
Clarisa tidak percaya dengan hasil cabut lotnya. Ingin dia berkata, bisakah cabut lot kembali ? Tapi, sudahlah !
Clarisa menarik nafas, kemudian berjalan ke arah mas Sudikah.
"Hai mas Sudikah, apa kabar ? Senang bisa menjadi pasangan duet mas Sudikah." Sapa Clarisa tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
Mas Sudikah menyambut senang uluran tangan Clarisa.
"Ah iya, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik. Nama kamu siapa ?"
"Clarisa mas."
"Hah ! Clarisa ? " mas Sudikah mengangkat kedua alisnya, menatap gadis di depannya dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Clarisaa…sepertinya yang saya tau orangnya gendut. Ah..jangan-jangan kau menggantikan Clarisa ya ?"tanya mas Sudikah penuh selidik.
"Iihh enak aja, aku ini Clarisa yang gendut itu mas. Kalau gak percaya ? tanya tuh sama teman-teman aku."
"Gak usah ! saya percaya. Boleh juga perubahanmu."
"Hidup itu memang harus penuh perubahan mas."
"Mmmm..."
Clarisa mengulum bibirnya menahan tawa melihat mas Sudikah kehabisan kata-kata.
"Oke Clar. Ini lagu yang akan kita bawakan. Kamu hafalkan!" Mas Sudikah memberikan selembar kertas bertintakan lirik lagu yang akan mereka nyanyikan.
Clarisa membaca kata demi kata dari lirik lagu itu. Tanpa terasa air matanya jatuh, membuat satu titik yang kemudian melebar di atas kertas yang dipegangnya.
"Kau kenapa menangis ? terharu bisa duet dengan saya ? Sudahlah ! gak usah nangis. anggap saja kau lagi beruntung." ujar mas Sudikah tertawa dengan bangganya.
" Aku sedih, karena lagu ini suara dari penyanyi laki-lakinya sangat tinggi. Emang mas Sudikah mampu ?"
Seketika tawa mas Sudikah hilang tanpa bekas
"Eh..eh pandang enteng benar nih bocah. Sebaiknya kau yang persiapkan dirimu."
"Hehehe, maaf mas Sudikah, bercandaaa !"
Mas Sudikah membuang nafasnya kasar.
'Hmmm, memangnya penyanyi senior sudah tidak ada lagi ? sampai-sampai harus nih si reseh yang diambil ?' bathin Clarisa dalam hati kesal.
Para peserta mulai melakukan latihan dengan pasangan duet mereka masing-masing.
Mereka terlihat bercanda, tertawa, dan saling dukung satu sama lain.
Berbeda dengan mas Sudikah dan Clarisa, terlihat sering adu mulut. Masing-masing merasa diri mereka paling benar.
"Kamu naikkin sedikit suara kamu Clar, jangan terlalu di rendahin suaranya."
" Kalau awalnya aku ambil nada tinggi, yah susah dong saat di tengah-tengah lagu nanti."
"Tapi jangan terlalu rendah, orang nggak dengar kamu ngomong apa nanti."
"Emang sudah segitu nada rendah aku mas. Sama dengan penyanyi aslinya, ambil nada rendahnya nya begitu."
"Jangan di samain, ya kamu harusnya berimprovisasi sendiri."
"Ya itu udah aku improvisasi mas. Sudah akh aku gak mau latihan lagi."
"Lhaaa ni bocah ? Eh eh..kamu mau kemana ? latihan belum selesai ini Clar."
__ADS_1
"Ogaah ! aku gak mau latihan, mas Sudikah terlalu banyak aturan." Clarisa ngambek, dia duduk membelakangi mas Sudikah.
'Huuuhh dasar anak SMA, sabar Sudikah, sabar. Harus banyak mengalah dengan anak-anak seperti Clarisa.' Mas Sudikah membatin.
"Ya sudah, maaf ! Clarisa ayo latihan lagi. Kamu nyanyi aja sesuka hati kamu. Biar nanti saya seimbangkan nadanya."
Mendengar itu, Clarisa berbalik dan tersenyum, "makasih mas Sudikah, ayo latihan lagi !"
'Ternyata tidak susah membujuk anak ini hehehe, dasar bocah !' mas Sudikah mendumel dalam hati.
Merekapun mulai latihan, kali ini mereka terlihat sudah bisa saling bekerjasama. Terbukti dari nada-nada suara mereka sudah mulai bisa menyeimbangkan satu sama lainnya.
Mas Sudikah tersenyum puas dengan latihan mereka hari ini.
"Kelihatannya kau sangat menghayati lagu ini Clar. Jangan-jangan kau menginginkan kisah seperti dilagu ini ya ?"
"Kan seperti judul lagu ini mas, kisah yang kuinginkan. Siapa yang tidak ingin seperti kisah itu, bertemu dengan tambatan hati dan berakhir dengan ikrar janji suci."
"Tapi belum saatnya kamu memikirkan janji suci. Kamu masih SMA."
" Yah harus di pikirkan dari sekarang mas, kalau gak ? bisa jadi jomblo abadi nanti kayak mas Sudikah hahahahah." Clarisa tertawa puas.
Tanpa disadari, Clarisa menjerit kesakitan karena telinganya yang di jewer sama mas Sudikah.
" Aduh..duh mas ampun !"teriak Clarisa sambil memegang tangan mas Sudikah supaya berhenti menjewer telinganya.
