Si Gendut Itu Aku !

Si Gendut Itu Aku !
Mencuri


__ADS_3

Ardan dan Clarisa saling diam. Saat ini mereka sudah berada di taman dekat kos Clarisa.


Clarisa menunduk dia tidak berani menatap Ardan. Sedang Ardan terus menatapnya.


"Apa maksud kamu menulis surat seperti itu Clar ?" Tanya Ardan dengan terus menatap Clarisa.


"Mmm...a..akuu." Clar kebingungan mau menjawab apa.


"Lihat aku Clar, dan jawab pertanyaanku !"


"Ardan ! kau percayakan kalau aku ini kuat ? Jadi, aku tidak ingin kau merasa tidak enak lagi denganku. Atau merasa terbebani dengan apa yang sekarang kau kerjakan. Kau ditugaskan untuk menjagaku, bukan berpura-pura mencintaiku."


"Berpura-pura?"


"Ardan kau punya tunangan, dan dia cantik. Sangat pantas bersanding denganmu."


"Pantas menurutmu, tapi tidak menurutku."


Keduanya kembali terdiam.


"Dulu aku dan Vanya di jodohkan. Awalnya aku terima saja. Karena ku pikir Vanya gadis yang baik. Tapi , Tuhan memperlihatkan siapa dia sebenarnya sebelum perjodohan itu berlanjut ke pernikahan." Cerita Ardan.


"Memangnya apa yang Tuhan perlihatkan ?"


" Saat itu aku sedang patroli ke sebuah club. Aku menemukan dia di sana sedang bercumbu dengan laki-laki yang ternyata itu pacarnya. Mengetahui kelakuan memalukan anaknya,orang tua Vanya mengirimnya ke Australia untuk kuliah disana. Semenjak dari itu, aku gak pernah lagi berhubungan dengan dia. Dua minggu lalu dia pulang ke Indonesia."


"Trus dari mana dia tau aku ? Kalau memang selama ini kau tidak pernah berhubungan lagi dengan dia ?"


"Di Australia dia sering melihat media sosialku. Dia tau tentangku dari papanya yang merupakan atasanku di kantor. Aku selalu mengunggah kebersamaan kita di medsosku. Dari situ dia tau, kalau aku dekat denganmu."


Clarisa masih menunduk, memikirkan cerita Ardan dan Vanya.


Ardan memegang tangan Clarisa menggenggamnya erat.


"Clar ! katakan padaku ! apa yang harus aku lakukan agar kau yakin dan percaya dengan perasaanku ?" Tanya Ardan sambil membelai lembut rambut Clar, dan menyisipkan rambut yang menutupi wajahnya ke belakang telinga.


"Clar ! apa jangan-jangan kau menghindariku gara-gara..??" Ardan menggantung ucapannya.


"Gara-gara apa ? " Tanya Clarisa dengan menatap mata Ardan penuh tanda tanya.


"Gara-gara, kau mencintai mas Sudikah ?"


"Ardaaaann!!!"


Clarisa menghujani Ardan dengan cubitan tanpa ampun.


"Mamiii !!!" Nadia berlari masuk ke rumah tanpa salam.


Dia mencari maminya.


Bi Herni, yang sementara mengoleskan skincare ke wajahnya, terkejut mendengar teriakan putrinya.


"Heiii ! Kau kenapa teriak-teriak ?"Hardik bi Herni kepada putrinya.


"Miii, tau nggak ? Tadi di sekolah aku liat Clar sudah berbeda miiii."


"Berbeda gimana ?"


"Badannya sudah mulai kurus mi, masih besar sih. Tapi sudah tidak sebesar kemaren-kemaren. Sudah mulai baguslah mi. Paling kalo sebulan, Nadia rasa dia bisa kurus."


"Waah kok bisa ya ? padahal baru juga seminggu."


"Iya mi, apa jangan-jangan dia melakukan sedot lemak mi ?"

__ADS_1


"Akh gak mungkin ! Sudahlah gak penting ! Sekarang kamu bantu mami oleskan skincare ini ke wajah mami ya ?"


Nadia mengambil krim di tangan maminya, dan mengoleskan di wajahnya dengan wajah manyun.


Tiba-tiba pak Adam datang dengan wajah kusut.


"Papi kenapa ?" tanya Nadia.


"Nadia ! Mami ! usaha papi sepi." Ucap pak Adam lemas.


"Trus gimana dong pi ? Emang kenapa bisa usaha kita sepi ?"


"Banyak saingan mi, toko-toko besar tentunya dengan modal yang besar juga."


"Papi siihh malas ke toko, selalu andalin karyawannya. Kerjaannya cuma di rumaaaah terus." Sindir Nadia dengan menatap sinis ke papinya.


"Gimana kalau minta modal ke perusahaan ayahnya Clarisa pi !" ucap bi Herni memberi saran.


"Papi gak akan dikasih, orang-orang dalam perusahaan Handoko sudah tau papi. Dan mereka itu merupakan orang-orang terpercaya Handoko."


Handoko adalah Ayah Clarisa, yang merupakan kakak dari paman Adam. Berbeda dengan Adam, Handoko pekerja keras. Itulah sebabnya, semua usahanya berjalan lancar dan sukses.


Kesuksesan itulah yang memicu rasa iri di hati Adam, sampai akhirnya dia rela melakukan cara haram, untuk membunuh Handoko dan istrinya, lewat sebuah kecelakaan mobil dengan rem blong.


Adam berpikir akan mewarisi semua kekayaan kakaknya, tapi ternyata putri tunggal Handokolah yang akan mewarisinya.


