
"Kamu kenapa Clar ??" tanya Meylani dengan wajah menyelidik.
"A..aku kenapa ?"
"Kamu itu dari mana ?"
"Mmm..cari minum di dapur. Aku haus." Jawab Clarisa kemudian segera masuk ke dalam kamar mandi.
Clarisa terus bertanya-tanya, apa rencana B yang akan dijalankan oleh Nadia?
Selesai dari kamar mandi, Clarisa ingin memberitahu Ardan, dia mengambil hpnya diatas meja.
Tiba-tiba dia mengurungkan niatnya, "sebaiknya dia nggak usah tau, nanti mas Ardan pasti khawatir kalau aku beri tahu." Clarisa bermonolog dengan dirinya sendiri.
Gadis bertubuh bongsor itu, menyimpan kembali hpnya.
"Clar, kau belum jawab pertanyaanku tadi !" ucap meylani yang tiba-tiba sudah berdiri di depannya.
"Pertanyaan apa ?" jawab Clarisa bingung, karena dia benar-benar tidak ingat.
Meylani menghela nafas kasar, " huft, itu tentang Ardan. Dia menikah dengan siapa ? trus kau tau dari mana ?"
"Ya ampun Meey ! kau masih penasaran saja."
"Ya iyalah !"
"Hmmm, baiklah ! aku tau dari sosial medianya. Memangnya kau tidak berteman dengan dia ?"
Meylani menggeleng.
"Kalau begitu sekarang kau buka saja sosmednya!"
"Oh iya kau benar Clar, kenapa aku gak kepikiran dari kemaren ya ?"ucap Meylani dengan senyum lebarnya.
"Eh tapi tunggu ! aku punya satu pertanyaan lagi."
"Apa ?"
"Kenapa sekarang kau sudah tidak berhubungan dengan Ardan lagi ? Kau kan bisa berteman dengan istrinya."
"Istrinya posesif. " Jawab Clarisa sekenanya. Kemudian menarik tangan Meylani.
"Ayo kita keluar ini sudah jam 12, kau mau di hukum sama bu Tami ?"
"Eh tapi aku mau buka sosial media Ardan dulu."
"Nanti saja sebentar."
Meylani menyimpan kembali handphone. Dia melempar asal hpnya di atas tempat tidur.
Kesepuluh peserta sudah berkumpul di meja makan. Clarisa terus memperhatikan gerak gerik Nadia.
'Tidak ada yang mencurigakan dari Nadia. Tapi aku harus tetap waspada.' Clarisa bergumam dalam hati.
Semua peserta menikmati makan siang mereka. Hanya Clarisa yang nampak gelisah. Sampai-sampai dia tidak banyak makan siang ini.
"Oke anak-anak, selesai makan siang ini. Silahkan kalian melanjutkan kembali istirahat kalian. Sore nanti jam 4 kita berkumpul kembali di aula." Ucap bu Tami pada anak-anak kosnya.
__ADS_1
Para peserta school idol satu per satu meninggalkan meja makan mereka. Kemudian melangkah ke kamar mereka masing-masing.
Di kamar Clarisa duduk bersandar di kepala ranjangnya, sambil membaca buku.
Sedang Meylani sibuk berseluncur di dunia maya. Gadis berwajah oriental itu, terlihat sedang membuka akun media seseorang yang sudah lama dia kagumi.
"OH TIDAAAKK !!" Teriak Meylani membuat Clarisa spontan melompat dari duduknya.
"Ada apaa ?" Tanya Clarisa panik.
Sementara orang yang di tanya cengar cengir, tidak menyangka teriakan dia sebegitu dahsyatnya.
"Hehehe, kaget ya Clar ?"
"Iya ! ada apa sih ?"
Meylani bangkit kemudian berdiri di samping Clarisa. Dia menunjukkan sebuah foto.
"Lihat ini ! Ardan ganteng bangeeet pake baju ini. Dia seperti seorang polisi beneran. Tidak ada yang sangka kalau dia ternyata masih SMA. Iya kan Clar ?"
Clar nampak terkejut melihat foto Ardan yang ditunjukkan oleh Meylani.
Meylani menscroll ke bawah album foto Ardan, menelusuri setiap foto yang terpasang.
Mata Clarisa pun tak lepas dari gambar yang terlihat di hp Meylani.
Sampai akhirnya, mereka terhenti pada sebuah foto, yang membuat adrenalin kecemburuan Clarisa menjadi naik. Bagaimana tidak ? di foto itu terlihat jelas Ardan merangkul pinggang seorang wanita dari belakang, tangan kiri wanita itu memegang pipi Ardan dan tangan kanannya memegang kamera untuk mengabadikan potret mesra mereka.
Di bawah foto itu tertulis sebuah kata, 'I can't stop loving you ! Ardan love Gita'.
' Mengapa mas Ardan tidak menghapus foto itu dari media sosialnya. Apa jangan-jangan mas Ardan masih mencintai dokter Gita ? Sedang fotoku tak ada satupun disitu.' Clarisa berucap dalam hatinya.
