Si Gendut Itu Aku !

Si Gendut Itu Aku !
Terusir


__ADS_3

Pukul 05.30 pagi, Clarisa terbangun. Di liriknya jam dinding kamarnya.


"Hoaaammm!! ngantuknya !" Clarisa memaksakan dirinya bangun dari tempat tidurnya. Dia bergegas cuci muka, dan turun untuk membuat sarapan. Dia ingat semalam ada teman-teman Ardan yang menjaganya di bawah.


"Paman dan bibi sudah pulang apa belum ya ? Hari inikan ujian, apa Nadia gak ikut ujian ?" Clarisa berbicara sendiri.


Clarisa sibuk di dapur, pagi ini dia akan membuat sarapan nasi goreng.


Saat lagi asyik memasak, dia mendengar ribut-ribut di luar. Clar pun bergegas ke luar, melihat apa yang terjadi di luar.


"Saya yang punya rumah ini pak ! kenapa saya gak boleh masuk ?" Ketus pak Adam pada dua polisi yang berjaga di depan rumah.


Clarisa melihat di luar, sedang ada keributan antara 2 polisi yang berjaga semalam dengan 3 orang gembel.


"Siapa gembe-gembel itu ?" Gumam Clar, kemudian melangkah ke depan.


" Ya ampuuun ! Paman, Bibi, Nadia ?! Apa yang terjadi dengan kalian bertiga ? Kenapa sudah seperti gembel kayak gini ?" Tanya Clarisa bertubi-tubi.


"Tuh kan pak ! Clarisa kenal dengan kami ! Jadi kami ini gak bohong. Kami memang orang yang tinggal di rumah ini !" Hardik bi Herni dengan penuh amarah.


"Kami begini semua gara-gara kamu Clar !" ucap Nadia kasar.


"Aku ? Memangnya aku kenapa ?" tanya Clarisa bingung.


" Kamu sudah membohongi kami !" Sambung bi Herni.


"Bohong apa ?" tanya Clarisa, yang sebenarnya dia sudah tahu jawabannya.


"Ini !" Nadia memberikan peta palsu yang di buat oleh Clarisa.


" Oohh Ya Ampun ! kalian mau mengambil peti berharga ayahku ? Untuk apa hah ?"


Ketiga orang di depannya seketika terdiam, mereka sudah terjebak dengan amarah mereka sendiri.


"Eeh..uumm..eemm." Bi Herni nampak bingung mau menjawab apa.


"Kalian mau mencuri peti berharga ayahku ?"


"Bukan begitu Clar, kami cuma mau..."


"Mau mengambilnya trus menjualnya ? Termasuk sertifikat rumah ini ? Iya paman ? Aku kan menyuruh kalian menyimpan peta ini ? bukan untuk mencari tau apa yang ada di dalam peta ini."


" Clar izinkan papi jelasin dulu sama kamu !" ujar Nadia.


"Ya sudah kalian boleh menjelaskannya. Tapi di kantor polisi !"


"Hahhh !!!" teriak mereka bersamaan.


"Clar jangan begitu dong nak ! mari kita bicarakan semuanya baik-baik yah di dalam. Gak usah pake ada polisi segala." Pinta paman Clarisa.


"Oke ! aku tidak akan melaporkan kalian ke polisi tapi, kalian bertiga jangan lagi tinggal di rumah sini !"


"Ka..kau mengusir kami Clar ?" tanya bi Herni tidak percaya

__ADS_1


"Iya !" Tegas Clar.


"Clar ini hanya kesalahpahaman, ayolah nak ! kami janji tidak mengambil apapun yang menjadi milikmu."Mohon paman Adam.


"Sudah berkali-kali kalian ku kasih kesempatan. Berapa kali kalian ingin mencelakaiku, belum lagi kalian mau mengambil harta ayahku."


"Tidak begitu nak, kami lakukan ini untuk mengamankan harta ayahmu. Kemaren kau tau sendiri ada pencuri di rumah ini, dia sudah mengambil perhiasan ibumu." Terang paman Adam.


"Pencuri itu kalian ! Untungnya aku cepat datang dan menggagalkan rencana kalian untuk mencuri harta ayahku."


" Maksudnya ? Haaa apa jangan-jangan setan dijendela itu kau Clar ?" Tanya Nadia tidak percaya.


"Iya ! saat kalian pingsan aku sudah mengamankan harta milik orang tuaku. Dan aku sengaja membuat peta palsu itu, untuk menjebak kalian."


Paman Adam geram sekali mendengar pengakuan Clarisa, dia mengepalkan tangannya, hingga urat tangannya nampak.


'Berani sekali bocah tengil ini mempermainkan aku. Akan kubalas dia !' Bathin pak Adam marah.


