
Air mata Clarisa jatuh begitu saja, dadanya panas melihat orang yang dia cintai saat ini sedang berdansa dengan mantannya.
Clarisa berbalik dan melangkah keluar. Dia duduk berjongkok di halaman parkir, dan menangis sampai sesegukkan.
Dua orang laki-laki berbadan kekar datang menghampirinya.
"Kok nangis Neng ? " tanya salah seorang diantaranya.
Clarisa terkejut mendengar suara laki-laki dibelakangnya, seketika dia berdiri dan menoleh ke belakang. Nampak dua orang preman berbadan kekar sedang tertawa di depannya.
Clarisa ketakutan dia mundur perlahan, dan hendak berlari.
" Buru-buru amat, mau kemana Neng ? " salah satu preman yang bertato naga itu menghalangi langkah Clarisa.
" Jangan ganggu aku ! nanti aku teriak terus kalian di hajar sama warga ! " ancam Clarisa ketakutan.
" Hahahahaha, uh abang atuuut Neng ! "
Clarisa segera berlari ke arah samping. Namun, badannya segera di tangkap oleh pria yang ada di depannya.
" Lepaaass ! tolooongg !" teriak Clarisa. Kedua preman itu hanya tertawa melihat Clarisa yang terus berontak.
"Lepaskan dia ! "
Clarisa dan ke dua preman itu menoleh ke sumber suara. Ardan berdiri di depan mereka dengan tatapan tajam yang siap menerkam ke dua preman itu.
Preman yang sedang memegang tubuh Clarisa seketika mendorong tubuh wanita milik Ardan itu, kemudian menyerang Ardan dengan brutal.
Ardan dengan sigap melakukan perlawanan dari serangan ke dua preman itu.
Clarisa segera berlari ke belakang mobil, dan dengan perasaan cemas melihat pergulatan Ardan dan kedua preman yang menjahatinya.
Tidak susah buat Ardan mengalahkan ke dua preman tersebut. Kini ke dua laki-laki yang berbadan kekar itu jatuh tersungkur di atas tanah. Mereka kemudian bangun dengan kesusahan, dan segera berlari menjauh sebelum Ardan membuat mereka menjadi oseng-oseng tempe.
Clarisa merasa lega melihat Ardan bisa mengalahkan ke dua preman itu. Ardan segera berlari kearah Clarisa.
" Sayang ! kau tidak apa-apa ? " tanya Ardan yang hendak memegang pipi Clar, namun segera ditepis oleh gadis di depannya itu.
" Sayang..sayang..pala lu peyang ! " gerutu Clarisa kemudian berjalan menjauhi Ardan.
Ardan nampak heran dengan berubahan Clarisa, dia mengejar Clar dan merangkulnya dari belakang.
" Sayang kau kenapa ?"
Clarisa tidak menjawab, hanya isakan tangis yang terdengar dari mulut Clarisa. Ardan membalikkan tubuh Clarisa menghadapnya. Dia kemudian menghapus airmata yang luruh begitu saja di pipi istrinya terkasih.
" Kau kenapa ? " tanya Ardan lembut. Namun, Clar tidak mau melihatnya, Dia mengalihkan pandangannya ke samping.
Ardan memegang ke dua pipi Clar dan menghadapkan wajah Clar ke arahnya. Clarisa segera menjauhkan ke dua tangan Ardan dengan kasar.
" Aku menyuruhmu untuk berbicara tentang hubungan kita, bukan berdansa dengannya ! " teriak Clarisa marah.
__ADS_1
Ardan menutup kedua wajahnya dengan tangannya, "Ah ya ampun jadi itu ?"
Ardan kembali mengambil tangan Clar " aku akan menjelaskannya di dalam mobil, ayo !" diapun menarik dan membawa Clarisa masuk ke dalam mobil.
Ardan kemudian melajukan mobilnya, di dalam mobil Clarisa menunggu Ardan untuk berbicara. Tapi, Ardan tetap fokus pada jalan di depannya.
" Kita mau kemana mas ?"
" Pulang ! "
Clarisa menghela nafas, " heran ! tadi katanya mau menjelaskan di dalam mobil." Gumam Clarisa dengan bibir maju 5 centi.
10 menit kemudian mereka sudah sampai di rumah. Ardan memegang tangan Clarisa dan membawanya masuk ke dalam kamar dan menguncinya.
" Mas katanya mau jelasin, ayo jelasin ! " gerutu Clarisa.