"Mereka mesra banget ya Clar, apa ini istrinya ? tapi kok gak ada foto nikah mereka ya ?" tanya Meylani. Namun, Clar tetap diam tidak menanggapi, dia sibuk dengan pikirannya.
Meylani mengguncang pelan bahu Clarisa, "kau kenapa ?"
Seketika Clarisa sadar, " eh..iya kenapa Mey ?"
"Kau gak dengar, aku tadi nanya ?"
"Nanya apa ?"
" Apa benar wanita ini istrinya ?"
"Eh bu..bukan ! istrinya bukan itu."
"Trus yang mana ? dari tadi juga gak ada foto nikahannya."
"Mungkin sudah dia hapus. Soalnya kan dia dan istrinya masih SMA, jadi kalau ketahuan nikah bisa di keluarkan oleh pihak sekolah."
"Mmm iya benar juga ya ! Mereka sekolah di mana sih Clar ?"
" Yang jelas bukan di sekolah kita."
"Ih iyaa, itu juga aku tau Clar ! "
Sejak kejadian siang tadi melihat foto Ardan, Clarisa sudah tidak semangat melakukan aktivitas lainnya.
__ADS_1
Seperti sore ini, dimana semua peserta saat ini sedang berkumpul di aula. Mereka melakukan perkenalan dan melakukan beberapa game, untuk menciptakan keakraban diantara satu sama lain.
"Clar ! aku perhatikan dari tadi kau seperti tidak semangat. Kau kenapa?" tanya Meylani saat mereka berjalan ke kamar, usai melakukan kegiatan sore ini.
"Gak kenapa-napa kok !" jawab Clar mencoba menutupinya dengan tersenyum.
"Kau gak usah bohong ! aku tau kau pasti ada masalah. Iya kan ?"
Clarisa menarik nafas panjang, dan bercerita, agar Meylani tidak mengalami guncangan kepo yang dahsyat.
"Tadi aku di antar kakakku, ditengah jalan kami di begal, untungnya ada polisi lewat. Tapi, kakakku sudah kena tusuk. Sekarang dia di rumah sakit. Aku cuma mikirin kakakku aja."
"Ya ampun Clar ! kau minta izin sama bu Tami untuk jenguk kakakmu sebentar."
"Gak usah ! kakakku gak kenapa-kenapa kok. Lagian kitakan baru masuk. Masa iya harus minta izin ?"
Meylani menarik tangan Clarisa, " ikut aku !"
"Eh kemana Mey ?"
Meylani terus menarik tangan Clar, sampai akhirnya berhenti di depan ruangan bu Tami.
Meylani mengetuk pintunya, dan menarik Clarisa masuk setelah ada jawaban dari dalam.
Clarisa menatap teman sekamarnya dengan tidak percaya. Dia memohon pada bu Tami untuk memberi izin pada Clarisa ke rumah sakit.
"Oh begitu ? Hmmm.. ya sudah. Clar kamu saya beri izin untuk ke rumah sakit. Tapi jam 8 malam kau harus sudah sampai di kosan lagi. Mengerti Clar ?"
"Eh..i..iya mengerti bu. Makasih atas izinnya bu."
Sebenarnya Clarisa tidak ingin ke rumah sakit, karena sudah ada mama Rani yang menjaga Ardan.
Tapi karena sudah di beri izin, Clarisa berangkat saja ke rumah sakit. Dia juga ingin bertanya pada Ardan mengenai foto itu. Kenapa dia masih menyimpannya ? terus kenapa foto dia tidak ada ?
Sebelumnya Clarisa membeli buah yang Ardan sukai.
Sampai dirumah sakit, Clarisa bertanya ke bagian informasi mengenai kamar suaminya, sebab Ardan belum dipindah saat dia pamit tadi.
Clarisa mengayunkan langkah kakinya, menuju kamar Ardan VIP Seruni.
Langkah kakinya terhenti di depan pintu. Manakala dia melihat di kamar itu, tidak hanya ada mama Rani tapi juga dokter Gita dan seorang wanita yang seumuran dengan mama Rani. Clarisa menebak kalau itu adalah mamanya dokter Gita.
Mereka terlalu asyik bercerita sampai tidak menyadari kehadiran istri Ardan, Clarisapun mendengar apa yang mereka katakan.
"Jeng Rani biar Gita saja yang suap Ardan." ucap mama Gita yang langsung mengambil mangkok bubur di tangan bu Rani. Kemudian menarik Gita berdiri di samping Ardan dan memberikan semangkok bubur di tangan dokter Gita.
Hati Clar sakit ketika melihat Ardan menyambut baik saat dokter Gita mengarahkan sendok ke mulutnya, dia membuka mulutnya menerima suapan dari dokter Gita.
" Kalian berdua itu sangat serasi. Harusnya dulu gak usah putus. Mungkin saja kalian di pertemukan kembali karena kalian memang jodoh. Iya kan jeng Rani ?"
Bu Rani hanya tersenyum tipis, menanggapi ucapan mamanya Gita.
Clarisa sudah tidak ada niat ingin masuk dan berbaur dengan mereka.
Tiba-tiba netra Clarisan dan Ardan bertemu.
"Claar ?"
__ADS_1