Si Gendut Itu Aku !

Si Gendut Itu Aku !
Keracunan


__ADS_3

Setelah mendengar jawaban Ardan tadi, Clarisa memilih diam. Dia seperti tidak percaya dengan apa yang dikatakan Ardan.


Sedang Ardan bersikap biasa. Dia terus melihat smartphonenya, memilih makan malam yang harus dimakan oleh Clarisa.


"Nah ini dia !" ucap Ardan kemudian menscreenshoot makanan di hpnya yang cocok untuk Clarisa malam ini.


"Ayo kita ke swalayan dulu sebelum pulang!"


ajak Ardan kemudian berdiri dan membayar es kelapa muda mereka.


Sampai di swalayan, Clarisa hanya memilih mengekori Ardan, sedang laki-laki di depannya sibuk memilih makanan yang sesuai dengan yang dia lihat di hp.


Setelah semua sudah di beli, Ardan kemudian membayar ke kasir. Setelah itu mereka kembali pulang.


Ardan selalu mengantar Clarisa pulang. laki-laki manis itu tidak pernah membiarkan Clarisa pulang sendirian. Kecuali saat berangkat sekolah, Clarisa memilih untuk jalan kaki.


Sebelum masuk ke dalam rumah, Ardan menahan Clarisa.


"Clar !" panggil Ardan dengan memegang tangan gadis di depannya.


"Kamu kenapa sih ? Daritadi diam terus ? Kamu masih memikirkan kata-kata para juri itu ya ? " tanya Ardan penuh selidik.


'Gue lagi mikir Daan ! Bab berapa Airin tulis kalau kita dua itu pacaran?' bathin Clarisa.


"Clar ! Jawab dong kamu kenapa ?" tanya Ardan, dengan raut wajah khawatir melihat gadis yang selalu dia bela, tiba-tiba berubah diam sepanjang perjalanan pulang tadi.


Clarisa menarik nafas kasar.


"Aku capek Dan ! Aku ingin istrahat," Clarisa berujar kemudian membuka pintu pagar rumah.


"Clar tunggu ! Jangan lupa ini makan malam kamu !" ucap Ardan kemudian memasukkan makanan yang dia beli tadi ke dalam tas Clarisa.


"Sebentar aku telfon, oke !" ucap Ardan kemudian mencium kening Clarisa.


Clarisa membeku sepertinya jantungnya sudah mau melompat keluar.


Ardan kemudian melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Clarisa. Melihat Clarisa bengong menatapnya.


"Clar ! Are you okey ?"


"Oh iya, oke ! oke !" Clarisa berkata sambil mengangkat jempolnya.


"Ya sudah, masuk gih sana !"


Clarisapun segera masuk tanpa menoleh lagi ke belakang. Dia ingin segera masuk kekamarnya dan membuka kembali cerita yang dia tulis dari bab awal.


Tanpa dia sadari dia melewati orang-orang di dalam rumahnya.


"Mami ! Pokoknya mami harus buat Clarisa gak ikut audisi selanjutnya. Nadia gak mau bersaing dengan Clar !" rajuk Nadia kepada maminya.


"Iya kamu tenang saja. Malam ini mami sudah siapkan makanan yang mengandung minyak. Kamu lihat ini !" Bibi Herni menunjukkan makanan yang mengandung minyak dan sangat kental.


"Mmmm...sepertinya enak mi," ucap Nadia dan ingin merasakan masakan maminya.


"Eekkh, kamu jangan makan ! Nanti suara kamu gak bagus," Bi Herni menahan tangan Nadia yang ingin mencicipi masakannya.


"Iihh mi kan memang suara aku gak bagus !"


protes Nadia, kemudian melanjutkan mencicipi masakan enak di depannya.


"Jangan banyak-banyak ! Kamu mau badan kamu melar kayak Clarisa ?" Ucap bi Herni.


"Iiihh.. Amit-amit deh mi !"


"Yah sudah, sekarang kamu panggil tuh balonku ada 5, turun makan!" Perintah bi Herni pada anaknya.


Nadia menghentakkan kakinya merasa jengkel diperintah maminya.


