
Clarisa menyalakan listriknya kembali. Kemudian melihat, apa yang sudah terjadi dengan keluarga perusuh itu.
Ketiga perusuh itu sudah pingsan, Clarisa kemudian mengambil tali dan mengikat mereka, di tangan dan di kaki. Dia lalu mengamankan barang-barang yang akan mereka curi.
Clarisa meninggalkan mereka dan kembali ke kamarnya.
Di dalam kamar, Clarisa mematut dirinya di depan cermin. Merasa puas dengan kerja kerasnya selama seminggu ini. Dia berpikir untuk terus meminum jamu pelangsing yang dia pesan online.
Puas bercermin, Clarisa naik ke tempat tidur dan bersiap untuk tidur kembali.
Keesokkan paginya, keluarga perusuh itu terbangun, mereka kaget melihat tubuh mereka terikat.
"Lho kok kita diikat sih mami, ini siapa yang ikat ?" Tanya Nadia, sambil mencoba membuka tali yang melilit di kaki dan tangannya.
"Jangan-jangan ada perampok beneran ? Mana ikatnya kencang banget lagi." Gerutu bi Herni.
Pagi ini Clarisa bergegas ke Sekolah, sebelum paman dan bibinya tahu, kalau dia yang sudah buat kekacauan rencana mereka semalam.
Ketika turun dari kamarnya dan melewati kamar utama. Clarisa menempelkan telinganya di pintu kamar. Dia tertawa mendengar perjuangan keluarga itu mengambil gunting yang sengaja Clarisa letakkan agak jauh dari mereka.
"Ayo miii ! sedikit lagii !"
Clarisa segera meninggalkan mereka, berjalan keluar rumah.
Pagi ini cuaca agak mendung, Clarisa tetap melangkah berjalan ke sekolah, tanpa balik lagi mengambil payung.
Di tengah jalan hujanpun turun, Clarisa berlari mencari tempat berteduh. Dia berdiri di bawah pohon tapi hujan tetap membasahinya.
Namun, dia heran karena tiba-tiba hujan tidak membasahinya lagi.
"Kau melupakan payungmu Nonna ?"
Clarisa menengok ke belakang. Nampak Ardan sudah berdiri di belakangnya sambil memayunginya. Tidak lupa dengan senyuman manisnya.
'Ya Tuhan kenapa dia menawan sekali pagi ini?' Gumam Clarisa dalam hati.
"Ehheemm !! Jangan terlalu lama memandang ku Clar, nanti kau sulit jauh dariku !"
"Iishh, kepedean !"
"Hahahahah kau terciduk Nonna !" Ardan meledeknya, kemudian menggandeng tangannya dan mereka berjalan di bawah payung berwarna jingga.
"Kau tau tidak ? Waktu aku pulang, ada kejadian seru di rumah." Cerita Clarisa tentang kejadian semalam di rumah.
Ardan tertawa mendengar cerita gadisnya. Dia tidak menyangka kalau Clarisa senakal itu.
Tidak terasa mereka sudah sampai di Sekolah, bersamaan dengan bel Sekolah tanda masuk.
Clarisa melihat bangku Nadia masih kosong.
"Apa Nadia belum bisa lepas dari ikatanku ?" Nadia bertanya pada dirinya sendiri.
Sementara itu paman dan bibi Clarisa masih berusaha membuka tali.
__ADS_1
"Sedikit lagi, ayo guntingnya yang benar dong Nad !" seru bi Herni pada putrinya, yang sedari tadi berusaha memotong tali di tangannya.
"Ini juga lagi diusahakan mi, susah soalx Nadia gunting dengan tangan terikat begini." Gerutu Nadia.
"Haduuh, kalo begini cara kamu gunting, bisa sampe sore kita di sini. Biar papi yang gunting, siniin guntingnya!" perintah pak Adam.
Nadiapun memberikan gunting pada papinya, agak susah dia berikan karena dia harus menggeser tubuhnya agar dekat dengan papinya. Terlebih lagi tangan mereka yang terikat ke belakang.
Ketika gunting dia dapatkan, pak Adam berusaha menggunting tali di tangan Nadia.
"Awww, papiii ! tangan Nadia jangan digunting dong!"
"Maaf, gak keliatan soalnya."
Pak Adam mengerahkan tenaganya, untuk menggunting tali tambang yang melilit dipergelangan tangan Nadia.
Akhirnya perjuangan pak Adam berhasil. Tali ditangan Nadia terputus, Nadia merasa lega tangannya bisa bebas kembali. Dia kemudian membuka ikatan di kakinya.
"Nad, bukain mami punya dulu ! Tangan mami pegal nih." pinta bi Herni.
Nadia kemudian membuka tali di tangan dan kaki maminya, setelah itu papinya.