Mas Sudikah melepaskan jewerannya di telinga Clarisa.
Clarisa mwngelus-ngelus telinganya yang habis kena jewer.
Latihan pun berakhir, semua peserta kembali beristirat.
Akhirnya, hari yang ditunggu pun tiba. Malam ini , kesepuluh peserta akan menunjukkan performa mereka.
" Maaaa, cepetan doong !"teriak Ardan dari luar.
Bu Rani keluar dengan setengah berlari ke arah anaknya.
"Kamu itu bisa sabar gak sih Ardan?" Gerutu bu Rani.
"Hehehe, maaf ma. Waooo luar biasa ibu satu anak ini. Sungguh mempesona !"
"Gak usah mulai, mama tau pujian kamu itu gak tulus !"
Bu Rani masuk ke dalam mobil, di ikuti oleh Ardan.
"Maa!"
"Mmmm."
"Aku gak apa-apa lho kalau mama nikah lagi. Pak Damar itu ganteng lho, aku bisa lihat kalau mama ketemu beliau itu kayak grogi gitu."
Bu Rani menghela nafasnya, kemudian melayangkan tangannya ke kuping putranya.
"Aaadduuhh maa sakit..lepasin dong ma!"
"Hayoo ngomong apa tadi kamu ?"
"Iiya ampuun, maaf..maaf aku cuma bercanda."
Bu Rani melepaskan jewerannya.
"Hobi banget jewer telinga orang." Ucap Ardan sambil mengelus-ngelus telinganya.
__ADS_1
"Cepat jalan, nanti kita gak dapat tempat duduk, mau kamu ?"
Ardan segera menyalakan mesin mobil dan meluncur membelah jalanan malam ini.
Ardan menatap takjub melihat panggung di depannya. Dia tersenyum, membayangkan Clarisa yang akan tampil nanti.
"Ardan !" Panggil seseorang yang mengagetkan lamunan suami Clarisa itu.
"Pak Damar ? bapak di sini juga ?"
"Iya ! saya ingin melihat saksi kunci yang memegang kunci hatimu heheh." jawab pak Damar meledek Ardan.
Ardan tertawa malu, kemudian dia berdiri dan menarik tubuh pak Damar duduk di tempatnya, tepat disamping mamanya.
"Silahkan pak ! duduk disini lebih strategis."
Dia kemudian berpindah di sebelah mamanya. Posisi bu Rani diapit oleh pak Damar dan Ardan.
"Ini namanya jodoh ma, baru juga tadi kita bicarakan beliau, hehehe." bisik Ardan.
Bu Rani melototkan matanya pada Ardan, tanda untuk Ardan berhenti bicara.
"Jangan melotot begitu ma, sebaiknya mama atur nafas agar tidak grogi." Bisik Ardan sambil mengedipkan matanya.
Bu Rani menarik nafas mengumoulkan tenaganya, dan menginjak kaki Ardan dengan hak sepatunya penuh dengan kekuatan super.
"Aaaaawwwww !" teriak Ardan, sambil memegang kakinya.
"Kau kenapa Ardan ? "tanya pak Damar kaget.
"Hehehe, asam uratnya kambuh pak. Gak apa-apa Ardan biasa seperti itu." Jawab bu Rani dengan tertawa kecil.
Pak Damar ingin bertanya lagi, tapi lampu tiba-tiba berganti menjadi remang, tanda acara akan segera dimulai.
Tepuk riuh para penonton yang berada di depan panggung begitu ramai. Mereka terdiri dari anak-anak sekolah teman-teman dari para peserta.
Sepasang Host anak muda masuk dan menyapa para penonton.
"Selamat datang di ajang berbakat Schoooll Idool !"
Para penonton bertepuk tangan dan terdengar teriakan histeris dari anak-anak muda yang berdiri di depan panggung.
"Malam ini kita akan menyaksikan ke sepuluh peserta akan menunjukkan performa mereka, dalam ajang berbakat School Idol." Host laki-laki membuka acara.
Tepukan riuh kembali terdengar.
"Tapi untuk malam ini mereka tidak akan tampil sendiri, melainkan berduet dengan para penyanyi tanah air."
"Huuuuu....!!" teriak histeris dari para penonton mengguncang gedung malam ini.
"Mari kita perkenalkan sepuluh para peserta topen School Idol."
Kedua host menyebutkan satu per satu peserta school idol, bersamaan dengan itu wajah para peserta terpampang jelas di layar besar diatas panggung.
Sampai pada saat host menyebutkan nama Clarisa, Ardan tersenyum melihat foto istri kecilnya. Clarisa berbalut dres berwarna putih dengan rambut panjang tergerai tersenyum manis, sambil memagang mawar putih.
Namun, di mata Ardan ada yang berubah dari penampilan Clar.
'Kenapa badan Clar terlihat lebih kurus dari kemaren? Dia tidak sebongsor kemaren. Apa dia terlalu frustasi dengan apa yang dia dengar dan lihat kemaren ?' gumam Ardan dalam hati.
Tanpa terasa bulir bening jatuh dari mata Ardan, 'sefrustasi itukah kau sayang ? sampai badanmu kurus ? aku janji akan menebus semuanya Clar.'
Ardan menghapus air matanya, dan mengatur kembali nafasnya yang sesak.
__ADS_1