Si Gendut Itu Aku !

Si Gendut Itu Aku !
Main Ketoprak


__ADS_3

"Sssstt ! Jangan berisik tante. Ini Rumah sakit, mengerti ?"


"Eh.i..iya maaf !"


"Setelah Clarisa sadar, sebaiknya tante melakukan sesuatu untuknya, agar dia tidak jadi melapor ke polisi."


"Bantu apa ? Saya akan bantu yang penting saya gak dilaporkan kepolisi !"


"Baik, nanti aku akan bujuk Clarisa agar masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan."


"Oh iya terimakasih"


Bibi Herni terlihat sangat lega mendengar ucapan Ardan.


Ardan memberi kode ke Clarisa untuk pura-pura sadar.


Clarisa membuka matanya perlahan-lahan.


Dia berpura-pura kaget ketika melihat bibi Herni.


"Bibi Herni ? Ngapain bibi kemari ? Lihat apa yang sudah bibi lakukan padaku ? Aku sudah kehilangan kesempatan untuk bisa ikut audisi School Idol."


Ardan terpana melihat akting Clarisa.


'Pintar juga nih anak berakting hehehe' Ardan tertawa dalam hati.


"Aku akan laporkan bibi kepolisi !"


"Eh..eh Clar jangan begitu dong. bibi beneran gak tau tentang roti berjamur itu. Kita bicara baik-baik dulu ya."


"Tante seperti yang aku bilang tadi, kalau tante harus melakukan sesuatu untuk Clar!" Ucap Ardan.


"Apa yang harus saya lakukan ?"


"Tante sudah membuat Clar kehilangan kesempatan untuk ikut audisi hari ini. Jadi, tante ikut aku dan Clar ke sekolah bertemu juri. Tante harus bisa membujuk para juri agar mau memberikan kesempatan pada Clarisa untuk tampil."


'Membujuk juri ? ah tidak mungkin saya melakukan itu, bagaimana kalau Nadia tau ?'


Bibi Herni berujar dalam hati.


"Mmm..Clarisa, gimana kalau kamu ikut bibi pulang. Lupakan audisi itu ! Bibi akan memasakkan makanan enak untukmu ya sayang." Bujuk Bibi Herni.


"Appa ? Tante, memenangkan lomba school idol adalah impian Clarisa. Hari ini tante sudah menghancurkannya dengan menggagalkan dia ikut audisi itu."


Ardan terlihat sangat marah sekali dengan bibi Herni.


"Heiii !! Asal kau tau ya, Clarisa itu suaranya jelek. Dia mau bersaing dengan Nadia, itu sudah tidak mungkin. Makanya, saya membantu Clarisa agar tidak lebih malu lagi."


"Daripada kita kesana membujuk juri, lebih baik kita pulang. Clarisa bisa istirahat. Lagian Clarisa, kamu nanti akan malu jika kamu gagal, iyakan ? Mending kita pulang aja ke rumah ya !"


Bi Herni terus berkata, membuat darah Ardan semakon naik.


"Bi, kemaren waktu aku tampil juri memuji suaraku, mereka yakin kalau aku akan bisa masuk kesepuluh besar. Jadi.."


"Tapi bibi tidak yakin ! " Sanggah bi Herni cepat.


"Mereka itu bisa saja berbohong. Mereka kasihan denganmu. Atau mungkin saja ? kau mengemis di depan mereka untuk bisa lolos ke tahap selanjutnya."


Ardan mengepalkan tangannya menahan emosi.


"Aku tidak bohong bi ! Badanku memang besar tapi aku bisa bernyanyi dengan baik tanpa kesulitan bernafas."


"Hahahaha ! Clarisa..Clarisa kau membuat bibi tertawa saja. Sudahlah nak, biarkan Nadia yang berjuang di sana. Kita pulang ya !"

__ADS_1


Clarisa melihat ke arah Ardan dengan mata berkaca-kaca.


Ardan mendekati gadis itu, membelai sayang kepalanya.


"Baik tante, Clarisa akan pulang. Tapi sebelum itu kita akan singgah ke kantor polisi. Clarisaku harus mendapat keadilan !"


Ardan melihat ke arah bibi Herni, dengan tatapan tajam penuh amarah.


Bibi Herni terkejut, ke dua kakinya gemetar membayangkan dirinya di dalam penjara.


"Eh..eh tunggu..! Ja..jangan ke kantor polisi.


Oke saya akan ke sekolah membujuk juri!"


"Tidak perlu tante ! Yang tante katakan benar. Cukup Nadia yang berjuang di sana, tetapi sangat disayangkan saat tampil nanti dia tidak di dampingi oleh orang tuanya."


" Lho..lho. jangan begitu dong. Clarisa, tante temani ke sekolah ya !" Bibi Herni mencoba mencegah Ardan dan Clarisa.


Ardan memegang tangan bi Herni Agar tidak lari, kemudian menariknya berjalan keluar.


Sepanjang koridor rumah sakit. Bibi Herni trus memohon agar tidak dibawa ke kantor polisi.


"Clar kasihani bibi, nanti siapa yang urus rumah ? " Bibi Herni memohon kepada Clarisa.


"Tenang bi, bukankah kau sudah sering mengajarkanku mengurus rumah ? "


Ardan menuntun bibi Herni masuk ke dalam taksi.


Bibi Herni duduk diantara Clarisa dan Ardan.


"Ke Polsek Batu Lima ya pak !" Perintah Ardan ke sopir taksi.