" Maaf ya aku tadi, di paksa berdansa dengan dia. Tapi itu tidak lama kok, saat berdansa aku mengatakan sejujurnya sama Gita tentang hubungan kita, tentang status aku yang sekarang sudah menjadi suami seorang wanita yang bernama Clarisa Ameera Putri." jelas Ardan.
Clarisa masih diam, dia menimbang-nimbang penjelasan Ardan dengan apa yang di lihatnya.
"Akh tidak ! aku tadi lihat mas menikmati dansanya."
"Kalau aku menikmati, aku pasti lama berdansa dengannya, dan kau sudah di bawa pergi sama preman-preman itu."
Clarisa kembali diam.
"Clar percayalah padaku, aku sudah tidak mencintainya. Aku hanya mencintai wanita di depan ku seorang anak SMA, hehehe."
"Ayo berdansa !" ajak Ardan.
"Tapi gak ada musiknya."
"Sebentar !" Ardan mengambil hpnya dan menyalakan musik romantis.
Mereka berduapun berdansa dengan romantis.
" I love you so much mas !"
" I love you more...more..more...!"
Mereka berdua tertawa, and then apa yang Airin inginkan pun terjadi, malam ini dia merasakan malam pertama bersama Ardan. Dia lupa kalau dia masih SMA, ckckckc.
Seminggu kemudian..
"Hari ini mama ikut temani Clarisa ke sidang ya Ardan !" pinta bu Rani.
" Iya boleh ma."
" Aku deg-degan, jantung ini berdebar lebih kencang dari pada mendengar pernyataan cinta mas Ardan dulu." Ucap Clarisa sambil memegang dadanya dengan ke dua telapak tangannya.
Tiba-tiba Ardan dan bu Rani hampir saja mengeluarkan sarapan mereka dari dalam mulut.
__ADS_1
Pukul 09.00 pagi mereka sudah berada di pengadilan. Hari ini Clarisa sebagai saksi kunci pembunuhan seorang siswa SMA, akan memberikan kesaksiannya.
Clarisa duduk di tengah sidang, dia menjawab semua pertanyaan hakim dengan sejujur-jurnya. Diapun juga menceritakan kronologis pembunuhan itu.
Tidak hanya sebagai saksi dari kasus pembunuhan. Diapun juga bersaksi atas kejahatan yang dilakukan paman dan bibinya.
Dua hari Clarisa bolak balik ke sidang sebagai saksi.
Tiba saatnya pengadilan memberikan putusan hukuman yang akan di terima oleh para penjahat, termasuk hukuman untuk paman, bibi dan sepupunya.
Bibi Herni berteriak memaki Clarisa saat hakim memutuskan 20 tahun padanya, suami dan anaknya.
"Awaass kau Claaar ! keluar dari sini aku kan membunuhmu, sama seperti yang ku lakukan pada ayahmu, hahahahah."
Clarisa terkejut mendengar pengakuan yang tanpa sengaja di katakan oleh bibi Herni sendiri.
" Apa maksud bibi ? jadi ayahku kalian yang bunuh ?" tanya Clar
" Bu..bukan aku itu papi dan mami, aku gak ikutan !" Nadia membela dirinya.
" Kenapa bi ? " tanya Clarisa menatap bi Herni penuh kebencian.
" Itu karena ayahmu selalu beruntung !" teriak bi Herni histeris.
Mendengar pengakuan bi Herni, akhirnya kejahatan yang mereka tutupi selama ini terungkap. Mereka pun mendapatkan tambahan hukuman, seumur hidup ! sebab pembunuhan berencana.
Selesai sudah tugas Clarisa sebagai saksi kunci, dan dia juga merasa puas karena bibi Herni beserta suami dan anaknya sudah mendapatkan hukuman setimpal.
Clarisa menulis semua kejadian yang dia alami di buku catatannya. Dia tersenyum melihat cerita yang dia tulis hampir selesai.
Terdengar suara bel rumah berbunyi. Mama dan mas Ardan kebetulan tidak ada di rumah.
Ardan sedang menemani bu Rani, untuk mengurus acara syukuran yang akan dilaksanakan seminggu lagi.
Dengan langkah berat Clarisa berjalan gontai, menuju pintu depan.
"Siapa sih ? ganggu waktu santaiku saja." Gerutu Clarisa.
Dia kemudian membuka pintu, tiba-tiba matanya membulat melihat seorang laki-laki sedang berdiri di depan pintu.
" Apa kabar Clarisa ?" sapanya.
...***...
Haaaii para pembaca setiakuu...
Terimakasih sudah membaca karyaku sampai sejauh ini.
Jangan lupa hadiahnya ya...
Like, Comment dan votenya...makasih 🥰🥰🥰
__ADS_1