
Clarisa berjalan pulang dengan hati berbunga-bunga. Bagaimana tidak ? Ardan sudah berjanji untuk selalu menjaganya.
Clarisa tidak ingin kecewa berlama-lama dengan Ardan, sebab dia ingin cerita ini harus berakhir bahagia.
Sepanjang jalan pulang ke rumah, dia terus bersenandung. Seandainya ini film india, mungkin saat ini Clarisa tengah bernyanyi, sambil bergoyang-goyang, berputar-putar memainkan selendang.
"Sebentar lagi cerita ini berakhir, tampil langsing dengan suara yang memukau di school idol, menikah dengan pria yang mencintaiku apa adanya, paman dan bibi akan ku usir dari rumah, dan Boooom !!! Aku akan kembali ke dunia Airin ?" Jelas Clarisa pada dirinya sendiri.
Dia kemudian bersenandung, sambil berputar -putar dengan merentangkan tangannya, menengadahkan wajahnya ke atas, seolah-olah sedang menikmati indahnya cinta.
Tiba -tiba !
BUUUGH !!!
Saking menikmati putarannya, dia menabrak pohon gede.
Satu benjolan besar tercipta sempurna di jidatnya.
"Aaawww !!! Sakitt !!" Jeritnya sambil memegang keningnya, bekas dicium pohon.
Clarisa menoleh kanan kiri dan sekelilingnya, memastikan tidak ada yang melihat hal bodoh yang dia lakukan.
Dia bernafas lega, kemudian berjalan kembali tanpa senandung dan jogetan.
Tiba - tiba dia teringat sesuatu, seketika wajahnya berubah murung.
"Jika semuanya sudah selesai, aku akan kembali ke dunia Airin. Itu artinya, aku tidak akan pernah bertemu dengan Ardan lagi."
Ardan memasuki halaman rumah pak Damar. Bi Minah yang menunggunya sedari tadi di depan rumah, langsung mengantarnya ke kamar majikannya.
"Pak Damar !" Seru Ardan.
"Ardan ! Syukurlah kau sudah datang. Vanya mengurung diri terus di kamar dari kemarin Ardan. Dan hanya kau yang bisa membujuknya, karena dia mengancam akan bunuh diri !" Pak Damar berujar dengan wajah cemas dan memohon pada pria di depannya.
Ardan terkejut mendengar penuturan pak Damar.
Sebenarnya Ardan sudah tidak ingin lagi berhubungan dengan Vanya. Kalau bukan atasannya yang minta, Ardan tidak ingin meladeni gadis itu.
Dengan hati yang berat Ardan pun mengetuk pintu kamar Vanya dan berusaha membujuknya.
Tok..tok!!!
Tok..tok!!!
"Vanya ! ini aku Ardan ! Kau dengar akukan ? Sekarang keluar ya !"
Tak ada jawaban dari dalam. Pak Damar mencoba memanggil putrinya lagi.
"Vanyaa ! Nak ! kau baik-baik saja ? kau dengar ayahkan ? Disini ada Ardan, kita bicarakan semuanya baik-baik ya !"
Hasilnya sama, Vanya tidak menyaut dari dalam.
"Tuan dobrak saja pintunya ! perasaan bibi tidak enak tuan !" Saran si bibi dengan raut wajah cemas.
Ardapun langsung melakukan saran bi Minah. Dia mendobrak pintu kamar Vanya.
Braakkk !!!
Pintu kamar berhasil di dobrak. Ardan, pak Damar dan bi Minah terperanjat melihat pemandangan di depan mata.
__ADS_1
"VANYAAAAA!!!" teriak mereka bersamaan.
Tubuh Vanya tergantung, Ardan segera menopang kaki Vanya dan menahannya.
"Pak Damar cepat potong talinya !!!" teriak Ardan yang mencoba menahan beban tubuh Vanya.
Pak Damar segera mengambil gunting di laci, dan memotong tali yang menjerat leher putrinya.
Seketika Ardan segera menangkap tubuh Vanya, yang hampir terjatuh ke lantai.
Ardan segera mengangkat dan membaringkan tubuh Vanya di tempat tidur. Kemudian dia berdiri untuk memberi ruang pada pak Damar mendekati putrinya.
Pak Damar segera duduk di samping putrinya, sambil menepuk-nepuk pipinya pelan agar sadar.
"Vanya, bangun nak !"
Vanya membuka matanya perlahan, dia merasakan sakit di bagian lehernya, akibat terjerat tali beberapa menit tadi.
"Kenapa kau melakukan ini Vanya, kita kan bisa bicara baik-baik." tanya pak Damar pada putrinya.
Vanya hanya menangis. Ardan merasa ayah dan anak ini perlu berbicara berdua saja. Diapun berniat untuk pamit.
"Pak Damar, kalau begitu aku pamit pulang dulu."
"Ardan jangan pulang dulu ! aku mau kamu di sini !" ucap Vanya menahan Ardan.
Ardan merasa berat sekali untuk tetap di sini. Namun, rasa ibanya terhadap putri pak Damar. Membuat dia mengikuti kata-kata Vanya.
"Ardan maafkan aku ya! Aku menyesal sudah melakukan hal itu." Lirih Vanya dengan menampakkan wajah penyesalannya.
Pak Damar membiarkan putrinya bicara berdua dengan Ardan, sehingga dia memberi ruang untuk mereka.
"Kalian bicaralah berdua, ayah keluar dulu."
Ardan merasa risih berada di kamar berdua dengan Vanya. Sehingga dia memilih untuk tetap berdiri.
