Si Gendut Itu Aku !

Si Gendut Itu Aku !
Peti berharga


__ADS_3

Saat lagi memikirkan Clarisa, Ardan ingin menelfon gadis itu. Tapi tiba-tiba hp Ardan berbunyi.


Pak Damar ! Nama yang tertera di layar handphonenya.


"Hmm, ada apa lagi ini ?" tanya Ardan pada dirinya sendiri.


"Hallo pak !"


"Hallo Ardan ! tolong kamu cepat kemari ya, Vanya mau coba bunuh diri lagi!"


"Hahh ! bunuh diri pak ?"


"Iya, tolong kamu cepat kemari ya !"


Ardan kemudian, mengakhiri pembicaraannya dengan pak Damar di telfon.


"Drama apa lagi yang kamu buat Vanya ?" geram Ardan, yang kemudian menyambar jaket dan bergegas ke rumah sakit.


"Ardan ! kamu mau kemana lagi ? Baru juga pulang !" tanya bu Rani mama Ardan.


"Ardan mau ke rumah sakit lagi ma, Vanya mau mencoba bunuh diri lagi."


"Hah bunuh diri lagi ? berarti tadi sudah coba bunuh diri ?"


"Iya ma, tapi Alhamdulillah dia selamat."


"Trus sekarang dia coba lagi ? Kayak orang cabut undian aja ya Dan, gagal coba lagi hahahah."


"Huushh mama apaan sih ? Orang mau bunuh diri malah diketawain. Ardan pamit dulu."


"Eh mama ikut ya !"


"Iya ayo ma !"


Ardan dan bu Rani bergegas ke rumah sakit.


Sementara di rumah, Clarisa termenung menunggu balasan dari Ardan.


"Cuma dibaca ? Ishh, ini orang kenapa sih ?"


Clarisa menggerutu sendiri.


Tok..Tok...Tok !!!


Clarisa berjalan membuka pintu kamarnya, dan tersenyum.


"Bibi Herni ? ada apa ?"


"Clar, bibi mau cerita sesuatu. Kamu turun ya."


Clarisapun mengangguk dan diapun beranjak turun.


Dibawah sudah ada Paman Adam dan Nadia.


Clarisa duduk dan kemudian bertanya, "kalian mau cerita apa ?"


"Clar kemaren lalu rumah ini kecurian !" jawab Paman Adam.


Clarisa berpura-pura kaget, "apa saja yang mereka curi ?"


"Semua yang ada di kamar ayahmu Clar !" jawab Bi Herni.


"Memangnya apa saja yang ada di kamar ayahku ?"


"Ada perhiasan ibumu!" Jawab paman Adam.


"Jadi, sebaiknya kamu amankan harta ayah kamu yang lain Clar kalau masih ada, seperti sertifikat atau apalah. Apa kamu tau di mana ayah kamu menyimpan sertifikat itu ?"


Clarisa berpikir ingin mempermainkan keluarga ini.


"Tahu paman !"

__ADS_1


Wajah ke tiga orang itu berseri.


"Dimana Clar ?" tanya bi Herni.


"Ayah pernah memberi tahu aku kalau, sertifikat dan surat berharga lainnya dia simpan di sebuah peti. Terus petinya itu dia tanam."


"Tanam ? Dimana ?" tanya paman Adam.


"Sebentar aku ambil petanya !"


Clarisa berjalan ke kamar. Di dalam kamar Clarisa mengambil kertas dan menggambar peta dengan asal jadi. Kemudian dia memberikan warna merah pada titik peti itu dikuburkan.


"Selesaaii !!" Clarisa tersenyum lebar melihat peta tiba masa tiba akal nya.


Clarisa kemudian turun menemui paman dan bibinya.


"Ini paman !" Clarisa menyerahkan kertas petanya kepada paman Adam.


Saat pamannya akan mengambilnya, dia menarik kembali tangannya.


"Eiitts, tapi paman janji ya, gak boleh kasih tau siapa-siapa, kalau ayah menaruh surat berharganya disitu."


"Iya paman janji ! kamu tenang saja."


Bi Herni mengedipkan mata kepada suaminya.


Clarisa melihat itu seperti ingin tertawa lebar.


"Paman dan bibi tolong simpan peta itu baik-baik ya. Aku percaya sama kalian."


"Iya kau tenang saja sayang, kami pasti akan menyimpannya dengan baik." kata bi Herni dengan mulut manisnya.


"Oh iya ! trus pencuri yang mencuri perhiasan ibu gimana ? Gimana kalau kita lapor kepolisi aja !"


"Polisi ?!" ucap ayah ibu dan anak itu serempak.


"Iya polisi, lagipula aku punya cctv di kamar ayah." Kata Clarisa berbohong, agar ke tiga orang di depan nya ini ketakutan.


"Mmmm, Clar saran paman jangan di lapor ke polisi. Karena urusannya nanti akan ribet."


"Oh gitu ya paman. Ya udah deh, kalau begitu aku ikhlaskan perhiasannya saja. Lagi pula kata Ayah, yang ada di dalam peti itu, jaaaauuuhh lebih banyak."


Clarisa melihat mata ketiga orang di depannya berbinar-binar. Diapun akhirnya pamit kembali ke kamarnya.


