
"Ardan ! jawab aku ! Kau seorang polisi ? kau bukan seorang siswa seperti aku ?"
"Mmm...Clar aku akan cerita . Tapi, jangan disini. Sebaiknya kita pergi dari sini."
'Ardan polisi ? ceritaku tak begini. Terus kenapa bisa begini ? Kenapa Ardan menyamar jadi seorang siswa ? Siapa aku ? Siapa Ardan ?'
Banyak pertanyaan yang hinggap di pikiran Airin.
"Clar ! ayo kita pergi dari sini !"
Di dalam mobil, Clarisa masih diam. Dia masih saja terus mengingat bab per bab yang dia tulis.
'Kenapa cerita ini semakin membingungkan ? Seharusnya ceritaku hanya berkisar, di Clarisa yang mengikuti lomba school idol. Ardan, kenapa dia seorang polisi yang menyamar ?Aaakkkhh !!! Aku harus membaca lagi ceritaku!'
Banyak pertanyaan yang timbul dalam pikiran Clarisa.
Sesekali Clarisa melirik ke Ardan, dia tidak habis pikir, kenapa Ardan yang dia gambarkan, hanyalah seorang siswa yang menjadi pacar Clarisa. Bukan seorang polisi.
'Pasti ada yang salah !'
Tiba-tiba muncul bayangan cerita di pikiran Clarisa.
Kalau Ardan seorang polisi yang menyamar sebagai siswa, trus Clarisa hanya di jadikan permainan oleh Ardan agar penyamarannya tidak diketahui.
'Huh kalau memang seperti itu, berarti laki-laki ini tidak sebaik yang ku kira. Aku harus waspada.' Gerutu Clarisa dalam hati.
Ardan melihat Clarisa yang hanya diam, tanpa bertanya apapun.
Tiba-tiba dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Ke..kenapa berhenti ?" Tanya Clarisa melihat ke arah Ardan dengan perasaan was-was.
Ardan perlahan-lahan memajukan badannya mendekati Clarisa.
Clarisa mundur perlahan-lahan.
"Ka...kau mau apa ?" tanya Clarisa dengan nada gemetar.
Saat ini di pikiran Clarisa, Ardan harus lebih di waspadai.
Clarisa memejamkan matanya, mendekap tubuhnya sendiri, sambil mulut komat kamit baca mantra.
"Kau belum memasang seltbeltnya Clar !" bisik Ardan, dan kemudian memasangkan selt belt ke tubuh Clarisa.
Ardan kemudian kembali ke posisinya di belakang setir.
"Clar, aku tau saat ini kamu pasti bertanya-tanya tentang aku. Aku ini..."
"Stoop !!! A..aku sudah tau. Aku cu..cuma mau bilang."
"Bilang apa?"
"Antar aku pulang, aku mau pulang."
"Tapi Clar, kau belum dengar..."
"Nanti saja Dan, saat ini aku belum mau mendengar apa-apa. Nanti kalau aku sudah siap, baru kau boleh cerita. Oke ?"
Ardan terdiam, dia pun menghidupkan kembali mobilnya dan melaju ke rumah Clarisa.
Ketika mobil berhenti di depan rumah Clarisa, gadis itu tanpa ba bi bu segera melapaskan seltbeltnya, dan hendak keluar dari mobil.
Ardan menahan tangan Clarisa.
"Clar ! Mmm...besok aku jemput ya !"
"Ti..ti..tidak usah. Aku besok gak kemana-mana hehe." tolak Clarisa dengan senyum yang paksakan.
"Aku turun dulu ya !" Clarisa bergegas kluar dari mobil. Sebelum dia membuka pintu pagarnya, dia berbalik dan mengucapkan terimakasih pada Ardan.
__ADS_1
"Makasih ya, hari ini kamu sudah menyelamatkan hidup aku ! Ya sudah kamu pulang gih heheh.. Byee !!"
Tanpa mendengar sapaan selamat malam Ardan, Clarisa segera berlari masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di kamar, Clarisa melihat kembali draft ceritanya di hpnya.