Bibi Herni mendengar itu langsung menangis histeris.


"Apa ? Berarti bibi memang sengaja mau mencelakaiku ? " Clarisa kaget mendengar pengakuan bi Herni.


"Kata tante tadi, kalau suami tante juga keracunan. Itu berarti bohong tante ?"


"Hiks..i.iya..hiks..hiks.. maafkan tante Clar. Kita jangan ke polisi ya." Bujuk Bi Herni.


Ardan dan Clarisa saling pandang.


" Pak kita ke sekolah Jaya Bakti !" Titah Ardan ke pak sopir.


"Tante sekarang kita ke sekolahan. Tante harus bisa membujuk juri agar Clarisa bisa ikut audisi."


"I..iya akan saya lakukan !"


Bi Herni menarik nafas lega, karena dirinya tidak jadi dilaporkan ke polisi.


Sesampai di sekolah, Ardan masih memegang tangan bibi Herni.


Mereka bertiga berjalan menuju ruang audisi.


Nadia kaget melihat maminya datang bersama dengan Clarisa dan Ardan.


Nadia mendekati mereka bertiga.


"Mami ! ngapain kemari ? Bareng Clarisa lagi."


Mereka bertiga tidak menghiraukan pertanyaan Nadia.


Bibi Herni ingin berbicara, tetapi Ardan segera menarik tangannya.

__ADS_1


"Hei ! Kalian itu percuma datang kemari. Sekarang sudah masuk ke top 20, dan sebentar lagi pengumuman untuk masuk ke top ten!" Jelas Nadia sambil berkacak pinggang.


Nadia, Erika dan Chika berdiri di depan Ardan dan Clarisa, menghalangi jalan mereka.


"Sudahlah Clar, kamu itu gak usah maksa !" ucap Erika.


"Iya, suara paspasan kok maksa hahaha !" Ejek Chika kemudian tertawa bersama ke dua rekannya.


"Lagian mami, kenapa sih bisa ikut Clarisa kemari ?"


"Tante suruh anak tante menyingkir, atau kita kembali lagi ke.."


"Ehh..eh..i.iya..iya. Nad, kau dan teman-temanmu jangan menghalangi. Kami mau masuk. Nanti saja mami jelaskan !"


Nadia terperangah mendengar perkataan maminya.


Dia dan teman-temannya pun menyingkir, dan membiarkan Clarisa dan Ardan masuk ke dalam bersama maminya.


Di depan pintu ruang juri, Ardan berbicara dengan salah satu panitianya.


Merekapun diizinkan masuk.


"Clarisaa !!! Akhirnya kamu datang ! " Bunda Fara menyambut gembira melihat kedatangan peserta jagoannya.


Sementara mas Sudikah terperangah melihat seseorang yang bersama dengan Clarisa.


Alis tebal menjulang tinggi, bibir tebal dengan liptik merah, belum lagi pipi kemerahan bagaikan apel, sedang aye liner dan maskara yang dia pakai untuk memperindah matanya, akibat air mata saat menangis tadi, menyisakan bekas hitam di bawah matanya.


Salah satu panitia mendekati ketiga juri itu dan berbisik.


Ketiga juri mengangguk dan kemudian menyuruh bi Herni untuk berbicara.


Bi Herni berdiri di depan dan kemudian mengangkat suara.


"Se..sebelumnya perkenalkan ! sa..saya Herni. Bibi Clarisa." Ucap bi Herni gugup.


"Oh bibinya Clarisa ? saya kira tadi pemain ketoprak bu, hehehe. Maafkan atas prasangka saya bu ! " Ujar mas Sudikah nyengir.


Mendengar itu, semua orang mengulum senyumnya. Menahan tawa mendengar lelucon garing mas Sudikah.


"Saya minta maaf, atas apa yang menimpa clarisa hari ini, sehingga dia tidak bisa ikut audisi."


" Apa yang terjadi dengan Clarisa hari ini, sepenuhnya atas kecerobohan saya."


"Untuk itu saya mohon kepada mas dan mba juri untuk memberi kesempatan pada ponakan saya untuk ikut audisi."


"Wah..wah..sungguh berjiwa besar sekali ibu ini. Mmm..Kami para juri akan mempertimbangkan kembali." Ujar mas Sudikah.


Ketiga juripun kemudian berembuk. Mereka membelakangi Clarisa, Ardan dan Bi Herni serta panitia lainnya.


"Apalagi yang di pertimbangkan ? Bukannya kita tadi sudah sepakat ?" Bisik bunda Fara,


"Iya, tapi saya sengaja. Soalnya saya mau suruh bibinya Clarisa melakukan sesuatu dulu. Dandanannya itu lho, gak tahan Hihihi!" bisik mas Sudikah sambil tertawa kecil.


Bunda Fara dan mas Indra menahan tawa mendengar penuturan mas Sudikah.


Mereka kemudian berbalik, mengatur kembali duduknya di kursi juri.


"Oke ! Kami sudah sepakat akan memberi Clarisa kesempatan mengikuti audisi." Ucap bunda Fara, yang kemudian segera disambung oleh mas Sudikah.


"Tapiii ? Karena ibu yang sudah membuat Clarisa tidak bisa datang audisi. Ibu harus memperlihatkan pertunjukkan kepada kami." Kata mas Sudikah, dengan gaya sombongnya.


"Pertunjukkan apa mas ?" Tanya bi Herni.

__ADS_1


"Main ketoprak !!!"


__ADS_2