
"Ardaaann awaaas !!!" teriak Clarisa dari dalam mobil.
Sebuah balok hendak dilayangkan ke kepala Ardan, tetapi dengan gesit Ardan menghindar, kemudian melakukan tendangan berputar.
Dua orang sekaligus berhasil dia lumpuhkan hanya dengan sekali tendangan. Clarisa terpukau melihat aksi laki-laki yang seminggu lalu menjadi suaminya itu.
"Waaoo hebat juga dia," puji Clarisa.
Para penjahat itu, berdiri mengelilingi Ardan. Satu per satu mereka melakukan serangan pada laki-laki yang berseragam polisi itu.
Namun, tidak ada satupun yang bisa melumpuhkannya.
Clarisa sangat tegang berada di dalam mobil. Dia sangat takut kalau-kalau Ardan bisa mereka kalahkan.
Tiba-tiba, Yudi mendekati mobil Clarisa. Dia menggedor-gedor pintu mobil itu yang terkunci rapat.
Clarisa kaget dan bingung harus melakukan apa ? Sementara itu Ardan sedang bertarung melawan 5 orang penjahat. Sungguh pertarungan yang tidak seimbang 5 lawan 1.
Yudi semakin gencar menggedor - gedor pintu mobil itu, bahkan dia berpindah ke pintu mobil sebelah. Dia berusaha menghancurkan kaca jendela, agar bisa membuka pintu mobil itu.
Hal itu membuat Clarisa semakin panik, keringat bercucuran, bibirnya kelu. Hanya ingin berkata tolong pun dia tak mampu.
Ardan melihat aksi Yudi yang ingin menghancurkan kaca mobilnya. Seketika dia bergerak cepat menghalangi Yudi.
Satu tendangan membuat Yudi terpental cukup keras. Namun, hal itu tidak disadari oleh Ardan. Salah satu dari penjahat itu berhasil melumpuhkan Ardan dengan sebuah pukulan dari belakang.
Clarisa terkejut melihat suaminya jatuh tersungkur. Diapun spontan keluar dari dalam mobil. Dia berlari menghampiri Ardan.
"Maas ! kau tidak apa-apa ?"
"Kau kenapa keluar ?" tanya Ardan kaget melihat Clarisa sudah keluar dari mobil.
Ardan seketika memeluk Clarisa dengan gesit dia berguling menghindari sebuah pukulan. Kemudian secepat kilat dia berdiri, dan Clarisa pun ikut berdiri di belakang Ardan.
Ardan memasang kuda-kudanya, dia kemudian kembali melakukan perlawanan. Tendangan, pukulan berhasil dia lemparkan pada para penjahat itu.
Salah seorang dari penjahat itu, tiba-tiba hendak menyerang Clarisa. Dia melayangkan sebuah pisau ke arah wanita itu. Akan tetapi aksinya, segera dihalangi oleh Ardan.
Ardan secepat kilat menarik tangan Clarisa membawanya mundur, dan dia berputar melindungi badan Clarisa dari sebilah pisau, yang kini menancap di pinggangnya.
"Aakkh.." Ardan mengerang kesakitan.
"Maaass !" Clarisa histeris melihat suaminya, mengeluarkan darah dari pinggangnya.
Tak berapa lama terdengar suara sirine polisi.
Penjahat itu kocar kacir lari meninggalkan target kejahatan mereka.
Sebagian polisi datang menolong Ardan, sebagian lagi melakukan pengejaran. Bersyukur di saat yang tepat, mobil ambulance datang.
Ardan segera di masukkan ke dalam mobil ambulance. Clarisa terus berada di sampingnya.
"Maass ! bertahan ya !" Clarisa terus menangis, dia memegangi tangan suaminya untuk memberikan kekuatan.
__ADS_1
Mobil Ambulance pun melanju membelah jalanan pagi itu.
"Maafin aku ya mas, hiks..hiks..maafin aku !" ucap Clarisa sesegukkan di sela-sela tangisnya.
Ardan berusaha untuk tetap terlihat tegar, dia mencoba menahan rasa sakit yang teramat sangat di tubuhnya.
"Clar, jangan menangis lagi ! a..aku tidak apa-a..apa." Ardan menyingkirkan anak-anak rambut di wajah Clar. Dia membelai lembut wajah oval istrinya.
" Aku tidak apa-apa." ucapnya tersenyum. Clarisa tahu suaminya berbohong, dia menggenggam erat tangan suaminya dan menciumnya berkali-kali. Air mata Clar jatuh membasahi tangan Ardan.
Mobilpun sampai di rumah sakit, Ardan segera di bawah ke ruang UGD untuk di tindaki.
Oleh perawat, Clarisa hanya bisa mengantarnya sampai di depan pintu ruang UGD saja.
