Si Gendut Itu Aku !

Si Gendut Itu Aku !
Kau siapa ?


__ADS_3

"Dokter ! jantung Clarisa kembali berdetak " ucap suster.


Semua orang terkejut mendengar ucapan suster yang keluar dari ruang ICU.


Dokter bergegas masuk memeriksa Clarisa kembali.


Semua orang yang berada di luar diam seribu bahasa. Mereka berdebar, cemas menunggu dokter keluar.


Tak ada isak tangis, tak ada wajah sedih, yang ada hanya wajah tegang menunggu dokter keluar dan berharap membawa kabar bahagia.


20 menit kemudian..


CEKREEKK...


Pintu terbuka, dokter keluar dengan wajah datar.


Semua orang mendekati dokter berkacamata minus itu.


"Gimana dok putri saya ?" tanya bu Rani.


"Alhamdulillah, ini suatu keajaiban buat pasien untuk bisa mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup kembali. Clarisa sudah melewati masa kritis. Jantungnya sudah kembali normal, demikian dengan denyut nadinya juga sudah normal " terang sang dokter.


"Alhamdulillah !" ucap semua orang serentak.


Vanya memeluk Ardan, "selamat ya Ardan, kau harus jaga baik-baik Clarisa."


Ardan tersenyum bahagia, "terimakasih Van. Terimakasih buat semuanya, sudah mau mendoakan istriku."


"ISTRII ?!" ucap Meylani dan ke tiga juri serempak.


Ardan, bu Rani, pak Damar dan Vanya saling pandang. Mereka lupa kalau pernikahan Ardan dan Clarisa di lakukan secara diam-diam.


Untungnya dokter langsung memotong pembicaraan mereka.


"Ada satu hal yang harus saya katakan " ucap dokter kemudian menghela nafas.


"Apa itu dok ? " tanya Ardan.


" Racun itu sudah menyebar ke otak Clarisa, hal ini mengakibatkan kerusakan pada hipokampus bagian otak yang berperan dalam penyimpanan memori. Pasien hanya akan mengingat kejadian yang lama " terang dokter.


" Apa itu bisa sembuh dok ? Apa Clarisa bisa mendapatkan ingatannya kembali ?" tanya Ardan dengan raut cemas.


" InshaAllah bisa, yang penting kita harus sabar. Terutama dalam menghadapi pasien nantinya."


"Saat ini pasien masih kita kasih penenang agar bisa beristirahat. Jika pasien sudah sadar. Kami akan memindahkan dia di kamar rawat " terang dokter kembali.


"Terimakasih dok !" ucap bu Rani dan Ardan serempak.


Mendengar keadaan Clarisa yang sudah membaik, ke 3 juri dan Meylani pamit pulang.


Tinggallah Ardan, bu Rani, pak Damar dan Vanya. Mereka berempat masih setia menunggu kesadaran Clarisa.


"Ardan, tante Rani ! gimana kalau kita makan dulu di kantin rumah sakit. Keadaan Clarisakan sudah membaik, jadi sebaiknya kita juga pikirkan keadaan kita. Jangan sampai kita juga sakit saat menjaga Clarisa " ucap Vanya memberi saran.


"Vanya benar, di dalam juga ada suster. Clar juga masih istirahat. Jadi sebaiknya kita mengisi perut kita " ucap pak Damar membenarkan saran Vanya.


Bu Rani dan Ardan mengangguk. Mereka ber empatpun berjalan menuju kantin rumah sakit.


Mereka berempat duduk di meja. Siapapun melihatnya pasti mengira kalau mereka sebuah satu keluarga.

__ADS_1


Tidak ada lagi raut sedih di wajah mereka, yang ada hanya wajah lelah karena mereka menangis beberapa jam lamanya.


"Oh iya pa, minggu depan aku mau ke malaysia ada tawaran kerja di sana, boleh gak pa ?" tanya Vanya.


"Gak boleh !" jawab pak Damar tegas.


Bu Rani dan Ardan saling pandang.


"Iihhh pa ! kok gak boleh ?" Vanya merungut.


"Kamu anak perempuan papa satu-satunya. Papa tidak mau kamu jauh dari pengawasan papa. Kalau kamu kerja, di Jakarta masih banyak tempat untuk bekerja. Atau kalau kamu mau kerja di luar, kamu kerja di Australia " jawab pak Damar sekali lagi dengan tegas.


"Australia lagi ? sama saja disana pa. Aku gak bisa kemana-mana karena selalu dalam pengawasan papa " gerutu Vanya.


"Yah sudah kalau begitu kerja disini saja, titik !"


Vanya menghela nafas, dia terpaksa mengalah. Bagaimanapun pak Damar adalah orangtua dia satu-satunya.


"Mmm...Ardan ! kamu pernah liat orang tua bucin gak ?" tanya Vanya.


Ardan menoleh ke arah Vanya kemudian dia menggeleng.


