
"Clarisa ! kau belum puas memfitnahku ?" tanya Nadia dengan berlinang air mata.
"Fitnah ? mungkin kemaren aku gak punya bukti. Tapi hari ini akan aku buktikan kalau kau selama ini curang."
Clarisa merampas microphone dari tangan Nadia.
"Kalian semua lihat ini adalah kartu chip ! Didalam kartu chip ini, ada rekaman suara dari Erika salah satu teman Nadia. Setiap minggunya, Erika akan memberikan hasil rekaman suara pada Nadia. Nadia kemudian memasukkan kartu chip ini di micnya, seperti ini." Terang Clarisa sambil memasukkan kartu chip itu ke dalam microphone milik Nadia.
"Setelah kartu chip ini terpasang, Nadia tinggal mengklik tombol on, kemudian dia akan membuka mulutnya, mengikuti suara rekaman itu, jadinya dia terlihat seperti bernyanyi. Silahkan kalian dengarkan ini !"
Clarisa memencet tombol on pada mic nya Nadia, dan terdengar lah suara merdu dari Erika.
Semua orang tercengang mendengarnya, sedang Nadia terlihat sangat geram dan malu, atas ulah Ckarisa yang sudah membongkar kecurangannya.
Bi Herni dan paman Adam terlihat sangat gusar.
"Duuhh pii, gimana ini ? Nanti mami mau balas Clarisa pi."
"Iya mi, secepatnya kita suruh anak buah pak Hermawan untuk menangkapnya."
Clarisa mematikan mic dan menyerahkan kembali benda itu pada Nadia.
"Huuuuuu.....!!!" Sorak penonton serentak.
"Waaahh Nadia jadi selama ini kamu membohongi kita semua yang ada di sini ?" Tanya mas Sudikah sambil geleng-geleng kepala.
"Kamu kenapa melakukan itu Nadia ? Padahal kalau kamu berlatih, suara kamu pasti juga bagus." Ujar bunda Fara menatap kecewa pada Nadia.
"Bagus dari mananya ? lha wong suaranya false begitu !" ucap Mas Sudikah blak-blakan.
"Kan ini dia gak berlatih Sudikah, kalau dia berlatih pasti bagus." Sanggah mas Indra.
"Ah saya rasa sama saja, saya tidak melihat bibit unggul dari suara kamu." Ucap mas Sudikah jujur dan lantang.
"Nadia, karena kamu sudah melakukan kecurangan. Maka kamu akan kita diskualifikasi." Ucap Mas Indra tegas.
"Sekaligus kamu membayar denda." Sambung mas Sudikah.
"Den...denda apa ?" tanya Nadia gugup.
Sama seperti yang Nadia tanyakan, semua orang pun bertanya-tanya, apa maksud mas Sudikah menyuruh Nadia membayar denda ?
"Denda karena suara pecahmu itu sudah merusak gendang telingaku. Jadi kau harus gantu rugi."
Kedua rekan sesama juri mas Sudikah, terlihat menahan tawa mereka.
Akhirnya, Nadia didiskualifikasi. Dia menangis merasa malu dan kesal sekali dengan Clarisa.
...***...
Sementara itu, pak Hermawan dan anaknya Reno masih dalam masa persembunyian.
"Sampai kapan sih pa , kita di sini ? Reno bosan !" gerutu Reno.
Pak Hermawan tidak menjawab, sudah sering dia mendengar pertanyaaan dari putranya, perihal persembunyian mereka.
Drrrtt...
Drrrt...
Drrrt...
__ADS_1
Tiba-tiba hp pak Hermawan berdering, dia segera mengangkatnya.
"Hallo ? bagaimana ?" Sapa pak Hermawan dan bertanya kepada seseorang diseberang telfon sana.
Nampak sebuah senyum terbit dari wajah pak Hermawan.
"Bagus...bagus..! Kalau begitu, bayaranmu akan segera ku transfer."
Pak Hermawan kemudian mematikan hpnya.
"Siapa sih pak ?" tanya Reno.
"Anak buah papa, yang papa perintahkan untuk menjalankan suatu tugas."
"Tugas apa ?"
"Tugas untuk membuat posisi kita aman. Kau tau papa menyuruh dia menyewa seorang laki-laki untuk menyamar menjadi papa, pak Hermawan !"
"Terus pa ?"
"Dia yang sudah di tangkap oleh polisi."
"Jadi, dia menjadi papa dan menggantikan posisi papa di dalam penjara ?"
"Iya !"
"Kok orang itu mau ?"
"Kalau uang yang berbicara, apapun akan menjadi mudah Reno."
"Terus langkah selanjutnya apa nih pa ? kita sudah lama bersembunyi. Bagaimana dengan perempuan yang menjadi saksi kunci itu ?"
"Secepatnya kita akan menangkapnya."
...***...
Malam ini, adalah malam puncak ajang pencarian bakat school idol.