Sementara Clarisa di dalam kamar mencari-cari draft tulisan novelnya yang dia simpan di hpnya.

__ADS_1


"Ini dia !" Clarisa membaca satu per satu Bab dalam ceritanya.


"Lho kok bab 9 gak ada ? Tapi bab 10 ada !"


Clarisa kebingungan, dia mencoba mengingat apa yang dia ceritakan di bab 9.


Tok !


Tok !


Tok !


Terdengar suara pintu di ketuk. Clarisa membuka pintu kamarnya, ternyata Nadia berdiri di depan pintu kamar dengan wajah cemberut.


"Mami panggil makan !" Ujar Nadia kemudian berlalu.


Clarisa menutup pintu kamarnya kembali. Dia tidak ingin turun makan.


"Clarisa kok gak turun-turun sih mi ?" Tanya Nadia kesel.


"Sebentar lagi pasti turun. Nggak mungkin dia menolak makanan enak seperti ini." Ujar papi Nadia paman Adam.


"Mami tau ? Suara Clarisa sangat bagus. Mami harus bisa merusak suaranya, supaya dia nggak bisa ikut audisi lagi mi,"rajuk Nadia pada maminya.


"Iya kau tenang saja, itu urusan mami sama papi. Tugas kamu harus bisa menang lomba school Idol. Mengerti ?" Ucap Bi Herni.


"Mami udah punya rencana ?" Tanya suaminya.


Bi Herni tersenyum miring.


"Sudah !" Jawab bi Herni mantap. Dia pun menjelaskan rencananya, kepada suami dan anaknya.


Mereka bertiga tertawa jahat, membayangkan rencana mereka.


Ke esokkan paginya, Clarisa sudah bersiap akan ke sekolah.


Bibi Herni memanggil Clarisa, menyuruhnya sarapan.


"Claaar ! Sarapan dulu, kalau tidak kau tidak ku izinkan ke sekolah hari ini. Mengerti ?" Ancam paman Adam


Mendengar itu, Clarisa terpaksa duduk untuk sarapan.


"Tapi aku tidak akan menghabiskannya bi !" Ucap Clarisa.


"Iya tidak apa-apa, yang penting kau mau sarapan, "kata bi Herni tersenyum.


Melihat Clarisa memakan roti gandum itu, bi Herni , paman Adam dan Nadia tersenyum penuh kemenangan.


Clarisapun pamit ke sekolah. Di tengah jalan dia mempercepat langkahnya, ada sesuatu yang harus dia tuntaskan.


Sampai di sekolah dia segera ke kamar mandi. menuntaskan sesuatu yang ada di dalam perutnya.


Ardan mencari-cari Clarisa, di kelaspun dia tidak menemukannya.


Clarisa tampak lesu keluar dari kamar mandi. Ardan melihat dia dari kejauhan, dan segera berlari mendekati gadisnya.


"Kau kenapa ?" Ardan kaget melihat wajah pucat clarisa.


Clarisa meringis kesakitan memegang perutnya.


"Perutku sakit sekali Daann ! Kau tau aku sudah 3 kali bolak balik kamar mandi."


"Memangnya kau habis makan apa ? Semalam kau tidak makan masakan bi Hernikan ?" Tanya Ardan khawatir.


Clarisa menggeleng.


"Trus pagi ini kau makan sesuatu ?" tanya Ardan kembali.


"Iya, aku makan roti gandum dari bi Herni. Paman mengancamku, tidak akan mengizinkan aku masuk sekolah, kalau aku tidak sarapan." Jelas Clarisa membuat Ardan marah dengan paman dan bibi Clarisa.

__ADS_1


"Ayo kuantar kau kerumah sakit! Aku yakin bi Herni pasti sudah memasukkan sesuatu ke roti itu." Kata Ardan penuh curiga.


"Tapi ? Bagaimana dengan audisinya ? Sebentar lagi, audisi dimulai," tanya Clarisa dengan wajah menahan sakit yang semakin melilit di perutnya.


Hari ini sekolah diliburkan, karena audisi akan berjalan satu hari.


"Kesembuhanmu itu lebih penting Clar daripada audisi. Ayo cepat!" ucap Ardan kemudian memapah Clarisa berjalan ke tempat parkir sekolah.


