Si Gendut Itu Aku !

Si Gendut Itu Aku !
Lapor Polisi


__ADS_3

"Ardan !!" teriak bi Herni dan Nadia bersamaan.


Ardan segera merobek-robek kertas itu.


Bi Herni dan Nadia berjalan mundur, pelan-pelan hendak lari.


"Berhenti !" Teriak Ardan membuat 2 wanita itu, berdiri kaku di tempatnya.


"Mana obat alerginya ?" tanya Ardan dengan menatap tajam ke bi Herni dan Nadia.


"Mi, Kasih obatnya !" ucap Nadia menyenggol lengan maminya.


"Obatnya kan sama kamu ! gimana sih?"


Nadia meraba-raba kantong celananya. Mengambil obat dari dalam kantong celananya, kemudian memberikannya pada Ardan.


"Tetap di situ !" tegas Ardan dan masih dengan tatapan tajam.


Ardan segera mengambil segelas air, kemudian meminumkan obat alergi itu pada Clarisa.


"Kalian berdua kemari ! Cepat bantu aku bawa Clarisa ke sofa !" perintah Ardan.


Bi Herni dan Nadia membantu memapah Clarisa untuk di baringkan di sofa.


Mereka terlihat begitu kesusahan memapah tubuh Clar, terlebih lagi Clar sengaja memberatkan tubuhnya. Agar bi Herni dan Nadia kesusahan membawanya.


Usai Clarisa dibaringkan di sofa, bi Herni dan Nadia hendak pergi.


"Tunggu !" teriak Ardan menahan ke 2 wanita itu.


"Kemari cepat !"


Bi Herni dan Nadia berjalan perlahan mendekati Ardan.


"Nadia ! Kau sudah mengganti makanan yang ku bawa ?"


"E...enggak..saya gak menggantinya, ya kan mi ?"


"Iya, setelah kau pergi Nadia langsung memberikannya sama Clarisa." terang bi Herni bohong.


"Jangan-jangan kamu sendiri Ardan yang sudah menaruh udang itu, trus kamu menuduh kami ! iya kan mi ?"


"Iya pasti itu !" ucap bi Herni membenarkan.


"Mereka sudah menggantinya, aku melihat makanan yang kau bawa mereka buang ke tong sampah." Ucap Clarisa yang nafasnya mulai stabil.


"Benar begitu ?" tanya Ardan menatap bi Herni dan Nadia tajam.


"Coba lihat keranjang sampahnya !" ucap Clarisa pada Ardan.


Laki-laki itu segera berdiri dan ke dapur melihat keranjang sampah yang di maksud Clarisa. Ardan membawa makanan yang mereka buang.


"Ini Apa ? "sambil memperlihatkan makanan yang mereka ganti tadi.


"Eh..ituuu, mmm..itu.." bi Herni kebingungan untuk menjawab.


"Ita itu ita itu, sudah gak usah menyangkal !" Hardik Ardan.


"Tante ! ini sudah yang ke dua kali, kau hampir mencelakai Clarisa. Aku sudah tidak bisa mentolerir lagi."


"Ma..maksudmu ?" tanya bi Herni gugup.


"Ini sudah merupakan tindakan kriminal, jadi kalian berdua akan aku laporkan ke polisi."


Seketika bi Herni dan Nadia berubah kaku.


"Gak mi, Nadia gak mau masuk penjara !" keluh Nadia pada maminya.

__ADS_1


"Tenang sayang kamu tenang !" ucap bi Herni menenangkan Nadia.


"Kalau kau melaporkan kami, kami juga akan melapor balik. kau lihat !" ucap bi Herni sambil menjnjukkan wajahnya pada Ardan.


"lihat ini ! wajahku seperti ini karena ulah Clar, dia mencakar-cakar wajahku. Akupun akan melapor balik dengan tuduhan kekerasan."


"Apa tante punya bukti kalau yang melakukan itu Clar ?"


"Bukti ? yang melihat ada suamiku dan anakku."


"Tapikan sudah ku bilang bi, kalau aku tidak punya kuku." Jawab Clar lemah.


"kau tidak punya bukti tante, kalau Clar yang sudah merusak wajahmu, karena kuku Clar tidak panjang."


"Mmm..itu.."


Bi Herni bingung harus menjawab apa, karena memang benar dia tidak mempunyai bukti yang kuat.


"Tante ! sebaiknya kau menjelaskannya nanti di kantor polisi. Ayo ikut aku !"


Ardan memegang tangan tante Herni dan menariknya untuk ikut dengannya ke kantor polisi.


"Jangan ! jangan bawa mami saya !"


"Kamu sebaiknya juga ikut!" perintah Ardan, dan kemudian menarik Bi Herni dan Nadia.


"Apa-apaan ini !"


Tiba-tiba paman Adam sudah berkacak pinggang di depan mereka.


"Papiii !!"


Nadia dan bi Herni segera berlari ke arah paman Adam dan bersembunyi di belakang laki-laki pelindung mereka.


"Ada apa ini ? Kenapa kau menarik anak dan istriku ?" Tanya paman Adam marah.


"Itu karena mereka sudah salah. Mereka hampir saja membunuh Clarisa. Ingat ! ini sudah ke dua kalinya istri anda melakukannya. Maka dari itu aku akan melaporkan dia ke polisi." Terang Ardan yang tak kalah marahnya pada paman Adam.


"Mami gak ada cara lain pi, minta tanda tangan Clar !" bisik istrinya.


Pak Adam melihat ke arah Clarisa, dia melihat ponakannya itu terbaring lemah di sofa.


