba dokter cantik itu masuk lagi, dia memberitahu kan agar Ardan dipindahkan ke ruang rawat.
Dia tersenyum manis sekali saat berbicara dengan Ardan, Clarisa seperti merasakan sesuatu yang tidak enak di hatinya.
"Gita ya ?" Tanya Bu Rani ketika melihat dokter itu.
"Ya ampuun ! tante Rani ? apa kabar tante ?" tanya dokter Gita yang langsung menyalami mama mertua Clarisa.
"Alhamdulillah kabar tante baik, mama kamu gimana ?" Tanya bu Rani balik.
"Alhamdulillah baik tante. Aku tadi kaget lihat Ardan datang dengan banyak darah."
"Kamu sudah lama kerja di rumah sakit ini ?"
"Iya tante sudah cukup lama."
"Tante pikir, setelah putus dari Ardan kamu sudah gak di indonesia, kamu akan tinggal di singapura. Lama gak ketemu, kamu tambah cantik heheh." puji bu Rani
Clarisa melihat aura malu-malu di wajah cantik dokter Gita. Ketika mama mertuanya memujinya dan Ardan tersenyum padanya.
'Putus ? berarti dokter cantik ini mantannya mas Ardan ? kemaren Vanya, sekarang dokter Gita.' Gumam Clar dalam hati.
Dokter Gita mengalihkan pandangannya ke Clarisa, "Kalo gadis ini keluarga tante juga?"
"Oh iya dia ini me..."
"Adik sepupunya kak Ardan, aku Clarisa." potong Clarisa cepat. Membuat mama dan Ardan nampak heran dengan pengakuan Clar, yang mengatakan dia adik sepupu dari Ardan bukan istri.
"Oh hehehe, masih sekolah ya ? "
__ADS_1
"Iya mba dokter kelas 2 SMA."
Ardan hendak meralat pengakuan Clarisa tadi, tapi Clarisa lebih dulu memotongnya.
"Maas.. ! tante, aku pergi dulu ya. Taksi online ku sudah di depan." pamit Clarisa sambil mencium punggung tangan Ardan dan mama Rani, kemudian dia pun berlalu.
Ardan terus menatap punggung istrinya sampai hilang di balik pintu.
'Ada apa dengannya ? apa dia cemburu ?' Gumam Ardan dalam hati.
Clarisa terus berjalan, pandangannya kabur karena embun air matanya yang sebentar lagi jatuh.
Dia kemudian berhenti di taman rumah sakit, dia duduk sejenak untuk menetralkan hatinya.
Airmatanya yang sedari tadi dia tahan luruh juga.
"Aku ini kenapa sih begitu aja nangis ? dasar lebay ! cemburu gak beralasan hehehe." Clarisa mencoba tertawa dan menghapus airmatanya.
Ting !
1 pesan masuk. Clarisa merogoh kantong celananya dan mengambil hpnya. Melihat si pengirim pesan.
"Mas Ardan ?"
" Gita hanyalah masalaluku. Sedang kamu adalah masa depanku. Tidak usah berpikir macam-macam ya. I love u Clar."
Clarisa tersenyum membacanya.
"Mas Ardan paling pintar menebak apa yang selalu aku rasakan. I love u too mas."Clarisa berbicara sendiri. Dia kemudian membalas pesan suaminya.
Clarisa menyimpan kembali handphone nya. Dia menghampiri taksi onlinenya yang sudah menunggunya.
Sementara di dalam rumah sakit, Ardan tersenyum membaca chat balasan dari istrinya.
30 menit kemudian, Clarisa akhirnya sampai di tempat karantina school idol. Sebuah bangunan berlantai dua.
Clarisa masuk ke dalam, dia menunjukkan kartu toptennya pada satpam yang berjaga di depan, sebagai tanda pengenal kalau dia adalah salah satu peserta.
Ternyata semua peserta sudah berkumpul di ruang utama dari bangunan megah ini.
Sebelum masuk ke kamar, mereka akan mendengarkan pengarahan dari ibu kos.
Clarisa melihat Nadia yang duduk di seberangnya, netra keduanya bertemu. Namun tetap saja Nadia menatap tidak suka pada sepupunya itu.