"Program dietmu harus berhasil Clar." Ucap Ardan tiba-tiba.


"Harus ya ?"


"Iyaa, kalau kau sakit beginikan aku tidak kesusahan menopang jalanmu, langsung ku gendong." Ucap Ardan kemudian tertawa.


"Iiiisshh, apaan sih orang lagi sakit dibecandain." ucap Clarisa kesal, dia semakin memberatkan badannya ditopang Ardan.


"Ehh..ehh..i.iya ampun. Hampir saja jatuh tadi."


Clarisa terkekeh melihat muka merah Ardan menahan berat badannya.


Di tempat parkir, mas Sudikah salah satu juri di school idol melihat Clarisa akan pergi.


"Eh tunggu !" teriak mas Sudikah kemudian berjalan mendekati Clarisa dan Ardan yang sudah bersiap di motor untuk pergi ke rumah sakit.


Mas Sudikah berdiri di depan motor mereka.


"Kau mau kemana Clar ? Kau mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini?" tanya mas Sudikah sambil berkacak pinggang.


'Hadeeww gak di dunia Airin, di dunia Clarisa orang ini paling merusak hidup gue' bathin Clarisa sambil menahan sakitnya.


"Aku bukan mau menyia-nyiakan kesempatan pak ! tapi aku lagi kena musibah. Perutku sakiiit ! sekarang aku mau ke rumah sakit. Apa hari ini aku boleh izin ?" pinta Clarisa memohon.


"Kamu kira saya ini guru kamu ? saya inikan.."


"Penyanyi terkenal yang ganteng dan baik hati." Potong Clarisa cepat.


Mas Sudikah tersenyum sombong.


"Temanku harus segera ke rumah sakit mas. Mas tidak liat mukanya sudah pucat ?" ucap Ardan dengan nada tidak senang pada laki-laki sombong di depannya.


"Pak, apa bapak tahu ? kata-kata bapak kemaren sudah membuat aku tidak bisa tidur. Makanya sekarang aku sakit pak ! " rintih Clarisa dengan wajah yang dibuat sendu.


Nampak raut wajah mas Sudikah berubah menjadi khawatir dan takut.


"Kemaren bapak sudah menghina ku habis-habisan, apa tidak ada sedikitpun rasa bersalah di hati bapak melihatku begini ?" Suara Clarisa makin terdengar sendu di telinga mas Sudikah.


"Ta..tapi sayakan cuma bercanda. Lagipula bukan cuma saya yang menertawakanmu, teman saya juga." Mas Sudikah terlihat merasa bersalah.


"Ya sudah, kau ke rumah sakit sekarang ! Aku akan bicarakan dengan temanku, agar kau bisa ikut audisi setelah sembuh nanti." Ucap mas Sudikah.


Clarisa sangat senang mendengarnya, dia mengucapkan banyak terima kasih kepada mas Sudikah.


"Terimakasih ya pak Ribut ! aku akan berusaha untuk segera sembuh!" Ucap Clarisa bersungguh-sungguh.


Setelah itu, Ardan segera melajukan motornya membawa Clarisa ke rumah sakit.


Sementara mas Sudikah memasang wajah penuh tanda tanya mendengar kata-kata Clarisa barusan.


"Pak Ribut ? Kenapa dia selalu memanggilku pak Ribut ?" tanya mas Sudikah pada dirinya sendiri.


Melihat tidak ada Clarisa di ruang audisi, Nadia tersenyum puas.


"Sepertinya rencana mami berjalan lancar hehehe," ucap Nadia sambil tersenyum kemenangan.


Audisipun berlangsung dengan lancar, dipandu host keren yang membuat para peserta cewek-cewek histeris.


Di rumah sakit, Clarisa tertidur dengan infus di tangannya. Ardan memandang sayang melihat gadis besarnya di perlakukan seperti ini oleh keluarga Nadia.


Ardan berpikir untuk memberi pelajaran ke Nadia dan orang tuanya.

__ADS_1


Dia tersenyum penuh arti, ketika sebuah ide melintas dipikirannya.


__ADS_2