"Sekarang kalian punya 2 pilihan. Pertama, kalian ku laporkan kepolisi. Atau yang ke dua kalian pergi dari rumahku ?"


Ketiga diam, tentu ini pilihan yang sulit buat mereka.


"Pak minta tolong pastikan mereka sudah tidak ada di sini ya !"


"Baik Nonna Clarisa !" balas ke dua polisi itu kompak.


"Oh iya, jangan membawa mobil ayah aku paman !" ucap Clarisa, yang membuat ketiga orang itu kaget.


Clarisa segera masuk ke dalam melanjutkan aktifitasnya memasak.


Nampak dari seberang rumah Clarisa, terlihat seseorang yang sedang melihat kejadian pengusiran pak Adam, bi Herni dan Nadia.


Kemudian orang itu menelfon seseorang untuk memberi tahu informasi.


***


Hari ini Ardan terlihat sangat sibuk sekali mengurus sesuatu.


Dia bertekad hari ini semua urusannya selesai, sehingga permohonannya segera di proses.


Namun sebelumnya dia menelfon Clarisa untuk memastikan dirinya baik-baik saja.


"Hallo Clar ? kau sudah ke sekolah ? hari ini ujiankan ?"


"Iya, aku lagi dijalan. Kau tidak ke sekolah ?"


"Hari ini aku sibuk sekali, banyak yang harus ku urus. Dan aku ingin hari ini selesai. Kau jaga diri baik-baik ya. Nanti kalau sudah selesai aku jemput !"


"Oke !"


Ardan mengakhiri obrolannya di telfon. Kemudian melanjutkan tujuannya.


***

__ADS_1


"Masuk !" perintah pak Hermawan pada seseorang yang mengetuk pintu ruang kerjanya.


Anak buahnya masuk bersama tiga orang yakni Pak Adam, bi Herni dan Nadia.


"Bos ini mereka yang saya bilang di telfon tadi."


"Bagus ! kamu tunggu di luar !" perintah pak Hermawan.


Anak buah itu segera keluar dan menutup pintunya.


"Anda siapa ? kenapa anda membawa kami kesini ?" tanya pak Adam yang mencoba memberanikan dirinya untuk bicara.


"Silahkan duduk!" Pak Hermawan mempersilahkan ke tiga tamunya duduk.


"Saya Hermawan, tujuan saya memanggil kalian kemari untuk mengajak bekerjasama. Kalau kalian mau, saya akan memberikan fasilitas yang kalian butuhkan sekarang."


Ketiga orang di depan pak Hermawan nampak senang mendengarnya.


"Kerja sama apa pak ? kami pasti senang bekerja sama dengan bapak !" tanya pak Adam.


"Saya ingin kalian membawa Clarisa kepada saya. Itu saja, bagaimana ?"


"Clarisa ? memangnya apa hubungannya bapak dengan Clarisa pak ?" Tanya bi Herni heran.


"Itu urusan saya ! kalian tidak perlu tau. saya hanya ingin mendengar, kalian sanggup atau tidak ? Kalau kalian sanggup, saya akan memberikan fasilitas rumah dan mobil secara cuma-cuma. Bahkan jika Clarisa bisa kalian antar di depan saya, sy akan memberikan 100 juta untuk kalian."


"100 jutaaa ?!" Ketiga orang itu tersenyum bahagia, ketika mendengar uang 100 juta.


Tanpa berpikir lagi, merekapun menyepakati kerja sama dengan pak Hermawan.


"Kami setuju pak ! akan kami bawa Clarisa ke hadapan bapak !"


Pak Adam tidak peduli lagi dengan hidup Clarisa, karena dia sudah berani mempermainkannya dengan peta bohongan itu.


"Bagus ! Setelah ini anak buah saya akan membawa kalian ke rumah baru. Tapi ingat ! jika kalian bohong. Saya akan menendang kalian dari rumah itu !"


"Baik pak ! Bapak tenang saja."


Pak Hermawan memanggil kembali anak buahnya, dan menyuruh mengantar ketiga orang ini ke rumah baru mereka.


***


Ardan tersenyum senang memandang kelengkapan surat-surat yang ada di map coklat.


"Kapan saya bisa memulainya pak ?" Tanya Ardan pada bapak yang berpeci di depannya.


"Sebentar malam bisa, saya akan datang ke rumah bapak."


"Oke pak kalau begitu sebentar malam jam 8 di rumah saya."


"Baik !" Bapak itu tersenyum kemudian menjabat tangan Ardan.


Ardan bernafas lega hari ini urusannya selesai. Dia sisa menunggu persetujuan dari kantornya.

__ADS_1


Dia kemudian berniat untuk pulang bertemu dengan mamanya untuk memberi tahu hal ini.


"Semoga berjalan lancar !" ucap Ardan tersenyum.


__ADS_2