Dimana menyisakan 2 peserta yang akan bersaing memperebutkan posisi pertama.
Clarisa dan Meylani, mereka teman sekamar yang tidak menyangka akan berada di posisi puncak sekarang ini.
Malam ini bu Rani memutuskan untuk datang menonton penampilan Clarisa. Setelah absen dari beberapa malam, untuk melihat penampilan menantunya. Hal ini dikarenakan, situasi yang tidak baik saat itu.
Bu Rani di jemput oleh pak Damar untuk datang ke pertunjukkan itu. Dikarenakan, Ardan sedang bertugas mengawasi keadaan di sekitar Clarisa.
"Pak Damar, makasih ya sudah mau repot-repot jemput saya." Ucap bu Rani malu-malu.
"Iya gak apa-apa, saya malah senang bisa jemput bu Rani."
Suasana kembali hening, bu Rani semakin canggung berada 1 mobil dengan pak Damar.
Terlebih lagi, mobil ini seperti berjalan lambat. Seperti kura-kura yang berusaha untuk cepat sampai ke garis finis.
"Lho kok berhenti ya pak ?" Tanya bu Rani bingung.
"Mmm, maaf ! Dari kemaren saya ingin bicara dengan kamu Ran." Ucap pak Damar dengan wajah serius.
"Sa....saya ? bi..cara apa ?" tanya bu Rani gugup.
"Tentang perasaan saya."
__ADS_1
Semakin kencang detak jantung bu Rani. Namun dia berusaha untuk menutup rasa gugupnya dengan tersenyum.
"Perasaan ? Perasaan apa ?"
"Mmm, saya suka sama kamu. Sudah lama sebenarnya saya ingin utarakan. Tapi, waktu itu saya berpikir Ardan akan benar-benar menikahi Vanya. Serta melihat cinta Vanya pada Ardan. Saya berusaha untuk menghilangkan rasa ini. Tapi, beberapa waktu yang lalu, saya tahu kalau Ardan sudah menikah sirih dengan Clarisa. Jadinya, hari ini saya memberanikan diri untuk mengutarakan perasaan saya sama kamu."
Bu Rani tertegun mendengar rasa yang baru saja di utarakan oleh pak Damar, yang ternyata dia pun juga memiliki rasa yang sama.
Ingin rasa nya bu Rani loncat kegirangan, tapi dia berusaha untuk jaga gengsi. Apalagi ini bukan cinta anak muda, tapi orang tua.
"Terus Vanya gimana ? apa dia tahu perasaan pak Damar ?"
"Iya, saya sudah memberitahukannya saat saya tahu Ardan sudah menikah."
"Vanya gak marah pak ?"
" Awalnya saya pikir Vanya akan marah ketika tahu Ardan sudah menikah dengan Clarisa. Tapi, dia sudah berusaha menerimanya. Saat ini Vanya sedang dekat dengan pemuda bernama Rangga."
"Mmmm..terus perempuan yang bernama Fara itu siapanya pak Damar ?"
" Oh itu, dia sepupu saya. Kami besar bersama, makanya kami berdua dekat."
"Oh sepupu heheh."
"Jadi gimana Ran ?"
"Gimana apanya pak Damar ?"
"Yah gimana perasaan saya, apa kamu terima atau tolak. Kalau seandainya kamu menolak perasaan saya. Saya harap hubungan kita akan tetap baik-baik saja."
"Saya sebenarnya juga tidak bisa..."
"Ooh oke saya mengerti. Sebaiknya kamu lupakan saja perasaan saya tadi. Anggap saya tidak pernah mengatakannya. Dengan begitu hubungan kita akan tetap baik-baik saja."
"Saya belum selesai ngomong pak ! Kenapa sudah disuruh melupakan ?"
"Maksud kamu ?"
Bu Rani menarik nafas kasar, " maksud saya tadi itu, saya juga sebenarnya gak bisa bohong kalau saya juga memiliki perasaan yang sama dengan pak Damar. " Ungkap bu Rani malu-malu.
Nampak wajah berseri dari pak Damar. Spontan dia mengambil tangan bu Rani.
"Kamu serius Ran ?"
Bu Rani mengangguk dan tersenyum, pak Damar memeluk bu Rani penuh sayang sambil membelai lembut rambut janda beranak satu itu.
"Tapi ? Bagaimana dengan Ardan Pak ?" Tanya bu Rani yang masih dalam pelukan pak Damar.
"Secepatnya saya akan bicara dengan Ardan."
Tok...Tok..Tok.. !!!
Tiba-tiba kaca mobil mereka di ketuk oleh seseorang.
Bu Rani dan pak Damar saling pandang dan melihat ke jendela.
...***...
Jangan lupa dukung terus ya....
dengan cara beri comment, like dan votenya...serta hadiahnya...
__ADS_1
Terimakasih pembaca setiaku love u all 🥰🥰🥰🥰🥰