"Mi, trus kapan kita pergi ambil peti itu ? " tanya Nadia.


"Besok, hari minggu !" kata pak Adam semangat


"Asyiikk, Nadia sudah gak sabar, siapa tau di dalam peti itu ada emasnya."


Clarisa melihat ketiga orang itu dari balik pintu kamarnya, dengan tersenyum lebar.


"Selamat bersenang-senang ya semua, hahaha!" ucap Clarisa kemudian menutup pintu kamarnya.


Ardan dan mamanya sampai di rumah sakit, mereka segera berjalan masuk ke kamar Vanya di rawat.


Ketika masuk, Vanya berdiri di pinggir jendela, di tangannya sudah ada pembersih lantai. Entah darimana dia dapatkan.


Sedang pak Damar berdiri agak jauh dari Vanya, dia terlihat frustasi dengan keadaan anaknya.


"Vanya ! Apa yang kau lakukan !" teriak Ardan.


"Ya bunuh dirilah Ardan, pakek nanya lagi." ujar bu Rani pelan.


"Maa.."


Bu Rani tersenyum "maaf mama khilaf".


"Vanya ! jangan bertindak bodoh nak. Kau tidak kasian dengan ayahmu ?" bujuk bu Rani pada Vanya.


"Vanya, berhenti untuk bertindak seperti ini. Jangan merugikan dirimu sendiri !" ucap Ardan.

__ADS_1


"Memangnya apa yang kau inginkan ?" tanya bu Rani kembali.


"Tante, Ardan adalah hidupku. Yang aku inginkan adalah Ardan. Jika aku tidak bisa dengannya, lebih baik aku mati."


Bu Rani terbengong mendengar keinginan Vanya.


"Vanyaa, akukan sudah bilang. Kau akan bahagia, tapi bukan denganku. Di luar sana pasti ada laki-laki yang mencintaimu. Ayolah Vanya, lempar botol itu dan kemarilah !"


"Okee, akan aku lempar. Tapi berjanjilah 1 hal padaku !"


"Apa ?"


"Kau mau menikahiku !"


Semua orang kaget dengan permintaan vanya. Terlebih lagi Ardan.


"Berjanjilah Ardan !" pinta Vanya.


Akan tetapi, Ardan hanya diam. Vanya yang melihat sikap diam Ardan mengerti dari jawabannya.


"Selamat tinggal !" ucap vanya dan hendak meminum air di dalam botol itu.


"Aku janji !!"


Vanya terhenti, dia kemudian menatap Ardan. "Kau bilang apa Ardan ?"


"Aku janji akan menikahimu."


Pak Damar dan bu Rani menatap Ardan tidak percaya dengan apa yang dia katakan.


Vanya terlihat sangat senang, dalam hatinya bersorak menang dengan permainan yang dia mainkan. Akhirnya Ardan mau menikahinya.


Vanya membuang botol pembersih dan berlari memeluk Ardan.


Namun, tak sekalipun Ardan membalas pelukan itu.


Melihat itu pak Damar mengerti, dengan apa yang dilakukan Ardan.


"Vanya, ayo kamu kembali ke tempat tidurmu ! " ajak pak Damar kemudian, menuntun Vanya ke tempat tidur.


"Bu Rani, tolong jaga Vanya sebentar ya ! Ardan, saya ingin bicara denganmu di luar sebentar !"


"Baik Pak !" ucap Ardan kemudian mengikuti pak Damar berjalan keluar ruangan.


Pak Damar dan Ardan duduk di taman rumah sakit.


"Ardan ! Saya tau apa yang kau katakan tadi sangat bertentangan dengan hatimu. Jika memang demikian, untuk apa kau lakukan itu?"


Ardan menatap langit, "aku tidak ada pilihan lain, aku bingung pak ! aku cuma tidak ingin Vanya nekat, dan pak Damar kehilangan putri bapak !"


"Kamu masih saja memikirkan perasaan orang lain Ardan. Hmmm...saya minta maaf atas semua ini. Saya tau kalau hatimu sebenarnya hanya untuk saksi kunci kita itukan ?"


Ardan terlihat kikuk ketika pak Damar tau kalau dia mencintai Clarisa.


"Dari mana pak Damar tau soal itu ?"


Pak Damar tersenyum "Sudahlah ! itu tidak penting. Ardan, saya cuma mau bilang, jangan kau paksakan jika ini bertentangan dengan hatimu."


Pak Damar menarik nafas dan kemudian melanjutkan kata-katanya.


"Anak saya memang salah, dan saya tidak akan membiarkan kesalahanmya akan menyakiti hati orang lain. Kau paham maksud saya Ardan ? jadi, jika memang kau tidak bisa memaksa hatimu, datang padaku."


Ardan mengangguk, "Pak maafkan aku ! aku.."


"Ardan kau tidak usah meminta maaf, kau tidak salah, hanya keadaan yang salah." potong pak Damar


Usai berkata, pak Damar berdiri dan berlalu masuk ke dalam rumah sakit.


Ardan memandang punggung pak Damar sampai hilang di belokkan koridor rumah sakit.


Ardan kembali menatap langit, melihat bintang dan Clarisa yang sedang tersenyum manis padanya.

__ADS_1


__ADS_2