"Selamat datang kepada para adik-adik peserta school idol. Perkenalkan saya ibu Tami, saya yang akan menjadi ibu kos kalian selama masa karantina ini berlangsung. Kalian akan mengisi hari libur panjang kalian di sini." ucap ibu Tami selaku ibu kos mereka.
"Setiap malam minggu kalian akan tampil. Jadi selama 6 hari kalian harus terus berlatih," lanjutnya.
"Di dalam kamar kalian sudah ada jadwal kegiatan kalian setiap harinya. Saya harap kalian bisa melaksanakan tugas kalian sesuai dengan di jadwal. Oke anak-anak ?"
"Okee buu !" jawab mereka kompak.
"Dalam 1 kamar akan ada dua anak. Jadi, saya harap kalian bisa menjadi partner atau teman sekamar yang baik." Jelas bu Tami kepada anak-anak kosnya.
__ADS_1
Kemudian bu Tami membagi ke sepuluh anak itu pada 5 kamar.
Clarisa cemas kalau-kalau dia sekamar dengan Nadia. Tapi ternyata dia tidak sekamar dengan sepupunya itu.
Setelah pembagian kamar, mereka di beri kesempatan untuk beristirahat dan bertemu kembali di meja makan pukul 12 siang.
Clarisa masuk ke dalam kamarnya, dia sekamar dengan Meylani anak kelas 2B di sekolahnya.
"Hai ! aku Meylani." Sapa gadis berwajah oriental itu yang mengulurkan tangannya.
Clarisa membalas uluran tangan Meylani, "aku Clarisa !"
"Iya aku tau kau Clarisa, kalau tidak salah dulu kau gendutkan ? tapi sekarang kau terlihat lebih montok, tidak gendut dan tidak kurus, bagus !" ucapnya.
Clarisa jadi teringat ucapan Ardan tadi, sedetik kemudian Clarisa tersenyum sendiri.
"Oh iya Clar, kalo gak salah kau punya sahabat laki-laki namanya Ardan. Sudah lama aku gak melihatnya, dimana ya dia sekarang?" tanya Meylani.
"Emangnya kenapa ?"
"Ya gak kenapa-kenapa sih Clar. Cuma pengen tau aja."
"Kalau sudah tau dia dimana, terus kamu mau ngapain lagi ?" tanya Clar sewot.
Belum hilang rasa cemburunya dengan dokter Gita, sekarang Meylani akan menambah daftar panjang wanita yang membuat hati Clarisa panas.
"Memangnya kamu tau dia dimana ?" tanya Meylani dengan mata berbinar.
Clarisa bisa melihat dari mata teman sekamarnya itu, kalau dia menyukai suaminya.
"Yang aku tau dia sudah nikah."
"Whaat ?! Nikah ? Sama siapa ? terus kamu tau dari mana ?"
Meylani menghujani Clarisa dengan pertanyaan.
"Pastinya dia menikah dengan perempuan, bukan dengan laki-laki." Jawab Clarisa santai kemudian dia berlalu keluar kamar.
"Iihhh Clarisaa, aku nanyanya serius malah di candaiin." Gerutu Meylani dengan bibir monyongnya.
Clarisa ingin pergi ke dapur. Dia merasa haus sekali. Saat di dapur, sayup-sayup dia mendengar ada seseorang yang sedang menelfon.
Dia berjalan pelan-pelan, ke arah sumber suara. Dia mengintip dari balik pintu, ternyata itu sepupunya, Nadia.
"Obat itu ku tinggal dirumah. Bukannya semalam aku sudah memberikanya pada papi ? Pak Hermawan jugakan sudah setuju, kalau aku tidak akan melakukannya."
'Pak Hermawan ? Siapa dia ? Nadia akan melakukan apa ?' Clarisa mencoba menerka-nerka.
"Kita pakai rencana B aja pi, mi. Nadia yakin rencana itu berhasil."
'Rencana B ? rencana apa itu ?'
Clarisa teringat pesan Ardan tadi pagi saat dimobil, bahwa dia harus terus waspada terhadap Nadia.
__ADS_1
Seketika lutut Clarisa gemetar, memikirkan rencana B Nadia dan orang tuanya.
"Ya Tuhan tolong aku !" Bathin Clarisa kemudian pelan-pelan meninggalkan pantry.