Tapi, jika Clarisa menikah maka semua harta akan jatuh ke tangan anak Clarisa. Itulah mengapa Adam dan keluarganya mencoba membuat penampilan Clarisa tidak menarik, agar tidak ada laki-laki yang meliriknya. sehingga harta itu tidak akan jatuh pada turunan Clarisa.


"Ahaaa! Mami ada akal pi!"


"Apa ?"


"Mumpung tidak ada Clarisa di rumah ini, gimana kalau kita mencari surat-surat penting yang ada di rumah ini. Trus kita gadaikan ke bank."


"Tapi tidak semudah itu menggadaikan barang tanpa pemiliknya sendiri."


"Mami memang cerdas." Puji Nadia.


Malam ini, satu keluarga itu menyusuri ruang kerja pak Handoko ayah Clarisa.


"Kita cari surat-surat berharga disini oke !" perintah bi Herni pada suami dan anaknya.


Mereka kemudian membuka laci demi laci yang ada di ruang kerja. Mereka melihat map-map dengan teliti.


"Bagaimana ? Ada apa tidak ?" tanya suami bi Herni.


"Sepertinya gak ada di sini deh mi." keluh Nadia yang kecapean usai mencari berkas penting itu.


"Eh mi, pi, gimana kalau kita cari di kamar paman Handoko ? Siapa tau dia simpan di dalam lemari baju mereka."


"Tapikan kamar itu di kunci. Biasa Clarisa yang masuk di dalam."


"Clarisakan tidak ada mi, kita cungkil aja pintunya. Trus setelah kita dapat, kita panggil tukang memperbaikinya."


"Nanti kalo Clarisa tiba-tiba datang gimana ?" ucap pak Adam Khawatir.


"Yah gampang tinggal bilang kalo ada perampokan di rumah ini." Usul Nadia.


Adam dan istrinya tersenyum senang dengan ide dari putri mereka.


"Anak mami memang hebat otaknya."


"Iya dong mi, hehehe ."

__ADS_1


Ketiga orang itu segera melangkah menuju kamar utama di rumah ini, yakni kamar pak Handoko.


Pak Adam hendak mencungkil pintu kamar dengan obeng.


"Eh tunggu pii !" seru Nadia.


"Kenapa ?" Tanya papinya.


"Gimana kalau kita masuk lewat jendela aja. Kalau lewat jendela kesan perampokan itu kuat, trus kalo tukang memperbaiki tidak akan dilihat oleh Clarisa, kan jendelanya di belakang." Jelas Nadia pada papi dan maminya.


"Boleh...boleh..! Ayo mi kita ke belakang !"


Sampai di belakang, satu keluarga ini mulai melancarkan aksi mereka.


Usai dari latihan nyanyi, Clarisa minta Ardan untuk diantar pulang ke rumahnya. Dia ingin melihat keadaan rumah, usai dia tinggalkan selama seminggu.


Clarisa membuka pintu depan, dia heran kenapa pintu tidak di kunci.


Dia berjalan masuk, tidak menemukan orang-orang di rumah.


'Apa mereka keluar ? tapi kenapa pintu gak dikunci ?'Gumam Clarisa dalam hati.


Saat Clarisa hendak naik ke atas, dia mendengar sesuatu, dari dalam kamar ayahnya.


Dia menempelkan telinganya pada pintu kamar untuk mendengar suara itu lebih jelas.


Dia mengenal suara yang ada di dalam.


"Ngapain mereka di dalam ?"


Clarisa ingat kalau bi Herni pernah bilang, ini adalah kamar orangtuanya, dan kunci itu dia yang pegang. Tapi dia lupa dimana kunci itu.


'Apa mereka punya kuncinya ?' gumam Clarisa dalam hati.


Clarisa berjalan ke belakang, mencoba melihat apa yang mereka lakukan di dalam kamar itu melalui jendela kamar.


Betapa kagetnya dia, melihat jendela itu sudah di cungkil dan dibuka paksa.


"Jadi mereka masuk lewat jendela sini."


Dia kemudian menunduk, agar tidak terlihat. Dia melihat apa yang mereka lakukan.


"Wwaaahhh emasnya banyak banget, ini bisa dijadikan modal pi."


"Iya mi, Nadia mau pake satu, cincin ini mi."


"Eh kalian ini, ayo bantu papi cari surat rumah ini !"


Kini Clarisa tahu apa yang mereka lakukan di dalam. Clarisa tersenyum penuh arti, dia berniat ingin mengerjai keluarga perusuh itu.


Dia berjalan ke teras depan lewat samping kamar ayahnya, dengan diam-diam. Sampai di sana dia matikan listriknya.


Clarisa berjalan kembali ke jendela kamar ayahnya. Dia mendengar suara keluarga perusuh itu, krasak krusuk karna gelap.


Clarisa, segera berdiri tepat di jendela kamar yang terbuka. Rambut panjangnya dia juntaikan ke depan sehingga menutupi sebagian wajahnya. Dengan memakai senter dari hpnya , dia sinari wajahnya dari bawah dagu, dan membuat ekspresi seseram mungkin.


"Ka...liaann sedaaang aapaaa ?" Suara Clarisa dibuat serak dan datar.


Paman Adam, bi Herni dan Nadia terperanjat melihat sosok Clarisa yang di kira hantu.


Brakkk..bruukk !!


Brakkk..bruukkk !!

__ADS_1


Mereka kocar kacir lari ke arah pintu, dan menggoyang-goyangkan gagang pintu agar terbuka.


"Setaaannn....setaaannnn!"


__ADS_2