Clarisa terlihat sangat kacau sekali, dia terduduk lemas di kursi tunggu. Dia meremas rambutnya frustasi, dan terus menerus merutuki dirinya,"seandainya aku tidak kluar dari mobil, mas Ardan akan baik-baik saja."
"Ya Allah tolonglah mas Ardan ! Selamatkan dia, buatlah dia baik-baik saja." pinta Clarisa.
Tiba-tiba dia teringat belum menelfon mama Rani. Dia merogoh handphonenya dari kantong celananya.
Tuuutt...
Tuuutt.
"Ya Hallo sayang ! ada apa Clar ?" jawab suara dari seberang telfon.
"Maa..hiks..hiks.." Clarisa tidak sanggup untuk berkata.
Bu Rani bingung mendengar tangisan Clarisa di seberang telfon.
"Ma.. mas Ardan kena tusuk oleh penjahat, yang mencegat kita dijalan." terang Clarisa.
Hal itu serta merta membuat lutut bu Rani lemas.
"Maa...mama gak apa-apa ?"
"Gak sayang, sekarang kamu dan Ardan di rumah sakit mana ?"
Clarisa segera memberi tahu alamat rumah sakit pada bu Rani.
Sudah setengah jam berlalu, dokterpun belum keluar memberitahukan keadaan Ardan.
Tidak lama pintu ruang UGD terbuka, Clar segera mendekati dokter yang menolong Ardan. Sejenak Clarisa terpukau dengan dokter di depannya. Masih muda dan cantik.
"Dok gimana mas Ardan ?"
"Alhamdulillah pak Ardan tidak kenapa-napa. Lukanya sudah kami jahit. Untungnya tusukan itu tidak terlalu dalam. Hanya saja dia bekum bisa pulang, karena lukanya masih harus dikontrol terus." ungkap dokter cantik itu sambil tersenyum.
Mendengar itu Clarisa bernafas lega.
"Alhamdulillah kalau begitu dok. Aku boleh masuk ke dalam ?"
"Oh tentu saja boleh, silahkan mba !" ucap dokter itu mempersilahkan.
__ADS_1
Clarisa segera masuk ke dalam, dan betapa kagetnya dia melihat sesosok mayat yang belum dipindahkan ke ruang jenazah.
Clarisa berjalan ke tempat tidur sebelah tempat Ardan berbaring.
"Muka kamu kenapa pucat begitu ?"
"Aku kaget lihat mayat disebelah."
Ardan tertawa, "itu pasien tabrak lari katanya. Cuma keluarganya belum datang."
"Mas kok tau ?"
"Iya, aku tanya sama dokternya tadi."
Berbicara tentang dokter, Clarisa jadi teringat dokter muda dan cantik yang menolong Ardan tadi.
Tiba-tiba pikiran negatifnya bermunculan.
'Ah nggak mungkin ! Ardan itu setia. Diakan mencintai ku apa adanya.' Hati putih Clarisa berbicara.
Tak mau kalah hati hitampun ikut bersuara,
'jangan terlalu PD ,kalau Ardan tidak mungkin tidak punya perasaan apa-apa sama dokter itu. Dia itu laki-laki normal, melihat yang bening pasti ada rasa kagum didalam hatinya.'
'Jangan dengarkan dia ! Ardan itu setia, kalau dia suka yang bening-bening, sudah lama Ardan mencampakkanmu.'
'Tapi kau harus tetap waspada, bagaimana kalau suatu hari Ardan bosan padamu hahaha.'
'Untuk apa bosan ? Ardan mencintaimu apa adanya, ingat dia mencintaimu !'
'Bagaimana kalau itu bohong ?'
'Nggak ! itu nggak bohong, Ardan mencintaimu.'
'Hallaah bullshit !'
Kedua hatinyapun berperang, " Stooooop!!" teriak Clarisa tanpa sadar.
"Kau kenapa ? apanya yang stop ?" tanya Ardan kaget.
"Ehh.mmm..ummnn..itu..."
Belum sempat Clarisa bicara, tiba-tiba pintu terbuka, dan terdengar suara seseorang berteriak histeris.
"Ardaaaaannnn ! jangan tinggalkan mama nak. Banguuunnn ! Ardaaann hikss..hiks.. !"
Terdengar suara mama Rani menangis meraung di sebelah mereka.
Clarisa segera menyibakkan tirai penghalang dan melihat mama Rani menangis sambil memeluk jenazah di tempat tidur samping.
Clar dan Ardan menghela nafas, "Maa ! mas Ardan disini !" panggil Clarisa.
Mendengar suara menantunya memanggil, sontak bu Rani bangun dan melihat putra kebanggaannya sedang berbaring di tempat tidur sebelah.
__ADS_1
Bu Rani segera menjauh dari jenazah itu, " hiiiii mama meluk jenazah siapa ?"
"Korban tabrak lari "ucap Clar dan Ardan bersamaan.