"Dari bab 1 sampai 10 yang aku tulis hanya kisah Clarisa dan Ardan. Dimana Ardan merupakan teman terbaik Clarisa, yang selalu mendukung dia dalam lomba school idol. Tapi kenapa yang aku jalani sekarang, Clarisa yang diculik dan Ardan seorang polisi ?" Clarisa berbicara dengan dirinya sendiri.
Dia terus mengingatnya, memejamkan matanya, mencoba mengingatnya. Sampai akhirnya, dia terbelalak mengingat sesuatu.
FLASHBACK DUNIA AIRIN
"Yaa ampuuuun !! hahahah, ini cerita apaan sih yang elo tulis ?" Ledek Bella, dengan jari telunjuknya yang sibuk menscrool hp Airin ke atas ke bawah.
"Iiihh, apaan sih lo, macam tau aja cerita yang bagus kayak gimana ?" ucap Airin sebel kemudian menyambar hpnya dari tangan Bella.
"He Rin, gue emang gak tau dunia tulis menulis. Tapiii, gue suka baca novel. Apalagi novel romantis, uuuuhhh keereenn pokoknya ! dan novel elo ituu gak ada bagus-bagusnya untuk dibaca."
"Trus yang bagusnya itu gimana ?"
" Cerita elo itu datar, sini hp lo !" Bella menyambar hp dari tangan Airin.
"Ihh gak sopan ! Jangan hapus cerita gue ya."
"Tenang aja, gue buatkan garis besar dari versi gue tentang cerita lo. Kalo lo ikutin cerita versi gue. You are is the bestlah pokoknya !"
Bella pun sibuk memainkan ke dua jempolnya di hp Airin. Beberapa sat kemudian dia memberikan hp Airin kembali.
"Tuh ! elo baca versi gue !" Bella mengembalikan hp Airin.
Airin membaca kerangka dan alur cerita yang dibuat oleh Bella.
" Iihhh kok ada polisi-polisi segala sih. Aku gak suka kekerasan. Apalagi ini Clarisa jadi kunci saksi mata atas kasus pembunuhan yang terjadi disekolahnya. Ogaaahh !"
"Iihh niih anak, coba aja dulu elo tulis. Elo bayangin, elo jadi Clarisa yang menjadi saksi kunci sebuah kasus pembunuhan, di jaga oleh seorang polisi yang mmm...ruarrr biasa, tampan, jago berkelahi.. Wwwaaahh pokoknyaa luar biasaaa !!!"
"Emang Clarisa di cerita elo itu sosoknya gimana Rin ?" tanya Bella penuh selidik.
"Gadis gendut hobi makan, tapi punya suara emas."
"Hahh genduut ? Akkh gak cocok dengan polisi yang ada dicerita gue. Gue gak rela ! Pokoknya elo ganti sosok Clarisa. Sosoknya seperti gue, cantik dan langsing."
"Iiihh ogaah, gue mau bikin kayak beauty and the..."
"Karung beras !" Sela Bella kesel.
"Hahahahha !!!" Airin tertawa melihat Bella kesal, polisi gantengnya dia pasangkan dengan gadis gendut.
"Tapikan bell, biar dia gendut wajahnya cantik." ucap Clarisa lagi.
"Ihh gak rela gue, pokoknya elo ganti Clarisa seorang gadis cantik dan langsing."
" Oke gue ganti gambaran sosok Clarisa. Tapi gue ganti aja sosok polisinya, jadi seperti..."
"Pak Ribut !"
"Pak Ribut ? Iihhh pait..pait..pait...jangan kayak dia," protes Airin sambil mengetuk-ngetuk kepalanya.
Bella berusaha memberi kode pada Airin untuk berhenti bicara tapi, Airin terus nyerocos menghina pak Ribut.
"Jangankan dibaca ya Bell, di lirikpun nggak ! kalau gue menggambarkan polisi itu seperti sosoknya pak Ribut yang muka bemo, iihh amit-amiit !!!"
"APANYA YANG AMIT-AMIT AIRIN ?"
sebuah suara yang tidak asing di telinga Airin. Bella menutup wajahnya, Airin menoleh kebelakang dengan pelan.
"Eh pak Ribut ! Udah lama pak ? hehehe" sapa Airin basa basi dengan senyum terpaksanya.