"Kamu mau lihat orang tua kalau lagi bucin ? Tuh lihat orang tua di depan kita. Daritadi nempeeeeelll terus, duduknya aja nempel kayak begitu, seperti perangko kalau yang sudah nempel di amplop susah lepasnya " tunjuk Vanya kemudian terkekeh melihat papanya dan bu Rani salah tingkah.


Ardanpun mengulum bibirnya menahan senyum, melihat tingkah kikuk dua orang di depannya.


Pak Damar dan bu Rani seketika menggeser duduk mereka dan saling menjauh.


"Gak usah menjauh ma, ntar mau nyuap pak Damar susah lho " goda Ardan.


Vanya semakin terkekeh mendengar godaan Ardan pada tante Rani.


"Aku nggak enak hati lho ini, ntar ganggu orang yang baru jadian " tambah Vanya.


"Bisa..bisa.." jawab keduanya kompak.


1 jam kemudian Clarisa sadar, perlahan dia membuka matanya. Tempat yang terasa asing baginya.


Suster yang melihat Clarisa sudah membuka matanya, mendekatinya dan memencet tombol merah untuk memanggil dokter.


Tidak berapa lama dokter datang, dia mendekati Clarisa dan tersenyum.


"Selamat datang kembali nona Clarisa !"


Clarisa tersenyum, " ini di rumah sakit ya ?" tanya Clrisa lirih.


"Iya Nona. Saya periksa dulu ya !"


Dokter itupun mulai memeriksa Clarisa, kemudian dia tersenyum karena mengetahui keadaan Clarisa sudah mulai membaik.


"Suster ! pasien sudah boleh di pindahkan di ruang rawat ya."


"Baik dok !"


Para perawat mulai membawa Clarisa ke kamar yang sudah di siapkan.


Setelah memindahkan Clarisa, memastikan semua alat terpasang dengan baik. Para suster meninggalkan dia sendiri di dalam kamar.


"Nona Clarisa, silahkan beristirahat. Kalau ada apa-apa silahkan pencet tombol merah di samping. Nanti kami para suster akan segera datang " terang salah satu suster.

__ADS_1


Clarisa mengangguk dengan lemas " terimakasih sus ".


Suster itupun meninggalkan Clarisa sendiri dikamar rawat.


"Kenapa badanku sakit semua ya ? apa yang terjadi ? kenapa aku bisa di sini ?" Clarisa mencoba menerka-nerka.


CEKREKK !!


Pintu kamar terbuka, nampak di ambang pintu berdiri Ardan, Bu Rani, pak Damar dan Vanya.


Clarisa memandang datar pada 4 orang yang saat ini juga memandangnya.


"Clarisa ! " panggil Ardan dengan mata berbinar, dia melangkah mendekati Clarisa dan memeluk tubuh Clarisa dengan penuh sayang.


"Kamu siapa ? kamu kenal aku ?" tanya Clarisa.


Ardan terkejut mendengar pertanyaan Clarisa, dia melepaskan pelukannya dan melihat mata indah istrinya.


"Aku Ardan, suamimu !"


"Suami ?" Clarisa mencoba mengingat-ngingat wajah lelaki tampan di depannya.


Dia memperhatikan wajah Ardan dengan teliti.


"Mmmm...aku tidak mengenalmu. Menjauh dariku !" ucap Clarisa kemudian mendorong tubuh Ardan.


Clarisa kemudian mengalihkan pandangannya pada Bu Rani.


"Mamaaa !" teriak Clarisa dengan senyum manisnya. Kemudian dia merentangkan tangannya untuk minta dipeluk oleh bu Rani.


Bu Rani melangkah menuju Clarisa dan menyambut hangat rentangan tangan Clarisa, dia memeluk sayang pada menantunya.


"Mama takut sekali kehilanganmu nak !" Ucap bu Rani sambil mencium pucuk kepala Clarisa.


"Aku sudah gak apa-apa ma. Mama jangan nangis terus. Mmm...mereka siapa ma ?"


"Oh iya itu pak Damar dan putrinya Vanya " ucap bu Rani memperkenalkan.


Clarisa tersenyum pada ke duanya.


"Clarisa senang melihatmu sudah sadar. Semoga kamu cepat sembuh ya " ujar Vanya.


"Terima kasih Vanya."


"Clar ! benar kamu gak kenal laki-laki ini ?" tanya Vanya sambil menepuk pundak Ardan.


Clarisa melihat Ardan sekali lagi.


"Ah ya ampun ! aku ingat dia ..."


...***...


Haiii readers tercintaaa !!!


maaf ya lambat up, soalnya author masih halan-halan.😁😁😁


Terimakasih masih terus setia membaca Ardan dan Clarisa...🥰🥰🥰


Jangan lupa hadiahnya ya..

__ADS_1


like, comment dan votenya...


Love you all 🥰🥰🥰


__ADS_2