
"Itulah kesepuluh peserta topten school idol. Nah sekarang mari kita berkenalan dengan para juri kita !" Host laki-laki berucap lantang dibalik microphonenya.
Host wanita melanjutkan ucapan dari partner hostnya, "Yang pertama ada Mas Indraaaa !"
Sang empu nama segera berdiri dan melambaikan tangan kepada para penonton. tepuk riuh kembali terdengar.
"Selanjutnya ada bunda Faraaa !"
Wanita anggun itu menyapa penonton dengan lambaian tangannya.
"Terakhir ada juri yang paling ganteng, baik hati dan tidak sombong, siapa lagi kalau bukan, mas Sudikaaaah !"
Kali ini bukan teriakan histeris yang di dapat dari para penonton. Melainkan teriakan "huuuuuuuuuu !!"
Akan tetapi tidak menyurutkan kepercayaan diri mas Sudikah, dia tetap berdiri melambaikan tangannya.
Ardan melihat itu tertawa lucu. Dia kembali teringat dengan petugas kesehatan yang mengambil darah Clarisa ketika saat mendonorkan darah.
Melihat wajah mas Sudikah dia teringat wajah pak Bryan alias pak Risik.
"Hahahahaha, kok bisa wajah mereka sama. Apa jangan-jangan mereka kakak beradik ?"
Ardan berbicara sendiri.
"Kau kenapa tertawa sendiri ? " tanya bu Rani dengan kening mengkerut.
"Itu ma, juri yang ke tiga tadi. Mukanya lucu. Aku jadi ingat petugas medis yang ambil darah Clarisa waktu donor kemaren."
"Ooo.." ucap bu Rani kemudian mengalihkan kembali pandangannya ke depan.
"Eh ma ! petugas medis itu namanya pak Bryan Risik Adam."
"Ooo...trus apa pentingnya buat mama, kamu kasih tau namanya ?"
"Mama gak ingin kenalan gitu ? nambah daftar calon suami mungkin ?"
Bu Rani memejamkan matanya, menarik nafas kemudian mengayunkan tas kecilnya ke wajah tampan anaknya.
Buuugghh !
Seketika Ardan merasa begitu banyak burung berkeliling di kepalanya.
Pak Damar seketika menoleh ke arah ibu dan anak itu.
"Kalian berdua baik-baik saja ?"
"Oh iya pak, kami baik-baik saja." Jawab bu Rani sambil tersenyum.
"Ardan itu kenapa lagi bu Rani ?"
"Oh itu lagi ngitung burung yang ada di kepalanya, hehehe. Gak usah di hiraukan pak. sebaiknya pandangan kita lurus ke depan pak, menatap masa depan yang bahagia."
"Eeh maksudnya ? "
Bu Rani tersadar, dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Hehehe, maksud saya itu menatap ke depan panggung melihat para peserta yang mempunyai masa depan bahagia, heheh gitu pak."
"Oh begitu ? saya kirain bu Rani mau mengajak saya menatap masa depan bahagia untuk kita."
"Eh maksudnya ?" Bu Rani gantian yang bingung.
__ADS_1
"Oh gak bu, gak ada maksud apa-apa. Ayo nonton lagi." ucap pak Damar kemudian mengalihkan pandangannya ke depan panggung.
"Luarr biasa, mama memberikan sinyal dan di tangkap langsung oleh pak Damar." Bisik Ardan.
Bu Rani mencubit pinggang Ardan, "Aaauuwww, sakit maa!" pekik Ardan tertahan.
"Bisa diam gak ?" Bu Rani menatap Ardan dengan mata melotot.
"Iyaa..!" balas Ardan kemudian fokus kembali melihat ke panggung.
Acara kemudian di buka dengan penampilan Nadia.
Entah mengapa performa Nadia malam ini sangat tidak memuaskan. Pasangan duetnya lebih banyak mengambil peran daripada dia seorang peserta.
Penilaian juri membuat muka Nadia terlihat kecewa. Bagaimana tidak ? para juri seperti tidak mengenal suara Nadia saat ini. Mereka berharap di penampilan Nadia yang ke dua nanti, suara khas seraknya saat audisi itu terdengar kembali.
Satu per satu peserta maju dengan performa terbaik mereka. Ada yang dinilai juri bagus, ada juga yang kurang.
Ardan semakin gelisah menunggu penampilan istri kecilnya.
Selesai penampilan peserta ke sembilan. Mas Sudikah segera berdiri dan lari kebelakang panggung.
Penonton yang melihat itu segera berteriak "Huuuuu....!"
Kedua host segera mengambil alih dan menenangkan para penonton.
"Okee ! Sekarang kita lanjut ke peserta ke sepuluh. Dimana peserta ini akan berduet bersama dengan mas Sudikah !" ucap host laki-laki dengan lantang. Sontak penonton di depan panggung meneriaki, seolah-olah tidak setuju dengan pasangan duet Clarisa.
Ardanpun tak kalah kagetnya. Dia berpikir pasti penampilan Clar tidak jauh berbeda dengan Nadia.