"Apa yang amit -amit ? terus saya juga dengar tadi kamu bilang pait, apanya yang pait Rin ?"
__ADS_1
"Hehehe ituu pak, sarapanku pait. Cuma dengan daun pepaya. Hehehe!" Jawab Airin berbohong.
"Eh Pak Samsul !" Teriak Bella berbohong sambil menunjuk ke belakang pak Ribut.
Pak Ribut menoleh tapi tak ada Pak Samsul di depannya.
Dia berbalik lagi ternyata ke dua anak itu sudah lari.
"Dasar anak Edan !" Gerutu pak Ribut kesal sekali.
BACK TO DUNIA CLARISA
Clarisa kemudian mengambil hpnya dan melihat lagi beberapa tulisan yang tersimpan di sebuah catatan.
Dia membuka sebuah kotak draft, kemudian membacanya.
'Kerangka cerita versi Bella.'
"Ya ampuun aku belum menghapusnya !"
Airin membaca kerangka cerita yang ditulis Bella.
Clarisa merupakan seorang gadis yatim piatu yang tinggal dengan paman dan bibinya.
Clarisa di rawat mereka untuk maksud tertentu. Mereka ingin mendapatkan harta dari orang tua Clarisa setelah dia berumur 25 tahun nanti.
Paman dan bibinya berusaha membuat Clarisa gendut, dengan maksud agar tidak ada pria yang menyukai dia, sehingga seumur hidupnya dia akan jomblo.
Dengan demikian, mereka bisa menikmati harta Clarisa karena tidak terbagi dengan keturunan dari Clarisa.
Tetapi nyawa Clarisa terancam. Karena dia merupakan saksi kunci dari pembunuhan seorang siswa di sekolahnya. Clarisa mengenali wajah orang itu dan dia tau banyak tragedi pembunuhan itu.
Pelaku pembunuhan itu, masih berkeliaran. Dia mengincar Clarisa, dia ingin membunuh Clarisa untuk menghilangkan bukti.
Untuk itu, pihak kepolisian menugaskan Ardan untuk menjaga Clarisa sampai kasus ini selesai.
Agar Ardan bisa menjaga Clarisa, dia menyamar menjadi seorang murid baru. Dia mendekati Clarisa menjadikan dia teman dekatnya.
Tetapi Ardan ternyata..
"Lhoo...hanya sampai disini ? kelanjutannya mana?" Airin menscroll ke atas ke bawah tapi tidak ditemukan.
"Itu artinya, Ardan hanya memanfaatkan Clarisa agar penyamarannya tidak diketahui."
"Hiikkkss...hikss...harusnya di jalan ceritaku, Ardan mencintai Clarisa tulus...hikss..hiks..." Airin menangis histeris.
"Kalau Ardan sekarang menjadi polisi, itu artinya ? Aku menjalankan cerita versi Bella !" Airin mencoba mencerna sendiri apa yang sudah terjadi.
"Berarti aku harus bisa menyelesaikan cerita ini ? tapi bagaimana ceritanyaa ? pembunuhan apa yang sudah aku lihat ?"
Airin teriak histeris, membayangkan kejahatan diluar sana yang sedang mengincarnya.
"Kalau aku sampai di bunuh ? Aku tidak bisa pulaaaaang.!!! Tidak..tidak.!!! Aku harus membuat cerita ini dengan happy ending."
"Belllaaaaa....elooo harus tanggung jawab!!!"
"AAAKKHHHHH...HIKS...HIKS...!!" Airin melempar semua barang-barang yang ada di kamarnya dengan frustasi.
Paman Adam, Bibi Herni dan Nadia mendengar itu keluar dari kamar mereka, dan pergi ke kamar Clarisa.
Mereka menguping dari pintu, mendengar Clarisa teriak-teriak.
"Aduuuhhh !!! jangan-jangan dia kesurupan lagi ?" kata paman Adam.
Merekapun saling pandang. Tiba-tiba...
Buughh !!!
Mereka langsung berlari kocar kacir, ketika pintu tempat mereka menempelkan telinga, di lempar sesuatu dari dalam oleh Clarisa.
__ADS_1