Nadia mencari kembali kotak perhiasan yang mereka dapatkan kemarin, tapi tidak ada.
"Lho mii, kotak perhiasannya mana ya ?"
"Iya ya...apa jangan-jangan semalam itu beneran ada perampok ?" ujar maminya.
"Papi rasa iya, mungkin setelah kita pingsan ada perampok masuk trus ngikat kita dan membawa semua perhiasan itu."
Mereka pun keluar dari kamar itu dalam keadaan yang kacau.
Di kamar, Vanya masih mengurung diri. Dia masih terus menangis mengingat penolakan Ardan padanya.
"Ardan ! kenapa kau tega sama aku ? Aku mencintaimu Ardan. Akan aku lakukan cara apapun agar kau menjadi milikku."
Vanya terus menangis, tidak mau keluar dari kamarnya.
Salah satu pembantu rumahnya, mengetuk-ngetuk pintu kamarnya, memanggil Vanya untuk makan. Tapi, perempuan baruh baya itu hanya mendengar tangisan histeris dari majikannya.
Pembantu itu segera menemui tuannya, untuk melaporkan keadaan putrinya.
"Pak, maaf ganggu ! bibi mau bilang itu non Vanya dari kemaren tidak mau keluar kamar. Tadi bibi panggil dia hanya nangis. Bibi takut tuan, terjadi apa-apa sama non Vanya." ucap bi minah dengan cemas.
Pak Damar ayah Vanya segera beranjak dari duduknya dan bergegas ke kamar putrinya.
"Vanyaa ! buka pintunya nak, ayo makan dulu !"
Vanya tidak menjawab, dia hanya menangis histeris.
"Vanya ! ayo nak jangan begini. Cerita dengan ayah, siapa tau ayah bisa bantu kamu." Bujuk pak Damar pada putrinya.
"Ayaah gak bisa bantu Vanya. Vanya mau Ardan yah. Vanya hanya mau Ardan !" teriak Vanya dari dalam kamar.
__ADS_1
"Vanya, buka pintunya dulu kita bicara baik-baik !" bujuk pak Damar dari balik pintu kamar putrinya.
"Aku bilang, aku hanya mau Ardan yaahh !! kalau gak ? aku lebih baik mati ! Vanya mau bunuh diri aja !" Teriak Vanya histeris dari dalam kamarnya.
"Jangaan naak ! jangan lakukan itu !"
"Tuan, telfon den Ardan saja. Biar dia yang bujuk. Soalnyakan non Vanya orangnya nekat tuan." Usul bi Minah.
"Vanyaa ! kamu jangan lakukan apa-apa ya nak ! Ayah akan panggil Ardan kemari." Bujuk pak Damar.
Di dalam kamar, Vanya tersenyum senang. Usahanya untuk membawa Ardan datang berhasil. Selanjutnya dia akan menjalankan rencana lain.
Di sekolah Ardan dan Clarisa bersiap untuk pulang.
"Huuuft ujian tadi benar-benar menguras otak. Untungnya aku sudah belajar." ucap Clarisa.
"1 bulan lagi kau akan masuk ke karantina School Idol. Semangat ya !" ucap Ardan sambil mengacak rambut gadis yang dia sayang.
"Asal kau selalu mendukungku, aku akan selalu semangat Ardan." Ucap Clarisa dan bergelayut manja di lengan Ardan.
"Ardan ! berjanjilah kalau kau selalu ada untuk aku." pinta Clarisa sambil mengangkat jari kelingkingnya.
Ardan tersenyum mendengar pinta gadisnya.
"Aku Janji" balas Ardan yang kemudian menautkan jari kelingkingnya di kelingking Clarisa.
Mereka berdua saling tatap dan tersenyum bahagia.
Drrrtt....
Drrrtt...
Ardan segera merogoh saku celananya untuk mengambil hpnya.
"Halo pak !"
"Halo Ardan ! tolong kamu ke rumah ya. Ada urusan penting, sekarang !"
"Siap pak !"
Ardan kemudian mengakhiri telfonnya.
"Ayo Clar ku antar pulang ! soalnya aku harus ke rumah atasanku, ada urusan penting. Beliau tidak bilang urusan apa."
"Aku pulang sendiri aja, aku pulang ke rumah jadi dekat dari sini." Tolak Clar.
"Tidak, kau harus kuantar pulang. Aku harus pastikan kalau kau selamat sampai rumah."
"Gak usah lebay deh, hehehe nanti aku telfon kalau sudah sampe rumah. Oke !"
Ardan menarik nafas kasar.
"Oke jangan lupa kasih kabar ya."
__ADS_1
"Oke !"
Ardan pun segera berlalu ke rumah pak Damar. Tanpa dirinya tau, kalau dia akan dijebak oleh Vanya.