"Ardan, kamu maukan memaafkanku ?" Vanya mencoba bangun dan meraih tangan Ardan.
Ardan segera menepisnya, "Vanya kau sebaiknya istrahat. Untuk masalah itu aku sudah memaafkanmu. Lagian aku juga sudah berbaikan lagi dengan Clarisa."
Mendengar penuturan Ardan, Vanya semakin frustasi.
"Ardan, aku mencintaimu. Aku akan melakukan apa pun agar kau menjadi milikku."
"Vanya, stop ! berhenti untuk memaksakan kehendakmu. Jadilah wanita yang baik, dengan begitu akan ada pria baik yang akan mencintaimu."
"Tapi aku mau itu kamu Ardan ! Bukan pria lain !"
"Vanya, beristirahatlah ! Aku pulang dulu."
Ardanpun hendak meninggalkan kamar itu, namun langkahnya terhenti ketika Vanya memanggilnya kembali.
"Ardan ! jika aku tidak bisa menikah denganmu, lebih baik aku mati !" Seketika Vanya melukai pergelangan tangannya dengan pisau yang sudah dia siapkan.
Melihat itu Ardan segera berlari ke arah Vanya, "apa yang kau lakukan ? kenapa kau bodoh seperti ini ?".
"Karena aku mencintaimu." Jawab Vanya dengan suara pelan dan lirih, kemudian mata nya tertutup.
Ardan menyobek sarung bantal kemudian melilitkannya dipergelangan tangan Vanya yang terluka, agar darah bisa berhenti keluar.
__ADS_1
Diapun segera mengangkat tubuh Vanya keluar.
"PAK DAMAAR !" teriak Ardan memanggil ayah Vanya.
Pak Damar keluar dari kamar dan kaget melihat pergelangan tangan Vanya yang penuh darah.
"Apa yang terjadi Ardan ? Apa yang sudah kau katakan pada putriku sampai dia nekat seperti ini ?"
Ardan tidak mengindahkannya, dia terus berjalan membawa tubuh Vanya ke dalam mobil dan bergegas ke rumah sakit.
Pak Damar segera masuk ke dalam mobil dan memangku kepala Vanya.
Ardan melajukan mobilnya ke rumah sakit, sementara pak Damar terisak sambil memegang pipi putrinya.
"Kenapa kau lakukan ini nak ? Hiks...hiks.."
Sampai di rumah sakit, Ardan segera membaringkan tubuh Vanya, di atas brankar dan bersama suster membawanya ke ruang UGD.
Ardan dan pak Damar menunggu di luar. Pak Damar terlihat sangat frustasi. Keduanya saling diam sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sejam kemudian, dokter keluar. Pak Damar dan Ardan segera mendekati pria berjas putih itu.
"Keluarga pasien ?"
"Iya dok, saya ayahnya ! Bagaimana putri saya dok ?"
"Kondisi pasien sangat lemah, akibat mengeluarkan darah yang banyak. Sekarang pasien masih tertidur, biarkan dia istirahat. Sebaiknya Bapak segera mengurus administrasinya, agar suster bisa memindahkan pasien ke kamar rawat."
"Pak ! biar aku urus administrasinya, sebaiknya Bapak menemani Vanya."
Pak Damar mengangguk dan meminta izin pada dokter untuk masuk ke dalam.
Setelah mengurus semua adiminstrasi termasuk kamar rawat. Vanya segera di pindahkan.
"Ardan ! jangan pulang dulu ya. Saya tau kau tidak mencintai anak saya. Tapi tolong kali ini kau mau menemani dia." pinta Pak Damar.
Ardanpun mengangguk mengiyakan. Pak Damar senang melihat anggukan Ardan.
Tidak berapa lama, Vanya sadarkan diri. Dia membuka matanya perlahan-lahan, tersenyum ketika melihat Ardan orang pertama yang dia liat.
"Ardan ? Kau masih di sini ?"
Ardan hanya mengangguk, dia masih tetap bersikap dingin.
Tidak berapa lama Ardan pun pamit. Vanya merasa sedih melihat Ardan pulang. Bahkan sedari tadi Ardan bersamanya, tidak sedikitpun Ardan tersenyum menghiburnya.
'Ardan, aku akan dapatkan kau. Tidak akan ku biarkan usaha untuk melukai diriku ini gagal.' Bathin Vanya.
Sampai di rumah, Ardan teringat jika Clarisa akan memberi kabar kalau sudah sampai di rumah.
Benar saja gadis itu mengirim pesan kalau dia sudah sampai di rumah. Ardan tersenyum membaca pesan dari gadis gendutnya.
Ardan menarik nafas panjang, Rindu ! satu kata yang dia rasakan saat ini.
Teringat olehnya saat pertama kali, masuk ke dalam sekolah itu untuk menyamar menjalankan tugas menjaga Clar.
Dia nampak syok karena, bukan gadis bertubuh langsing yang akan dia jaga, melainkan gadis dengan kelebihan berat badan.
Namun siapa yang sangka ? keseharian yang dia jalani bersama Clarisa, berawal dari sahabat mampu menumbuhkan sebuah benih cinta di hati Ardan. Dia sudah tidak hanya menyayangi tapi juga mencintai Clarisa.
__ADS_1
Ardan tidak mementingkan lagi fisik Clarisa, yang dia suka dari gadis itu kenyamanan. Dia merasa nyaman berada di samping gadis itu. Bahkan sampai sekarang Ardan sudah di buat bucin oleh Clarisa.
Hadeww,,,