"Baiklah mari kita sambut penampilan peserta ke sepuluh, Clarisaaaa featuring mas Sudikah !"
...(Judika feat Siti Nurhaliza ~Kisah yang kuinginkan. Para pembaca diharapkan mendengarkan lagu sambil membaca cerita ini ya heheheh.)...
Mas Sudikah ~ Telah, ku tentukan arah.
...Yang akanku tempuh disisa hidupku....
...Karna,telahku temukan....
...Kisah yang Ku Inginkan...
...Dan ku impikan....
Lampu sorot kembali menyoroti seorang gadis yang mengenakan dress sebatas lutut. Dimana warnanya senada dengan kemeja mas Sudikah berwarna biru.
Penampilannya semakin manis, dengan menggunakan mahkota bunga di atas kepalanya. Sedang rambut panjangnya dibiarkan tergerai indah.
Siapapun tidak akan menyangka kalau dia adalah si gendut Clarisa.
Gadis itu bernyanyi sambil berjalan pelan ke arah pasangan duetnya.
...Clarisa ~ Sudahku tambatkan hati....
...yang selama ini berlayar tak pasti....
...Kini telahku temui....
...Kasih yang aku cari....
...Cinta yang pasti....
__ADS_1
...Mas Sudikah ~ Berakhir sudah pencarian jalan cinta...
...Berlabuh di ikatan suci kita...
...Berhenti sudah keresahan dalam jiwa...
...Kini Aku dan kamu...
...Tak terbatas oleh waktu...
...Tak terlarang tuk menyatu...
...Karna kau resmi milikku....
...Clarisa ~ Kita akan menjaga...
...Janji suci yang telah terikrar...
...Dan saling setia selamanya...
Mas Sudikah dan Clarisa membuat semua orang yang ada digedung, ikut hanyut dalam lagu yang mereka bawa.
Ardan merinding mendengar suara kolaborasi dari Clarisa dan mas Sudikah.
Terlebih lagi pilihan lagunya, yang liriknya sangat mewakili hatinya saat ini. Ardan menginginkan kisah seperti dilagu itu, menjaga janji suci yang telah terikrar dan saling setia selamanya.
Ardan melihat Clarisa begitu menghayati lagu yang dia bawakan. Malam ini, Ardan semakin dibuat bucin oleh Clarisa.
Standing uplouse dari para juri dan seluruh penonton diberikan kepada pasangan duet di depan mereka.
Clarisa dan Mas Sudikah tersenyum bahagia mendapat sambutan yang sebegitu meriahnya.
Kedua host kemudian maju kearah pasangan duet maut itu.
"Clarisaaaa...! mas Sudikah ! Waaooo,, aku benar-benar merinding dibelakang panggung dengar suara cetar membahana kalian." Puji host laki-laki yang kini berdiri diantara Clarisa dan mas Sudikah.
"Kalau begitu langsung saja kita dengarkan komentar para juri kita, yang pertama silahkan mas Indra !" ucap host wanita mempersilahkan mas Indra untuk berkomentar atas performa Clarisa dan mas Sudikah.
Mas Indra mengambil nafas," Huuuft ! mas Sudikah aku benar-benar gak nyangka, waktu aku lihat kalian latihan kemaren, berdebat terus ya ? aku berpikir disitu, penampilan Clarisa akan kacau di buat oleh seorang mas Sudikah. Tapi ternyata diluar ekspetasi saya. Suara kalian benar-benar membuat kacau suasana hati kami semua yang ada disini. Suara kalian berdua benar-benar powerfull. Standing uplouse sekali lagi untuk kalian berdua." Komentar mas Indra yang kemudian berdiri bertepuk tangan diikuti oleh teriakan histeris anak-anak muda di depan panggung.
Mendengar itu, Ardan benar-benar bangga dengan istri kecilnya yang berada di atas panggung.
"Oke luar biasa, baru ini mas Indra melakukan standing oplouse untuk peserta, dua kali lagi. Selanjutnya kita dengarkan komentar dari bunda Faraaaa!"
Wanita anggun dengan dress gold itu, mendekatkan wajahnya ke arah mic kecil didepannya.
"Seluruh ungkapan hati saya tadi sudah terwakili dari mas Indra. Selain suara Clarisa yang membuat saya terkejut, penampilan dia pun malam ini membuat saya tidak mengenalinya. Beautyfull girl !" Puji bunda Fara.
"Clarisa, saya melihat tadi kamu begitu menghayati lagu yang kamu bawakan. Bunda mau tanya, apa clarisa sudah menemukan tambatan hatinya ?"
DEG !
Clarisa diam, "Mmm...itu...mmm..."
Semua orang diam, menatap kearah gadis cantik di atas panggung, menunggu jawaban yang keluar dari mulutnya.
Netra Clarisa kemudian menangkap sosok Ardan yang duduk diantara penonton. Kemudian Clarisa segera mengalihkan pandangannya.
Hati Ardan seketika menciut, melihat tatapan Clarisa yang seperti tidak senang melihatnya.
Clarisa menarik nafas dan membuka suara, memberikan jawaban atas pertanyaan bunda Fara.
__ADS_1