"Mmm, sebaiknya kita bawa Clarisa ke rumah sakit saja dulu, kasian dia masih terlihat sangat lemah." Saran pak Adam agar Ardan lupa untuk melaporkan istri dan anaknya ke polisi.


"Gak perlu paman, aku sudah gak apa-apa !" tolak Clarisa lemah, dia berusaha untuk bangun.


"Aku ingin bi Herni dan Nadia mendapat ganjarannya." Lanjutnya lagi.


"Claar ! maafkan bibi ! bibi khilaf Clar, bibi melakukan ini semua karena frustasi dengan wajah bibi. Coba seandainya kamu mau tanda tangan biaya pengobatan bibi di klinik kecantikan, bibi gak mungkin ngelakuin ini semua !" Bela bi Herni panjang kali lebar.


Tapi Clarisa sudah tidak percaya dengan omongan bi Herni.


""Ardan ! cepat bawa mereka ke kantor polisi, aku tidak mau di celakai sama mereka lagi." titah Clarisa pada Ardan.


Mendengar itu Nadia dan maminya menangis histeris. Mereka kemudian berlari ke arah Clarisa dan berlutut memohon belas kasihan pada Clarisa.


"Clar maafin aku Clarr, ini semua itu ide mami aku hanya ikutin aja !"


"Lho kamu kok nyalahin mami sih ? kan kamu juga setuju !"


"Tapi mami maksa aku untuk ngelakuin ini ! berarti mami yang salah !"


"Eh eh eh kapan mami maksa, kamu jangan ngomong sembarangan Nadia." Hardik bi Herni marah pada putrinya kemudian menjewer telinga Nadia.


"Aa..duh miii sakit ! lepasiiin!"


"Nggak ! sebelum kamu ngaku kalau kamu juga ikut andil untuk mencelakai Clarisa."

__ADS_1


"Iiihh tapi memang mami yang salah kok !" Nadia berkata sambil meringis menahan sakit.


Clarisa pusing melihat kedua ibu dan anak di depannya saling bantah.


"Sudah stop !"


"Kalian berdua aku maafkan ! tapi jika kalian melakukan lagi ini padaku, gak ada lagi belas kasihan !"


Bibi Clarisa dan Nadia tersenyum girang mendengar perkataan dari Clarisa.


"Aku mau ke kamar, aku mau istirahat." pamit Clarisa.


Ardan kemudian membantu Clarisa berdiri dan membawanya ke kamar.


"Clar ! kau yakin tidak melaporkan mereka ? bagaimana kalau mereka melakukan lagi ? sementara aku tidak ada di sini." ucap Ardan khawatir.


"Tidak, kau tenang saja Ardan !"


"Bagaimana kalau kau tinggal di apartemenku saja. Nanti aku suruh salah satu pembantu di rumah untuk menemanimu di sana !" Tawar Ardan.


Clarisa nampak berpikir, dia menimbang -nimbang tawaran dari Ardan.


"Clar ! kamu mau ya, soalnya aku gak tenang jika kamu ada di dekat mereka."


"Oke ! tapi selama aku di sana, kau tidak usah menemuiku. Aku ingin belajar dengan tenang. Soalnya saat masuk nanti, akan ada ujian akhir semester."


Ardan tersenyum senang mendengarnya.


"Oke ! aku janji gak akan ganggu kamu. Nanti aku juga akan suruh guru nyanyi kamu untuk datang, biar kamu juga bisa belajar nyanyi."


Clarisa tersenyum dengan perhatian Ardan.


"Ardan ! makasih ya, kamu selalu ada untuk aku." Ucap Clarisa sambil memegang tangan Ardan.


Ardan memeluk Clarisa, sambil membelai sayang kepalanya. Clarisa bersandar di dada bidang lelaki penyelamatnya.


"Clar ! aku janji akan jaga kamu sampai kapanpun. Aku akan ada terus untuk kamu."


Dalam dekapan Ardan Clarisa menemukan kenyamanan dan rasa aman.


Saat ini Ardan yang hanya bisa menjaganya, meskipun dia tau Ardan hanya memanfaatkannya. Tapi, Clarisa mencoba untuk menerimanya, yang penting dia mendapatkan rasa aman.


"Ardan, aku tau kau selama ini hanya memanfaatkanku. Awalnya sih aku kecewa, tapi sekarang aku berusaha untuk menerimanya. Mana mungkin pria setampan dan sebaik dirimu menyukai gadis gendut seperti aku !" ucap Clar pelan.


Ardan melepaskan pelukannya, dia menatap Clarisa lekat.


"Maksudmu aku memanfaatkanmu ? untuk apa ?"


"Hadeeew, kau itu tidak usah pura - pura lagi. Kaukan menyamar selama ini untuk menjagaku. Nah, agar kau bisa dengan leluasa menjagaku, kau menjadikan aku pacarmu, dan dengan begitu penyamaranmu tetap aman. Iyakan ?"


"Trus ?"


"Trus, setelah kasus ini selesai dan aku aman dari pelaku kejahatan itu, kau akan memutuskanku. Tapi, tidak usah menunggu kasus itu selesai. Aku sudah siap menganggap hubungan kita ini hanya sebatas teman. Aku tidak akan berharap banyak lagi padamu."


"Sudah ? "


"I..iya sudah, hehehe."


"Kau salah, salah besar dengan semua pemikiranmu. Aku tidak pernah memanfaatkanmu. Aku benar -benar mencintaimu. Kau mau bukti ?"


"Buk..tiii ??"


"Iya bukti kalau aku tidak memanfaatkanmu !"


"A..apa ?"


"Setelah kasus ini selesai, kita menikah !"

__ADS_1


"HAAAAHHH !!!"


Seketika Clarisa sesak nafas. Hadewww !!!


__ADS_2